#08 Perlina Minggu 9

Kamisan S2 #9 - Perlina: Mata

08.47Unknown

Mungkin kau mengira bahwa dia telah mempertimbangkan keputusan itu sebelumnya, tetapi tidak cukup jantan—atau merasa tidak perlu?—membaginya dengan orang lain. Akan tetapi, Jati bukanlah orang yang akan berlama-lama memikirkan segala sesuatu. Terlebih bila ia tengah terpengaruh sesuatu.*

Maka, sesaat setelah ia membanting pintu kamarnya dengar keras, dengan diiringi bentakan-bentakan ibunya yang masih terus terdengar meski ia telah menutup kedua telinganya dengan bantal, ia putuskan akan kabur dari rumah malam itu juga. Tidak setergesa seperti yang kalian bayangkan, karena pada kenyataanya, ia terlelap begitu ide melarikan diri dari rumah tercetus dalam kepalanya. Dan, ia bangun pada pukul tujuh pagi, keesokan harinya.

Ia bangun dengan perasaan ringan dan puas, tentu saja. Bagaimana pun, bangun pukul tujuh pagi adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi di masa hidupnya—bahkan ketika hari itu adalah hari Minggu. Ibunya selalu membangunkannya pukul lima pagi, dan kemudian menyuruhnya untuk salat, yang tentu saja dilakukannya sambil terkantuk-kantuk. Itu terus berlangsung sejak agama mewajibkannya melakukan apa yang harus dilakukannya sampai ia menginjak usia 14 tahun, atau saat ini. Ibunya tak mau sekalipun lalai untuk urusan itu.

Dan, pagi ini, ia bangun tanpa usapan lembut ibunya.

Ia berjalan santai, sambil sesekali menguap, ke arah dapur, membuka kulkas, dan meminum segelas air putih. Ia melihat sekeliling, segalanya terlihat rapi dan bersih. Dan tidak terlihat keberadaan sang ibu. Ia tersenyum.

Teronggok seperti mayat selama hampir sebelas jam nyatanya tidak membuat rasa jengkelnya mereda. Masih terngiang-ngiang dalam kepalanya, omelan-omelan sang ibu yang menggempur habis-habisan telinganya semalam, yang saking derasnya gempuran itu, sampai dibawanya gempuran itu ke dalam mimpi. Ia bermimpi dirinya tengah berperang dan kemudian mati tertembak sesaat setelah menjejakkan langkah pertama, dan kemudian semuanya menjadi gelap sampai akhirnya dia terbangun (Ia telah sepenuhnya lupa tentang mimipinya ini). Sejelas ingatan tentang omelan itu, sejelas itu pula keinginannya untuk kabur dari rumah. Tetapi, tentu saja, dia tidak berniat kabur dengan perut yang kosong.

Ia melongok ke dalam kulkas, membuka-buka lemari, dan mengangkat tudung saji di atas meja, dan satu-satunya benda yang bisa dimakan hanyalah sebungkus biskuit yang isinya tinggal setengah, yang entah bagaimana bisa tergeletak di atas kulkas, alih-alih di dalamnya. Tapi ia juga menemukan beberapa butir telur dan beberapa bungkus mie instan.

Jati memang masih berusia 12 tahun, tapi bukan berarti ia tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa dilakukan orang dewasa pada umumnya. Maka, ia memutuskan untuk membuat sarapannya sendiri. Dia akan membuat telur dadar dan menanak nasi. Sarapan mie instan, baginya, tidaklah tepat disebut sarapan.

“Ini mudah,” katanya.

Ia tidak berlebihan ketika berkata seperti itu. Ia sering melihat ibunya melakukan hal yang demikian, dan ia pun yakin bisa melakukan hal yang sama. Namun, sebagaimana yang telah disepakati bersama, melihat berbeda dengan mengalami, betapa pun kau yakin bisa melakukannya. Dan itulah yang diterjadi kemudian.

Mula-mula ia menanak nasi. Ia tahu tata caranya; apa-apa yang harus dilakukannya, mulai dari membilasnya hingga menjerangnya, dan ia pun tahu kalau posisi air harus lebih tinggi daripada beras. Tak ada keraguan dalam tindakan-tindakannya. Lalu ia mulai menyiapkan telur dadar. Ia mengambil mangkuk, memukulkan cangkang telur ke bibirnya, yang karena pukulannya terlalu kuat, sebagian besar pecahan cangkak telur itu ikut masuk ke dalam mangkuk. Berlawanan dengan putih dan kuning telur, yang sebagian besar malah tercecer di atas meja. Namun, ia segera bisa mengatasi hal itu. Dan tak perlu waktu lama sampai telur dadar buatannya benar-benar sempurna. Telur dadar yang tak berapa lama lagi akan dimuntahkannya karena terlalu banyak memakai garam, juga pecahan-pecahan cangkang telur.

Ia memutuskan untuk sarapan beberapa keping biskuit saja setelah melihat nasi yang dimasaknya telah menjadi bubur.

Ia berjalan malas ke ruang tengah, merebahkan tubuhnya ke sofa. Sarapan yang ala kadarnya membuat ia kehilangan selera untuk kabur dari rumah.

“Jika nekat kabur, aku pasti pingsan begitu keluar komplek.”

Tentu omongannya itu berlebihan. Keadaannya tidak separah itu. Hanya saja, sejak dulu ia memang selalu dimanja. Jati anak tunggal, satu-satunya buah cintanya dengan mendiang suami.

“Kau memiliki mata seperti mata ayahmu,” kata ibunya, suatu malam, ketika Jati bertanya soal ayahnya.

“Benarkah, Bu?”

“Iya. Mata yang bisa mendamaikan, tetapi juga bisa menghancurkan.”

Dan, Jati membuktikan omongan ibunya tadi malam.

Ia pulang pukul sebelas malam, dengan iring-iringan tawa teman-temannya, yang mengatakan bahwa besok malam Jati harus ikut main lagi. Dan kepulangannya itu langsung saja disambut dengan tatapan tajam sang ibu.

“Kemana saja, jam segini baru pulang?”

“Habis main,” jawabnya, sambil menunduk, menolak menatap wajah ibunya, dan memilih bergegas ke dalam kamarnya.

“Tatap wajah ibu ketika sedang bicara! Dari mana saja kamu?”

Jati berhenti. Dan meski tanpa melihat, ia yakin tatapan tajam ibunya kini tengah mencabik-cabik punggungnya.

“Ibu sudah sering bilang, jangan bermain dengan mereka! Mereka anak-anak berandal! Mereka bisa—”

Jati tak mendengar lagi kata-kata ibunya. Dalam kepalanya, tengah berputar adegan demi adegan ketika ia dan teman-temannya bermain bersama. Canda, tawa, semua bentuk kebahagian seolah melebur jadi satu dalam kebersamaan, dan Jati tak ingin kehilangan rasa itu. Maka, petang tadi, ketika teman-temannya, untuk kali pertama, mengajaknya untuk minum-minum, ia tidak bisa menolak.

“Aku sering lihat di film-film, mereka yang minum bersama, untuk seterusnya, akan menjadi saudara.”

“Jadi, kita sekarang bersaudara.”

“Tentu, Jati, tentu. Saudara akan saling membela; selalu bersama.”

Kata-kata terakhir dari temannya yang tengah mabuk itu kini semakin jelas memenuhi pikirannya, seiring bentakan-bentakan ibunya. Mereka kini telah bersaudara, dan saudara akan saling membela.

“Cukup, Bu. Mereka teman-temanku!”

Sang Ibu terkesiap. Baru sekali ini, Jati membalas kata-katanya. Ini membuat ia curiga. Ia mendekat dan segera saja mencengkram bahu Jati, membaliknya. Jati menatap wajah ibunya.

Ibunya menegakkan badan secara perlahan, sepelan mulutnya membuka, yang segera saja ditutupi dengan kedua telapak tangan. Matanya tak sekali pun lepas memandang mata Jati.

“Apa mereka membuatmu minum?”

“Aku sudah dewasa, Bu. Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan!”

Suara Jati yang meninggi, memancing suara yang lebih tinggi dari ibunya. Dalam penglihatannya saat ini, yang berdiri di hadapannya bukanlah Jati, melainkan mendiang suaminya yang pulang setelah kehabisan uang usai mabuk-mabukan.

“Oh, begitu? Kita lihat, apa kau bisa hidup tanpaku!”

Dan setelahnya, ia terus membentak kepada pintu kamar Jati. Bentak-bentakan yang sama dengan yang pernah ia teriakkan kepada mendiang suaminya.

***

Jati teronggok seperti babi di depan televisi, dan tetap seperti itu sampai pukul satu siang. Perutnya teramat lapar. Dan dalam kondisi seperti itu, ia sama sekali tak berniat untuk melakukan apa pun. Ia berpikir, seandainya saat ini ia tengah berkumpul dengan teman-temannya … tidak, tidak, tidak. Buru-buru ia menepis pemikiran itu. Semata-mata karena ia tahu mereka takkan bisa melakukan apa-apa. Jati-lah yang akan mengorbankan uang sakunya, sebagaimana biasanya, alih-alih mereka akan patungan untuk membeli sesuatu yang bisa mengenyangkan. Mereka lebih suka membeli sesuatu yang memabukkan.

Semakin dipikirkan, semakin ia ragu untuk kabur dari rumah. Dan sekarang pun dia mulai ragu dengan teman-temannya. Dan tepat ketika ia ragu dengan semua hal, tiba-tiba terbesit sesuatu yang menakutkan dalam pikirannya.

“Oh, begitu? Kita lihat, apa kau bisa hidup tanpaku!

Kata-kata aneh yang meluncur dari mulut ibunya semalam (sang ibu tidak pernah menggunakan kata “aku” ketika berbicara dengan Jati) kini membuat tubuhnya gemetar. Dan dia akan tetap gemetar seandainya sang ibu tidak membuka pintu, sambil berucap, “Assalamu’alaikum, Jati ....”








*adalah paragraf pembuka pada buku berjudul “The 100-year-old man who Climbed Out of Window and Disappeared”. Tentu dengan sedikit perubahan. Versi aslinya adalah sebagi berikut:

Mungkin kau mengira bisa saja dia telah mengambil keputusan sebelumnya, tetapi tidak cukup jantan untuk memberitahukan keputusan itu kepada orang lain. Tetapi, Allan Karlson tidak pernah berlama-lama mempertimbangkan sesuatu.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak