Lihat, dia sudah mulai sibuk lagi mengetik di laptopnya. Benda
keparat itu sudah membawa jauh orang yang paling aku cintai dari sisiku.
Menembus sekat-sekat rumah ini, pulau Jawa, selat Bali sampai ke
seberangnya.
Dia pikir aku tak tahu, padahal selama ini aku cuma pura-pura tak tahu.
Dengan alasan sulit tidur, hampir setiap malam dia duduk di ruang
tamu menghadap laptop. Menertawakan baris-baris kata yang muncul
bertahap di layarnya. Tersenyum malu-malu layaknya remaja pada kencan
pertama.
Dia kira aku tidak tahu bahwa penyebab keuangan kami yang sekarat
adalah teman bicaranya dilayar laptop itu, yang setiap malam seolah
menggayut manja di lengannya lalu mulai meminta rolex, louis vuitton,
prada dan mungkin sebentar lagi ia akan meminta lamborghini.
Pernah suatu malam aku hampir ketahuan mengintip. Aku tak sengaja
menendang kotak mainan milik Raka yang tergeletak menempel dinding di
lorong menuju ruang makan. Maka aku berpura-pura menyapanya. Bertanya
sedang apa ia di depan laptopnya. Tapi yaa, dia tentu mengarang-ngarang
alasan.
Dia juga tidak tahu bahwa pai apel yg kusuguhkan setelah makan malam
tadi sudah bercampur arsenik. Aku hanya membuat sedikit dan tanpa curiga
sedikit pun ia meminta izin menghabiskan semuanya. Tentu saja aku
iya-kan, dan dia akan tertidur lelap malam ini.
Tapi sayangnya dia tidak tahu soal itu.
10:41
011113
0 comments