“Tidakkah kalian
mendengar nyanyian itu?” tanyamu. Pertanyaan yang selalu kau ajukan setiap kali
kau merasa mendengarnya. Dan, setiap kali pula, kami menjawab tidak. Tapi,
apakah kau puas dengan jawaban singkat kami? Tidak, merupakan jawabannya.
Dengan usaha yang tak kunjung kau redupkan, kau terus meyakinkan kami bahwa
nyanyian itu ada. Sebagian besar tak acuh dengan upayamu. Dua pertiga dari
sebagian kecil sisanya, hanya sekadar basa-basi merespon. Dan aku … satu dari
sepertiga yang berusaha sungguh meyakinimu.
“Seperti
apa nyanyiannya?” tanyaku suatu pagi. Seperti biasa, kau baru saja bertanya
apakah aku mendengar nyanyian itu, dan aku menjawab tidak.
“Nyanyian
seorang perempuan. Alunan nadanya mengajak siapa pun atau apa pun yang mendengar,
menari. Paling tidak, bergerak. Bahkan batang pohon pinus yang kukuh pun,
memerintahkan dedaunannya berdesir. Air danau yang lebih banyak berdiam diri,
sedikit beriak-riak. Tidak ada yang tergeming.”
Aku
mendengarkan. Mendengarkan penjelasanmu. Kau berdiam. Aku masih mendengarkan.
Mencoba mendengarkan nyanyian yang kau maksud. Nihil. Tentu kau kecewa. Sebesar
apa pun upayamu, tidak ada yang benar-benar dapat memahami. Karena hanya kau
yang mendengar. Atau nyanyian itu yang memilihmu.
“Nyanyian
yang memberi harapan. Kehidupan. Dan masa depan,” tuturmu kemudian. “Seharusnya
nyanyian itu menyuguhkan sukacita. Tapi, aku bisa merasakan nada yang
menyiratkan kesedihan. Samar … tapi kuat kurasakan.”
Aku
masih mendengarkan tuturmu. Menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.
Tidak mengerti apa yang mesti kulakukan. Pagi itu berlalu. Mengantar musim
berganti. Berbulan sudah sejak pagi itu, pagi ini kau mengejutkanku. Kau
mengajakku duduk di tumpukan daun kering dari pohon-pohon yang meranggas di
tepi danau. Kanvas dan cat lukis kau bawa serta. Kau ingin menerjemahkan
nyanyian itu, katamu saat itu. Aku yang tidak mengerti, ikut denganmu. Tanpa
berbicara, kau sapukan cat pada kanvas. Tanpa bertanya, aku menyaksikan
bagaimana kanvas kosong menjelma menjadi sebuah gambar.
Kau
tidak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan lukisanmu. Tanganmu bergerak
cepat menyapukan kuas. Aku pun tahu, melukis adalah salah satu kecintaanmu. Kelabu
menjadi warna dasar dari kanvas putihmu. Perlahan kilau putih menyeruak dari tengah-tengah
kanvas. Kilau putih yang mewujud manusia. Gambar seorang perempuan. Kau
menggambarkannya begitu ringan. Menari di atas danau demikian tenang. Di
wajahnya terlukis sebuah senyum, dengan mata yang terpejam. Ia demikian
menikmati tarian yang ia lakukan. Tidak memedulikan sama sekali abu-abu di
sekitarnya.
Kau
menghela napas panjang begitu kau selesai menyapukan cat terakhir. Kau dan aku
sama-sama memandang lukisan yang baru kau buat. Aku tidak tahu siapa perempuan
dalam lukisanmu. Kau berdiam. Sebelum satu tutur terucap, samar-samar namamu dipanggil
seseorang. Dan, pada saat itulah kesedihan itu datang.
***
Kau
menimang bayi perempuanmu. Air matamu menetes ke pipinya yang masih begitu
merah. Menjadi yatim di usianya yang baru beberapa detik, tentu bukan hal yang
ia inginkan. Tidak pernah merasakan hangatnya dekapan ibunda dan mengecap
makanan terbaik sambil mendengar detak jantung Sang Ibu. Tidak pernah mengenal
suara merdu yang akan mengantarnya tidur dalam nada atau cerita. Sekarang, ia
hanya punya kau. Tempatnya bersandar.
Pagi
ini, kau memintaku lagi untuk menemuimu di tepi danau. Kau menitipkan Kirana,
putri semata wayangmu pada adikmu. Kau menyerahkan padaku lukisan yang kau buat
di hari Kirana lahir. Kau memintaku untuk menyimpannya. Tanpa banyak tanya, aku
mengiyakan. Kau katakan kalau kau tidak pernah lagi mendengar nyanyian yang
selama ini kau dengar. Kau tidak mengerti
mengapa demikian. Aku pun tak mengerti. Dalam ketidaktahuan ini, kita bertemu. Kita
saling memahami satu sama lain. Pagi itu adalah pagi terakhir kita bertemu.
***
Delapan belas tahun. Kau memboyong Kirana
keluar dari tanah air. Kau katakan kalau kau ingin melupakan kenangan tentang
Ibunda Kirana. Kau ingin melepas semua apa yang bisa kau ingat di sini. Tapi tentu
kau sadar, dengan Kirana bersamamu, kau selalu membawa bagian dari masa lalumu.
Pagi ini, kau mengejutkanku. Atau, lebih
tepatnya berita tentangmu. Kirana hadir di kantorku pagi ini. Tapi bukan itu
kunci keterkejutanku. Surat yang kau tulis tiga hari sebelum kepergianmulah
yang mengentakku.
Sahabatku,
Aku
sangat memahami keterkejutanmu kala kau membaca suratku ini. Aku pun meminta
maaf karena selama ini aku menjauhkan diriku dari masa laluku. Bahkan aku
menjauhkan Kirana dari leluhurnya. Aku yakin kau memaafkanku. Terlebih dengan
apa yang akan kukatakan ini.
Kau
mungkin tidak mengenali Kirana sebagai sosok yang kau kenal. Entah bagaimana
ia tercipta, tapi jejakku dan ibundanya tidak tersimpan pada Kirana. Sekalipun,
ia adalah darah dagingku. Kau akan menyadarinya, Sahabatku. Aku sangat berharap
kau masih menyimpan lukisan itu. Ambillah lukisan itu, dan kau akan mengerti. Perkenalkanlah
Kirana pada leluhurnya. Selamat tinggal, Sahabatku ….
Kiranalah yang kau lukis pagi itu. Kirana
yang terlahir dalam nyanyian dan gambar. Kirana yang hadir dalam kelabu dan
menipiskan abu-abu itu dengan senyum. Delapan belas tahun. Aku memerlukan waktu
itu untuk bisa memahami nyanyian yang kau dengar. Kau tenanglah, aku akan
memperkenalkan Kirana pada leluhurnya.
Yola M. Caecenary
Kamisan #7 Session 3 - Deadline: 23 April 2015
Foto tema tulisan
0 comments