Minggu 7

Kamisan S3 #7: Perempuan Dini Hari

16.34Unknown


Photo published for Kamisan #7 Session 3 : Nyanyian DanauPerempuan Dini Hari

Akhir-akhir ini aku sering dilanda insomnia gawat. Mataku baru bisa dikatup tepat pukul tiga dini hari. Entahlah apa penyebabnya. Tak jelas. Kelopak mataku sepertinya hanya mematuhi perintah denting jam, tidak kepada otakku. Aku sudah mencoba berbagai saran dari teman-temanku perihal cara menyembuhkan insomniaku yang kian memperihatinkan. Mulai dari saran untuk menenggak tiga gelas air putih sebelum tidur, menghitung jumlah suara tokek, hingga menelan beberapa butir pil tidur. Dan hasilnya, semua nihil. Akhirnya aku pasrah saja. Meskipun dengan insomnia ini aku seringkali tersiksa. Tiap kali bangun tidur di pagi hari, kepalaku menjadi agak pusing di bagian sebelah—migran. Akibatnya, aku jadi agak sedikit lalai ketika bekerja. Sebagai contoh ketika bosku menyuruhku untuk mengerjakan data pajak bulan maret tahun 2015, aku malah salah menuliskan tahun 2015 menjadi 2025. Tak ayal, bosku jadi marah besar. Aku beralasan bahwa aku sedang agak sedikit pusing, namun bos tak mau peduli. Aku maklum, sebab begitulah memang seharusnya watak seorang bos: tak peduli.

Pada akhirnya, setelah semua usaha telah aku upayakan, aku pun menyerah dengan insomnia ini. Aku pasrah menjalaninya saja. Bahkan aku mulai berusaha untuk menikmatinya. Jika aku sudah bosan menunggu kantuk di kamar kosan, aku pun keluar untuk sesekali menghirup angin malam. Siapa tahu angin malam bisa jadi obat mujarab agar aku lekas kantuk. Aku berjalan saja menyusuri jalan gang. Sepi. Tak ada siapa-siapa meskipun hanya seekor anjing atau pun kucing. 

Aku berjalan terus. Setelah keluar dari jalan gang, aku pun memilih belok ke kanan,  ke arah menuju jembatan Seruni. Jembatan itu adalah jembatan yang menghubungkan desa Kurangasem—tempatku tinggal dengan desa Kurangganteng. Sedangkan perihal asal-usul nama jembatan itu kenapa dinamakan Seruni, aku hanya mendengar ceritanya dari beberapa orang yang aku temui di warung kopi Mang Karman. Menurut penuturan mereka, dulu pernah ada seorang gadis bernama Seruni yang menjadi pujaan banyak pemuda dari kedua desa itu. Tetapi, tak satu pun pemuda yang mampu meluluhkan hati Seruni. Namun, tiba-tiba ada kejadian yang begitu mengejutkan. Perut Seruni membuncit, dia hamil dan entah siapa ayah dari daging itu. Seruni pun jadi bahan gunjingan. Seruni dan keluarganya malu besar. Dan seperti cerita umum tentang seorang gadis yang hamil duluan tanpa seorang ayah: Seruni akhirnya memutuskan bunuh diri di jembatan yang belum bernama itu. Dia langsung tewas, sebab sungai di bawahnya terdapat banyak batuan cadas yang tajam. Kepalanya hancur karena bebatuan itu dan terseret arus sungai. Begitulah cerita yang aku dengar. Cerita konyol yang cukup menghibur. 

Setelah sampai di jembatan Seruni, aku berhenti. Aku mengeluarkan sebatang rokok dan pemantik api. Rokok kunyalakan. Dan hembusan-hembusan surga tercipta. Memang benar kata salah seorang temanku, merokok di antara udara malam itu surga. Aku nikmati setiap hembusan asap rokokku sepenggal demi sepenggal. Tetapi, beberapa saat kemudian ada sebuah bayangan yang agak mengusikku. Bayangan seorang perempuan sedang bersandar dengan tangannya di pagar jembatan, sepertiku. Tapi kurasa itu bukan bayangan, dia memang seorang perempuan. Asli. Apakah itu Seruni? Ah, tapi itu hanya mitos konyol. Untuk membuktikannya, aku hampiri perempuan itu dan mengajaknya mengobrol.

“Mbak, malem-malem kok sendirian?” Tanyaku dengan nada yang kubuat seramah mungkin.

Namun dia diam saja. Aku diacuhkan.
“Mbak, mau bunuh diri ya? Mau bunuh diri seperti Seruni ya? Agar bisa dikenang orang seperti Seruni.” Entah apa yang aku pikirkan, tiba-tiba pertanyaankan menjadi kian ngelantur

“Mbak, saya rasa, kalau mbak mau bunuh diri di sungai ini mbak akan langsung mati. Sebab, sungai ini dangkal dan batunya tajam-tajam mbak. Silahkan saja mbak kalau tekad mbak sudah bulat.” Sungguh, aku juga tak mengerti kenapa aku berkata seperti itu. Barangkali ini dampak dari insomnia. Insomsia ternyata tak hanya membuat mataku susah dikatup, tetapi juga membuat aku jadi agak senewen juga.

Dan di luar dugaanku. Perempuan itu sungguh-sungguh menuruti anjuranku. Dia melompat tanpa aba-aba. Dan seketika: “Byuuuuuurrr!”
***
“Woy, bangun Mad! Kau memangnya tak berangkat kerja?”

Aku terbangun dengan wajah basah kuyup dan kesadaran yang belum utuh. Aku melihat Rudy—teman kostku—di depanku sembari menenteng gayung.
“Kau bangun siang sekali. Sekarang sudah jam 10 siang. Padahal, kau selepas ba’da isya’ sudah terbaring di kasurmu.”
“Hah? Jadi aku insomniaku sudah sembuh? Ah, akhirnya.”
“Itu tak penting. Yang penting sekarang kau harus membuat alasan yang tepat karena kau telat masuk kerja.”
“Itu juga tak penting, Rud. Yang penting sekarang adalah: aku harus berterima kasih pada Seruni.”
“Siapa dia?”
“Perempuan dini hari yang membuat insomniaku hilang.”
Rudy hanya memasang muka bingung. Aku yakin, dia takkan percaya atas mimpi yang baru saja aku alami.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak