Lupa Minggu 5

Kamisan S1 #05 - Lupa: Bocah Pengumpul Mimpi

14.50Unknown

Zetta melompat dari satu atap rumah ke rumah lainnya, melayang tipis, berhenti, memeriksa dengan telinganya yang tajam, matanya awas menatap berkeliling.

Ini malam terakhirnya bertugas di zona z-443-a8 setelah seminggu penuh mengumpulkan mimpi, setelah ini Zetta merasa bahwa ia akan dipindahkan ke zona t-282-b1, tempat temannya, Thufa melakukan perkerjaan yang sama seperti yang ia lakukan sekarang.

Baru saja Zetta hendak menyusup masuk ke rumah Ariana dan mengambil mimpi gadis itu, suara teriakan menghentikan geraknya. Seluruh tubuh Zetta gemetar. Teriakan itu memaksa hadir pilu di dadanya. Buru-buru ia menuju rumah, asal teriakan tadi.

Dahinya mengeryit mengetahui rumah siapa yang ditujunya. Tak ada anak perempuan di rumah ini, batinnya. Jadi suara siapa tadi?

Aaaaaaaaaaah! Tidak! Jangan! Tolong! Toloooong!

Zetta bergidik sekali lagi, tubuhnya meremang. Tanpa memedulikan gemetar yang ia rasakan, cepat Zetta menyusup ke dalam rumah. Mencari di kamar mana suara tadi berasal.

Rumah keluarga Raheldian tampak biasa saja. Suara yang Zetta dengar tadi sama sekali tak mengusik penghuni lain di dalam rumah. Wajar, sebab itu hanya mimpi dan hanya orang-orang seperti Zettalah yang bisa mendengarnya.

Seorang anak perempuan, di atas tempat tidur membuat sprei berantakan. Tangannya menggapai udara, kakinya menendang-nendang. Sebuah bantal guling jatuh di sisi tempat tidur.

Gadis itu sekarang menangis.

Zetta mendekat, mengambil tangan gadis itu, membuat lingkaran di telapak tangannya lalu menekan ibu jarinya di sana. Menyerap mimpi buruk gadis itu. Selama bekerja, Zetta memandanginya. Wajah yang pucat, rambut panjangnya kusut teraurai dan terlihat sangat kurus.

Gemetar di tubuh gadis itu berkurang perlahan sebab mimpi buruknya usai, terhisap di ibu jari Zetta. Ia tersenyum melihatnya. Tidurlah lagi, Zetta berbisik. Menyelimuti si Gadis dan mengembalikan bantal guling ke sisinya.

Sebelum pergi Zetta menampung mimpi buruk gadis tadi ke dalam botol kaca yang ia gantungkan di pinggang sebelah kirinya.

Semoga hanya satu mimpi ini saja.

Zetta melongokkan kepalanya, memeriksa rumah Ariana dari jauh, sepertinya malam ini gadis itu tak lagi bermimpi buruk.

***

“Tidak akan Zetta! Kita tidak boleh mengintip mimpi orang lain!”
“Oh, ayolah bibi! Bukankah tugasku mengumpulkan mimpi-mimpi itu? Lalu kenapa aku tak boleh melihatnya?”
“Sudah aturannya begitu. Sudahlah, jangan menganggu bibi.”

Diandra, bibinya, mendorong bahu Zetta pelan agar tak mengganggu jalannya. Ia adalah petugas yang mengumpulkan botol-botol mimpi, lalu melebur mimpi-mimpi tadi dan menjadikannya uap di udara. Hilang.

Zetta begitu penasaran tentang mimpi anak perempuan yang ia ambil semalam. Teriakan gadis itu membawa perasaan lain pada Zetta. Sesuatu yang dekat, yang bergejolak di hatinya. Sebuah perasaan marah, sedih, menyesal. Semalaman Zetta terusik karenanya. Karna itu ia ada di sini, Thufa yang menyarankannya untuk memohon pada bibi Diandra agar boleh melihat mimpi gadis itu.

“Bi, aku mohon. Sekali ini saja, izinkan aku melihat mimpi anak perempuan itu,” Zetta masih berusaha.
“Untuk apa, Zetta? Mimpi buruk sebaiknya segera dihilangkan, tak perlu diingat-ingat. Lalu untuk apa kamu mau tahu mimpi orang lain?”

Zetta diam saja, ia tak punya alasan masuk akal untuk menyakinkan bibinya.

Dia hanya merasa, teriakan gadis itu semalam membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang terasa amat dekat namun mesti ia gali dalam-dalam diingatannya. Tak dapat. Ia tak menemukan apapun. Karna itu Zetta ingin tahu mimpi gadis itu.

***

“Dapat!” teriak Thufa saat menemui Zetta di atap sebuah gedung berlantai tiga puluh satu.
Zetta menoleh, ia tahu temannya ini dapat diandalkan. Zetta memasang senyum di wajahnya yang lesu. Sejak mengambil mimpi gadis itu, Zetta merasa ada yang lain di dirinya. Suatu kekosongan besar membangkitkan pertanyaan-pertanyaan kepada dirinya sendiri. Kenapa dan sejak kapan ia menjadi seorang pengumpul mimpi?
“Namanya Alika. Korban penculikan dan pemerkosaan. Disekap selama tiga bulan, oleh empat orang pria dewasa. Diculik saat ia hendak pulang ke rumah selepas sekolah.”
Zetta tercengang. Teriakan Alika meminta tolong kemarin malam masih jelas bergaung di telinganya, menyusup dan menusuk-nusuk dadanya. Mereka berdua paham betul seburuk apa mimpi gadis itu.
“Keluarga Raheldian sudah lama melaporkan kehilangan gadis itu tetapi baru bisa ditemukan. Setelah tiga bulan disekap! Bisa kamu bayangkan itu, Zetta?” suara Thufa meninggi. Zetta mengangguk. “Gadis itu kalau tidak mencoba bunuh diri, tidak lama lagi dia pasti gila.” Thufa melanjutkan “Namun, dari desas-desus yang kudengar, petinggi portal kita akan mendatangi keluarga Raheldian dan menawarkan hidup yang baru bagi Alika.”
“Maksudmu?”
“Ya, Alika akan bergabung dengan kita. Setiap anak seperti Alika diselamatkan dengan cara yang sama. Seperti aku, sepertimu.” Thufa menunjuk Zetta. Kaget menemukan keheranan di wajah temannya itu.
“Sepertimu? Dan seperti aku?” Zetta mengulang apa yang dikatakan Thufa.
“Ya,” Thufa menjawab singkat. “Jangan bilang kamu sama sekali tak tahu soal ini. Ohya, memang. Ingatan buruk kita di masa lalu dihapus oleh portal dan sebagai gantinya kita harus bekerja mengumpulkan mimpi-mimpi buruk orang lain.”
“Kamu tidak tahu apa yang menyebabkan portal membawamu ke sini?” Zetta bertanya
“Pada awalnya tentu tidak. Sudah kubilang tadi. Ingatan kita dihapus. Di-ha-pus. Tapi akhirnya aku tahu, bahwa keluargaku tewas akibat gempa bumi. Kakekku yang menceritakannya, sebab menurutnya aku perlu tahu soal itu karna bukankah aku sudah tidak lagi depresi karna sebuah kehilangan?” Thufa tersenyum, setuju dengan keputusan kakeknya untuk memberitahunya meski ingatannya tentang kejadian itu sudah dihapus.

Zetta bangkit lalu menderap lari.
“Aku ingin menemui bibiku!”

***

“Kamu nggak akan sanggup.” ujar bibi Diandra ketika Zetta memintanya memberitahu kenapa ia bisa menjadi seorang Pengumpul Mimpi, seperti Thufa, seperti remaja-rejama lain seusianya. Dan seperti Alika?
“Aku bertaruh, Bi. Bisa atau tidak, aku siap menghadapinya. Bukankah kejadiannya sudah lama berlalu? Kumohon!”
“Kamu keras kepala seperti ibumu! Dan untung saja sikap tempramental ayahmu tidak menurun utuh padamu!” bibi Diandra mulai luluh.
“Kumohon, Bi, ceritakan padaku. Teriakan anak perempuan itu mengusikku. Ada rasa sedih yang timbul di dadaku karna itu. Dan aku yakin, ini ada hubungannya dengan masa laluku sendiri.”
“Di mana kamu bertugas saat ini?”
“Zona 282-b1.”
“Kebetulan sekali. Pergilah ke rumah sakit jiwa di zona 282-b2. Cari ruang 108. Serap mimpinya dan bawa padaku.”
Mata Zetta menyala terang mendengar penjelasan bibinya. Ia lega akan segera mengetahui masa lalunya yang hilang. “Terima kasih, bibi. Apa aku sudah pernah bilang kalau aku sayang padamu?” Zetta mengedipkan matanya. “Ya, aku sayang padamu,” lalu ia memeluk bibiknya sebentar, sebelum berlari pergi untuk menjalankan tugasnya malam ini.

***

Rumah sakit itu lengang dan sepi. Dingin. Suara berkerosak sesekali muncul di sudut-sudut gelap gedung sebab daun diacak-acak oleh angin. Zetta berdiri tepat di tengah halaman rumah sakit. Melayang. Lebih tinggi sedikit dari dua lantai gedungnya.

Kamar 108, Zetta mengingat ucapan bibinya. Sejenak ia ragu. Perasaan cemas menyelimuti hatinya. Siapa yang ada di kamar 108? Dirinya tidak yakin. Zetta sama sekali tak memiliki dugaan siapa orang yang akan ditemuinya. Orang yang bisa mengembalikan masa lalunya.

Kamu tidak akan sanggup

Suara bibi Diandra seakan berembus di telinganya. Zetta ragu-ragu sebentar namun akhirnya melesat masuk, mencari kamar 108.

Sekarang atau aku akan terus diusik perasaan menyebalkan ini, tekatnya.

***

Pria itu tampak jauh lebih tua dari umurnya. Ia tertidur pulas tanpa mimpi. Mungkin efek obat. Tak ada yang bisa Zetta lakukan selain memerhatikan pria di depanya dan mencari benang merah pria ini dengan masa lalunya sendiri.

Tak ada. Zetta tak menemukan apapun. Bahkan kemiripan fisik antara ia dan lelaki ini tak ada. Ia menunggu beberapa saat, setelah itu memutuskan pergi. Ia perlu mengerjakan tugasnya terlebih dulu, pertengahan dini hari nanti ia baru akan kembali.

Zetta keluar perlahan, tak langsung melesat ke atap gedung seperti biasanya. Ia menyurusi lorong, tertarik untuk mencari tahu lebih banyak isi rumah sakit. 282-b2 bukanlah wilayahnya, tak ada aturan ketat dari portal namun etika mengajarkan para Pengumpul Mimpi untuk tidak mengusik zona milik rekan sesama mereka.

Maafkan aku, Kasandra! Maafkan aku! Selamanya aku hanya mencintaimu.

Zetta berbalik ketika mendengar suara itu. Memasang telinga dan memandang berkeliling. Zetta memegang kepalanya. Banyak. Banyak sekali mimpi dan suara-suara yang didengarnya.

Sialan! Kenapa mereka bisa bermimpi bersamaan!

Zetta memusatkan pendengarannya hanya kepada suara pria berat yang pertama kali didengarnya. Obat tidur sialan!, gerutunya.

Tidak! Kasandra bangun! Bangun! Aku tak mungkin membunuhmu!

Zetta mengejar suara lelaki itu. Ia kembali ke kamar 108. Lelaki itu terbangun, menyisakan dengung sebab ia menyebut nama Kasandra sesaat sebelum sadarkan diri, memantul-mantul di keempat sisi dindingnya yang putih mengerikan.

“Kasandra! Kasandra!” mata lelaki itu kalap menyisir ruangan mencari Kasandra. Tak ada. Tentu saja tak ada. Hanya ada Zetta di ruangan itu, akan tetapi tak bisa dilihat pria tersebut.

Matanya yang mencari-cari itu bersirobok dengan mata Zetta. Ia kanget. Betapa miripnya warna dan bentuk mata mereka.

***

“Kamu berhasil?”
“Tidak,” Zetta menoleh pada Thufa yang baru datang. Sementara ia sendiri sudah sejak pekerjaannya selesai hanya duduk di atap gedung ini. “Tapi aku tahu siapa pria itu,” Zetta melanjutkan. “Ia ayahku dan perempuan yang ia sebut-sebut–Kasandra, adalah ibuku.”
Thufa memasang wajah terkejut lalu berubah prihatin. Ia menepuk punggung tangan temannya itu. “Kamu sudah memastikannya pada bibi Diandra?”
“Tak perlu. Aku sudah cukup yakin. Kamu tahu? Kami punya mata coklat yang sama. Bentuk mata kami pun sama. Aku seperti melihat diriku sendiri, Fa.”
“Lalu apa yang mau kamu lakukan?”
“Menemui bibi Diandra.”
“Lhoo tapi tadi katamu?” Thufa memandang Zetta yang tersenyum. Jangan membuatku bingung, gadis itu mengancam dengan sorot matanya.
“Aku ingin meminta bibi Diandra mengajukan pada portal agar menghapus ingatan ayahku.”
Thufa terkejut, ia tak mengira Zetta akan melakukan itu. Tentu saja itu adalah pilihan terbaik yang ada.
“Kupikir, jika aku sudah kehilangan ibuku, kenapa aku harus kehilangan ayahku lagi. Benarkan?”
Thufa mengangguk. “Lalu ingatan tentang masa lalumu?”
“Aku bisa melupakannya dengan mudah. Lebih baik tak mengingat-ingat kejadian buruk bukan?”
Thufa hanya tersenyum. Tak menyangkap Zetta akan melewati semua ini dengan begitu mudah.
“Ayoh! Kukenalkan kamu kepada Alika tadi aku bertemu dengannya ketika mengantarkan botol-botol mimpi.

***

Tak ada yang lebih buruk dari tak bisa melupakan apa yang ingin kita lupakan. Tak mengingat masa lalunya adalah anugerah terbaik bagi Zetta. Tak memiliki masa lalu namun ia memilki ayah dan bibi yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Itu cukup.

Lupakan dan menguaplah mimpi-mimpi buruk

***
22.35

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak