Minggu 7

Kamisan S3 #7: Nyanyian Danau

16.32Unknown

“Tidakkah kalian mendengar nyanyian itu?” tanyamu. Pertanyaan yang selalu kau ajukan setiap kali kau merasa mendengarnya. Dan, setiap kali pula, kami menjawab tidak. Tapi, apakah kau puas dengan jawaban singkat kami? Tidak, merupakan jawabannya. Dengan usaha yang tak kunjung kau redupkan, kau terus meyakinkan kami bahwa nyanyian itu ada. Sebagian besar tak acuh dengan upayamu. Dua pertiga dari sebagian kecil sisanya, hanya sekadar basa-basi merespon. Dan aku … satu dari sepertiga yang berusaha sungguh meyakinimu.

“Seperti apa nyanyiannya?” tanyaku suatu pagi. Seperti biasa, kau baru saja bertanya apakah aku mendengar nyanyian itu, dan aku menjawab tidak.

“Nyanyian seorang perempuan. Alunan nadanya mengajak siapa pun atau apa pun yang mendengar, menari. Paling tidak, bergerak. Bahkan batang pohon pinus yang kukuh pun, memerintahkan dedaunannya berdesir. Air danau yang lebih banyak berdiam diri, sedikit beriak-riak. Tidak ada yang tergeming.”

Aku mendengarkan. Mendengarkan penjelasanmu. Kau berdiam. Aku masih mendengarkan. Mencoba mendengarkan nyanyian yang kau maksud. Nihil. Tentu kau kecewa. Sebesar apa pun upayamu, tidak ada yang benar-benar dapat memahami. Karena hanya kau yang mendengar. Atau nyanyian itu yang memilihmu.

“Nyanyian yang memberi harapan. Kehidupan. Dan masa depan,” tuturmu kemudian. “Seharusnya nyanyian itu menyuguhkan sukacita. Tapi, aku bisa merasakan nada yang menyiratkan kesedihan. Samar … tapi kuat kurasakan.”

Aku masih mendengarkan tuturmu. Menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Tidak mengerti apa yang mesti kulakukan. Pagi itu berlalu. Mengantar musim berganti. Berbulan sudah sejak pagi itu, pagi ini kau mengejutkanku. Kau mengajakku duduk di tumpukan daun kering dari pohon-pohon yang meranggas di tepi danau. Kanvas dan cat lukis kau bawa serta. Kau ingin menerjemahkan nyanyian itu, katamu saat itu. Aku yang tidak mengerti, ikut denganmu. Tanpa berbicara, kau sapukan cat pada kanvas. Tanpa bertanya, aku menyaksikan bagaimana kanvas kosong menjelma menjadi sebuah gambar.

Kau tidak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan lukisanmu. Tanganmu bergerak cepat menyapukan kuas. Aku pun tahu, melukis adalah salah satu kecintaanmu. Kelabu menjadi warna dasar dari kanvas putihmu. Perlahan kilau putih menyeruak dari tengah-tengah kanvas. Kilau putih yang mewujud manusia. Gambar seorang perempuan. Kau menggambarkannya begitu ringan. Menari di atas danau demikian tenang. Di wajahnya terlukis sebuah senyum, dengan mata yang terpejam. Ia demikian menikmati tarian yang ia lakukan. Tidak memedulikan sama sekali abu-abu di sekitarnya.

Kau menghela napas panjang begitu kau selesai menyapukan cat terakhir. Kau dan aku sama-sama memandang lukisan yang baru kau buat. Aku tidak tahu siapa perempuan dalam lukisanmu. Kau berdiam. Sebelum satu tutur terucap, samar-samar namamu dipanggil seseorang. Dan, pada saat itulah kesedihan itu datang.

***

Kau menimang bayi perempuanmu. Air matamu menetes ke pipinya yang masih begitu merah. Menjadi yatim di usianya yang baru beberapa detik, tentu bukan hal yang ia inginkan. Tidak pernah merasakan hangatnya dekapan ibunda dan mengecap makanan terbaik sambil mendengar detak jantung Sang Ibu. Tidak pernah mengenal suara merdu yang akan mengantarnya tidur dalam nada atau cerita. Sekarang, ia hanya punya kau. Tempatnya bersandar.

Pagi ini, kau memintaku lagi untuk menemuimu di tepi danau. Kau menitipkan Kirana, putri semata wayangmu pada adikmu. Kau menyerahkan padaku lukisan yang kau buat di hari Kirana lahir. Kau memintaku untuk menyimpannya. Tanpa banyak tanya, aku mengiyakan. Kau katakan kalau kau tidak pernah lagi mendengar nyanyian yang selama ini kau dengar. Kau tidak mengerti mengapa demikian. Aku pun tak mengerti. Dalam ketidaktahuan ini, kita bertemu. Kita saling memahami satu sama lain. Pagi itu adalah pagi terakhir kita bertemu.

***

Delapan belas tahun. Kau memboyong Kirana keluar dari tanah air. Kau katakan kalau kau ingin melupakan kenangan tentang Ibunda Kirana. Kau ingin melepas semua apa yang bisa kau ingat di sini. Tapi tentu kau sadar, dengan Kirana bersamamu, kau selalu membawa bagian dari masa lalumu.

Pagi ini, kau mengejutkanku. Atau, lebih tepatnya berita tentangmu. Kirana hadir di kantorku pagi ini. Tapi bukan itu kunci keterkejutanku. Surat yang kau tulis tiga hari sebelum kepergianmulah yang mengentakku.

Sahabatku,
Aku sangat memahami keterkejutanmu kala kau membaca suratku ini. Aku pun meminta maaf karena selama ini aku menjauhkan diriku dari masa laluku. Bahkan aku menjauhkan Kirana dari leluhurnya. Aku yakin kau memaafkanku. Terlebih dengan apa yang akan kukatakan ini.

Kau mungkin tidak mengenali Kirana sebagai sosok yang kau kenal. Entah bagaimana ia tercipta, tapi jejakku dan ibundanya tidak tersimpan pada Kirana. Sekalipun, ia adalah darah dagingku. Kau akan menyadarinya, Sahabatku. Aku sangat berharap kau masih menyimpan lukisan itu. Ambillah lukisan itu, dan kau akan mengerti. Perkenalkanlah Kirana pada leluhurnya. Selamat tinggal, Sahabatku ….

Kiranalah yang kau lukis pagi itu. Kirana yang terlahir dalam nyanyian dan gambar. Kirana yang hadir dalam kelabu dan menipiskan abu-abu itu dengan senyum. Delapan belas tahun. Aku memerlukan waktu itu untuk bisa memahami nyanyian yang kau dengar. Kau tenanglah, aku akan memperkenalkan Kirana pada leluhurnya.

***
Yola M. Caecenary
Kamisan #7 Session 3 - Deadline: 23 April 2015
Foto tema tulisan
image
Sumber: http://www.blurrent.com/article/11-cringeworthy-moments-that-will-make-you-hate-my-soul- shared by Nia

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak