#03 Endorphin Kirana

Kamisan S2 #03 - Endorphin: Air Cucuran Atap

08.13Unknown


Hormon si dewa bahagia itu mengalir kuat. Kelenjar pituatuitaryku menghasilkannya dengan hebat. Bertindak seperti morphine bahkan 200 kali lebih hebat. Zat penghilang rasa sakit terbaik. Tidak lagi aku perduli tetangga-tetangga ku berisik "Air cucuran atap jatuh tidak pernah jauh dari atapnya" tidak apa. Rasa sakit yang berbayar ini sudah membuat endorfinku sendiri.

***

"Andre! Cepat habiskan makananmu. Kau akan terlambat ke sekolah. Membayar uang sekolahmu tidak murah! "

Suara ibu terdengar selalu keras dan ribut. Ia selalu berisik. Selalu mengatur. Tidak satu pun di rumah ini yang luput dari aturannya. Terkadang aku dan ayah seperti sebuah boneka kain yang sedang dimainkan di panggung rongsok sudut pasar malam. Dibuat seperti apa mau nya. Sering beberapa aturannya justru membuat aku ogah-ogahan untuk menurutinya. Tapi dia akan terus berisik jika salah satu yang dia minta tak terpenuhi.

***

Sudah dua hari suasana rumah berbeda sejak pertengkaran ayah dan ibu yang aku tidak tahu apa penyebabnya. Bahkan aku tidak mau tahu. Ibu marah besar, dia memasuk kan semua baju nya ke dalam tas dan pergi sore hari. Dia berpesan padaku untuk baik-baik saja dan menuruti apa kata wanita baru yang akan datang ke rumah kami untuk mengantikannya. Aku terkejut. Ada rasa senang di hatiku.

 "Apa ayah mengantikan wanita berisik ini dengan wanita lain yang tidak begitu berisik dan tidak terlalu banyak aturan di dalam kepalanya yang harus terus dipenuhi apapun keinginannya?"

Ah, sial bahagia ini terlalu besar. Mungkin aku jahat, tapi waktu itu aku senang sekali bahkan aku merasa kelenjar bagian bawah otakku memproduksi endorfin sangat banyak saat mendengar kehadiran wanita lain di rumah kami. Aku sudah membayangkan rumah tanpa teriakan, tanpa aturan tidur siang, bebas menonton acara televisi dan banyak lagi. Aku merasa bebas pada hari-hariku. Seperti hari kemerdekaan itu sangat dekat. Hanya berada sejengkal dari sudut mata terluar. Akhirnya ibu pergi, meninggalkan rumah, meninggalkan aku, meninggalkan ayah, meninggalkan kami.

Seminggu setelah kepergian ibu. Wanita yang dikatakannya itu hadir. Kebahagiaanku hilang lebih cepat dari yang aku kira. Wanita baru itu sudah lama aku kenal. Setan! Pengkhianat. Aku mengutuknya bahkan saat pertama kali dia memberi salam masuk rumah kami. Aku jauh lebih membencinya dari pada membenci ibu, perempuan berisik yang saat ini begitu aku rindukan.

***

Beberapa hari silam, Adi Christanto mengubah namanya mejadi Ida Christanty. Tidak hanya nama. Penampilannya juga jauh sangat berbeda. Dia memakai baju wanita, memakai sepatu dan sendal wanita, menggunakan bra dan juga memiliki payudara.

"Keinginan ini sudah lama aku inginkan, hanya dulu orangtua ku masih hidup. Aku tidak mau megecewakan mereka. Bagi mereka mau ku pasti tidak masuk di akal, aku harap kau mengerti"

"Persetan! Sejak kapan kau menginginkan hal ini aku tidak perduli. Kau kira bagiku mau mu masuk di akal? Lalu kau bisa mengecewakan aku? Aku rasa otakmu sudah terbentur batu besar. Aku tahu banyak orang gila di dunia ini, tapi yang tergila yang ku tahu saat ini adalah kau. Aku muak. Kalau kau tetap begini. Aku pergi"

"Awalnya aku ragu akan semua ini. Aku ragu untuk tetap menuruti hatiku menjadi seperti ini. Tapi sebelum aku berubah jadi wanita pun kau sudah membuatku seperti wanita dengan segala aturanmu yang terkadang tidak menghormatiku sebagai kepala keluarga. Mungkin perpisahan adalah yang terbaik untuk kita"

wanita itu kecewa. Seseorang yang selama ini menjadi suaminya memutuskan untuk mengubah dirinya menjadi mahkluk yang sama dengan dirinya. Tapi disebut wanita tentu tidak bisa, disebut pria pun dia tidak lagi. Wanita itu memutuskan pergi. Meninggalkan semuanya, rumahnya, kenangannya dan anaknya.

***

Aku semakin merasa tidak nyaman di rumah. Terlebih setelah ke datangan wanita lain di rumah kami. Aku selalu mencoba menjauhinya, walau pun dia terus berusaha mendekat. Aku benci mengakui ini. Tapi aku merindukan ibu. Aku merindukan segala aturannya, aku merindukan saat dia meneriakiku untuk bangun dan segera mandi ke sekolah. Walau aku sadar wanita baru ini selalu dan terus mencoba bersikap sangat baik padaku, tapi bagaimanapun aku tidak pernah bisa menerima keadaannya, aku rasa tidak ada orang yang mudah menerima saat ayahnya berubah menjadi seorang wanita.

"Kau tahu? Aku bingung harus memanggilmu apa"

"Kau bisa memanggilku ibu"

"Kau bukan ibu-ku"

"Kalau begitu kau bisa memanggilku, ayah"

"Kau juga tidak lagi terlihat seperti ayahku. Kau bukan lagi siapa-siapa dihidupku. Hanya seseorang yang semakin merusak hidup yang sudah cukup tidak nyaman ku jalani "

Percakapan itu terjadi sore tadi, saat aku sedang sibuk menonton acara tv kesukaanku dan lagi-lagi dia berusaha mendekat. Ada kesedihan yang jelas di matanya. Walau pun berpenampilan wanita. Aku rasa ayah masih gengsi untuk melepaskan air mata dan menangis seperti wanita. Dia menahannya dalam diam. Tapi aku tidak peduli seberapa sakit hatinya. Sakit hatiku lebih. Mulai sore itu dia tidak terlalu sering mendekatiku. Hanya beberapa kali menghampiri untuk sekedar mengingatkan untuk makan atau melakukan sesuatu.

***

" Aku membencinya, ada balasan setimpal untuk sakit hati dan malu yang kau tanamkan ini"

Seorang wanita sedang menyusun dendam-dendamnya. Rasa kecewanya ternyata bukan hal biasa. Dia menyusun beberapa hal buruk untuk wanita lain peganggu rumah tangganya. Perusak.

"Apa aku sanggup melakukannya. Dia pun darah daging kami, apa aku pantas jika menyakiti dia hanya untuk rasa sakit hatiku?"

Aku berkelebat dalam batinku. Entah bagaimana cara mereda semua yang berbicara dalam kepala. Aku berkelakar dengan diriku sendiri. Aku begitu membencinya. Dan tidak menemukan cara membalasnya selain satu cara yang tidak masuk di akal. Aku yakin jika melakukan ini aku pun akan menyakiti hati juga. Tapi bukankah hati kami semua sudah sakit? Bahkan patah. Bahkan hancur. Aku rasa tidak ada lagi hati yang bisa merasa saat hancur. Setimpal aku sakit kau sakit. Kita semua sakit.

Tatapan itu seperti kilat. Jahat. Terbias gelap. Seperti gagak dan cakar-cakar jahat yang siap mengoyak seekor anak musang kecil, atau apapun yang lemah. Rasa kecewa itu mendewa, dendam.

***

Hari ini ibu datang. Aku benar-benar merasa senang. Setelah beberapa bulan ini aku merasa sebatang kara. Tanpa ibu tanpa ayah.

"Kenapa ibu jarang mengunjungiku?"

"Bukannya kau membenciku?" Katanya sambil mengusap-usap lembut kepalaku.

"Tidak, tidak lagi. Aku bahkan merasa beruntung sekarang sudah memiliki orangtua lagi"

"Selama ini kau tinggal dengan ayahmu. Kenapa bicara begitu?"

"Apa lelaki dengan gundukan payudara yang lebih besar dari mu masih bisa aku sebut ayah?"

Aku dan ibu tertawa. Menertawai kepedihan yang sama-sama kami rasakan. Aku tahu ayah sedang mendengar percakapan kami di balik pintu kamarnya yang mengarah ke ruang keluarga. Mungkin di dalam dia sedang menangis. Peduli setan. Kau yang membuat kebencian ini hidup untukmu. Telanlah.

Setelah hari kedatangan ibu aku semakin dekat dengannya. Ia jadi sering mengunjungiku. Mebawakanku makanan, pakaian baru atau hadiah-hadiah lain yang menyenangkan saat bertemu. Aku semakin jauh dengan ayah. Dia pun sekarang semakin tertutup, lebih banyak diam. Mungkin dia lelah terus mendekati penolakan, atau kesedihan membuatnya beku. Sampai pada suatu sore yang lain aku menyampaikan keinginanku.

"Aku akan tinggal bersama ibu"

"Rumah ibu sangat jauh dari sekolahmu"

"Aku akan pindah sekolah juga"

"Aku akan semakin kesepian, hidup denganmu saja aku sudah kesepian. Apalagi kau jauh dan tidak melihatmu, nak"

"Bukan urusanku tentang hatimu, tapi aku pun kesepian menjadi sebatang kara tanpa ibu dan ayahku di rumah ini. Aku hanya memiliki ibu sekarang, jadi aku ingin tinggal dengannya"

Air mata wanita yang dulu ayahku itu benar-benar tumpah. Tidak lagi dia bisa menahanku. Tidak lagi bisa. Aku pergi, dia bilang ingin mengantarku. Aku menolaknya.

"Ibuku akan menjemputku, tidak usah repot-repot. Jaga saja kulit wajahmu agar tetap halus"

Aku terus bersikap kasar menyakitinya. Entah kenapa aku tidak bisa menjaga mulutku dan terus berkata kasar melukai perasaannya. Terus terang dalam hatiku, aku pun merasa sedikit sakit menyakitinya. Aku harap dengan begini dia semakin menjaga jarak kami.
Ibu datang menjemputku sore hari. Aku pergi. Aku tahu dia terus memandang punggungku sampai kami menghilang.

***

"Aku sedikit puas. Aku yakin hatinya pasti panas, kesedihan pasti sudah meletup. Tapi belum, ini belum selesai. Kau harus rasakan apa yang aku rasakan. Walau nanti sakit itu terpukul sama rata"

Wanita dengan hati penuh dendam itu tidak pernah tenang. Siang dan malamnya dia habiskan untuk mencari cara menyusun dendamnya rapi-rapi. Salah satu sisi dari hatinya mengatakan berhenti, cukup dengan sudah mengambil anaknya dan membuat laki-laki itu kesepian. Satu sisi lagi, ia ingin pembalasan yang lebih. Dan dendam membawanya menuruti pada pilihan ke dua.

"Kau tau? Kau mirip dengan ayahmu"

"Tidak, aku tidak sama dengan dia, apa menyenangkannya jadi wanita?"

"Ntahlah. Sekarang pergilah tidur. Kau pasti lelah. Besok kita akan mulai mengurus kepindahahan sekolahmu"

"Iya, bu"

Andre masuk ke kamar barunya. Wanita dengan dendam itu menatapnya penuh ragu. Dia tidak yakin untuk membalas sakit hatinya pada anak yang ia lahirkan. Tapi ia ingin laki-laki itu sadar, perbuatannya berbuah petaka. Dia terus berkelakar dengan dendam dan amarah yang mengakar.

***

Tidak terasa sudah 1 minggu lama nya aku di rumah ibu. Semua urusan kepindahan sekolahku pun sudah selesai. Kamarku pun sudah rapi tertata. Ibu berbeda, dia lebih banyak diam dengan rokok dan pikirannya. Dia tidak berisik, tidak banyak mengaturku. Aku sedikit kesepian. Dia tidak begitu sering mendekatiku. Tidak apa, setidaknya dia wanita sungguhan untukku panggil ibu.

Malam ini kami kedatangan tamu. Kata ibu, dia teman lamanya saat masih sekolah dulu. Aku memanggilnya paman Sam. Paman Sam orang yang ramah, dia membawakan aku mainan terbaru dan beberapa buku-buku. Aku kurang mengerti tentang buku-buku cerita yang dibawakannya. Aku sempat membukanya, dan melihat daftar isi nya. Aku tidak begitu paham. Aku juga sempat melihat beberapa foto lelaki yang tidur bersama. Aku ingin menanyakan tentang buku ini. Tapi aku sudah terlanjur jijik dengan gambar lelaki yang saling entah melakukan apa. Buku yang aneh. Setelah selesai makan malam, kami nonton bersama di ruang keluarga. Perlakuan paman Sam sangat hangat kepadaku. Membuat aku teringat ayah sebelum dia mengubah dirinya menjadi wanita.

***
Pukul sepuluh malam. Wanita bernama lengkap Ratna Dwi Sinta itu menuruni tangga perlahan. Di bawah dia sudah disambut seorang Lelaki dengan pertanyaan nya..

"Andre sudah tidur ya. Kau sudah yakin untuk melakukan ini?"

"Ya aku yakin"

"Kau tahu aku tidak bisa menahan diriku jika sudah mulai menyukainya"

"Perlakukan dia sebaik-baiknya, jangan sakiti"

"Hahahaha...bodoh. Dengan apa yang terjadi nanti tentu akan menyakitinya"

"Tahan dirimu, laki-laki gila"

"Kau lebih gila. Menjadikan anakmu untuk tumbal balas dendam kegagalan rumah tanggamu. Tapi masih juga menyuruh aku menahan diriku..hahahaha. Kau sangat mencintainya?"

"Aku mencintainya, sebelum dia memiliki payudara dan membuat aku malu. Aku seperti wanita yang tidak bisa memuaskan lelaki sampai dia lebih memilih mengubah dirinya menjadi wanita. Aku rasa nanti kami akan sama-sama sakit. Karena dia juga anakku"

"Baiklah. Jangan menyesal. Aku sudah menawarkan pilihan padamu"

"Menyesal atau tidak, jelas bukan urusanmu"

Seusai percakapan mereka. Lelaki itu pulang.

***

Pagi ini hari pertamaku kembali ke sekolah. Sekolah baru.

"Ibu aku sudah siap"

"Andre, aku tidak bisa mengantarmu. Aku sedikit demam"

"Baiklah. Aku tidak berangkat ke sekolah. Aku akan merawat ibu di rumah"

"Tidak! Tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat. Sebentar lagi paman Sam datang. Pergi lah ke sekolah dengannya. Siang juga dia akan menjemputmu"

"Baiklah"

Aku menunggu paman Sam menjemputku. Jadi ibu sudah menemukan lelaki baru yang akan mengantikan ayah; pikirku. Saat aku sedang sibuk dengan lamunan itu. Paman Sam datang.

"Kau sudah siap? Sudah sarapan?"

"Sudah, paman"

"Baiklah, kita berangkat"

Aku mengikuti. Dia membuka kan pintu mobil untukku. Lalu ia berjalan mengitar dan memasuki mobilnya. Duduk pada bangku kemudi.

"Aku ingin membawamu ke satu tempat"

"Kemana, paman?"

"Ke rumahku"

"Tapi kata ibu aku harus ke sekolah"

"Tidak apa. Aku akan bilang pada nya"

Aku tidak mengerti. Tapi aku menurut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Setelah menempuh perjalanan 30menit, kami sampai di sebuah rumah besar. Sangat asri. Dia mempersilahkan aku masuk. Sepertinya paman Sam hanya tinggal sendiri. Aku tidak tahu apa yang akan kami kerjakan di rumah besar sepi ini. Paman Sam menyalakan TV. Lalu dia berjalan ke dapur, mengambilkan minuman dan beberapa makanan ringan.

"Paman ini film apa?"

Dia tidak menjawab.

Aku sangat terkejut saat memperhatikan adegan yang terputar di televisi. Lelaki separuh tua dengan seorang anak lelaki seusiaku melakukan beberapa adegan yang menjijikan. Aku mengalihkan pandangan. Berjalan-jalan untuk melihat-lihat isi rumah Paman Sam, membuang cemas yang pelan-pelan timbul. Aku mendekati aquarium yang di dalam nya di isi banyak ikan. Ada beberapa hiasan berbentuk patung juga di sana. Mataku fokus pada patung dua laki-laki yang berpelukan tanpa busana. Aku mulai merasakan kejanggalan pada paman Sam. Aku mencoba tenang. Tapi dalam hati cemasku meradang. Aku mengambil minuman yang diletakkannya di atas meja. Aku meminumnya. Aku duduk dengan cemas yang tidak terpahami. Pelan-pelan kepalaku berat. Menguap berkali-kali. Tertidur.

***

"Sudah pukul delapan malam dan andre belum kembali. Sepertinya Sam benar-benar sedang bersenang-senang dengannya"

Wanita dengan dendam di dada itu menyulut sebatang rokok. Raut wajahnya tenang. Tidak ada ke khawatiran di sana. Tapi dalam dada nya ada dua gejolak yang sedang berkelebat hebat.

"Wanita gila. Kau tega merusak massa depan anakmu hanya karena sebuah dendam yang sebenarnya mudah jika kau belajar memaafkan dan menyadari kalau yang terjadi ini juga kesalahanmu, kau membuat suamimu tertekan dan tidak nyaman. Sadarlah!"

"Diam kau! Kau tidak tahu apapun"

Hormon si dewa bahagia itu sedang mengalir kuat. Kelenjar pituatuitaryku menghasilkannya dengan hebat. Bertindak seperti morphine bahkan 200 kali lebih hebat. Zat penghilang rasa sakit terbaik. Tidak lagi aku perduli tetangga-tetangga ku berisik "Air cucuran atap jatuh tidak pernah jauh dari atapnya" tidak apa. Rasa sakit yang berbayar ini sudah membuat endorfinku sendiri"

***

Andre terbangun. Kemaluannya sakit. Tubuhnya lemah. Semuanya berantakan. Darah kental dalam celananya mengering. Ia disodomi. Dia masih belum paham apa yang terjadi. Hanya rasa sakit yang teramat sangat disekujur tubuh juga hatinya.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak