Lem Kertas MInggu 11

Kamisan S1 #11 - Lem Kertas: Lem Kertas

14.20Unknown

Lem kertas. Apa yang sebaiknya aku tulis mengenai lem kertas? Daftar harga lem kertas? Konyol. Macam-macam kerajinan yang menggunakan lem kertas? Sudah banyak yang membahas hal itu. Untuk apa aku menulis hal yang sama. Tidak, tidak,tidak! Aku harus membuat sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru. Yang unik. Yang tak terpikirkan oleh siapa pun. Tapi apa?

Ah, aku bisa membuat lem kertas menjadi kisah fantasi. Sebuah kerajaan yang diserang karena urusan sepele; lem kertas. Ah, iya. Itu pasti akan menjadi kisah yang menarik.

Alkisah, di dataran Bumi yang mahaluas, terdapat dua kerajaan besar; Kerajaan Barat dan Kerajaan Timur. Dua kerajaan itu sama-sama ... ah, sial! sama-sam ... ah! Batal! Yang lain. Agaknya, aku sudah kehabisan stok cerita fantasi. Baik. Mungkin, yang lain. Thriller. Ah, iya, aku selalu ingin membuat cerita bergenre thriller.

Sambil bersenandung, Bobby Jones berjalan menuju mobilnya. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 10 malam lebih sedikit. Dan, tempat parkir itu telah sepi. Ia memain-mainkan kunci mobilnya hingga kunci mobil itu bergemerincing di tangannya. Tanpa ada perasaan apa-apa—selain bahagia, tentunya, karena baru saja ia mendapat uang sogokan yang jumlahnya terbilang besar—ia terus, dan terus berjalan. Sampai tiba-tiba, ia melihat bayangan yang  muncul sekilas di tembok. Ia mulai gusar. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri dengan sangat cepat. Napasnya mulai tidak beraturan. Dan, tanpa membuang waktu lagi, ia setengah berlari, kemudian benar-benar berlari, menuju mobilnya. Ia berhenti di pintu depan, memasukkan anak kunci ke lubang kunci, memutarnya. Seseorang yang memakai topeng badut, yang berdiri dengan tenang di belakangnya, terlihat dari kaca mobil. Dengan gegas, ia membalikkan badan. Baru saja wajah mereka berhadap-hadapan, sebuah tinju melayang ke wajahnya. Lalu, ... eh, tunggu—mana lem kertasnya? Ah, sial! aku tak ingin membuat lem kertas itu hanya sebagai tempelan—alih-alih sesuatu yang penting dalam cerita!

“Sayang, apa yang kaulakukan di luar sana? Masuklah! Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu!”

“Baik, Sayang, sebentar lagi. Ini akan selesai dalam beberapa menit lagi.”

“Masuklah dan tutup pintunya!”

Aku mendesah. Menyesap kopiku sampai tandas, berdiri, mengambil cawan serta gelas kopi dari atas meja, mengangkat netbook, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Menutup pintu dengan kaki.

“Apa sih, yang sedang kamu kerjakan?” tanyanya, setelah aku duduk.

“Menulis.”

“Hahaha ... iya, aku tahu. Maksud aku, apa yang sedang kamu tulis?”

“Sesuatu yang berhubungan dengan lem kertas.”

“Lem kertas?”

“Ya, lem kertas. L-e-m k-e-r-t-a-s.”

“Hahaha ... tidak adakah hal lain yang lebih menarik untuk ditulis?”

“Semua hal sama saja. Tidak ada bedanya.”

“Cinta. Kenapa kamu tidak menulis soal cinta saja?”

“Aku sudah pernah menulis soal itu, dulu.”

“Kalau kerinduan?”

“Sudah sering.”

“Lalu, bagaimana dengan kenangan? eh, atau, puisi saja. Aku sudah lama tidak membaca puisi-puisimu.”
Aku mendesah. Mengalihkan pandangan dari layar, menatapnya. “Sayang, berhentilah mengajakku bicara! Aku sedang menulis!”

“Hahaha ... baiklah, baik. Silakan diteruskan. Aku mau tidur dulu. Selamat bermain lem kertas. Hahaha ....”

Ia berjalan dengan riang. Rambut hitamnya yang panjang bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepala. Kedua tangannya terentang ke udara. “Aku mengantuk sekali.” Dan, ia menghilang setelah masuk ke dalam kamar. . “Oh, nyaman sekali ranjang ini. Dan, selimut ini, oh!”

Aku menggeleng-gelengkan kepala, tertawa pelan. “Selamat malam, Sayang!”

“Hahahaha ....”


Baiklah. Lem kertas. Harus aku apakan, kau?

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak