Hari yang menyenangkan, batinku sambil melepas sepatu di sofa yang ada di teras rumah.
Sambil bersantai sejenak di teras rumah, aku memikirkan hal-hal yang terjadi pada hari ini. Beberapa hari lalu, entah aku mendapat bisikan dari mana, aku nekat mengajak Citra untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Sebenarnya aku agak pesimis dia mau ikut mengingat bahwa kalau aku ingin rencanaku hari ini berhasil, aku harus mengajak dia keluar dari pagi. Padahal dia salah satu wanita yang sangat peduli terhadap panas matahari. Tapi tanpa aku sangka, dia setuju untuk ikut. Dan jadilah kami mengikuti Jakarta City Tour yang dimulai dan berakhir di Monumen Nasional.
Aku kemudian tersenyum ketika mengingat kejadian sewaktu membeli tempura tadi sore. Sebenarnya, aku agak hati-hati menjaga sikap ketika aku dan dia jalan berdua. Aku berusaha untuk meminimalisir kontak fisik dengannya. Dia pernah bercerita tentang bagaimana dia menolak untuk dirangkul oleh seseorang karena dia masih belum cukup nyaman dengan orang itu. Menolak secara halus dengan bergerak berlawanan arah rangkulan tentu saja.
Ada sesuatu yang menarik juga ketika aku dan dia makan malam. Aku tahu dia lebih suka berada di sebelah kanan seseorang. