Halusinasi. Itu adalah tema #kamisan pada minggu ke empat sejak kegiatan menulis tersebut dimulai kembali. Saya tidak akan menjelaskan apa itu #kamisan, sudah ada blogger-blogger lain yang menuliskannya. Dan, saya pun terlampau malas untuk menuliskannya. Intinya, itu adalah salah satu kegiatan untuk melatih konsistensi kami dalam menulis.
Kami yang saya maksud adalah kamisaners—bila kalian penasaran. Yaitu sekumpulan orang yang memutuskan untuk mengikuti kegiatan #kamisan ini. Entah admin siapa yang memberi julukan tersebut kepada kami, saya bahkan tidak ingin tahu.
Kembali ke pokok persoalan: halusinasi. Awalnya, ketika mengetahui bahwa tema minggu ini adalah halusinasi, saya merasa ukuran kepala saya menjadi sedikit lebih besar. Saya yakin bisa menjadi yang pertama. Itu bukan tanpa sebab. Karena saya sudah memiliki draf, yang meski belum kelar, tetapi saya teramat yakin bisa segera menyelesaikannya bila saya benar-benar mau melakukannya. Sialnya, setelah saya mencari lebih jauh tentang halusinasi, saya pun menyadari bahwa draf saya itu mengarah terlalu jauh; skizofrenia. Meski mirip, namun itu hal yang berbeda.
Sekarang Rabu. Dan, sudah beberapa teman yang memposting tulisan mereka. Salah satu dari mereka, yang meski sampai ketika saya menuliskan ini nyatanya juga belum memposting, bahkan sering meledek saya. Baiklah. Tidak apa-apa. Saya tahu, ledekannya itu hanya merupakan bentuk kepeduliannya, bentuk kasih sayang sesama saudara. Dan demi mengganjar ledekan-ledekannya itu, juga demi diri saya sendiri, saya pun memutuskan untuk menulis kisah ini. Meski, ya, saya pun tidak sepenuhnya yakin, apakah yang akan saya kisahkan ini bisa digolongkan ke dalam halusinasi?
Sore yang Lembut di Sebuah Taman
Itu adalah sore yang lembut di sebuah taman yang ramai pengunjung pada setiap akhir pekan. Burung-burung bercericit sembari terbang. Beberapa burung itu ada yang menukik ke tanah begitu melihat sesuatu yang mereka anggap remah-remah makanan. Anak-anak kecil tertawa-tawa dan berlarian mengejar gelembung sabun yang ditiupkan seorang tua di sudut taman. Seorang tua yang lain, berjalan dan menawarkan balon yang dijualnya kepada ibu-ibu muda yang tengah menggandeng anak mereka yang lucu-lucu. Seorang yang lebih muda, perempuan, terlihat sedang menawarkan bunga kepada sepasang remaja yang duduk bermesraan di sebuah bangku panjang di tengah taman. Begitu salah seorang remaja itu, si pria, menolak secara halus bunga yang ditawarkan, si perempuan penjual bunga pun undur diri, setelah sebelumnya memberikan senyum yang seolah berkata, “Ganteng-ganteng kok, pelit!”. Perempuan penjual bunga itu lewat begitu saja di hadapan Jati yang sedang duduk seorang diri di bangku yang berada tidak jauh dari mereka.
Jati datang ke taman itu seorang diri. Awalnya, dia ragu dengan hal itu. Datang seorang diri ke sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang yang bila berjalan selalu bergandengan tangan dengan pasangan, dan tertawa-tawa, bercanda, dan bertingkah seolah taman ini hanya milik mereka berdua, bukanlah ide yang baik, terutama bagi kejiwaan. Namun, begitu ia melihat sosok gadis mungil berlesung pipit duduk sendirian sambil membaca buku yang entah apa, ia pun kemudian meralat pernyataan itu, berada di tempat yang bisa mengganggu kejiwaan tidak buruk juga, ternyata.
Ia sebenarnya ingin langsung mendekati gadis berlesung pipit itu selepas ia melihatnya pertama kali. Akan tetapi, keinginannya itu ia redam begitu melihat dua orang gadis menghampiri gadis berlesung pipit pujaannya. Maka inilah yang terjadi selanjutnya, ia duduk di bangku panjang yang terletak tidak jauh dari gadis mungil yang mencuri perhatiannya pada kesempatan pertama; tidak jauh juga dari sepasang remaja yang sebelumnya ditawari bunga; hanya diam dan menikmati setiap gerakan si gadis berlesung pipit dengan mata yang enggan berkedip.
Begitu dua gadis lain itu pergi dari kekasihnya—ia langsung memanggil gadis itu kekasih, dan gadis pun itu setuju untuk dipanggil demikian, paling tidak dalam anggapannya, setelah beberapa kali mereka bertemu mata di tengah-tengah obrolan si gadis berlesung pipit dengan dua gadis lain itu—Jati bergegas mendekat ke arahnya.
“Aku setuju untuk menikah denganmu.”
“Ma-maaf?”
“Ya. Aku setuju untuk menikah denganmu.”
“Kau gila, ya?” Gadis mungil itu bangkit, merenggut tas tangannya, menyampirkannya di bahu kiri, dan bergegas pergi.
Sigap, Jati setengah berlari menghadang kekasihnya itu. “Tunggu, tunggu! Aku tahu kau ingin aku menikah denganmu.”
Gadis berlesung pipit itu terhenyak, lalu mendengus, “Kau benar-benar gila!”, ucapnya sembari memalingkan wajahnya dari tatapan Jati.
Ketika si gadis itu hendak berjalan melewati Jati, refleks, Jati menahannya dengan cara memegang lengan kanan si gadis. “Aku tidak gila. Aku hanya mengatakan apa yang kauinginkan.”
Gadis itu menghentak-hentakkan lengan kanannya, namun pegangan tangan Jati belum juga terlepas. “Lepaskan, atau aku akan berteriak!”
“Teriak saja! Aku tidak takut. Aku tidak punya alasan untuk takut. Apa yang kulakukan adalah benar.”
Gadis itu terus mencoba melepaskan pegangan tangan Jati sambil matanya yang hitam menatap lurus ke mata Jati. “Baiklah, baik,” katanya kemudian. Dan pegangan tangan Jati pun mengendur. Dengan sekali sentak, pegangan itu pun terlepas. “Andaikanlah aku memang ingin kau menikahiku, sekarang beritahu aku, bagaimana kau bisa tahu hal itu?”
Jati tersenyum puas. “Aku mendengarnya sendiri kau mengatakan itu.” Sekali lagi, gadis itu mendengus, lalu mengibaskan tangan kanannya di depan wajah . “Kalian tadi membicarakanku, kan? Aku bisa melihatnya dengan jelas.”
“Kami memang beberapa kali membicarakanmu, tapi itu karena kau yang selalu melihat ke arah kami.”
“Sudahlah, jangan berkelit. Aku bisa mendengarnya dengan jelas tadi, bahwa kau berkata, ‘seandainya pria itu mau menikah denganku ….’”
Gadis berlesung pipit itu semakin tersentak, diam, dan hanya memandang ke wajah Jati, menggeleng-gelengkan kepala, “Kau benar-benar sudah gila.”
“Sudah kukatakan aku tidak gila. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku bisa mendengar salah seorang temanmu berkata, ‘dia manis juga’, lalu temanmu yang lain menimpali, ‘kau benar. Dan sejak tadi dia melihat kemari. Apa dia sedang melihatku?’, lalu kau pun ikut berbicara, ‘kau salah. Sejak tadi dia sedang memperhatikanku. Seandainya kalian tidak menghampiriku, sudah pasti saat ini aku sedang berbicara dengannya’, ‘kau pasti berbohong’ salah seorang teman yang kautampik kata-katanya tidak terima, dan berkomentar seperti itu, lalu melanjutkan, ‘itu hanya ada dalam mimpimu. Jelas-jelas dia sedang melihat ke arahku!’
“Aku bisa mendengar kalian berdebat seperti itu, sejelas aku bisa mendengar kata-katamu saat ini. Jadi, ayo kita menikah!”
Gadis berlesung pipit itu semakin kehabisan kata-kata, hingga dia pun hanya bisa mengomentari omongan Jati dengan satu ekspresi yang jelas-jelas menunjukan rasa tidak percaya.
“Kilan!” Seorang pria berseru dan menghampiri gadis berlesung pipit di hadapan Jati. Si gadis berlesung pipit pun menengok, dan menyambut gembira kedatangan si pria. “Hai, maaf. Sudah lama, ya?” katanya sembari memeluk singkat kekasih Jati itu.
Setelah melepas pelukannya, si pria memandang ke arah Jati, lalu kembali memandang si gadis mungil, bertanya, “Dia siapa?”
“Bukan siapa-siapa. Ayo, pergi!”
Dan mereka pun pergi meninggalkan Jati.
***
Selesai. Itu saja. #Kamisan saya selesai dan saya tidak perlu menerima hukuman—lepas dari sesuai tidaknya apa yang saya tuliskan dengan tema yang dilempar. Dan sebagai catatan, mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa saya tidak langsung saja masuk ke dalam cerita, tanpa harus menyiksa kalian dengan paragraf-paragraf penuh omong kosong?
Baik. Akan saya beritahukan alasannya. Itu semata-mata agar tulisan saya kali ini bisa sedikit lebih panjang daripada sebelumnya. Pun itu juga yang menjadi alasan kenapa saya menulis sampai baris ini, dan beberapa baris lagi setelah ini.
Dan sebagai catatan lain, bila setelah membaca tulisan ini kalian teringat dengan tulisan Sungging Raga, maka akan saya katakan kalian memiliki ingatan yang baik. Atau kalian merupakan salah satu penggemar tulisan-tulisan Raga seperti halnya saya. Saya bisa menulis dengan cara seperti ini, adalah semata-mata, karena saya sudah membaca tulisan Raga jauh-jauh hari sebelum sekarang.
Dengan mengutip sebuah pernyataan yang entah darimana saya baca, dan entah siapa yang pertama kali menuliskannya, saya mengakhiri tulisan ini.
“Tidak ada yang benar-benar baru di bawah Matahari.”
Kami yang saya maksud adalah kamisaners—bila kalian penasaran. Yaitu sekumpulan orang yang memutuskan untuk mengikuti kegiatan #kamisan ini. Entah admin siapa yang memberi julukan tersebut kepada kami, saya bahkan tidak ingin tahu.
Kembali ke pokok persoalan: halusinasi. Awalnya, ketika mengetahui bahwa tema minggu ini adalah halusinasi, saya merasa ukuran kepala saya menjadi sedikit lebih besar. Saya yakin bisa menjadi yang pertama. Itu bukan tanpa sebab. Karena saya sudah memiliki draf, yang meski belum kelar, tetapi saya teramat yakin bisa segera menyelesaikannya bila saya benar-benar mau melakukannya. Sialnya, setelah saya mencari lebih jauh tentang halusinasi, saya pun menyadari bahwa draf saya itu mengarah terlalu jauh; skizofrenia. Meski mirip, namun itu hal yang berbeda.
Sekarang Rabu. Dan, sudah beberapa teman yang memposting tulisan mereka. Salah satu dari mereka, yang meski sampai ketika saya menuliskan ini nyatanya juga belum memposting, bahkan sering meledek saya. Baiklah. Tidak apa-apa. Saya tahu, ledekannya itu hanya merupakan bentuk kepeduliannya, bentuk kasih sayang sesama saudara. Dan demi mengganjar ledekan-ledekannya itu, juga demi diri saya sendiri, saya pun memutuskan untuk menulis kisah ini. Meski, ya, saya pun tidak sepenuhnya yakin, apakah yang akan saya kisahkan ini bisa digolongkan ke dalam halusinasi?
Sore yang Lembut di Sebuah Taman
Itu adalah sore yang lembut di sebuah taman yang ramai pengunjung pada setiap akhir pekan. Burung-burung bercericit sembari terbang. Beberapa burung itu ada yang menukik ke tanah begitu melihat sesuatu yang mereka anggap remah-remah makanan. Anak-anak kecil tertawa-tawa dan berlarian mengejar gelembung sabun yang ditiupkan seorang tua di sudut taman. Seorang tua yang lain, berjalan dan menawarkan balon yang dijualnya kepada ibu-ibu muda yang tengah menggandeng anak mereka yang lucu-lucu. Seorang yang lebih muda, perempuan, terlihat sedang menawarkan bunga kepada sepasang remaja yang duduk bermesraan di sebuah bangku panjang di tengah taman. Begitu salah seorang remaja itu, si pria, menolak secara halus bunga yang ditawarkan, si perempuan penjual bunga pun undur diri, setelah sebelumnya memberikan senyum yang seolah berkata, “Ganteng-ganteng kok, pelit!”. Perempuan penjual bunga itu lewat begitu saja di hadapan Jati yang sedang duduk seorang diri di bangku yang berada tidak jauh dari mereka.
Jati datang ke taman itu seorang diri. Awalnya, dia ragu dengan hal itu. Datang seorang diri ke sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang yang bila berjalan selalu bergandengan tangan dengan pasangan, dan tertawa-tawa, bercanda, dan bertingkah seolah taman ini hanya milik mereka berdua, bukanlah ide yang baik, terutama bagi kejiwaan. Namun, begitu ia melihat sosok gadis mungil berlesung pipit duduk sendirian sambil membaca buku yang entah apa, ia pun kemudian meralat pernyataan itu, berada di tempat yang bisa mengganggu kejiwaan tidak buruk juga, ternyata.
Ia sebenarnya ingin langsung mendekati gadis berlesung pipit itu selepas ia melihatnya pertama kali. Akan tetapi, keinginannya itu ia redam begitu melihat dua orang gadis menghampiri gadis berlesung pipit pujaannya. Maka inilah yang terjadi selanjutnya, ia duduk di bangku panjang yang terletak tidak jauh dari gadis mungil yang mencuri perhatiannya pada kesempatan pertama; tidak jauh juga dari sepasang remaja yang sebelumnya ditawari bunga; hanya diam dan menikmati setiap gerakan si gadis berlesung pipit dengan mata yang enggan berkedip.
Begitu dua gadis lain itu pergi dari kekasihnya—ia langsung memanggil gadis itu kekasih, dan gadis pun itu setuju untuk dipanggil demikian, paling tidak dalam anggapannya, setelah beberapa kali mereka bertemu mata di tengah-tengah obrolan si gadis berlesung pipit dengan dua gadis lain itu—Jati bergegas mendekat ke arahnya.
“Aku setuju untuk menikah denganmu.”
“Ma-maaf?”
“Ya. Aku setuju untuk menikah denganmu.”
“Kau gila, ya?” Gadis mungil itu bangkit, merenggut tas tangannya, menyampirkannya di bahu kiri, dan bergegas pergi.
Sigap, Jati setengah berlari menghadang kekasihnya itu. “Tunggu, tunggu! Aku tahu kau ingin aku menikah denganmu.”
Gadis berlesung pipit itu terhenyak, lalu mendengus, “Kau benar-benar gila!”, ucapnya sembari memalingkan wajahnya dari tatapan Jati.
Ketika si gadis itu hendak berjalan melewati Jati, refleks, Jati menahannya dengan cara memegang lengan kanan si gadis. “Aku tidak gila. Aku hanya mengatakan apa yang kauinginkan.”
Gadis itu menghentak-hentakkan lengan kanannya, namun pegangan tangan Jati belum juga terlepas. “Lepaskan, atau aku akan berteriak!”
“Teriak saja! Aku tidak takut. Aku tidak punya alasan untuk takut. Apa yang kulakukan adalah benar.”
Gadis itu terus mencoba melepaskan pegangan tangan Jati sambil matanya yang hitam menatap lurus ke mata Jati. “Baiklah, baik,” katanya kemudian. Dan pegangan tangan Jati pun mengendur. Dengan sekali sentak, pegangan itu pun terlepas. “Andaikanlah aku memang ingin kau menikahiku, sekarang beritahu aku, bagaimana kau bisa tahu hal itu?”
