#07 Game of Love Diah Rizki

Kamisan S2 #7 - Game of Love: Pilihan

15.25Unknown

Game of Love...

Game of Love...

Game of Love...

Apa yang dimaksud game of love?

Apa aku pernah mengalaminya?

Apa aku salah satu dari sekian banyak pelakunya?

Apa aku pernah terjebak di dalamnya?

Apa aku pernah membuat orang lain masuk ke dalamnya?

Apa mereka -para gamer of love- bahagia?

Tapi bagaimana sebenarnya game of love itu?


***

Ah, aku tidak tahu harus menuliskan apa untuk tema kamisan kali ini. Stuck. Pada tema yang awalnya diajukan -reinkarnasi-, aku hampir saja memiliki ide. Pun pada tema ini. Tapi setelah kuteliti lebih jauh, aku bahkan belum mengerti sebenar-benarnya bagaimana game of love ini. Dan aku tidak mencari tahu. Bukan tidak mau, hanya saja UAS menyita waktuku. Bahkan untuk membaca buku saja, aku harus melakukannya di sela-sela waktu belajar.

Lalu, sore tadi, aku masih mempertanyakan tentang game of love di grup whatsapp #kamisan. Entah bagaimana akhirnya justru banyak curhatan yang keluar dari ketikan jempol pada blackberry-ku. Aku memang gampang sekali terpengaruh pembicaraan. Dan obrolan kali ini, tanpa sengaja, tanpa dapat kutahan arusnya, membuat diriku oleng. Pendirianku. Pikiranku. Keputusanku. Semua terombang-ambing. Padamu, tulisan ini kupersembahkan.

***

"Aku kudu nulis apa buat game of love?" ketikku pada grup whatsapp #kamisan.

"Coba tanya Feti, Di. Aku berguru ke dia soal ini." -Kecebonk.

skip....skip....skip....sampai pada chat di mana Mamak Nia muncul dan membongkar semuanya.

“Mungkin, Diah bisa dengan kisah nyata sendiri. Terjebak di antara kenangan akan Daeng, teror dari mantan, dan cem-ceman dengan Mamas” - Mamak Nia.


deg!

oke, curhat panjang akan segera dimulai. Batinku.


Aku mulai sedikit membuka cerita, lalu sampailah pada pernyataan Mamak Nia selanjutnya.

“Itu baru dengan satu mamas kan? Abang yang itu belum. Dan abang itu dengan cem-cemannya.” - Mamak Nia.


Oh no! She said 'Abang'.

Pikiranku tiba-tiba saja melayang pada masa-masa saat aku dan Abang masih sering berkomunikasi. Membicarakan segala hal. Dari yang sepele sampai hal besar. Dari masalah keluarga Abang sampai masalah hidupku di rantau. Dari masa lampau yang entah tahun berapa sampai masa depan negara yang tak kunjung bisa diterka. Saat kami saling berkirim sapa tiap pagi, siang, sore dan malam. Saat semua obrolan bisa dianggap santai oleh Abang, tapi tidak olehku. Kepalaku sering nyut-nyutan kalau dia sudah mulai membicarakan hal-hal berbau teori dan politik. Lalu ketika Papanya sakit dan dia hanya bercerita padaku. Saat Abang ulang tahun. Saat Abang bercerita tentang bunda -neneknya-, dan adik kembarnya yang sudah tenang di surga. Tentang Mamanya yang sering bertanya siapa aku. Tentang pacarnya, atau tepatnya mantan pacarnya yang cemburu buta padaku, lalu meminta untuk mengakhiri hubungannya. Tentang dia yang berjanji untuk menemuiku di Kota kelahiranku namun diurungkannya karena keadaan Papa yang kritis. Tentang janji bertemu di Yogyakarta tapi semua menguap ketika hubungannya dengan mantannya pecah, ya, dan kuketahui selanjutnya bahwa alasannya ingin ke Yogya adalah untuk menemui mantan kekasihnya itu. Pun cerita tentang Abang yang ingin membuat cafe, yang katanya, berubah menjadi kapitalis demi cafe ini. Dan tentang komunikasi kita yang merenggang setelahnya. Tentang Abang yang menghilang. Tentang semua yang tiba-tiba gamang.

Tiba-tiba saja, aku kangen Abang.

Kami sudah lama tidak berkomunikasi.

Terakhir kali, tanggal 26 Juni 2014 di twitter.
Setelah hampir sebulan kami seperti tak saling kenal.
Itu sesaat setelah komunitas baruku kuresmikan.
Dia menjawab twitku dengan reply "Aku selalu bangga padamu, Di."


Aku juga selalu bangga padamu, Bang.


***

Aku kembali menekuri grup whatsapp #kamisan.
Chat masih berlanjut. Ditimpali oleh beberapa anggota lain di grup. Ah, bongkar semua, bongkar saja semua.

“Oh. Mamas yang ada cem-cemannya ini pelarian Diah dari Daeng ya? Diah is cold-hearted girl. Indeed. Ratunya pemain cinta.” lagi-lagi Mamak Nia.


Mamas yang disebutnya adalah seorang laki-laki yang berada di kota di Daerah Istimewa.
Kota Istimewa. Orang istimewa. Moment-momentnya pun istimewa. Mas.
Dan cem-cemannya adalah perempuan yang sedang Mas sukai.

Apa kabar, Mas?
Kamu sehat?
Kamu makan teratur?
Kamu masih bangun siang?
Kamu 'minum' nggak?
Kamu masih suka ribet dengan hal-hal sepele?
Kamu masih suka pulang pagi setelah bekerja?
Kamu memikirkanku?
Bagaimana perasaanmu setelah aku pulang?
Apa kamu tak ingin menyusulku?
Apa kamu tidak ingin tahu apakah aku merindukanmu?
Apa kamu tidak merindukanku?


Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat, bermain-main, berlarian di sel-sel otakku. Aku memikirkanmu. Ya, kamu, yang seharusnya tak melulu kupikirkan.

“Mamasnya pelarian dan Diahnya pelarian Mamas.” – Kecebonk.


Pelarian?

Benarkah kita hanya sebentuk pelarian, Mas?

Benarkah ada 'kita' di antara aku dan kamu, Mas?

Benarkah semua perjalanan yang telah kita lakukan sejak Januari 20014 ini, Mas?

Benarkah semuanya?


“Tuh kan, Diah mah dipancing dikit keluar segalon. Kalo dipancing banyak, berubah jadi kotak Pandora.” – Mamak Nia.

Aku sudah bilang kan bahwa aku mudah sekali terbawa obrolan? Huh!

“Anyway, setelah menelaah chat di atas, aku mendadak penasaran. Diah, tahu dari mana si Mamas mau sama si itu?” – Om Adji.


Nah!

Tahu dari mana si Mas mau sama si itu?

Ya, taulah! Mas kan cerita apapun ke aku.


“Dia bilang kok, Om. Kami kan saling terbuka, segala diceritain.” jawabku.


Kami memang selalu bercerita. Tapi hanya saat kami bertemu. Berdua. Privasi, katanya. Mas hampir nggak pernah ngobrol panjang denganku jika kami sedang berada di keramaian atau ada orang lain di sekitar kami. Mas lebih sering sibuk mengobrol dengan orang lain, atau melakukan hal lain. Biasanya kami hanya saling berpandangan. Lalu Mas akan tersenyum. Dan sedetik kemudian akan menggodaku, 'we ngopo to ndeloki aku koyok ngono?' lalu Mas akan tertawa kecil. Mas tahu, sadar, bukan aku yang menatapnya, atau dia menatapku, tapi kami saling menatap. Hanya saja tak mungkin kami berterus terang.

Mas selalu menjadikanku 'tempat'nya. Entah tempat untuk 'pulang', tempat bersandar, tempat dia menaruh segala cerita masa lalunya, tempat dia menyimpan segala mimpi-mimpi masa depannya, tempat ia membuang sakit hatinya, tempat dia mencurahkan galaunya, tempat dia bermanja-manja, tempat dia merajuk, ataupun tempat dia meluapkan amarah. Semuanya.

Tapi itu semua terjadi HANYA SAAT kami bertemu. HANYA SAAT kami bersama.

Jangan berpikir kami seperti itu saat kami berjauhan. Nope!

Dia sombong.

Tak pernah mengakui kedekatan kami.

Tak pernah mengakui dia merindukanku, merindukan saat-saat bersamaku.

Sampai pada suatu hari, Mas bermimpi. tentangku, katanya.

'Aku mimpi jalan sama kamu.'

'Kok bisa?'

'Kangen.'

Voila! Ajaib! Dia bilang dia merindukanku.

Lalu selama ini, sebegitu denialkah kamu, Mas?

Tidak!

Mas tidak denial atas perasaan kangennya padaku.

Karena pada nyatanya, memang Mas jarang merindukanku.

Kenapa?

Karena ada orang lain di sana.

Ada perempuan lain di sampingnya.

Ada rindu lain di hatinya.

Namun rindu itu, tak berbalas.



“Kamu ngomong nggak kalo mau sama dia? Tapi sebenernya selama dia belum jadi sama si itu kalian bisa jadi lho. Kayak gitu emang nggak bisa diubah sih, harus dia yang sadar dengan sendirinya. Nah, kamu kan bisa nolak pas dia mau ‘pulang’. Kenapa kamu nggak cari orang lain? itu curse bukannya ya?” – Om Adji.


-Aku tahu sejauh apapun dia pergi, dia pasti bakal kembali- Om Adji.


Ya, aku tahu, Mas menyukai perempuan itu. Perempuan berambut panjang bergaya segi itu. Aku pernah bertemu dengannya sekali, di tempat Mas bekerja. Aku datang ke sana dan duduk seorang perempuan di bangku sebelah kiriku. Mas di sebelahnya. Aku hanya diam. Lalu Mas menghampiriku, membisikkan sesuatu di telinga kananku.

'Aku pedekate sama yang ini boleh ya. Serius, aku suka.'

Aku hanya tersenyum.

Mas membuatkannya secangkir es kopi. Dan membuatkanku secangkir kopi panas.

Mas pintar. Pilihan Mas tepat. Memang sepanas inilah perasaanku sekarang. Sepanas melihat kalian mengobrol, bercanda, tertawa, di hadapanku.

Aku memainkan blackberry-ku yang tanpa game itu. Mungkin Mas merasakan rasa panas dalam hatiku. Lalu Mas mengambil inisiatif, mengenalkanku pada perempuan itu. Sebagai temanmu. Sebagai sahabatmu. Ya, teman.

Aku hanya menjawab basa-basi. Lalu kalian berdekatan lagi.

Sungguh dekat sampai aku bisa melihat senyum lebar Mas.

Dan saat itu, ada luka yang mulai tertoreh di sini. Di hatiku.



“Dia tahu pasti aku pasti terima dia dengan tangan terbuka kalau dia datang, meski dia tahu kalau dia pergi lagi aku masih ngerasa sakit.” – Kak Capung.
deg!

Kak Capung benar.

Setelah mengantar perempuan yang disukainya ke mobil, Mas kembali padaku. Menggenggam tanganku di bawah meja. Tersenyum. Dan kembali menekuri pekerjaannya.

Tapi saat kulihat kembali dirinya, aku merasa ada satu yang berbeda.

Ya, sejak saat itu aku merasakan satu hal lain.

Sakit.

Sakit setiap kali melihatnya.

Sakit setiap kali matanya menatap balik mataku.

Sakit setiap kali melihat ruang kosong tanganku.

Sakit setiap kali Mas menggenggam tanganku karena aku tahu itu hanya sementara.

Sakit setiap kali lengan Mas menyentuh bahuku.

