#04 Halusinasi Davidhukom

Kamisan S2 #04 - Halusinasi: R.E.V.E.N.G.E

10.04Unknown




“Nayla manis janganlah dicium sayang, kalau dicium merahlah pipinya..”

Nyanyian itu terdengar dari kamar tengah dari beberapa jam lalu. Seorang wanita dengan rambut panjang terurai tak terawat duduk di sebuah kursi goyang yang telah kusam, posisinya membelakangiku. Wanita itu menatap nanar jendela yang langsung memberikan pemandangan bulan yang sedang bersinar dengan sangat terang, bulan penuh.

***

“Ibu mau pergi dulu ke rumah Bu Ratna, nanti sebelum maghrib kamu mandikan Nayla ya, jangan pulang terlalu sore, kasihan Nayla cuma sama Mbok Yem”

“Iya, ini cuma sebentar kok, sebentar juga pulang” jawabku di ponsel sambil menganggukkan kepala pada teman-temanku yang sudah tak sabar menungguku. Tak lama, ibu menutup telepon.

Aku hanya ingin melepas kepenatan sesudah ujian, kami berencana menyewa studio band untuk bersenang-senang, apapun akan dimainkan. Yang jelas untuk melepas kejenuhan yang sudah menumpuk. Kami berboncengan naik motor menuju studio yang dimaksud. Andi temanku memang suka ugal-ugalan kalau bawa motor, tadi saja kami hampir menabrak seorang anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan. Untunglah anak itu segera berlari.

Biasanya, sepulang sekolah aku beristirahat sebentar, lalu menemani Nayla adikku yang bungsu untuk bermain. Setelah itu aku akan memandikannya. Setelah mandi ia akan makan sementara gantian aku yang mandi. Sebelum maghrib biasanya ibu baru pulang kerja. Ia akan segera mandi lalu makan. Nayla akan menunggunya untuk bermain sebentar lalu jam delapan malam ibu akan mulai menidurkannya dalam gendongan.

“Soleram, Sooleraam. Soleraam anak yang manis”

Ishh namaku Nayla, Bunda” ujarnya nanti sambil cemberut lucu, ia selalu begitu jika ibu tidak mengganti lirik dalam lagu yang menunjukkan nama, dengan namanya sendiri.

Jarang sekali aku bisa menggantikan ibu untuk menidurkan Nayla, aku tak begitu bisa menyanyi sebagus ibu. Biasanya aku hanya mendongengkannya. Meskipun ia besok paginya akan mengadu pada ibu karena aku menceritakan monster-monster menyeramkan. Dia gadis yang lucu, aku senang mengerjainya.

Nayla sudah terlihat cantik meski umurnya baru 5 tahun. Matanya yang sipit menjadi semakin serupa garis lengkung saja ketika tertawa, karena kalah oleh pipinya yang tembam. Rambutnya sengaja dipanjangkan. Ibu ingin anak gadisnya terlihat cantik seperti puteri.

Siang itu selepas latihan band yang tak jelas itu. Kami berenam akan mampir ke rumah Prabu, rumahnya sedang sepi sangat menyenangkan jika kami berkumpul dan berpesta bermain playstation sepuasnya. Kutatap jam di ponsel sudah pukul tiga sore, ah bermain sejam saja tak masalah, pikirku.

**

Jam lima aku berlari menuju rumah, sial, ibu pasti marah. Keluar rumah Prabu aku berlari mencari jalan pintas melewati gang sempit belakang rumah, melewati jembatan yang sebenarnya jarang sekali kugunakan. Juga melewati TPA warga kampung, ini yang sebenarnya membuatku malas melewatinya. Kalau lewat jalan biasa mungkin bisa sampai sepuluh menit aku berjalan. Tapi dengan hafalnya jalan pintas ini membuatku sedikit tertolong.

Tepat lima menit, aku sudah tiba di ujung timur kampung. Sedikit aneh, biasanya jam segini orang-orang masih ramai menemani anak-anaknya bermain di pelataran rumah, tapi ini sangat sepi. Aku terus berjalan cepat melewati belokan menuju rumah. Rupanya warga sedang berkumpul di halaman rumahku. Eh, ada apa? Perasaanku berkecamuk tak keruan, dadaku berdebar-debar, bukan, ini bukan karena aku berlari, keringat dingin mulai keluar melewati keningku, . Ada yang salah, pikirku. Sampai kudengar teriakan histeris dan isak tangis yang menyayat telinga dan hati orang yang mendengarnya.

“NAYLAAAAA!!”

**

“Nayla manis janganlah dicium sayang, kalau dicium merahlah pipinya..”
Suara nyanyian samar, dalam, mendayu, serak, penuh kesedihan itu terdengar dari kamar tengah di sebuah rumah sakit jiwa. Ibuku melakukannya sepanjang hari pada sebuah boneka. Kadang ia bermain, tertawa, seolah Nayla datang dan berada di situ. Menangis meraung-raung memanggil Nayla seolah Nayla pergi meninggalkannya. Sudah beberapa bulan sejak Nayla ditemukan meninggal di gang belakang rumah. Diduga ia diperkosa sebelum akhirnya dimutilasi oleh seorang pedofil yang sampai sekarang masih berkeliaran bebas di luar sana.

Andai aku segera pulang cepat waktu itu.

***

“Filmnya seram, Mas” Ujar Heni usai menonton film di bioskop dekat mall bersama Pram. Tangannya mendadak dingin, wajahnya terlihat pucat pasi. Sebenarnya bukan karena film, tapi karena angin yang tiba-tiba mendadak begitu dingin dan bulu kuduknya berdiri sejak keluar dari dalam gedung bioskop tadi.

“Biasa saja ah” Pramono menimpali asal sambil kepalanya mencari-cari motornya yang entah tadi diparkir di mana. Jantungya berdegub keras, matanya menghindari pandangan lurus ke depan, entah kenapa.

Soleram, sooleram” samar terdengar suara lirih, serak, penuh kesedihan.

“Mas, kamu dengar suara itu?” kata Endang berbisik, suaranya bergetar pelan, ia tengah ketakutan.

“Suara nyanyian? Nggak” Jawab Pram cuek, sambil mengelap keringat dingin yang turun di pelipisnya. Telapak tangannya basah, jantungnya berdegub cepat.

“Seperti orang menyanyikan lagu soleram, Mas” Heni berusaha meyakinkan. Tak berhasil. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada yang aneh di sana. Tidak ada yang aneh, hanya beberapa orang yang masih seliweran keluar gedung. Pantas saja sepi ini sudah hampir tengah malam, pikir Heni

“Sudahlah, kamu cuma berhalusinasi” Jawab Pram menenangkan sambil melangkah dengan cepat lalu menaiki dan mulai menyalakan motornya. Ia ingin segera pergi dari tempat ini, harus!.

Endang mengikuti sambil menggamit lengan Pram, lalu segera merangkulnya erat ketika di atas motor. Perasaannya benar-benar tak enak. Ia ingin cepat sampai rumah lalu tidur.

Pram  segera menjalankan motornya, bergegas meninggalkan gedung bioskop tua itu. Ia baru menyadari sesuatu saat keluar gedung. Sosok anak kecil memegang boneka yang sudah tak lagi memiliki kepala, tengah mengikutinya sejak keluar dari gedung,  Rambut panjangnya terurai menutupi setengah wajahnya, kepalanya miring ke kanan, bola mata dan kulitnya berwarna sama putih pucat, warna hitam melingkari matanya, bajunya lusuh penuh noda darah terus menatap lekat ke mata Pram, lebih tepatnya melotot ke arahnya sejak ia keluar gedung, sambil terus menyanyikan lagu yang sama seperti di film yang baru saja ditontonnya.

“Kalau tuan, dapat kawan baru sayang. Kawan lama, ditinggalkan jangan”


****

Inspiresyen:

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Ritual_pembunuhan_Toa_Payoh

http://m.kompasiana.com/post/read/508180/1/kedahsyatan-lagu-soleram-dari-riau-indonesia.html

http://paramitadita.com/?p=8

You Might Also Like

2 comments

  1. Itu tokoh ada Heni dan Endang secara bersamaan. Typokah? Atau memang ada dua?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu hanya halusinasimu saja kak kie x))))))

      Hapus

Entri Populer

Formulir Kontak