Sniff sniff
Hidung gadis itu mengendus perlahan. Ia menatap ke sekelilingnya, sebelum memberanikan diri mengangkat sedikit lengannya, dan mendekatkan ujung hidung mancungnya ke arah ketiak. Tak perlu menunggu semenit, secara refleks gadis itu menjengit setelah mencium aroma masam yang menguar dalam radius beberapa senti. Ia membuang wajahnya cepat-cepat, menjauhkannya dari lengannya yang terangkat, sambil mengerucutkan hidung.
“Iyuh, bau!” Gerutu Andara, setengah terbatuk-batuk.
“Apanya yang bau?” Kevin, temannya yang tengah asyik membetulkan lensa kamera DSLR bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada Andara yang duduk persis di sebelahnya.
“Badan gue.” Gumam gadis itu kemudian sambil menyisirkan rambutnya yang panjang dan ikal dengan jemarinya.
“Ya udah sih, santai aja. Enggak bakal ada yang merhatiin.” Kevin berkata cuek. Pemuda itu sibuk mengarahkan lensa DSLR kemana-mana, termasuk ke wajah cemberut Andara. Gadis bertubuh tinggi dan langsing itu hanya duduk rebahan sambil kipas-kipas dengan menggunakan name tag panitia.
“Ck, pale lo enggak bakal ada yang merhatiin? Kalo ada yang bisa nyium bau badan gue gimana?”
“Gue enggak tuh.”
“Serius lo?”Andara refleks menegakkan tubuhnya.
“Iya. Lagian biasanya lo pake parfum kan bisa sampe satu botol. Tenang aja sih. Lo selalu wangi kok.”
“Tapi kan kita dari tadi manuver ke sana ke mari. Mandi juga pagi banget, jam 4. Ya udah keringetan lagi lah.” Sungut Andara, kemudian meraih map pink, yang ada di dalam goodiebag untuk pengunjung, berisi press release untuk acara hari ini. Sesekali ia masih mengendus-endus pelan ke daerah dekat ketiaknya.
Matahari siang itu perlahan memancarkan sengatnya. Teriknya sanggup membakar ubun-ubun manusia jika manusia itu tidak gesit bergerak. Dan di parkiran sebuah kampus swasta untuk Public Relations di Jakarta, kesibukan mempersiapkan sebuah acara membuat orang-orang yang ada di sana terlihat berseliweran seperti mengejar sesuatu. Siang itu kampus Andara memang akan mengadakan acara festival kuliner bertemakan kuliner Jakarta, yang diadakan oleh angkatan 18, angkatan Andara dan Kevin. Panitia yang siang itu mengenakan kaus putih dengan sablon desain poster acara pun nampak mondar-mandir sudah sedari pagi tadi, untuk mempersiapkan acara. Beberapa media sudah menunjukkan diri mereka, dan mempersiapkan kamera atau peralatan liputan lainnya. Acara ini memang bisa dibilang cukup bergengsi. Tidak hanya karena sederet kegiatan yang keren, tetapi juga pengisi acaranya adalah nama-nama tenar sekelas Chef Marinka, Chef Billy, Bondan Winarno, dan juga beberapa petinggi dari Pemerintahan Provinsi Jakarta.
Andara yang notabene adalah seorang staf divisi acara, kebagian jadi LO (liaison officer) beberapa public figure yang akan mengisi acara hari ini. Mau tidak mau hal ini membuat resah gadis itu, mengingat kemunculan bau tidak sedap dari tubuhnya padahal acara dalam satu jam lagi akan dimulai. Andara harus tampil prima, agar ia dapat menjalankan tugasnya dengan penuh percaya diri. Bertemu orang-orang penting dalam keadaan badan yang bau adalah hal terakhir yang ia inginkan di dunia, dan sebenarnya malah sama sekali tidak ia inginkan. Oleh karena itu, bagaimanapun caranya Andara harus menghilangkan bau tidak sedap sekecil apapun yang muncul dari dirinya.
***
Matahari bergerak meninggi di langit Jakarta yang cerah. Suasana event festival kuliner itu semakin ramai oleh pengunjung yang mayoritas adalah mahasiswa kampus tersebut. Panitia masih terlihat berjalan berkeliling sesuai dengan tugas mereka masing-masing. Deretan meja-meja berisi jualan beragam jenis kuliner yang mayoritas adalah kuliner Jakarta sudah mulai ramai dikunjungi. Namun di tenda dalam, panitia masih terlihat merapikan kursi-kursi atau sesekali sound check di panggung kecil yang akan diisi pembicara talkshow. Diiringi alunan musik dari live band di sisi panggung kecil tersebut, beberapa panitia lainnya yang mayoritas adalah panitia divisi acara, mengadakan briefing terakhir sebelum acara dimulai. Mereka berdiri melingkar di depan panggung kecil yang kini sudah nampak rapi dan siap digunakan.
Ilana, gadis berbadan kurus dengan wajah tirus dan mata sipit dibingkai kacamata, mengarahkan jalannya briefing singkat, selaku ketua panitia. Andara sebagai staf Ilana pun mencoba fokus dengan arahan-arahan yang diberikan oleh Ilana. Sekuat tenaga mengabaikan bau asam seperti cuka yang ia cium dari tubuhnya sendiri. Tapi kemudian ia melihat ekspresi dari Saga, Dendi, dan beberapa panitia cowok yang berdiri di sampingnya. Mereka semua mengerutkan dahi, dan beberapa di antara mereka malah menggosok-gosok ujung hidung, atau ada juga yang seperti orang pilek. Ada yang mengendus-enduskan hidung, atau mengusap hidung. Membuatnya merasa seperti dihunjam sindiran bertubi-tubi. Andara malah jadi makin berkeringat. Entah kenapa panas udara seolah naik beberapa derajat. Ia terus-terusan mengibaskan map pink yang ia bawa-bawa sedari tadi, untuk menghantar angin, agar keringatnya berhenti berkucuran. Namun rupanya tidak berhasil. Malah Sabrina yang diri di sampingnya jadi membuang muka, sepertinya ia jadi ikut mencium bau badannya. Andara menahan diri untuk tidak mengendus-endus badannya, dan memilih segera berlalu menjauh dari kerumunan panitia yang baru saja membubarkan diri, dan beranjak ke pos masing-masing untuk mempersiapkan acara yang akan dimulai.
“Hey, Dar, mau kemana lo? Jangan kabur lah! Acara mulai setengah jam lagi kali.” Panggil Ilana melihat gelagat Andara yang terlihat seperti tidak tenang dan seolah akan melarikan diri sebentar lagi. Padahal Ilana masih membutuhkan Dara di dekatnya untuk memberi pengarahan khusus untuk kedatangan Chef Marinka dan Deputi Pariwisata Pemprov Jakarta yang ia tangani.
“Gue mau nyari tas dulu, mau ngambil parfum.” Jawab Andara cepat.
“Ya elah. Udahlah enggak usah takut bau kenapa sih. Wajar tau,” beritahu Ilana sambil melipat tangan di dada. Ilana tau, Andara, gadis cantik itu tak mau mendengarkannya. Ia hanya berharap Andara tidak benar-benar melarikan diri hanya karena masalah bau badan ini. Yang sebenarnya Ilana bingung juga dibuatnya, pasalnya Ilana tidak mencium bau asam apapun menguar dari Andara. Ia justru mencium wangi The Bodyshop body mist yang ia tahu biasa dikenakan Andara. Meski begitu Ilana tak sempat menghentikan Andara yang kelihatan seperti cacing kepanasan. Maka gadis itu hanya bisa menatap punggung Andara yang menjauh dari panggung kecil dalam tenda.
Sementara itu, Andara terus berjalan cepat ke sembarang tempat, sesuai dengan ingatan samar-samarnya menuntunnya. Terus berusaha mencari tasnya yang lupa ia letakkan dimana. Ini benar-benar genting karena acara akan dimulai 30 menit lagi. Dan Andara adalah LO untuk Chef Marinka yang akan mengisi sesi masak bersama peserta kira-kira pukul dua siang nanti. Andara terus berjalan cepat menerobos lokasi acara yang mulai diramaikan orang-orang. Sesekali ia tidak sengaja menabrak beberapa pengunjung. Awalnya ia masih sempat mengucapkan maaf, lama-lama ketika tak kunjung ia temukan tas di sekitaran lokasi, ia mulai putus asa dan meniadakan kata maaf dari kamusnya untuk sementara waktu. Bahkan ia nyaris mengabaikan beberapa orang temannya yang sengaja berkunjung ke acara tersebut karena tau acara itu diadakan oleh angkatan Andara.
“Sori, gue tadi buru-buru jadi nyaris enggak ngeh kalo lo manggil gue.” Ujar Andara masih dengan tampang panik.
“Kenapa sih, Dar? Ada masalah sama acaranya?” Tanya Stephanie
“Enggak. Gue enggak tahu juga sih. Yang jelas gue harus nemuin tas gue. Gue butuh pake parfum. Oke duluan yah, daah!” Andara bergegas menutup percakapan, dan berlalu begitu saja meninggalkan temannya itu dalam kebingungan.
Setelah berkeliling hingga ke gedung C dan bertanya sana-sini akhirnya Dara menemukan tasnya, tempat sebuah benda yang amat sakral saat ini baginya ia simpan. Rupanya ada di sebuah ruang kelas di gedung C yang memang dijadikan tempat lain bagi panitia untuk menyimpan barang-barang mereka. Karena kekacauan yang tiba-tiba melanda dirinya, menyebabkan kemampuan konsentrasi dan mengingat Andara berkurang cukup drastis. Ia benar-benar tak bisa fokus pada hal lain selain bau badan yang memenuhi hidungnya. Dan bahkan bau itu seolah sudah mengepung dirinya.
Satu body mist dan satu botol eau de toilette tersimpan rapi dalam tas pink milik Andara. Ia bernapas lega. Pikiran harus segera menghilangkan bau badan ini terus memburu. Maka ia bergegas berlari menuju toilet terdekat. Dan dua orang gadis telah menyambutnya di dalam. Sial sekali kenapa bisa ada orang sih di dalam sini, Dara membatin. Ia jadi tak bisa sepenuh hati menyemprotkan parfumnya karena pasti mereka akan memandanginya dengan aneh.
Awal mula ia menyemprotkan eau de toilette-nya perlahan ke pergelangan tangan, lalu menggosok-gosokkannya dan mengusapkannya nya ke pangkal leher. Kemudian ia menyemprotkannya ke daerah ketiak, lalu ke lipatan lutut. Namun ketika semenit dua menit berlalu, ia masih bisa mengendus bau asam cuka itu muncul dari tubuhnya. Andara memandang berkeliling, gadis-gadis itu masih berdiri di depan wastafel dan tengah membetulkan make up mereka. Sial sial sial. Kenapa gadis-gadis itu masih betah berlama-lama di dalam toilet sih?
Andara pun terpaksa masuk ke dalam salah satu bilik toilet, lalu di sana ia menyemprotkan banyak-banyak eau de toilette ke sekujur tubuhnya. Dari luar terdengar bisik-bisik gadis-gadis tadi. Sepertinya mereka mampu mendengar suara parfum yang cukup heboh Andara semprotkan barusan. Dan mungkin wanginya mulai tercium. Karena wangi parfum ini agak kuat memang. Tapi baguslah. Kalau memang wangi parfum ini begitu menyengat, harusnya mereka semua tidak akan bisa mencium bau-bauan aneh dari tubuhnya. Namun tak lama setelah Andara keluar dari bilik toilet, dan menutup pintu toilet, ia kembali mengendus sesuatu dari tubuhnya. Bau asam cuka itu masih menguar tajam dan menyergap indera penciumannya dengan begitu cepat tanpa ampun. Bahkan ia merasa bau itu mulai mengisi setiap sel otaknya.
***
“Hey, Dar! Lo mau kemana lagi?! Ini acara lima menit lagi mau mulai dan elo masih juga mau kelayapan enggak jelas?!”Sergah Ilana. Membuat Andara tidak bisa melangkahkan kakinya lebih jauh, dan membiarkan Ilana menghampirinya.
“Udah ketemu kan parfumnya?”
“Iya, tapi enggak cukup, Ilana! Gue masih … bau.” Kesah Andara, putus asa.
Ilana memandangi gadis di hadapannya dengan tatapan jengkel, tak percaya keluhan yang sama masih keluar darinya. Harus diyakinkan berapa kalikah Andara kalau yang Ilana cium saat ini adalah eau de toilette yang menyengat baunya. Ilana melipat tangannya lagi di dadanya, dan kakinya mengetuk-ngetuk ke tanah, tak sabar.
“Lo-enggak-bau. Berapa kali sih mesti dibilangin. Lo pake parfum wangi vanilla yang nyengatnya bisa kecium dalam jarak seratus senti kayaknya ya!”
“Bohong,” balas Andara sengit, “lo sengaja ngomong gitu supaya gue enggak usah khawatir dan mau ngerjain kerjaan gue kan? Enggak bisa Ilana, hidung gue adalah hal pertama yang nggak mungkin membohongi gue!” Seru Andara histeris. Akibatnya beberapa kru yang menangani sound system di atas panggung kecil, sontak memandangi Andara dengan tatapan aneh. Beberapa panitia lainnya yang tadinya sedang sibuk mengurusi ini itu, jadi berhenti sejenak memandangi Ilana dan Andara yang sedari tadi terlihat adu mulut. Ilana mendengus kesal. Persoalan ini sungguh absurd karena ia sama sekali tidak paham hingga detik ini dengan bau yang Andara keluhkan keluar dari tubuhnya.
“Bram, sini deh! Coba lo cium Andara, dia bau enggak?”Panggil Ilana, habis kesabaran dan memutuskan untuk meminta pendapat orang lain, untuk meyakinkan Andara.
Bram memandangi keduanya dengan tatapan aneh. Tapi Ilana melancarkan delikan tajam memerintah, yang membuat Bram tak punya pilihan selain mendekati Andara untuk mengendusi gadis itu. Andara menggigit bibir, dan ganti mendelikkan mata pada Ilana.”Lan, enggak gini juga dong tapinya. Kan semua jadi tau nanti,”geram Andara.
“Whatever girl, lo udah menarik perhatian dari tadi oke. Lagian kayaknya lo kudu diyakinkan kalo lo fine aja, oke!”Sentak Andara tak peduli.
“Enggak kok,enggak bau. Wangi banget malah parfumnya,”beritahu Bram sambil meringis.
“Serius? Tapi enggak, gue enggak percaya. Idung gue masih nyiumnya bau keringet yang asem banget, Lan!” sanggah Andara lagi.
Ilana lantas tak menyerah. Ia memanggil dua orang penjaga stand makanan dan meminta pendapat mereka juga. Dan hasilnya sama. Semua mengatakan Andara sama sekali tidak bau keringat. Jusru wangi sekali parfumnya.
“Udah Dar, enggak apa kok. Lo wangi, oke. Lo mungkin Cuma lagi stress atau karena kurang tidur aja beberapa hari ini, dear. Jadi lo menghayalkan bau yang sebenarnya enggak lo cium.” Ilana menjelaskan sambil menepuk perlahan bahu Andara, mulai melunak melihat Andara masih saja berwajah ngeri, seolah masih dihantui sesuatu yang mungkin sebenarnya hanya perasaannya saja. Sesuatu yang sepertinya semenyeramkan hantu bagi Andara.
“Enggak, Lana. Baunya nyata banget. Gue tahu.” Gumam Andara lemah. Bau seperti cuka asam masih tajam di hidungnya. Andara sudah benar-benar frustasi karena bagi hidungnya bau keringat yang masam itulah tak pergi-pergi juga. Ia tak bisa mencium benda lainnya. Sudah ia coba untuk mengendus spaghetti, kopi, kue pancong, dan makanan lainnya yang ada, semuanya berbau keringat yang seasam cuka. Ia pun memutuskan untuk kabur ke minimarket terdekat. Ia akan membeli parfum lainnya, atau mungkin pengharum ruangan, minyak kayu putih, baygon atau wewangian apapun asalkan bisa mengusir bau keringat yang menghantui indera penciumannya sedari tadi. Tidak peduli dengan Ilana yang berteriak-teriak memanggil Andara untuk kembali. Ia harus memusnahkan bau aneh yang menyengat ini dari hidungnya.
Dalam perjalanannya mencari minimarket, ia lagi-lagi menubruk seseorang cukup kencang hingga membuat gadis itu terjatuh. Andara terpaksa berhenti sejenak untuk membantu orang itu. Seorang gadis berkacamata dan bertubuh kurus, yang keliatan begitu rapuh. Ditabrak Andara saja sampai jatuh duduk. “Sori ya, enggak sengaja. Gue buru-buru…” Kata-kata Andara kemudian menggantung, seolah terlupakan tanda titik di akhir kalimat, ketika ia mendapati sepasang mata itu memandanginya. Pandangan itu seolah menusuk matanya, dan melempar Andara pada sebuah ingatan yang munculnya begitu saja entah dari mana. Seperti bau tubuh menyengatnya yang entah mengapa munculnya bisa begitu cepat.
Dalam ingatannya yang mulanya samar namun lama-lama menajam, wajah gadis itu muncul. Waktu itu ia sedang makan siang di kantin, dan gadis ini duduk di sampingnya. Karena kantin sedang penuh-penuhnya, Andara dan gadis itu duduk begitu dekat, jarak bahu keduanya hanya beberapa mili saja. Dan bau itu muncul. Bau si gadis. Andara memang tak mengatakan apa-apa. Ia tak menyindir gadis yang masih tenang menikmati semangkuk bakso. Tapi ia ingat betul apa yang batinnya bisikkan kala itu.
”Tsk, bau banget sih ini cewek. Enggak pake parfum ya? Malah jangan-jangan enggak pake deodorant? Mengganggu banget sih!”
Dan ia ingat, matanya tanpa ampun melempar pandangan itu. Pandangan terganggu, sinis dan meremehkan. Kemudian pusaran waktu kembali melempar Andara pada detik ini. Pada sosok gadis yang kini telah berdiri di hadapan Andara, sambil mengusap-usap lututnya yang dibalut jeans lusuh. “Enggak apa-apa kok. Duluan ya.” Sahut gadis itu, malah menyapanya ramah.
Lutut Andara lemas seketika, dan membuatnya jatuh terduduk di trotoar jalanan. Tak peduli satu dua orang mulai memperhatikannya dengan pandangan tak wajar. Otaknya kini disibukkan dengan ingatan yang bermunculan susul-menyusul. Ketika ia meledek adik sepupunya yang memang punya bau badan melebihi yang lain, ketika ia misuh-misuh terganggu dengan bau badan pengamen di bus kota, ketika ia memalingkan wajahnya dengan jijik dari seorang ibu tua berbau amis seperti bau pasar yang berjalan bersisian dengannya. Dan kini bukan hanya bau badannya saja yang hidungnya cium; bau sampah, bau apak, dan bau-bauan aneh lainnya mulai menghampiri hidungnya. Melesak ke dalam paru-parunya dan mengisi setiap sel otaknya. Andara terisak lemah sambil memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di antara kedua lututnya. Dan bau-bau itu terus mengikutinya. Terus mengikutinya.
Hidung gadis itu mengendus perlahan. Ia menatap ke sekelilingnya, sebelum memberanikan diri mengangkat sedikit lengannya, dan mendekatkan ujung hidung mancungnya ke arah ketiak. Tak perlu menunggu semenit, secara refleks gadis itu menjengit setelah mencium aroma masam yang menguar dalam radius beberapa senti. Ia membuang wajahnya cepat-cepat, menjauhkannya dari lengannya yang terangkat, sambil mengerucutkan hidung.
“Iyuh, bau!” Gerutu Andara, setengah terbatuk-batuk.
“Apanya yang bau?” Kevin, temannya yang tengah asyik membetulkan lensa kamera DSLR bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada Andara yang duduk persis di sebelahnya.
“Badan gue.” Gumam gadis itu kemudian sambil menyisirkan rambutnya yang panjang dan ikal dengan jemarinya.
“Ya udah sih, santai aja. Enggak bakal ada yang merhatiin.” Kevin berkata cuek. Pemuda itu sibuk mengarahkan lensa DSLR kemana-mana, termasuk ke wajah cemberut Andara. Gadis bertubuh tinggi dan langsing itu hanya duduk rebahan sambil kipas-kipas dengan menggunakan name tag panitia.
“Ck, pale lo enggak bakal ada yang merhatiin? Kalo ada yang bisa nyium bau badan gue gimana?”
“Gue enggak tuh.”
“Serius lo?”Andara refleks menegakkan tubuhnya.
“Iya. Lagian biasanya lo pake parfum kan bisa sampe satu botol. Tenang aja sih. Lo selalu wangi kok.”
“Tapi kan kita dari tadi manuver ke sana ke mari. Mandi juga pagi banget, jam 4. Ya udah keringetan lagi lah.” Sungut Andara, kemudian meraih map pink, yang ada di dalam goodiebag untuk pengunjung, berisi press release untuk acara hari ini. Sesekali ia masih mengendus-endus pelan ke daerah dekat ketiaknya.
Matahari siang itu perlahan memancarkan sengatnya. Teriknya sanggup membakar ubun-ubun manusia jika manusia itu tidak gesit bergerak. Dan di parkiran sebuah kampus swasta untuk Public Relations di Jakarta, kesibukan mempersiapkan sebuah acara membuat orang-orang yang ada di sana terlihat berseliweran seperti mengejar sesuatu. Siang itu kampus Andara memang akan mengadakan acara festival kuliner bertemakan kuliner Jakarta, yang diadakan oleh angkatan 18, angkatan Andara dan Kevin. Panitia yang siang itu mengenakan kaus putih dengan sablon desain poster acara pun nampak mondar-mandir sudah sedari pagi tadi, untuk mempersiapkan acara. Beberapa media sudah menunjukkan diri mereka, dan mempersiapkan kamera atau peralatan liputan lainnya. Acara ini memang bisa dibilang cukup bergengsi. Tidak hanya karena sederet kegiatan yang keren, tetapi juga pengisi acaranya adalah nama-nama tenar sekelas Chef Marinka, Chef Billy, Bondan Winarno, dan juga beberapa petinggi dari Pemerintahan Provinsi Jakarta.
Andara yang notabene adalah seorang staf divisi acara, kebagian jadi LO (liaison officer) beberapa public figure yang akan mengisi acara hari ini. Mau tidak mau hal ini membuat resah gadis itu, mengingat kemunculan bau tidak sedap dari tubuhnya padahal acara dalam satu jam lagi akan dimulai. Andara harus tampil prima, agar ia dapat menjalankan tugasnya dengan penuh percaya diri. Bertemu orang-orang penting dalam keadaan badan yang bau adalah hal terakhir yang ia inginkan di dunia, dan sebenarnya malah sama sekali tidak ia inginkan. Oleh karena itu, bagaimanapun caranya Andara harus menghilangkan bau tidak sedap sekecil apapun yang muncul dari dirinya.
***
Matahari bergerak meninggi di langit Jakarta yang cerah. Suasana event festival kuliner itu semakin ramai oleh pengunjung yang mayoritas adalah mahasiswa kampus tersebut. Panitia masih terlihat berjalan berkeliling sesuai dengan tugas mereka masing-masing. Deretan meja-meja berisi jualan beragam jenis kuliner yang mayoritas adalah kuliner Jakarta sudah mulai ramai dikunjungi. Namun di tenda dalam, panitia masih terlihat merapikan kursi-kursi atau sesekali sound check di panggung kecil yang akan diisi pembicara talkshow. Diiringi alunan musik dari live band di sisi panggung kecil tersebut, beberapa panitia lainnya yang mayoritas adalah panitia divisi acara, mengadakan briefing terakhir sebelum acara dimulai. Mereka berdiri melingkar di depan panggung kecil yang kini sudah nampak rapi dan siap digunakan.
Ilana, gadis berbadan kurus dengan wajah tirus dan mata sipit dibingkai kacamata, mengarahkan jalannya briefing singkat, selaku ketua panitia. Andara sebagai staf Ilana pun mencoba fokus dengan arahan-arahan yang diberikan oleh Ilana. Sekuat tenaga mengabaikan bau asam seperti cuka yang ia cium dari tubuhnya sendiri. Tapi kemudian ia melihat ekspresi dari Saga, Dendi, dan beberapa panitia cowok yang berdiri di sampingnya. Mereka semua mengerutkan dahi, dan beberapa di antara mereka malah menggosok-gosok ujung hidung, atau ada juga yang seperti orang pilek. Ada yang mengendus-enduskan hidung, atau mengusap hidung. Membuatnya merasa seperti dihunjam sindiran bertubi-tubi. Andara malah jadi makin berkeringat. Entah kenapa panas udara seolah naik beberapa derajat. Ia terus-terusan mengibaskan map pink yang ia bawa-bawa sedari tadi, untuk menghantar angin, agar keringatnya berhenti berkucuran. Namun rupanya tidak berhasil. Malah Sabrina yang diri di sampingnya jadi membuang muka, sepertinya ia jadi ikut mencium bau badannya. Andara menahan diri untuk tidak mengendus-endus badannya, dan memilih segera berlalu menjauh dari kerumunan panitia yang baru saja membubarkan diri, dan beranjak ke pos masing-masing untuk mempersiapkan acara yang akan dimulai.
“Hey, Dar, mau kemana lo? Jangan kabur lah! Acara mulai setengah jam lagi kali.” Panggil Ilana melihat gelagat Andara yang terlihat seperti tidak tenang dan seolah akan melarikan diri sebentar lagi. Padahal Ilana masih membutuhkan Dara di dekatnya untuk memberi pengarahan khusus untuk kedatangan Chef Marinka dan Deputi Pariwisata Pemprov Jakarta yang ia tangani.
“Gue mau nyari tas dulu, mau ngambil parfum.” Jawab Andara cepat.
“Ya elah. Udahlah enggak usah takut bau kenapa sih. Wajar tau,” beritahu Ilana sambil melipat tangan di dada. Ilana tau, Andara, gadis cantik itu tak mau mendengarkannya. Ia hanya berharap Andara tidak benar-benar melarikan diri hanya karena masalah bau badan ini. Yang sebenarnya Ilana bingung juga dibuatnya, pasalnya Ilana tidak mencium bau asam apapun menguar dari Andara. Ia justru mencium wangi The Bodyshop body mist yang ia tahu biasa dikenakan Andara. Meski begitu Ilana tak sempat menghentikan Andara yang kelihatan seperti cacing kepanasan. Maka gadis itu hanya bisa menatap punggung Andara yang menjauh dari panggung kecil dalam tenda.
Sementara itu, Andara terus berjalan cepat ke sembarang tempat, sesuai dengan ingatan samar-samarnya menuntunnya. Terus berusaha mencari tasnya yang lupa ia letakkan dimana. Ini benar-benar genting karena acara akan dimulai 30 menit lagi. Dan Andara adalah LO untuk Chef Marinka yang akan mengisi sesi masak bersama peserta kira-kira pukul dua siang nanti. Andara terus berjalan cepat menerobos lokasi acara yang mulai diramaikan orang-orang. Sesekali ia tidak sengaja menabrak beberapa pengunjung. Awalnya ia masih sempat mengucapkan maaf, lama-lama ketika tak kunjung ia temukan tas di sekitaran lokasi, ia mulai putus asa dan meniadakan kata maaf dari kamusnya untuk sementara waktu. Bahkan ia nyaris mengabaikan beberapa orang temannya yang sengaja berkunjung ke acara tersebut karena tau acara itu diadakan oleh angkatan Andara.
“Sori, gue tadi buru-buru jadi nyaris enggak ngeh kalo lo manggil gue.” Ujar Andara masih dengan tampang panik.
“Kenapa sih, Dar? Ada masalah sama acaranya?” Tanya Stephanie
“Enggak. Gue enggak tahu juga sih. Yang jelas gue harus nemuin tas gue. Gue butuh pake parfum. Oke duluan yah, daah!” Andara bergegas menutup percakapan, dan berlalu begitu saja meninggalkan temannya itu dalam kebingungan.
Setelah berkeliling hingga ke gedung C dan bertanya sana-sini akhirnya Dara menemukan tasnya, tempat sebuah benda yang amat sakral saat ini baginya ia simpan. Rupanya ada di sebuah ruang kelas di gedung C yang memang dijadikan tempat lain bagi panitia untuk menyimpan barang-barang mereka. Karena kekacauan yang tiba-tiba melanda dirinya, menyebabkan kemampuan konsentrasi dan mengingat Andara berkurang cukup drastis. Ia benar-benar tak bisa fokus pada hal lain selain bau badan yang memenuhi hidungnya. Dan bahkan bau itu seolah sudah mengepung dirinya.
Satu body mist dan satu botol eau de toilette tersimpan rapi dalam tas pink milik Andara. Ia bernapas lega. Pikiran harus segera menghilangkan bau badan ini terus memburu. Maka ia bergegas berlari menuju toilet terdekat. Dan dua orang gadis telah menyambutnya di dalam. Sial sekali kenapa bisa ada orang sih di dalam sini, Dara membatin. Ia jadi tak bisa sepenuh hati menyemprotkan parfumnya karena pasti mereka akan memandanginya dengan aneh.
Awal mula ia menyemprotkan eau de toilette-nya perlahan ke pergelangan tangan, lalu menggosok-gosokkannya dan mengusapkannya nya ke pangkal leher. Kemudian ia menyemprotkannya ke daerah ketiak, lalu ke lipatan lutut. Namun ketika semenit dua menit berlalu, ia masih bisa mengendus bau asam cuka itu muncul dari tubuhnya. Andara memandang berkeliling, gadis-gadis itu masih berdiri di depan wastafel dan tengah membetulkan make up mereka. Sial sial sial. Kenapa gadis-gadis itu masih betah berlama-lama di dalam toilet sih?
Andara pun terpaksa masuk ke dalam salah satu bilik toilet, lalu di sana ia menyemprotkan banyak-banyak eau de toilette ke sekujur tubuhnya. Dari luar terdengar bisik-bisik gadis-gadis tadi. Sepertinya mereka mampu mendengar suara parfum yang cukup heboh Andara semprotkan barusan. Dan mungkin wanginya mulai tercium. Karena wangi parfum ini agak kuat memang. Tapi baguslah. Kalau memang wangi parfum ini begitu menyengat, harusnya mereka semua tidak akan bisa mencium bau-bauan aneh dari tubuhnya. Namun tak lama setelah Andara keluar dari bilik toilet, dan menutup pintu toilet, ia kembali mengendus sesuatu dari tubuhnya. Bau asam cuka itu masih menguar tajam dan menyergap indera penciumannya dengan begitu cepat tanpa ampun. Bahkan ia merasa bau itu mulai mengisi setiap sel otaknya.
***
“Hey, Dar! Lo mau kemana lagi?! Ini acara lima menit lagi mau mulai dan elo masih juga mau kelayapan enggak jelas?!”Sergah Ilana. Membuat Andara tidak bisa melangkahkan kakinya lebih jauh, dan membiarkan Ilana menghampirinya.
“Udah ketemu kan parfumnya?”
“Iya, tapi enggak cukup, Ilana! Gue masih … bau.” Kesah Andara, putus asa.
Ilana memandangi gadis di hadapannya dengan tatapan jengkel, tak percaya keluhan yang sama masih keluar darinya. Harus diyakinkan berapa kalikah Andara kalau yang Ilana cium saat ini adalah eau de toilette yang menyengat baunya. Ilana melipat tangannya lagi di dadanya, dan kakinya mengetuk-ngetuk ke tanah, tak sabar.
“Lo-enggak-bau. Berapa kali sih mesti dibilangin. Lo pake parfum wangi vanilla yang nyengatnya bisa kecium dalam jarak seratus senti kayaknya ya!”
“Bohong,” balas Andara sengit, “lo sengaja ngomong gitu supaya gue enggak usah khawatir dan mau ngerjain kerjaan gue kan? Enggak bisa Ilana, hidung gue adalah hal pertama yang nggak mungkin membohongi gue!” Seru Andara histeris. Akibatnya beberapa kru yang menangani sound system di atas panggung kecil, sontak memandangi Andara dengan tatapan aneh. Beberapa panitia lainnya yang tadinya sedang sibuk mengurusi ini itu, jadi berhenti sejenak memandangi Ilana dan Andara yang sedari tadi terlihat adu mulut. Ilana mendengus kesal. Persoalan ini sungguh absurd karena ia sama sekali tidak paham hingga detik ini dengan bau yang Andara keluhkan keluar dari tubuhnya.
“Bram, sini deh! Coba lo cium Andara, dia bau enggak?”Panggil Ilana, habis kesabaran dan memutuskan untuk meminta pendapat orang lain, untuk meyakinkan Andara.
Bram memandangi keduanya dengan tatapan aneh. Tapi Ilana melancarkan delikan tajam memerintah, yang membuat Bram tak punya pilihan selain mendekati Andara untuk mengendusi gadis itu. Andara menggigit bibir, dan ganti mendelikkan mata pada Ilana.”Lan, enggak gini juga dong tapinya. Kan semua jadi tau nanti,”geram Andara.
“Whatever girl, lo udah menarik perhatian dari tadi oke. Lagian kayaknya lo kudu diyakinkan kalo lo fine aja, oke!”Sentak Andara tak peduli.
“Enggak kok,enggak bau. Wangi banget malah parfumnya,”beritahu Bram sambil meringis.
“Serius? Tapi enggak, gue enggak percaya. Idung gue masih nyiumnya bau keringet yang asem banget, Lan!” sanggah Andara lagi.
Ilana lantas tak menyerah. Ia memanggil dua orang penjaga stand makanan dan meminta pendapat mereka juga. Dan hasilnya sama. Semua mengatakan Andara sama sekali tidak bau keringat. Jusru wangi sekali parfumnya.
“Udah Dar, enggak apa kok. Lo wangi, oke. Lo mungkin Cuma lagi stress atau karena kurang tidur aja beberapa hari ini, dear. Jadi lo menghayalkan bau yang sebenarnya enggak lo cium.” Ilana menjelaskan sambil menepuk perlahan bahu Andara, mulai melunak melihat Andara masih saja berwajah ngeri, seolah masih dihantui sesuatu yang mungkin sebenarnya hanya perasaannya saja. Sesuatu yang sepertinya semenyeramkan hantu bagi Andara.
“Enggak, Lana. Baunya nyata banget. Gue tahu.” Gumam Andara lemah. Bau seperti cuka asam masih tajam di hidungnya. Andara sudah benar-benar frustasi karena bagi hidungnya bau keringat yang masam itulah tak pergi-pergi juga. Ia tak bisa mencium benda lainnya. Sudah ia coba untuk mengendus spaghetti, kopi, kue pancong, dan makanan lainnya yang ada, semuanya berbau keringat yang seasam cuka. Ia pun memutuskan untuk kabur ke minimarket terdekat. Ia akan membeli parfum lainnya, atau mungkin pengharum ruangan, minyak kayu putih, baygon atau wewangian apapun asalkan bisa mengusir bau keringat yang menghantui indera penciumannya sedari tadi. Tidak peduli dengan Ilana yang berteriak-teriak memanggil Andara untuk kembali. Ia harus memusnahkan bau aneh yang menyengat ini dari hidungnya.
Dalam perjalanannya mencari minimarket, ia lagi-lagi menubruk seseorang cukup kencang hingga membuat gadis itu terjatuh. Andara terpaksa berhenti sejenak untuk membantu orang itu. Seorang gadis berkacamata dan bertubuh kurus, yang keliatan begitu rapuh. Ditabrak Andara saja sampai jatuh duduk. “Sori ya, enggak sengaja. Gue buru-buru…” Kata-kata Andara kemudian menggantung, seolah terlupakan tanda titik di akhir kalimat, ketika ia mendapati sepasang mata itu memandanginya. Pandangan itu seolah menusuk matanya, dan melempar Andara pada sebuah ingatan yang munculnya begitu saja entah dari mana. Seperti bau tubuh menyengatnya yang entah mengapa munculnya bisa begitu cepat.
Dalam ingatannya yang mulanya samar namun lama-lama menajam, wajah gadis itu muncul. Waktu itu ia sedang makan siang di kantin, dan gadis ini duduk di sampingnya. Karena kantin sedang penuh-penuhnya, Andara dan gadis itu duduk begitu dekat, jarak bahu keduanya hanya beberapa mili saja. Dan bau itu muncul. Bau si gadis. Andara memang tak mengatakan apa-apa. Ia tak menyindir gadis yang masih tenang menikmati semangkuk bakso. Tapi ia ingat betul apa yang batinnya bisikkan kala itu.
”Tsk, bau banget sih ini cewek. Enggak pake parfum ya? Malah jangan-jangan enggak pake deodorant? Mengganggu banget sih!”
Dan ia ingat, matanya tanpa ampun melempar pandangan itu. Pandangan terganggu, sinis dan meremehkan. Kemudian pusaran waktu kembali melempar Andara pada detik ini. Pada sosok gadis yang kini telah berdiri di hadapan Andara, sambil mengusap-usap lututnya yang dibalut jeans lusuh. “Enggak apa-apa kok. Duluan ya.” Sahut gadis itu, malah menyapanya ramah.
Lutut Andara lemas seketika, dan membuatnya jatuh terduduk di trotoar jalanan. Tak peduli satu dua orang mulai memperhatikannya dengan pandangan tak wajar. Otaknya kini disibukkan dengan ingatan yang bermunculan susul-menyusul. Ketika ia meledek adik sepupunya yang memang punya bau badan melebihi yang lain, ketika ia misuh-misuh terganggu dengan bau badan pengamen di bus kota, ketika ia memalingkan wajahnya dengan jijik dari seorang ibu tua berbau amis seperti bau pasar yang berjalan bersisian dengannya. Dan kini bukan hanya bau badannya saja yang hidungnya cium; bau sampah, bau apak, dan bau-bauan aneh lainnya mulai menghampiri hidungnya. Melesak ke dalam paru-parunya dan mengisi setiap sel otaknya. Andara terisak lemah sambil memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di antara kedua lututnya. Dan bau-bau itu terus mengikutinya. Terus mengikutinya.
0 comments