Sakit setiap kali senyum Mas menggodaku.

kebas.

aku tak yakin sanggup dengan ini.

aku tak yakin mampu menjadi tempatmu 'pulang' lagi.

karena kamu telah menemukannya.

menemukan perempuan itu.

perempuan yang setelah hari itu menjadi topik hangat curhatmu.

perempuan yang katamu sangat ingin kaupeluk.

perempuan yang katamu sangat ingin kaubahagiakan.

perempuan yang katamu sangat ingin kaugenggam tangannya.

perempuan itu pula yang menjadikanmu seperti sekarang ini.

patah hati.

setelah Mas tahu bahwa perempuan itu kembali.

pada mantan kekasihnya.

dan membuat luka pada hati Mas.

membuat Mas kehilangan.

membuat Mas kembali kepadaku.

membuat Mas gila dengan ilusi.

membuat Mas memacu motor menuju bukit di tengah malam.

membuat Mas menulis status-status kehilangan.

membuat separuh dari kebahagiaan Mas terempas.

juga aku.

membuatku merasakan sakit yang sama tiap kali Mas bercerita tentang rasa sakit yang Mas rasa.

aku pun.



“Nikmati aja sih sekarang. Nanti aka nada saatnya kita bakal sadar sendiri, kayak life impact. Moment di mana kita dipaksa buat menelaah apa yang udah kita lakukan selama ini dan apa yang harus kita lakukan buat bertahan hidup.” – Om Adji.
ya, aku bertahan.

bertahan pada keadaanku dengan Mas sekarang.

entah kusebut ini apa, pelarian, teman, atau apa.

aku tak mampu membiarkan Mas larut dalam patah hati.

pada perempuan cantik itu.

walaupun setelah patah hati itu,

Mas bermain dengan beberapa perempuan.

namun tak ada seorangpun yang menjadi yang Mas suka.

tak ada.

hanya kencan semalam dan selesai.

tak ada seorangpun yang Mas ceritakan dengan binar-binar bahagia.

tak ada.

hanya ekspresi datar.

Lalu, pada suatu malam, aku berbicara empat mata.

bukan malam, pagi buta tepatnya.

saat aku menemani Mas bekerja, dan sudah hampir jam pulang.

Mas sedang membereskan barang-barang dan aku duduk di kursi kayu.

Mas menghampiriku dan bertanya kenapa.

kubilang, aku tak akan datang ke kota Mas untuk waktu yang lama setelah ini.

lalu entah kenapa raut wajah Mas samar-samar berubah.

Mas berbicara panjang lebar.

aku menutup pembicaraan dengan satu kalimat.

'aku akan merindukan kota ini.'

'silakan. toh aku tetap di sini.'

aku diam, hanya mampu menatapnya.

'iya, silakan kalau kamu mau pergi. semua pergi. Dia. Dia. Kamu. Semua pergi. Tapi aku tetap di sini. Separuh kebahagiaanku di sini. Yang jadi masalah adalah jika aku yang pergi. Aku tak punya siapapun di sini, selain teman. Ya, teman. jadi, pergilah kalau memang kau ingin pergi. aku tak akan menahanmu.'

Lalu Mas menyalakan motornya. tanpa dikomando, aku duduk di jok belakang.

dan kami menghabiskan hari terakhir kami.

aku menghabiskan hari terakhir kami, dengan rasa sakit, rasa tak rela, rasa putus asa, rasa takut, semuanya.

sampai pada saat Mas mengantarku ke tempat aku menunggu bus.

dengan dingin, Mas meninggalkanku di sana. Sendiri.

Mas bilang ada janji.

Tak seperti saat-saat yang lalu, mas mengantar kepulanganku dengan senyum dan rengkuhan hangat dari lengan kiri.

Tapi kali ini, Mas hanya berlalu.

rasa sakitku semakin menjadi.


"Setiap wanita berhak mendapatkan seorang pria yang bisa membuatnya lupa bahwa hatinya pernah terluka."
***

Saat aku menuliskan #kamisan ini, lagu Tahu Diri yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda mengiringiku. Lagu ini juga yang mengiringiku saat aku harus melepas seorang lelaki yang sempat kukagumi habis-habisan setelah aku lepas dari mantan kekasihku. Lagu ini pun sekarang menjadi momentum denganmu, Mas.


Jadi, apakah ini game of love? 

saat aku menyadari tak ada yang benar di antara semua ini?

bahkan untuk berpikir bahwa ini benar,

aku harus melakukannya berkali-kali.


jadi, siapa yang nantinya akan menang?


HATI

atau

LOGIKA

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak