Mr. Saw
menuangkan kopi dengan pelan dan hati-hati. Asap putih yang tipis terlihat
mengepul dari cangkirnya. Ia menambahkan satu sendok gula, kemudian
mengaduknya. Mengangkatnya, menghirup aroma minumannya itu untuk beberapa saat sebelum
akhirnya ia sesap dalam-dalam, meletakannya kembali. Cangkir itu berdenting
ketika beradu dengan permukaan cawan.
Malam telah
larut. Jalanan yang ketika siang hari ramai, kini sepi. Lampu-lampu yang
menyala di kiri-kanan jalan hanya menyoroti debu-debu yang sejenak mengendap,
sejenak melayang-layang terbawa angin. Di waktu selarut ini, Mr. Saw tengah duduk
di beranda rumahnya. Sendirian. Meski begitu, di atas meja, terdapat dua buah
cangkir, yang satu telah terisi kopi, yang satu dibiarkan kosong.
Ia tersenyum saat
melihat Nicholas berjalan di depan rumahnya. Lambang prajurit kerajaan pada
topinya berkilap saat tertimpa cahaya lampu jalan.
“Hai, Nicholas!
Sedang mendapat tugas berpatroli, heh? Semua baik-baik saja, kan, Prajurit?
Semua aman?”
Nicholas
berhenti, menoleh ke arah Mr. Saw. “Ah, Mr. Saw, Anda masih terjaga, rupanya.
Ya, ya, semua baik. Tidak ada penjahat; tidak ada pencuri. Semua aman.”
“Baguslah kalau
begitu.” Ia kembali mengangkat cangkirnya, menyesapnya. “Mau menemaniku minum
kopi?”
“Terima kasih
untuk tawarannya, tapi maaf, saat ini, saya tidak bisa. Mungkin lain waktu, Mr.
Saw. Saat ini saya harus kembali berpatroli.” Nicholas tersenyum dan sedikit
menundukan kepala, “Selamat malam.”
“Ah, ayolah,
Nicholas, apa kau tega menolak permintaan seorang lelaki tua yang hidup
sendirian? Kemarilah dan temani aku.” Ia menuangkan kopi ke cangkir yang satu lagi.
“Dengan, atau tanpa gula?” tanyanya, sejenak kemudian, ia pun terkekeh. Menambahkan satu sendok
gula, lalu mengaduknya.
Nicholas
mendesah, kemudian tersenyum. “Baiklah, aku rasa atasanku pun tidak akan marah
jika aku berhenti sebentar untuk menemani Anda minum kopi.”
“Tentu saja,
tidak. Siapa yang berani memarahimu bila itu demi aku?”
Derap sepatu
Nicholas terdengar cukup keras saat beradu dengan lantai di beranda rumah Mr.
Saw . Ia berjalan dengan tegap dan gagah. “Selamat malam, Mr. Saw.”
“Selamat malam.
Duduklah!”
Ia pun duduk,
melepas topinya, dan meletakkannya di pangkuan. Menyandarkan tubuhnya yang
berotot pada punggung kursi yang terbuat dari anyaman rotan. Mr. Saw tidak
memandangnya. Ia menatap hamparan langit yang dipenuhi bintang-bintang.
“Jadi, Mr. Saw,
apa yang membuat Anda masih terjaga di waktu selarut ini?” Nicholas mengangkat
cangkirnya, menghirup aromanya beberapa saat sebelum menyesapnya. “Anda tidak sedang
dihantui mimpi buruk , kan?” tanyanya, lalu tertawa pelan.
“Tentu saja,
tidak, Nicholas. Tentu saja, tidak. Tidak ada mimpi yang lebih menakutkan daripada
kenyataan, ” katanya, yang diikuti tawa.
Nicholas tidak
menyahut, ia masih menikmati kopinya.
“Sekarang,
Nicholas, katakan kepadaku, apa kau sudah menikmati hidupmu?”
Nicholas hampir-hampir
tersedak mendengar pertanyaan itu. “Maksud Anda?”
“Apa kau sudah
yakin, tidak akan ada sesuatu pun yang akan kausesali, nantinya, seandainya
sebentar lagi kau mati?”
Nicholas terdiam. Cangkirnya masih menggantung
di dekat bibir. Ia letakan cangkir itu dengan hati-hati. “Apa yang sebenarnya sedang
Anda bicarakan? Anda ingin mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan mati,
begitu?”
“Tenanglah,
Nicholas, kau memang akan mati. Aku pun akan mati. Kita semua akan mati. Tidak ada
yang bisa lari dari itu.”
“Apa maksud Anda,
sebenarnya?” mata Nicholas bergerak-gerak, mengamati wajah Mr. Saw dengan
seksama. “Anda tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kita semua akan mati,
kan? Anda tidak melihat sesuatu yang
seperti itu, kan?”
Mr. Saw terkekeh.
“Sayangnya, ya, Nicholas. Sayangnya, ya.”
“Apa yang Anda lihat? Perang? Bencana? Atau, apa?”
“Lebih buruk dari
itu,” ia mengalihkan pandangan, menantang mata Nicholas, “kiamat.”
“Kiamat?”
Nicholas diam, matanya mengawasi raut muka Mr. Saw, tertawa, “Anda bercanda,
kan? Aku tahu itu, Anda sedang bercanda. Hahaha ... sungguh lawakan yang tidak
lucu!”
Mr. Saw kembali memalingkan
wajah. “Begitukah menurutmu? Aku sedang bercanda?”
Nicholas diam. Lalu, tidak lama, terlonjak
dari kursi, berdiri. “Kalau begitu, kenapa Anda masih diam saja? Kenapa masih
bersantai di sini? Kenapa tidak melapor kepada raja? Anda memiliki penglihatan. Dan, sudah menjadi kewajiban
Anda untuk melaporkan apa pun yang Anda lihat!”
Ia berhenti untuk sesaat. “Aku harus bergegas untuk melapor!” Ia membalikkan
badan, bersiap berlari.
Mr. Saw terkekeh.
“Silakan saja melapor! Lalu apa? Kita tidak bisa menghindarinya. Kita tidak
bisa lari!
“Beberapa hal
lebih baik tidak dikatakan, Nicholas. Terutama yang bisa menimbulkan kekacauan.
Biarkan orang-orang itu tidak tahu tentang hal ini. Biarkan mereka tetap lelap
dalam tidur. Dan, maafkan aku karena memberitahumu. Aku hanya melakukan apa
yang harus aku lakukan.”
Nicholas diam di tempatnya. Tubuhnya
menggigil.
“Duduklah lagi,
Nicholas. Tidak ada apa pun yang bisa kaulakukan. Begitu pun aku.”
Dengan gontai,
Nicholas kembali duduk. Tubuhnya bersandar pada punggung kursi. “Apa Anda
yakin, dengan yang Anda lihat?”
tanyanya, tanpa mengalihkan pandangan dari langit.
“Jadi, sekarang
kau meragukan penglihatanku?”
“Lalu, apa yang
membuat dunia ini berakhir?”
“Seperti yang
sebelumnya, yang mengakhiri zaman
dinosaurus; meteor.” Mr. Saw menyesap kopinya sampai dasar.
Nicholas terdiam.
Matanya mengawasi langit. Sebuah bintang jatuh terlihat untuk beberapa saat
sebelum akhirnya lenyap. “Kapan itu terjadi?” Ia menoleh, menatap Mr. Saw yang
sedang menuangkan kopi ke dalam
cangkirnya sendiri.
“Tidak lama lagi.”
Ia mengarahkan ujung teko ke cangkir Nicholas. “Mau tambah kopi?”
0 comments