Melankolia
Minggu 7
Kamisan S1 #07 - Melankolia: katanya ini hanya tentang memilih peran
15.03Unknown
Anggap saja kita sepakat memanggilnya Daun, sebab bunga sudah menjadi terlalu mainstream sebagai penyamaran.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku perlu menyamarkan nama orang
yang akan kuceritakan ini, tenang, perlahan saja kalian akan tahu dengan
mudah alasannya.
Kalian lihat perempuan yang ada di bawah lampu di jalan di depan sana? Iya iya, perempuan bertubuh gempal itu. Yang sedang menggaruk kepalanya sambil menghisap cerutu? Iya, benar yang itu. Kalian tidak salah. Dialah Daun yang kumaksud tadi.
Perempuan malam yang kotor dan liar menurut pandangan
orang-orang. Perempuan itu menendang batu-batu kerikil di bawah kakinya,
gelisah. Sejak pukul sepuluh tadi menunggu para tua bangka dan
anak-anak muda yang terpesona kenikmatan semu dunia. Namun tak ada juga
yang datang membawakan cinta padanya dalam bentuk rupiah.
Perempuan itu menghembuskan asap rokoknya, mendesah dengan keras.
Aku urung memasang wajah mual melihatnya begitu, bukankah selalu ada
alasan dari setiap tindakan? Mungkin saja anggota keluarganya ada yang
sedang sakit parah atau salah satu adiknya sudah diancam akan putus
sekolah jika tak segera membayar segala macam administrasi. Mungkin saja kan?
Aku menoleh pada Yani, pria yang sejak tadi duduk di sebelahku, matanya teduh memandang Daun dari jauh. Kenapa kamu jatuh cinta padannya, Yan? Aku bertanya di dalam kepalaku. Kenapa bukan padaku?
Aku dan Yani berteman sejak kecil. Kedua orang tua kami, terlebih
ibu, berteman amat karib sebagai tetangga dan kebiasaan itu menurun
padaku dan Yani.
Seperti kisah pada umumnya, teramat sering bersama membuatku tak bisa
lepas dari Yani. Aku dengan keyakian penuh mengatakan bahwa inilah
cinta. Bahwa kami tentu sudah saling jatuh cinta tanpa perlu dikatakan.
Tapi ternyata aku salah.
Entah bagaimana ceritanya Yani berkenalan dengan Daun. Tahu-tahu saja
aku rutin menemani Yani menjaga Daun dari jauh seperti ini.
Untuk apa?, tanyaku suatu kali. Toh itu memang
pekerjaannya. Bekerja di jalanan tentu dia tahu rosikonya kan? Mana kamu
tahu berapa lama dia sudah melakulan itu, lalu sekarang kamu tahu-tahu
muncul dan ingin jadi pahlawan? Kamu yang bahkan namanya tak dia tahu
selain kamu pernah dikenalnya sepintas sebab pernah mengantarnya pulang
ketika satu alas sepatu lima sentinya patah.
Kenapa kamu nggak memilih peran yang seharusnya saja? Jatuh cinta
pada teman sepermainanmu. Kenapa kamu memilih peran yang sama sekali
jauh dan memilih peran jadi yang pertama membuat luka di hatiku.
--------
00:42
Dibuat dengan hanya sekadarnya saja dari salah satu lagu milik Doel Sumbang.
Dibuat dengan hanya sekadarnya saja dari salah satu lagu milik Doel Sumbang.
0 comments