Tadi siang aku menerima kabar buruk. Sandalku, yang kemarin
tertinggal di lokasi, rusak. Ada kemungkinan ia tak bisa dipakai lagi. Entah
kenapa, aku terpukul sekali. Ada gejolak kemarahan yang membuncah. Tapi aku
tidak bisa marah, kepada siapa? Dan untuk apa?
Begini, terakhir kali aku ke lokasi(tempat aku melakukan kerja
selain di tempat aku standby, anggap saja hutan), sehari sebelum aku balik ke
balikpapan, ada teman yang meminjam sandalku. Di saat pertama permintaan pinjam
itu, aku sudah merasa berat hati, tapi dia teman, dan lagi, apa yang tidak baik
dari meminjamkan sandal? Tapi, barang hak milik, seperti halnya sandal, mungkin
bagi seorang lain hanya sekadar nama, dan itu yang sesungguhnya berbahaya. Yang
paling berbahaya dari orang asing bukanlah kemungkinan perubahan yang bisa saja
ia bawa, tetapi lebih pada ketidaktahuannya akan sejarah. Penghormatan macam
apa yang bisa kita harapkan dari seorang yang tak tahu/peduli pada sejarah??
Dan apa yang paling sering kita khawatirkanlah yang lebih sering
terjadi. Seorang teman yang meminjam sandalku, seperti yang pernah aku
takutkan, tidaklah terlalu peduli pada keadaan sandalku. Sandalku rusak,
wujudnya sungguh menyedihkan. Dan apa pertanggungjawaban teman peminjam itu?
Dia bilang 'berapa sih harganya? Nanti aku ganti' enteng sekali. Dia pikir,
sandal baru akan menyelesaikan masalah. Dia pikir sandal baru bisa menggantikan
sandal lamaku. Kalau dia bisa memindahkan makna dan riwayat sandalku ke sandal
baru, bolehlah masalah selesai. Tapi, semudah itu kah menggantikan kenangan? Ah
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat buatku adalah seberapa penting kah kenangan
itu?
Sandal itu sudah hampir setahun terakhir menemaniku. Selain ia
merupakan sandal yang nyaman di kaki, sandal itu adalah pemberian seorang lawan
jenis yang tentu saja pernah membuatku tersenyum. Bahwa sandal itu harus
menyebrang pulau untuk menjadi kesayangan kakiku. Dalam cara yang aneh, sandal
itu memanjakan telapak kakiku, sekaligus tidak mengganggu aliran darahku yang
biasa mewujud dalam pegal yang tak nyaman di telapak kaki. Sandal itu
barangkali memiliki bau yang sama dengan kaos atau baju atau celana yang dulu
dibelikan oleh orang yang dulu memenuhi hatiku dengan wangi bunga-bunga. Tapi
sandal itu tak seperti pakaian yang harus dicuci setiap hari, maka tak perlu
heran jika kemudian kami cepat intim. Kenyataan bahwa orang yang memberikan
sandal itu tak lah lagi boleh kupanggil kekasih, sama sekali tidak mengurangi
kemesraan hubungan sandal dan kakiku, malah aku merasa harus menghormati
warisan itu sebagai monumen di mana sandal itu pernah mewakili sedikit cerita
hidup yang dulu menurutku sebuah anugerah. Iya, tentu saja perilakuku bisa
dibilang aneh--tapi kupikir taklah perlu aku menguraikan alasanku--di mana saat
orang kebanyakan menyingkirkan barang-barang yang mengandung secuil kenangan
ketika sebuah komitmen harus diputuskan sebaik-baiknya, aku justru
menyimpannya. Sudah barang tentu, hidupku disusun rapi di atas tumpukan
kenangan yang mengering.
Maka saat aku mendapati kenyataan aku terancam akan berpisah
juga dengan sandal itu, aku bisa dibilang kemudian menjadi panik. Ah tentu aku
marah. Aku marah sebab untuk urusan sepele seperti sandal saja harus ditentukan
oleh orang yang nyaris tak memberiku sedikitpun kesan berarti untuk hidupku. Betapa aku tidak
bisa memilih sendiri untuk melepas atau memelihara kenangan sederhana ini. Sungguh
menyedihkan, bukan? Tapi yang sudah terjadi tak bisa ditarik kembali. Sandalku
sudah rusak, adakah yang masih bisa dilakukan kecuali menerimanya? Aku marah
dan terluka, memang, bagaimana tidak? Kenangan yang melekat dijiwamu ditebas
paksa! Ah!! Selesai sudah riwayat sandalku, ditimpas dunia bersama kenangannya.
0 comments