gambar dipinjam dari sini
“AAAAAH!”
Teriakan cowok itu membahana, menyusuri tiap inchi ruangan tempat
para redaktur, reporter dan beberapa staf Harian Nasional ‘Pelita
Indonesia’ bersemayam. Wajah-wajah yang tengah begitu bahagia menyantap
makanan di tangan mereka, sontak beralih pada sosok cowok itu. Arga
mematung di hadapan piring yang kini hanya berhiaskan remah-remah
berwarna coklat. Padahal sepuluh menit yang lalu, ia ingat betul ada
bertumpuk-tumpuk martabak telur favoritnya di sana. Kini yang tersisa
hanya remah-remah krispy martabak telur dan potongan kecil telur, juga
daun bawang menghiasi piring. Beberapa kawannya sesama reporter
meringis, antara merasa bersalah tapi juga merasa lucu melihat kawan
mereka kehabisan martabak yang ia beli sendiri.
“OY! MAS BRO!”teriak Mas Dewanto, lantang. Pimpinan redaksi Pelita
Indonesia itu berjalan menghampiri Arga. Ia masih menatap hampa piring
berukuran cukup besar yang ditaruh di sebuah meja yang berada tak jauh
dari ruang kerja Mas Dewanto. Arga tidak mengalihkan pandangannya pada
Mas Dewanto yang sudah berdiri sambil menaruh tangannya sok asik di
pundak Arga yang kira-kira tiga puluh senti lebih tinggi dari Mas
Dewanto yang memang setelannya mungil sedari lahir.
“Sayang banget lu ke kamar mandi segala. Kan udah tau bocah-bocah tuh
kalo laper ya suka enggak manusiawi. Mau temen kebagian apa enggak,
sikaaat!”ujar Mas Dewanto dengan bahasa Betawi aksen Jowo. Entah maksudnya menghibur atau malah menabur garam pada luka hati Arga.
“Ya, tapi enggak gini juga. Masa saya yang beli saya yang enggak
kebagian. Ini kan martabak telor favorit saya. Susah lo
dapetinnya,”protes Arga tapi suaranya seolah terpendam, terdesak oleh
beban hati kehilangan makanan favorit.
“Ralat, Mas Dewa, kita tuh laper atau enggak sama makanan mah
SIKAAT!”sahut Mas Andri, redaktur video yang duduk tak jauh dari meja
itu.
“Iya, apalagi elo, NDRI!”timpal Mas Dewanto sambil memandangi Mas
Andri yang baru menyelesaikan suapan terakhir dari martabak telurnya
yang entah keberapa, hanya Tuhan yang tahu.
“Ye, Mas Andri juga nih. Makannya enggak kira-kira!”sahut Mbak
Irna,”Arga, ni gue balikin ke dapur ya buat dicuci. Mas Dewa, itu jadi
rapat enggak tuh anak-anak?”Mbak Irna berkata sambil meraih piring itu
dari tangan Arga yang lemas.
“Jadi, jadi. MAS BRO yang tadi udah pada ngabisin martabak, rapat
sekarang di ruang meeting!”teriak Mas Dewanto penuh semangat. Dan tak
lama satu per satu reporter dan redaktur berduyun-duyun meninggalkan
ruangan mereka menuju ruang meeting yang berada tak jauh dari markas
mereka. Sementara, Arga memilih ngambek sejenak. Bukannya ikut
bersiap-siap, dia malah duduk ongkang-ongkang kaki di kursinya.
“Yaaah Mas Bro, ngambek?! Hahaha!”tawa Mas Dewanto saat memergoki Arga malah sibuk mengutak-atik sesuatu di komputernya.
“Ah, enggak, mau upload sebentar ini Mas, enggak lama lagi saya
nyusul. Kalo ada makanan, jangan diabisin lagi ya!”pesan Arga tak
menoleh dari layar komputer. Mas Dewanto ketawa ngakak.
“Eh, Niken, noh beliin pacarmu itu martabak. Yang banyak, biar dia
enggak ngambek lagi! Haduh, cowok kok ngambek!”tawa Mas Dewanto geli.
Gadis bernama Niken, yang duduk di pojok ruangan dekat jendela dan
berjarak tak jauh dari meja Arga, cepat-cepat menolehkan pandangannya.
“Ye, mentang-mentang saya enggak ikutan rapat nih Mas Dewanto
semena-mena,”Niken misuh-misuh, kemudian memalingkan wajahnya pada sosok
Arga yang hanya terlihat punggunya saja dari tempatnya, lantas
menggumam pelan,”lagian, dia bukan pacar saya kali, Mas.”
Diam-diam, Niken menolehkan kepalanya pada sosok Arga yang duduk di belakangnya. Jalan rapat juga tu bocah.
Niken mau ngakak keras-keras. Sosok Arga yang biasanya terlihat
rasional, logis, cerdas, dan dewasa, tiba-tiba jadi kayak bocah umur
lima tahun yang jajanannya diambil anak lain. Kadang Niken tidak habis
pikir, kenapa Arga bisa segitu cinta-nya sama martabak telur. Arga bukan
cowok yang pelit dengan teman-temannya. Jangankan sama teman, sama
orang asing pun Arga suka berbagi. Niken ingat, cowok itu pernah
tiba-tiba memberikan biskuit yang baru Arga beli dari seven eleven ke seorang bocah yang berkeliaran di sekitar situ. Atau ketika Niken rajin minta snack apapun
yang terpajang dengan manis di meja kerja cowok itu. Atau ketika Mas
Andri yang dikenal sebagai orang paling maruk seantero Pelita Indonesia
(dan awak Pelita Indonesia bisa dibilang ganas kalau udah berurusan
dengan makanan loh), dengan teganya ikutan menghabiskan makan siang
Arga.
Niken sendiri tidak pernah berniat minta martabak telur kecintaan
Arga. Ia lebih tertarik memperhatikan wajah polos Arga saat melahap
martabak telur. Dan Niken hapal betul, martabak telur favorit Arga itu
memang yang tadi ia beli dan dihabiskan teman-teman mereka, martabak
telur Kang Aris yang mangkalnya di daerah Kampung Kandang. Cukup jauh
dari kantor mereka di daerah Buncit. Makanya, Niken paham kenapa Arga
sampai agak ngambek begitu tahu martabak yang sudah susah payah ia beli
itu tandas dalam waktu singkat, dan lebih parah ia sama sekali belum
kebagian. Ya, Niken sama sekali belum tahu alasan kenapa Arga begitu
cintanya sama martabak telur. Mas Dewa sampai bercanda, Arga mah lebih
pilih nungguin martabak telur-nya Kang Aris yang jadwal bukanya
nyama-nyamai Pemilu, ketimbang nungguin jodoh. Niken terkikik pelan
mengingat wajah ngeri Arga saat mendengar perumpaan lebay Mas Dewanto
itu. Mengingat wajah itu, membuat Niken jadi senyum-senyum. Memandangi
tempat duduk Arga yang letaknya memunggungi tempat kerja Niken,
membuatnya menghela napas. Arga belum lama beranjak untuk meeting redaktur, tapi sepi perlahan menghampiri. Benaknya mengucap doa keras-keras, agar Arga bisa segera kembali muncul di hadapannya.
“Ah, tapi rapat redaktur kali ini agak lama kayaknya,”gumam Niken. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Mbak Irna! Anak-anak jadi kan mau ngadain nobar bola di sini ntar
malam?”tanya Niken saat melihat Mbak Irna melintas tak jauh dari
tempatnya.
“Iya. Jam sebelas malem entar, Ken. Tumben lu, mau ikutan nobar juga?
Lu kan enggak suka bola,”komentar Mbak Irna. Ditanya begitu, Niken
malah cengar-cengir tidak jelas. Sebuah rencana manis mengisi benaknya.
Ah, atau tepatnya sebuah rencana yang gurih.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Biasanya jam segini Niken
telah sampai di rumah. Namun malam ini, ia masih berkeliaran di depan
kantornya. Dan bukan untuk pulang. Sambil menanti ojek yang akan ia
naiki bersiap-siap, sesekali gadis berhijab ungu itu menatap jendela
lantai tiga gedung Pelita Indonesia. Bangunan berasitektur seperti
bangunan Eropa abad 17 itu terlihat masih cukup ramai. Cahaya putih
terang masih terlihat benderang dari jendela, dan mobil-mobil karyawan
masih berjejalan di halaman parkir. Beberapa orang satpam sesekali
menegur Niken, menanyai gadis itu yang biasanya sudah beranjak pulang
dari satu jam yang lalu. Niken tersenyum dan mengatakan ingin ikut acara
nonton bareng Piala Dunia bersama rekan-rekan Pelita Indonesia lainnya.
Tapi sekarang ia harus melaksanakan misi khususnya dulu. Ojek yang akan
mengantarnya berkeliling Ampera, Pejaten, sampai Cilandak telah
menantinya. Setelah berhati-hati duduk di kursi penumpang sambil
merapikan rok bermotif bunga-bunga yang ia kenakan, motor melaju cukup
kencang.
Sambil mata Niken awas meneliti jalanan, bergantian di sisi kanan dan
kirinya, pikirannya melayang kemana-mana. Semua bermuara pada sosok
Arga. Mereka telah lama satu kantor, kira-kira hampir tiga tahun lebih.
Sejak Arga masih berstatus calon reporter, sampai kini sudah jadi
reporter tetap. Meski keduanya berbeda bagian (Niken sejak awal sampai
sekarang masih menjabat staf AE), tidak menghalangi pertemanan di antara
keduanya. Arga lebih tua dua tahun daripada Niken, tapi keduanya lulus
bersamaan, bahkan memang satu angkatan kuliah. Meski Arga lebih tua,
tapi Niken tidak merasa ia seperti kakak atau semacamnya. Sedari awal
sikap ramah dan santai Arga memang mampu membuat nyaman siapa saja,
termasuk Niken yang sebenarnya jarang berteman dengan cowok.
Awalnya pun Niken tidak berniat untuk jadi dekat dengan Arga.
Tahu-tahu saja, cowok berbadan tegap, tinggi, dan berkulit sawo matang
itu sudah menelusup masuk dalam hidupnya, cukup dekat. Tidak, mereka
memang belum segitu dekatnya, tapi cukut dekat sampai beberapa orang
karyawan menggosipkan terjadi sesuatu antara keduanya. Dan yang paling
getol jadi mak comblang buat keduanya tak lain dan tak bukan, Mas
Dewanto. Sayangnya, semua cuma sebatas wacana. Niken tanpa sadar
mendengus. Ya, Arga tetap saja masih berjarak dari dirinya. Memang,
beberapa kali dalam seminggu, ia dan Arga makan siang bersama di luar,
tapi kan sama teman-teman yang lain juga. Pernah juga beberapa kali
mereka pergi jalan bareng, tapi lagi-lagi bareng yang lainnya.
Dan bahkan sebenarnya, ada seorang gadis lain yang juga reporter seperti
Arga, yang terlihat lebih dekat dengan Arga tinimbang Niken. Namanya
Denna.
Mengingat sosok yang juga berjilbab seperti Niken itu, membuat
hatinya seperti diiris-iris oleh pisau tak terlihat. Dan napasnya jadi
sesak saat terbayang kembali pemandangan Arga dan Denna yang berdiskusi
begitu serunya, seolah dunia milik mereka berdua dan yang lain ngontrak.
Sama seperti tadi, tak lama setelah mereka semua shalat Maghrib
berjamaah, dan reporter-reporter dan redaktur itu hendak melanjutkan meeting mereka
lagi. Niken sama sekali tak bisa mendekat kalau Arga dan Denna sudah
berdiskusi begitu serunya. Biasanya mereka akan membicarakan isu politik
yang sedang hangat, atau masalah cita-cita keduanya yang sama-sama
ingin melanjutkan S2 di luar negeri (ya, Niken sering nguping mereka
berdua). Atau ekonomi lah, atau agama lah, atau bahkan sekedar
membicarakan masalah sehari-hari remeh lainnya. Semua itu membuat Niken
merasa jarak antara Arga dan Niken memang begitu jauhnya, meski mereka
secara fisik cukup dekat.
