Meteor Minggu 9

Kamisan S1 #9 - Meteor: Malam Yang Tenang

14.33Unknown

Mr. Saw menuangkan kopi dengan pelan dan hati-hati. Asap putih yang tipis terlihat mengepul dari cangkirnya. Ia menambahkan satu sendok gula, kemudian mengaduknya. Mengangkatnya, menghirup aroma minumannya itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia sesap dalam-dalam, meletakannya kembali. Cangkir itu berdenting ketika beradu dengan permukaan cawan.

Malam telah larut. Jalanan yang ketika siang hari ramai, kini sepi. Lampu-lampu yang menyala di kiri-kanan jalan hanya menyoroti debu-debu yang sejenak mengendap, sejenak melayang-layang terbawa angin. Di waktu selarut ini, Mr. Saw tengah duduk di beranda rumahnya. Sendirian. Meski begitu, di atas meja, terdapat dua buah cangkir, yang satu telah terisi kopi, yang satu dibiarkan kosong.

Ia tersenyum saat melihat Nicholas berjalan di depan rumahnya. Lambang prajurit kerajaan pada topinya berkilap saat tertimpa cahaya lampu jalan.

“Hai, Nicholas! Sedang mendapat tugas berpatroli, heh? Semua baik-baik saja, kan, Prajurit? Semua aman?”

Nicholas berhenti, menoleh ke arah Mr. Saw. “Ah, Mr. Saw, Anda masih terjaga, rupanya. Ya, ya, semua baik. Tidak ada penjahat; tidak ada pencuri. Semua aman.”

“Baguslah kalau begitu.” Ia kembali mengangkat cangkirnya, menyesapnya. “Mau menemaniku minum kopi?”

“Terima kasih untuk tawarannya, tapi maaf, saat ini, saya tidak bisa. Mungkin lain waktu, Mr. Saw. Saat ini saya harus kembali berpatroli.” Nicholas tersenyum dan sedikit menundukan kepala, “Selamat malam.”

“Ah, ayolah, Nicholas, apa kau tega menolak permintaan seorang lelaki tua yang hidup sendirian? Kemarilah dan temani aku.” Ia  menuangkan kopi ke cangkir yang satu lagi. “Dengan, atau tanpa gula?” tanyanya, sejenak kemudian,  ia pun terkekeh. Menambahkan satu sendok gula, lalu mengaduknya.

Nicholas mendesah, kemudian tersenyum. “Baiklah, aku rasa atasanku pun tidak akan marah jika aku berhenti sebentar untuk menemani Anda minum kopi.”

“Tentu saja, tidak. Siapa yang berani memarahimu bila itu demi aku?”

Derap sepatu Nicholas terdengar cukup keras saat beradu dengan lantai di beranda rumah Mr. Saw . Ia berjalan dengan tegap dan gagah. “Selamat malam, Mr. Saw.”

“Selamat malam. Duduklah!”

Ia pun duduk, melepas topinya, dan meletakkannya di pangkuan. Menyandarkan tubuhnya yang berotot pada punggung kursi yang terbuat dari anyaman rotan. Mr. Saw tidak memandangnya. Ia menatap hamparan langit yang dipenuhi bintang-bintang.

“Jadi, Mr. Saw, apa yang membuat Anda masih terjaga di waktu selarut ini?” Nicholas mengangkat cangkirnya, menghirup aromanya beberapa saat sebelum menyesapnya. “Anda tidak sedang dihantui mimpi buruk , kan?” tanyanya, lalu tertawa pelan.

“Tentu saja, tidak, Nicholas. Tentu saja, tidak. Tidak ada mimpi yang lebih menakutkan daripada kenyataan, ” katanya, yang diikuti tawa.

Nicholas tidak menyahut, ia masih menikmati kopinya.

“Sekarang, Nicholas, katakan kepadaku, apa kau sudah menikmati hidupmu?”

Nicholas hampir-hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. “Maksud Anda?”

“Apa kau sudah yakin, tidak akan ada sesuatu pun yang akan kausesali, nantinya, seandainya sebentar lagi kau mati?”

 Nicholas terdiam. Cangkirnya masih menggantung di dekat bibir. Ia letakan cangkir itu dengan hati-hati. “Apa yang sebenarnya sedang Anda bicarakan? Anda ingin mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan mati, begitu?”

“Tenanglah, Nicholas, kau memang akan mati. Aku pun akan mati. Kita semua akan mati. Tidak ada yang bisa lari dari itu.”

“Apa maksud Anda, sebenarnya?” mata Nicholas bergerak-gerak, mengamati wajah Mr. Saw dengan seksama. “Anda tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kita semua akan mati, kan? Anda tidak melihat sesuatu yang seperti itu, kan?”

Mr. Saw terkekeh. “Sayangnya, ya, Nicholas. Sayangnya, ya.”

“Apa yang Anda lihat? Perang? Bencana? Atau, apa?”

“Lebih buruk dari itu,” ia mengalihkan pandangan, menantang mata Nicholas, “kiamat.”

“Kiamat?” Nicholas diam, matanya mengawasi raut muka Mr. Saw, tertawa, “Anda bercanda, kan? Aku tahu itu, Anda sedang bercanda. Hahaha ... sungguh lawakan yang tidak lucu!”

Mr. Saw kembali memalingkan wajah. “Begitukah menurutmu? Aku sedang bercanda?”

Nicholas diam. Lalu, tidak lama, terlonjak dari kursi, berdiri. “Kalau begitu, kenapa Anda masih diam saja? Kenapa masih bersantai di sini? Kenapa tidak melapor kepada raja? Anda memiliki penglihatan. Dan, sudah menjadi kewajiban Anda untuk melaporkan apa pun yang Anda lihat!” Ia berhenti untuk sesaat. “Aku harus bergegas untuk melapor!” Ia membalikkan badan, bersiap berlari.

Mr. Saw terkekeh. “Silakan saja melapor! Lalu apa? Kita tidak bisa menghindarinya. Kita tidak bisa lari!
“Beberapa hal lebih baik tidak dikatakan, Nicholas. Terutama yang bisa menimbulkan kekacauan. Biarkan orang-orang itu tidak tahu tentang hal ini. Biarkan mereka tetap lelap dalam tidur. Dan, maafkan aku karena memberitahumu. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.”

Nicholas diam di tempatnya. Tubuhnya menggigil.

“Duduklah lagi, Nicholas. Tidak ada apa pun yang bisa kaulakukan. Begitu pun aku.”

Dengan gontai, Nicholas kembali duduk. Tubuhnya bersandar pada punggung kursi. “Apa Anda yakin, dengan yang Anda lihat?” tanyanya, tanpa mengalihkan pandangan dari langit.

“Jadi, sekarang kau meragukan penglihatanku?”

“Lalu, apa yang membuat dunia ini berakhir?”

“Seperti yang sebelumnya, yang mengakhiri  zaman dinosaurus; meteor.” Mr. Saw menyesap kopinya sampai dasar.

Nicholas terdiam. Matanya mengawasi langit. Sebuah bintang jatuh terlihat untuk beberapa saat sebelum akhirnya lenyap. “Kapan itu terjadi?” Ia menoleh, menatap Mr. Saw yang sedang menuangkan kopi  ke dalam cangkirnya sendiri.


“Tidak lama lagi.” Ia mengarahkan ujung teko ke cangkir Nicholas. “Mau tambah kopi?”

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak