"Kapten, Gajah telah masuk ke dalam kandang! Saya ulangi; Gajah telah masuk ke dalam kandang!"
"Diterima. Pertahankan posisi! Tikus belum lagi terlihat."
Matanya mengawasi Gajah yang tengah duduk di tempat yang tak 'kan
pernah ia lupa. Kegembiraan yang Gajah itu tunjukan, tiba-tiba
memunculkan rasa muak dalam dirinya.
"Dimengerti." Dan, ia mendesah. "Dasar tidak berguna! Lambat sekali mereka berjalan!"
Matanya memicing. Menatap Gajah itu benar-benar. Seolah-olah, tatapannya itu bisa melukai Gajah--lebih bagus lagi, membunuhnya.
Gajah itu terbahak. Rambutnya yang pirang melompat-lompat, mengikuti
gerakan kepalanya yang naik-turun. Ibunya tengah menggodanya;
menggelitiki pinggang Gajah sampai membuat ia terpingkal-pingkal.
Kelembutan pada wajah Si Ibu menyeretnya ke pusaran waktu yang belum
sepenuhnya hilang. Sepoi angin. Rerumputan hijau yang berembun.
Gemericik air sungai yang mengalir, jernih. Pasir yang berbukit-bukit.
"Hahaha ... sudah, hentikan! Sudah! Jangan buat aku tertawa lagi. Hentikan! Geli! Hahaha ...."
"Aku tidak akan berhenti sampai kau mau jadi istriku. Katakan, 'aku mau jadi istrimu'. Ayo, katakan! Hahaha ...."
"Tidak! Aku tidak mau. Siapa juga yang mau menikah dengan semut sepertimu."
"Oh, begitu? Baik. Jangan salahkan aku bila aku tidak mau berhenti!"
"Hahaha ... hentikan! Aku mohon, hentikan! Aku bisa pingsan. Hahaha ...."
"Maka itu lebih baik."
"Hahaha ...."
"Ayo, katakan, 'Aku mau menikah denganmu' katakanlah!"
"Hahaha ... baiklah, baik! Tapi, hentikan semua ini dulu. Aku benar-benar lelah."
"Tidak! Kau katakan dulu!"
"Hahaha ... baiklah. Dengar ini, aku mau menikah denganmu! Puas? Sekarang, berhentilah menggelitiku! Hahaha ...."
"Apa? Aku tidak dengar ucapanmu! Coba ulangi!"
"Hahaha ... ayolah, kumohon!"
"Ehem!"
Mereka berhenti. Malu-malu, mereka berdiri menghadap semut yang baru datang, Kapten mereka.
"Maaf, mengganggu kemesraan kalian. Tapi, ada tugas yang harus Ann kerjakan."
"Ann, bisa kau ikut aku?"
Ann dan Ia bertatap-tatapan. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Ann tersenyum, tenang.
"Hanya sebentar. Ini sudah ribuan kali kulakukan." Dan, belum sempat
Ia menjawab, Ann sudah berjalan mengikuti Kapten. "Kita akan menikah
sepulang aku dari bertugas," ucapnya lirih. "Aku mencintaimu."
Ia diam, hanya bisa menatap punggung Ann yang semakin lama semakin
kecil. Lebih kecil. Dan hilang setelah masuk ke dalam rerumputan.
Ketika terdengar ketukan pada pintu di keesokan harinya, buru-buru, ia membukanya.
"Ann?" Dan, yang berdiri di hadapannya hanyalah Kapten yang tengah menunduk. "Mana Ann?"
"Maafkan kami, itu terjadi begitu cepat. Tiba-tiba saja--"
"Mana Ann?"
Ia menggeleng-gelengkan kepala. Mengusir pusaran waktu yang baru saja menggulungnya. Matanya kembali menatap Gajah.
Ia terkesiap. Gajah itu berdiri. Tangannya yang mungil digandeng Si Ibu.
"Gajah hendak meninggalkan kandang. Saya ulangi, Gajah hendak meninggalkan kandang!"
"Tetap di posisi. Tikus masih belum terlihat!"
"Gajah hendak meninggalkan kandang. Saya ulangi, Gajah hendak meninggalkan kandang!"
"Tetap di posisi, Prajurit!"
"Tapi, anak itu ... Gajah itu hendak meninggalkan kandang! Kita harus menyerangnya sekarang!"
"Tenangkan dirimu, Prajurit! Kita tidak akan melakukan apa-apa sampai Tikus-Tikus terlihat. Tetap di posisi!"
Ia menggeram. Alat komunikasi di tangannya, ia bantingkan ke tanah.
Matanya terus menatap anak laki-laki itu. Giginya bergemutuk. Bayangan
tentang Ann yang berkelebat. Dan, tanpa ragu-ragu, ia menyerang
sendirian.
0 comments