“Neng, ini mau kemana deh?”
Lamunan Niken buyar oleh suara abang tukang ojek yang setengah
berteriak bertanya padanya. Niken gelagapan dan buru-buru men-scanning
sudah sampai mana dirinya sekarang. Dan tak lama kemudian, sebuah
gerobak bercatkan putih yang ia cari akhirnya terlihat. Dengan segera,
Niken meminta supir ojek untuk berhenti di pinggir jalan, tak jauh dari
gerobak putih itu. Niken pun bergegas menghampiri tukang martabak itu.
Namun sialnya, rupanya tak ada seorang pun yang berjaga di situ. Seorang
pria paruh baya yang Niken kira penjual martabak, ternyata Cuma orang
yang iseng duduk-duduk di situ. Setelah menanti hampir lima menit dan
tak ada tanda-tanda pemilik gerobak yang datang, dengan hati kecewa,
Niken pun memutuskan untuk mencari tukang martabak lainnya. Tukang
martabak berikutnya yang Niken temui letaknya di pinggir jalan lagi.
Namun bedanya, kali ini gerobak penjualnya sudah dilengkapi tenda tempat
pembeli bisa duduk dan menikmati martabak pesanan mereka. Wangi
martabak telur menguar menggugah selera, dan Niken baru sadar kalau
perutnya mulai bergemuruh kelaparan. Tapi misi belum selesai, jadi ia
tidak boleh bersantai.
“Bang antriannya masih lama nih?”tanya Niken ketika menyadari ada kerumunan orang di sekitar abang penjual martabak.
“Ya gitu dah neng. Sekarang udah nomor antrian empat puluh,”jelas si
abang martabak telor sambil membolak-balik martabak di atas
penggorengan. Niken melongo.
Dengan berat hati Niken harus beranjak dari tempat itu dan memutuskan
kembali menelusuri Ampera. Perutnya kembali mengeluarkan bunyi-bunyian
ketika motor telah melaju di sepanjang jalan TB Simatupang. Niken tidak
tahu lagi harus mencari kemana tukang martabak itu. Lantas ia teringat
martabak Kang Aris favoritnya Arga.
“Tapi … Kang Aris jarang buka sampe malem sih ya,”gumam Niken bimbang.
“Neng, mau kemana lagi ini?! Bingung banget saya dari tadi ngikutin
maunya Eneng. Lebih bingungin daripada istri saya yang lagi
ngidam,”celoteh si tukang ojek.
“Hehe, sori Bang, kali ini kita cabut ke Cilandak, oke.”
“Ya elah, nyari tukang martabak susah bener yak,”gerutu tukang ojek. Niken pun hanya meringis.
Setelah berjuang menembus lautan mobil dan motor yang memadati
jalanan sepanjang TB Simatupang hingga ke Cilandak, akhirnya motor itu
berhenti di sebuah gerobak dengan tulisan “MARTABAK KANG ARIS” pada kaca
gerobaknya. Untunglah bagi Niken, saat itu tak ada pembeli selain
dirinya. Dan ia mendapati sang penjual, Kang Aris, tengah duduk di kursi
yang tersedia di tenda gerobak.
“Kang pas banget, beli—“
“Enggak bisa, Neng,”potong Kang Aris buru-buru.
“Loh, kenapa emangnya, Kang? Udah mau tutup ya?”
“Sebenernya sih belom. Tapi saya enggak bisa ngeladenin pesenan.
Encoknya lagi kambuh!”tukas Kang Aris sambil meringis kesakitan, dan
memegangi punggung dan pinggangnya dengan kedua tangannya.
“Haaaa?!”seru Niken spontan, mau nangis.
“Maap ya Neng, yak. Kecuali, Neng mau bantuin Akang,”lanjut Kang Aris
kemudian,”tuh, udah tinggal diberesin adonannya, terus masak deh. Bisa
masak enggak neng?”
Niken memandangi bahan-bahan martabak telor, bergantian dengan Kang
Aris, lalu ke tukang ojek yang mulai pasang tampang bete. Gadis itu
menggigit bibirnya. Apa boleh buat.
***
Niken melangkahkan kaki lebar-lebar, sampai ia nyaris terantuk
undakan tangga menuju lantai tiga, tempat kerjanya. Wangi martabak
menguar menembus kotak dan plastik yang sedang ia tenteng, dan hinggap
ke hidung Niken. Rasa laparnya terlupakan sejenak meski perutnya sudah
bikin orkestra dari tadi. Ia ingin segera menemui Arga. Langkah kakinya
pun ia percepat, bersamaan dengan adrenalin yang memacu, dan debaran
jantung yang meningkat frekuensinya. Ia ingin melihat senyum lebar Arga
saat menerima martabak ini. Memikirkannya saja membuat Niken
mengembangkan senyum lebar. Namun senyuman di wajah itu lenyap sempurna
saat mendapati Arga tak ada di dalam ruangan.
“Wuih, Niken! Kira gue lo udah pulang. Apaan tuh, Ken!? Makanan
ya!?”sambut Faisal, rekan AE-nya yang memang sengaja masih di situ untuk
ikutan nonton bola.
“Eh…. Ini, anu,”Niken gelagapan. Tapi pasukan kelaparan tak bisa
menanti lebih lama. Beberapa cowok langusng menyerbu dirinya dan
tahu-tahu saja plastik berisi martabak telor itu telah berpindah tangan.
Niken mau nangis.
“Itu buat Argaa!”teriak Niken berjuang menyerbu pasukan kelaparan
itu. Namun cowok-cowok itu seperti tidak peduli, dan asik mencomoti
martabak yang masih hangat.
“Aaah, si Arga juga lagi makan keluar sama Denna,”sahut Faisal sambil mengunyah martabaknya dengan begitu khidmat.
Wajah Niken bagai ditampar bertubi-tubi. Apa!? Arga makan sama Denna!?
Mendung bertengger di wajah Niken. Lenyap sudah kebahagiaan yang tadi
bersemi di wajah gadis itu, pudar secepat raibnya potongan-potongan
martabak itu di tangan cowok-cowok kelaparan itu. Tahu-tahu saja, sebuah
suara memecah keributan cowok-cowok yang membantai martabak khusus
untuk Arga.
“HOY! Apaan tuh!?”
“Eh, Arga? Nih, si Niken beli martabak. Lo udah makan kan yah?”
“Eh, lo beli martabak, Ken?”tanya Arga.
Niken memandangi wajah Arga dalam diam. “Iya. GUE BELI BUAT ELO EH
ELONYA ASIK MAKAN SAMA DENNA!”semprot Niken sepenuh hati. Arga
tercenung, balas memandangi Niken, seperti terkejut melihat reaksi Niken
yang berlebihan. Cowok-cowok yang ribut itu pun jadi terdiam melihat
Niken mencak-mencak. Niken langsung ngeloyor menuju meja kerjanya dan
merapikan barang-barangnya dengan hati yang masih bergejolak. Tanpa ia
sadari, Arga berjalan mendekati Niken, lantas menarik tangan gadis itu.
“Yuk, temenin gue makan martabaknya. Masih ada sisa kok,”ujar Arga lembut.
“Seriusan enggak apa nih? Itu kan martabak favorit lo,”tanya Niken pelan.
“Nggak apa, kalo buat lo enggak apa, Ken. Besok-besok juga kalo gue
makan martabak, lo boleh makan bareng. Cuma lo aja, yang lainnya enggak
bakal gue bagi,”balas Arga sambil tersenyum. Kesal dan resah di hati
Niken melumer, bersamaan dengan senyum dan tatapan hangat dari wajah
Arga.
0 comments