Lem kertas. Apa yang
sebaiknya aku tulis mengenai lem kertas? Daftar harga lem kertas? Konyol. Macam-macam
kerajinan yang menggunakan lem kertas? Sudah banyak yang membahas hal itu. Untuk
apa aku menulis hal yang sama. Tidak, tidak,tidak! Aku harus membuat sesuatu yang
lain. Sesuatu yang baru. Yang unik. Yang tak terpikirkan oleh siapa pun. Tapi apa?
Ah, aku bisa
membuat lem kertas menjadi kisah fantasi. Sebuah kerajaan yang diserang karena
urusan sepele; lem kertas. Ah, iya. Itu pasti akan menjadi kisah yang menarik.
Alkisah, di
dataran Bumi yang mahaluas, terdapat dua kerajaan besar; Kerajaan Barat dan
Kerajaan Timur. Dua kerajaan itu sama-sama ... ah, sial! sama-sam ... ah! Batal!
Yang lain. Agaknya, aku sudah kehabisan stok cerita fantasi. Baik. Mungkin,
yang lain. Thriller. Ah, iya, aku
selalu ingin membuat cerita bergenre
thriller.
Sambil bersenandung, Bobby Jones berjalan
menuju mobilnya. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 10 malam
lebih sedikit. Dan, tempat parkir itu telah sepi. Ia memain-mainkan
kunci mobilnya hingga kunci mobil itu bergemerincing di tangannya. Tanpa
ada
perasaan apa-apa—selain bahagia, tentunya, karena baru saja ia mendapat
uang
sogokan yang jumlahnya terbilang besar—ia terus, dan terus berjalan.
Sampai
tiba-tiba, ia melihat bayangan yang
muncul sekilas di tembok. Ia mulai gusar. Kepalanya menoleh ke
kanan-kiri dengan sangat cepat. Napasnya mulai tidak beraturan. Dan,
tanpa membuang
waktu lagi, ia setengah berlari, kemudian benar-benar berlari, menuju
mobilnya.
Ia berhenti di pintu depan, memasukkan anak kunci ke lubang kunci,
memutarnya.
Seseorang yang memakai topeng badut, yang berdiri dengan tenang di
belakangnya,
terlihat dari kaca mobil. Dengan gegas, ia membalikkan badan. Baru saja
wajah
mereka berhadap-hadapan, sebuah tinju melayang ke wajahnya. Lalu, ...
eh,
tunggu—mana lem kertasnya? Ah, sial! aku tak ingin membuat lem kertas
itu hanya
sebagai tempelan—alih-alih sesuatu yang penting dalam cerita!
“Sayang, apa yang
kaulakukan di luar sana? Masuklah! Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu!”
“Baik, Sayang, sebentar lagi. Ini akan selesai
dalam beberapa menit lagi.”
“Masuklah dan
tutup pintunya!”
Aku mendesah. Menyesap
kopiku sampai tandas, berdiri, mengambil cawan serta gelas kopi dari atas meja,
mengangkat netbook, lalu berjalan
masuk ke dalam rumah. Menutup pintu dengan kaki.
“Apa sih, yang
sedang kamu kerjakan?” tanyanya, setelah aku duduk.
“Menulis.”
“Hahaha ... iya,
aku tahu. Maksud aku, apa yang sedang kamu tulis?”
“Sesuatu yang
berhubungan dengan lem kertas.”
“Lem kertas?”
“Ya, lem kertas.
L-e-m k-e-r-t-a-s.”
“Hahaha ... tidak
adakah hal lain yang lebih menarik untuk ditulis?”
“Semua hal sama
saja. Tidak ada bedanya.”
“Cinta. Kenapa kamu
tidak menulis soal cinta saja?”
“Aku sudah pernah
menulis soal itu, dulu.”
“Kalau kerinduan?”
“Sudah sering.”
“Lalu, bagaimana dengan kenangan? eh, atau, puisi saja. Aku sudah lama tidak membaca puisi-puisimu.”
Aku mendesah. Mengalihkan
pandangan dari layar, menatapnya. “Sayang, berhentilah mengajakku bicara! Aku sedang menulis!”
“Hahaha ...
baiklah, baik. Silakan diteruskan. Aku mau tidur dulu. Selamat
bermain lem kertas. Hahaha ....”
Ia berjalan
dengan riang. Rambut hitamnya yang panjang bergoyang-goyang mengikuti gerakan
kepala. Kedua tangannya terentang ke udara. “Aku mengantuk sekali.” Dan, ia
menghilang setelah masuk ke dalam kamar. . “Oh, nyaman
sekali ranjang ini. Dan, selimut ini, oh!”
Aku menggeleng-gelengkan kepala, tertawa pelan. “Selamat malam,
Sayang!”
“Hahahaha ....”
Baiklah. Lem kertas. Harus aku apakan, kau?
0 comments