Kriing!!!
Bunyi telepon rumah lagi, dengan gemetar aku mengangkatnya, "Halo..."
"Masih ingat dengan yang saya sampaikan tadi, kan?!"
"Iya, saya ingat..." jawabku lemah.
"Saya sudah ada di perjalanan menuju rumah kalian." Dan telepon diputus begitu saja olehnya.
Aku semakin gemetar.
Di mana, kamu? Kenapa dari tadi HP kamu tidak dapat dihubungi? SMS juga tidak juga terkirim sampai sekarang.
***
Aku
berlari mengejar bus patas terakhir malam ini. Fiuh, berhasil. Hampir
saja aku harus tertinggal. Aku mencari bangku kosong dan menemukannya di
koridor bagian tengah, ada tepat di samping seorang laki-laki yang
memakai topi bertuliskan "New York" dan sepertinya baru selesai
menelepon menggunakan HP. Tanpa berpikir panjang, aku langsung memilih
duduk di sana.
Entah
kenapa, aku merasa penasaran dengan laki-laki di sebelahku ini. Aku
berusaha melirik ke arahnya, dengan harapan bisa berhasil melihat
wajahnya. Gagal. Dia mungkin curiga dengan tindakanku barusan dan
langsung menunduk setelah membenahi topinya, sehingga aku semakin sulit
untuk melihat wajahnya dengan lebih jelas.
Ah,
sudahlah. Pikiranku kembali aku pusatkan pada rumah. Mama. Aku tidak
boleh terlambat, kasihan Mama jika harus menungguku pulang terlambat
lagi. Beliau pasti akan menjadi semakin khawatir dan, kemungkinan
terburuk - kembali jatuh sakit karena selalu cemas memikirkan aku.
Memikirkan ini saja, membuatku kepalaku pusing. Aku tidak mau lagi
membuat Mama terlalu sering cemas.
Tidak lama, aku melihat seorang wanita -- mungkin seumuranku -- baru naik ke dalam bus yang membawa kantung kresek hitam.
Samar-samar aku mencium wangi yang sangat aku kenal; wangi martabak
telur. Harum sekali, membuatku menahan diri untuk tidak mengeluarkan air
liur. Aku jadi terpikirkan untuk membeli satu porsi martabak telur,
mampir sebentar di lapak dekat gang rumah. Mama pasti senang. Ini adalah
makanan kesukaan kami berdua.
***
Oh!
Laki-laki
bertopi tadi ternyata turun juga. Aku memperhatikan dirinya yang baru
saja berjalan melewatiku. Apa dia memang tinggal di sekitar rumahku, ya?
Tapi, rasanya aku tidak pernah melihat sosoknya beredar di lingkungan
kami.
Ah,
sudahlah. Itu bukan urusanku. Aku kembali fokus untuk memesan martabak
telur. Lapak penjual martabak telur ini selalu ramai. Sekarang pun,
lihatlah, antriannya sangat panjang.
"Satu...
dua... tiga..." diam-diam aku menghitung panjang antrian. Astaga. Masih
20 orang pemesan sebelum giliranku. Aku nyaris saja menyerah untuk
memesan, kalau saja aku tidak terbayang betapa senangnya Mama jika aku
membawa martabak telur ini ke rumah. Coba, aku hubungi Mama dulu, supaya
beliau tidak terlalu khawatir.
Aku segera mengambil HP dan memencet speed dial nomor
1, khusus untuk nomor HP Mama, "Halo, Ma, sabar ya... Aku agak telat...
Sebenarnya sih, Aku sudah di depan gang. Tapi, lagi pesan martabak
telur dulu untuk camilan kita malam ini..."
"Kamu dari mana saja? Dari tadi Mama hubungi kenapa tidak bisa?" Mama terdengar panik di seberang sana.
"Maaf, Ma, maaf. Tadi sinyalnya jelek banget... Tunggu, ya, Ma." jawabku.
Aku mendengar Mama menghela napas, "Ya sudah. Yang penting kamu enggak kenapa-kenapa..."
Aku sempat merasa bimbang; melanjutkan antrian memesan martabak telur, atau segera pulang saja?. Apa Mama kenapa-kenapa ya?
Segera aku hiraukan pikiran-pikiran buruk yang menghantuiku tiba-tiba. Barusan Mama memang terdengar panik, suaranya terdengar sedikir bergetar. Tetapi rasanya tidak ada tanda-tanda Mama ketakutan atau apa.
Tik tok tik tok.
Rasanya aku ingin menyerobot antrian ini.
***
"Anda
ini siapa?" tanyaku gusar. Laki-laki bertopi ini memaksa masuk ke dalam
rumah. Tenaganya kuat sekali, aku tidak sanggup lagi menahan pintu. Dia
berhasil masuk dan langsung saja memakai sarung tangan. Firasatku
sangat buruk mengenai ini.
Dia segera mengunci pintu, sementara kuncinya dia masukkan ke saku celana jeans biru belel yang sedang dia pakai.
"Bukannya tadi sudah saya bilang. Mana dia? Kenapa belum ada di rumah, hah?!" teriaknya.
"Dia
enggak bisa dihubungi dari tadi, lihat saja ini buktinya!" Aku
menyodorkan HP dan memperlihatkan panggilan-panggilan yang berusaha aku
lakukan ketika mencoba menghubungi orang yang dimaksud oleh laki-laki
ini.
"Halah!" dia langsung membanting HP milikku.
Firasatku semakin buruk. Aku berusaha meminta bantuan, "To... Tolo...."
Belum
juga aku berhasil berteriak meminta tolong, mulutku sudah disumpal oleh
saputangan. Kemudian, aku tidak ingat apa-apa lagi.
***
"Perempuan begok..." Aku meludahi wajahnya.
Jijik
sekali membayangkan perempuan di depanku ini adalah Ibuku sendiri. Dia
membuangku setelah aku dilahirkan. Aku baru mengetahui bahwa dia adalah
Ibu yang aku cari selama ini beberapa minggu yang lalu, setelah
bertahun-tahun aku berusaha. Tetapi usahaku berakhir sia-sia,
sepertinya, karena dia sama sekali tidak mengenaliku. Bahkan sempat
memakiku ketika kami tidak sengaja bertabrakan di pelataran parkir
sebuah Mall minggu lalu. Umpatan yang keluar dari mulutnya sungguh
membuatku meradang; membuatku merasa marah dan terhina. Apalagi,
kata-kata yang disampaikan anak perempuan kebanggaannya itu; perempuan
muda yang ternyata adikku sendiri.
"Elo berdua bilang apa waktu itu? Gue sampah, hah?! Elo berdua yang sampah!!!" umpatku.
Aku
masih merasakan panasnya hinaan yang mereka lontarkan ketika mengatai
diriku sebagai sampah masyarakat, hanya karena aku tidak sengaja
bertabrakan dengan mereka berdua! Saat itu aku merasa malu pada diriku
sendiri karena sudah bersusah payah berusaha mencari mereka
bertahun-tahun, bahkan sampai membuang orangtua angkatku. Pencarian yang
tidak sepadan. Sikap mereka sangat buruk, tidak sepadan jika
dibandingkan orangtua angkatku.
***
Sebentar
lagi... Sebentar lagi... Aku menghitung antrian di depanku, masih ada
tujuh orang lagi. Aku melihat Mbak Yosa, yang baru saja melewati lapak
martabak telur, berjalan dengan tergesa-gesa. Dia tetangga di seberang
rumahku. Dia hanya tinggal bersama Tante Yeni, Mamanya. Mereka berdua
sangat tertutup, sulit sekali untuk sekadar menyapa dan berbasa-basi.
Tidak heran jika mereka berdua sering kali menjadi bahan cibiran dan
gosip tetangga di sekitar rumah.
"Biarkan saja... Kita jangan mengusik kehidupan pribadi tetangga..." petuah Mama yang selalu aku ingat.
Ah,
jadi ingin segera bertemu dengan Mama. Tunggu sebentar lagi, ya.
Martabak telur kita segera aku bawa pulang. Aku kembali berusaha
menghubungi Mama. Lho, kenapa nomornya jadi tidak aktif?
***
"Krek!"
Suara
pagar terbuka. Aku segera membuka pintu rumah dan bersembunyi di balik
pintu. Ini dia yang aku tunggu-tunggu kedatangannya.
Tunggu giliranmu, adikku sayang. Waktumu telah tiba. Selamat menyusul Ibundamu tersayang.
Aku tersenyum, mencibir, melihatnya semakin mendekat ke arahku, "Bagus... Ayo mendekat, semakin mendekat, adik sayang..."
***
Mama
pasti khawatir dan lagi siap-siap mengomel, pikirku ketika membuka
pagar tadi. Aku sudah pasrah saja jika Mama mengomeliku semalaman, ini
memang salahku...
Aku membuka pintu. Tumben sekali pintu tidak terkunci...
"Mama..."
Aku
memanggil Mama, tetapi tidak ada sahutan. Angin dingin tiba-tiba terasa
di sekelilingku, bulu kuduk sampai berdiri. Aku merasa tidak nyaman.
"Mama..."
Aku melangkahkan kaki ke arah sofa. Ada cairan merah di lantai dekat sofa.
"Mama!"
Aku segera menghambur ke tubuh Mama yang sudah bersimbah darah. Aku
mengguncangkan tubuh Mama, berharap dia memberikan respon kepadaku,
"Mama, bangun! Ayo, Ma, bangun!"
"Ckckck... Percuma aja elo bangunin, dia enggak akan hidup lagi!"
Aku melihat tubuhnya penuh cipratan darah. Belum sempat aku berteriak, laki-laki tadi sudah menusukkan pisau ke dadaku.
"Siapa Anda?" tanyaku lemah, sebelum terjatuh ke lantai, ke atas tubuh Mama.
"Elo sama nyokap lo basi banget, ya. Pertanyaannya sama; Siapa Anda? Siapa Anda? Hahaha..."
Aku melihatnya tertawa, mengerikan. Aku hanya sanggup menangis dan memegang tangan Mama.
"Gue
kakak elo. Sayangnya kita enggak sempat kenalan ya, hahaha. Salahin aja
nyokap kesayangan elo itu!" Dia bergerak ke arah kamar mandi, entah apa
yang akan dia lakukan di sana.
Mataku semakin terasa berat. Kakak? Aku punya kakak?
Aku semakin menggenggam tangan Mama. Itu saja yang aku bisa lakukan sekarang, sebelum semuanya menjadi gelap, "Ma..."
***
"Enggak heran sih, ya, kalau ada yang dendam dengan mereka berdua..."
"Iya, enggak heran kalau berakhirnya seperti sekarang..."
Mampus. Aku mendengar bisik-bisik omongan tentang dua perempuan begok di
pemakaman mereka sendiri. Kalian berdua, semoga tenang di dalam kubur.
Paling tidak, dendamku sudah terbayar. Anggap saja itu pembayaran hutang
kalian, terutama nyokap sialan, terhadap kehidupanku selama ini.
Aku
melihat sekeliling pemakaman. Sepi juga. Tidak banyak yang melayat
mereka yang sekarang sudah terbujur kaku di dalam tanah. Aku tidak
merasa heran. Kalau mengingat bagaimana sikap kalian terhadapku waktu
itu, tidak aneh jika tetangga sekitar kalian tidak ada yang mau
susah-payah melayat kalian. Aku sudah merasa puas. Aku sudah membuang
kalian. Sekarang, saatnya aku kembali ke kehidupan lamaku, sebelum aku
menemukan kalian.
Aku
membalikkan badanku dan mataku tiba-tiba saja bertabrakan dengan dia,
lagi. Gawat. Aku mempercepat langkahku, sebelum dia curiga dan
keberadaanku tidak aman di sini.
***
Eh, laki-laki itu lagi... Perasaan, aku selalu saja bertemu dengannya sejak semalam.
Aku teringat ketika berpapasan dengannya setelah selesai memesan martabak telur. Dia jalan tergesa-gesa sekali. Siapa dia?
"Nak, ayo kita pulang..." ajakan Mama membuyarkan khayalanku.
Biarlah,
siapa laki-laki itu nampaknya tidak penting. Mungkin dia kerabat Mbak
Yosa dan Tante Yeni. Makanya, dia sekarang juga ada di pemakaman ini.
Tunggu dulu...

2 comments
omaygad.... ini cerita horor. Jadi ada berapa tokoh di sana.
BalasHapusRatusan, kak :))
BalasHapus1. Aku
2. Mamanya aku
3. Lelaki bertopi (pelaku)
4. Mbak Yosa (korban)
5. Tante Yeni (korban)