Jati tersenyum puas. “Aku mendengarnya sendiri kau mengatakan itu.” Sekali lagi, gadis itu mendengus, lalu mengibaskan tangan kanannya di depan wajah . “Kalian tadi membicarakanku, kan? Aku bisa melihatnya dengan jelas.”
“Kami memang beberapa kali membicarakanmu, tapi itu karena kau yang selalu melihat ke arah kami.”
“Sudahlah, jangan berkelit. Aku bisa mendengarnya dengan jelas tadi, bahwa kau berkata, ‘seandainya pria itu mau menikah denganku ….’”
Gadis berlesung pipit itu semakin tersentak, diam, dan hanya memandang ke wajah Jati, menggeleng-gelengkan kepala, “Kau benar-benar sudah gila.”
“Sudah kukatakan aku tidak gila. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku bisa mendengar salah seorang temanmu berkata, ‘dia manis juga’, lalu temanmu yang lain menimpali, ‘kau benar. Dan sejak tadi dia melihat kemari. Apa dia sedang melihatku?’, lalu kau pun ikut berbicara, ‘kau salah. Sejak tadi dia sedang memperhatikanku. Seandainya kalian tidak menghampiriku, sudah pasti saat ini aku sedang berbicara dengannya’, ‘kau pasti berbohong’ salah seorang teman yang kautampik kata-katanya tidak terima, dan berkomentar seperti itu, lalu melanjutkan, ‘itu hanya ada dalam mimpimu. Jelas-jelas dia sedang melihat ke arahku!’
“Aku bisa mendengar kalian berdebat seperti itu, sejelas aku bisa mendengar kata-katamu saat ini. Jadi, ayo kita menikah!”
Gadis berlesung pipit itu semakin kehabisan kata-kata, hingga dia pun hanya bisa mengomentari omongan Jati dengan satu ekspresi yang jelas-jelas menunjukan rasa tidak percaya.
“Kilan!” Seorang pria berseru dan menghampiri gadis berlesung pipit di hadapan Jati. Si gadis berlesung pipit pun menengok, dan menyambut gembira kedatangan si pria. “Hai, maaf. Sudah lama, ya?” katanya sembari memeluk singkat kekasih Jati itu.
Setelah melepas pelukannya, si pria memandang ke arah Jati, lalu kembali memandang si gadis mungil, bertanya, “Dia siapa?”
“Bukan siapa-siapa. Ayo, pergi!”
Dan mereka pun pergi meninggalkan Jati.
***
Selesai. Itu saja. #Kamisan saya selesai dan saya tidak perlu menerima hukuman—lepas dari sesuai tidaknya apa yang saya tuliskan dengan tema yang dilempar. Dan sebagai catatan, mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa saya tidak langsung saja masuk ke dalam cerita, tanpa harus menyiksa kalian dengan paragraf-paragraf penuh omong kosong?
Baik. Akan saya beritahukan alasannya. Itu semata-mata agar tulisan saya kali ini bisa sedikit lebih panjang daripada sebelumnya. Pun itu juga yang menjadi alasan kenapa saya menulis sampai baris ini, dan beberapa baris lagi setelah ini.
Dan sebagai catatan lain, bila setelah membaca tulisan ini kalian teringat dengan tulisan Sungging Raga, maka akan saya katakan kalian memiliki ingatan yang baik. Atau kalian merupakan salah satu penggemar tulisan-tulisan Raga seperti halnya saya. Saya bisa menulis dengan cara seperti ini, adalah semata-mata, karena saya sudah membaca tulisan Raga jauh-jauh hari sebelum sekarang.
Dengan mengutip sebuah pernyataan yang entah darimana saya baca, dan entah siapa yang pertama kali menuliskannya, saya mengakhiri tulisan ini.
“Tidak ada yang benar-benar baru di bawah Matahari.”
1 comments
:) usaha yang luar biasa. Ledekan bisa membuat kita berubah. Ya menjadi lecutan agar kita maju.
BalasHapusAyo kita menikah ! :*