#03 Endorphin Minggu 3

Kamisan S2 #03 - Endorfin: Semesta Kenanga

10.12Unknown

“Ketika saya jatuh cinta. Saya mencintai cinta itu sendiri. Saya menikmati setiap tetes rasa yang ia beri. Setiap detak jantung yang berdebar. Setiap rona di pipi. Setiap khayal dan imaji. Ya, saya jatuh cinta pada cinta. Bukan pada hubungan antar personal dan komitmennya.

Namun, ketika saya berhubungan dan berkomitmen, itu berarti saya sudah sudi. Rela dijamah, dinodai dan dinikmati oleh drama posesif, kecemburuan, kepemilikan, kekuasaan, ketergantungan untuk selalu bersama.”

“Bukannya memang seperti itu cinta? Kebersamaan untuk saling berbagi.”

“Menurutmu seperti itu ya? Menurut saya tidak.”

“Kurasa kamu terlalu menganggap remeh hubungan dengan sesama.”

“Tidak. Saya tak pernah mengganggap remeh hubungan antar personal. Sesuai pengalaman sendiri dan juga cerita beberapa sahabatlah saya bisa menarik kesimpulan seperti ini. Itu kan bukan buah pikiran cetek yang bisa diambil hanya dalam sedetik.”

“Tapi tidak semua hubungan seperti yang tadi kamu sebutkan lho.”

“Begitu ya? Humm … ya mungkin memang saya saja yang belum kenal mencintai itu seperti apa.”

“Menurutku, kamu terlalu mencuaikan cinta itu sendiri. Maaf. Tapi itu menurutku.”

“Tak perlu minta maaf Esta. Kamu bebas berpendapat. Saya tidak marah. Sepertinya kamu benar. Saya hanya terlalu abai.”

“Mungkin.”

Percakapan ini adalah yang kesekian kalinya bersama Kenanga Wulandari yang duduk di sebelahku sekarang. Mungkin dia satu-satunya gadis yang kutemui yang memiliki pemikiran skeptis tentang cinta. Padahal kalau kulihat, sisi romantis dalam dirinya begitu kuat.

Semua perbincangan ini berawal dari suatu malam. Dia selalu duduk di depan rumah, diam, menatap langit. Aku selalu melewatinya sepulang bekerja sampai suatu hari dia menyapa: “Saya sering lihat kamu lewat sini dan saya selalu penasaran dengan apa yang ada dalam pikiranmu kalau jalan sendiri.” Awalnya kupikir dia bercanda, tapi tatapan teduhnya yang serius membuatku mulai bercerita kalau saat itu aku sedang memikirkan proses pembuatan roti bakar isi keju dan susu putih kental manis. Tanpa ada basa-basi berkenalan, malam itu kami mulai berbincang. Lucu juga kalau kuingat kejadian tiga bulan lalu itu.

Malam ini juga bukan kali pertama kami berbicara tentang cinta. Pernah dirinya tanya, apakah aku sudah punya kekasih, ketika kujawab belum, ia mau tahu alasannya. “Aku tidak punya waktu, kurasa, aku terlalu sibuk kerja. Punya kekasih kan memerlukan kemampuan untuk bagi waktu dan aku belum bisa melakukannya. Aku selalu menomorsatukan pekerjaan,” jawabku dulu.

“Untuk apa kamu kerja Esta?”

“Untuk … menyiapkan diri sebelum punya istri.”

“Bagaimana kamu bisa punya istri Esta, kalau kamu tak punya waktu untuk memiliki kekasih yang akan kamu peristri nantinya?”

Sampai sekarang aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Setelah perbincangan terakhir, aku selalu merasa bersalah. Menghakiminya dengan yang kata-kata yang baru kusadari kalau tak pantas kuucapkan pada seorang perempuan. Aku memang tak tahu tentang kisah cintanya. Dia tak pernah cerita soal hubungan romansa pribadinya. Harusnya aku tidak pernah mengucapkan kata cuai pada Enga—begitu dia memilih untuk dipanggil—malam itu.

Sudah hampir dua minggu lamanya aku tidak melihat dia duduk di depan rumah, tersenyum ketika aku lewat sembari memberi isyarat untuk duduk dan menemaninya bicara. Kadang terlintas pikiran untuk datang saja ke rumah itu dan menemuinya, tapi untuk alasan apa? Ingin tahu kabar? Penasaran? Rindu? Apa alasannya? Kulewatkan malam dengan tidur ayam hanya karena mencari alasan yang tepat.

Paginya, bahagia menyapaku. Aku sedang berjalan untuk bekerja ketika Enga menghadangku di tengah jalan di depan rumahnya. Ini pertama kalinya kami bertemu pagi hari. Dia terlalu cantik. Keteduhan langit yang sedang mendung di atas kalah dengan tatapan matanya.

“Boleh saya ganggu pagimu Esta?”

“Tentu saja.” Aku ingin bertanya sebenarnya, ke mana saja dia kemarin. Bagaimana kabarnya? Ada apa? Sehat atau sakit kah? Senang atau sedih kah? Tapi semua itu kutahan. Kubiarkan dulu dia bicara.

“Saya sudah tak sabar lagi harus menunggu malam. Tujuhbelas hari saya harus bertahan, berpikir dengan jelas dan memastikan ini. Saya harus yakin sendiri dulu. Saya coba telaah diri sendiri, bukan hal yang mudah, ternyata. Selama ini saya tidak menyadari rasa nyaman dan ringan jiwa yang timbul, saya rasakan, atau ada. Saya pikir itu hal biasa aja. Terus, ada juga kebahagiaan menunggu malam tiba, menunggu untuk bertemu, berbicara, berbagi, seperti yang kamu bilang. Saya tidak menyadari itu semua sampai saat kamu bilang saya terlalu abai. Ya saya ternyata memang terlalu mengabaikan rasa-rasa yang ada itu.”

“Kamu ini mau bilang apa sebenarnya?” Kulirik jam di pergelangan tangan. Aku sudah terlambat. Sebelum bertemu dengan Enga tadi saja aku sudah terlambat. Dan aku tahu, kalau Enga mulai memutar-mutar kata pasti ada yang ingin ia sampaikan. Selalu seperti itu selama ini.

Enga menatapku bisu cukup lama. Bibirnya bergetar menahan kata yang ingin diucap.

“Enga?”

“… Saya cinta kamu Esta …. Saya cinta kamu karena hati saya butuh mencintai seseorang …. Dan hati saya pilih kamu.”

Aku bingung menjelaskan perasaan yang tiba-tiba muncul dalam diri ketika mendengar ucapan gadis itu. Senang, bahagia, lega, terbang. Entahlah. Seperti berenang di lautan endorfin dan sengaja meminum, menelan, menghidu, menghirup—entah apa kata yang tepat untuknya—zat itu hingga membuatku mabuk seperti ini. Aku tersenyum. Gadis bernama Kenanga Wulandari itu menunduk, wajahnya memerah sampai ke telinga. Senyumku semakin lebar, kutarik bahunya mendekat, kudekap tubuh mungilnya. Tidak kupedulikan lagi waktu tetap berjalan, hari ini aku bolos kerja saja dan menghabiskan hari bersama Enga.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak