#03 Endorphin
Diah Rizki
Kamisan S2 #03 - Endorphin: Maukah Kamu Menjadi Endorfinku, Ki?
08.03Unknown
Dalam setiap makhluk pasti telah di-instal software kebahagiaan yang dapat di-klik kapan pun, di mana pun dan tanpa bantuan apa pun…. Di sinilah keadilan Pencipta terlihat mencolok” – Gobind Vashdev.
![]() |
| Kalender kehidupan - 4 Juni 2014 |
***
“Udah baca quotes hari ini di kalender Gobind?” laki-laki di sampingku bertanya pelan. Kami sedang berada di ruang kelas 302, memperhatikan dosen yang sedang menerangkan materi kuliah business communication saat dia tiba-tiba nyeletuk memecah fokusku.
“Udah. Kenapa?” jawabku singkat. Aku kembali fokus pada textbook dan mengerjakan beberapa latihan soal. Meladeni lelaki di sampingku ini akan membuat fokusku buyar, seperti biasanya, karena dia tidak akan bisa berhenti bicara kalau sudah mendapat teman bicara.
“Isinya apa, Ki?” jawabnya cepat dan penasaran sambil menyondongkan badannya ke arahku.
“Nih! Baca aja sendiri,” kuoperkan kalender kecil yang ada di mejaku ke arahnya. Kulirik dia sedang membaca kalender tanggal 4 Juni yang tadi pagi –sebelum berangkat ke kampus- kubaca terlebih dahulu.
“Bahagia…” dia berbicara pelan.
“Hmmmm….”
“Apa kebahagiaanmu, Ki?” jawabnya sambil menatapku. Aku terkesiap. Tak siap atas pertanyaannya.
“Kamu” Jawabku dalam hati. Tentu saja aku tak berani mengutarakannya. Gila! Berucap hal seperti itu sangat bertentangan dengan keseharianku yang cuek dan cenderung tidak banyak omong. Maka kuputuskan untuk menjawab sekenanya, “Roti Canai isi keju dan teh tarik.”
“Sial! Aku nanya serius, Ki, kamu malah bercanda.” Dia terlihat kesal dengan jawabanku. Aku terkekeh dalam hati. Kamu tidak berubah, pikirku. Aku tertawa kecil, menunjukkan bahwa aku sedang bercanda.
“Kamu tahu, Ki, salah satu kebahagiaanku apa?” tanyanya sambil menatapku lagi. Kali ini tatapannya dalam dan meyakinkan, seolah dia ingin aku benar-benar tahu jawabannya dengan tepat.
Aku menggeleng. Kami diam sejenak dan dia semakin menatapku. Tiba-tiba saja rasa gugup menyelimutiku. Aneh.
“Salah satu kebahagiaanku itu kamu, Ki,”
Deg!
Aku masih diam, menunggu dia melanjutkan kalimatnya.
“Kalau ada tombol kebahagiaan yang di-klik di otak, bagiku itu cuma ibarat. Karena kenyataannya saat aku ingin bahagia, setelah apapun masalah atau situasi yang kuhadapi, aku cuma butuh ketemu kamu, Ki. Cuma butuh ngeliat kamu, ngobrol sama kamu, dan semua akan jadi normal lagi. Aneh ya, Ki?” dia memberi pertanyaan retoris pada akhir kalimatnya. Aku terdiam dan tak tahu harus menjawab apa. Dia mengalihkan pandangan ke sepatu cats putihnya. Tatapannya menerawang.
“Mungkin nggak, Ki, kamu jadi tombol bahagiaku?” tanyanya lagi. Kali ini dia memainkan bolpoin hitamnya. Mulutnya terbuka seakan ingin melanjutkan kalimatnya. Ragu. “Atau mungkin nggak, Ki, kamu jadi endorfinku?” dia menoleh dan menatapku. Aku kaget dan berusaha menetralisir degup jantung yang seakan berlarian sedari tadi. Mata kami bertemu. Raut wajahnya datar, namun tegas. Aku masih dengan salah tingkah yang berusaha kuminimalisir.
“Hmmm…. Bri, aku….” Kalimatku terhenti. Aku terbata. Segala yang ingin kukatakan seketika hilang dari pikiranku. Blank.
“Stop! Nggak usah dilanjutin, Ki. Aku udah tahu jawabannya, kok.” Dia memotong ucapanku dan tersenyum. “Kamu dan aku itu ibarat pungguk merindukan rembulan. Aku, Brian, cowok grasah-grusuh yang doyan bolos kayak gini, mana mungkin bisa menjadikan Kika, akhwat paling cantik se-HMJ, mahasiswa berprestasi pula, sebagai endorfinku? Ngawur banget. Hehehe” jawabnya dengan tertawa kecil. “Udah ah, daritadi ngobrol mulu, kamu jadi nggak fokus kan? Maaf ya, Ki. Hehehe” ucapnya mengakhiri obrolan kami.
Aku hanya tersenyum. Tidak tahu harus berbicara apa. Andai kamu tahu, Bri, sejak aku duduk di bangku kelas ini pada hari pertama semester 5 dan menemukanmu duduk di kursi sebelahku, perhatianku diam-diam tertuju padamu. Setiap apa yang kamu lakukan, hampir tidak luput dari perhatianku, Bri. Namun aku cuma bisa memperhatikan, Bri, tidak lebih. Sekarang kamu berucap seperti ini padaku, tak tahukah kamu seberapa memuncak endorfinku bekerja saat ini?
***

0 comments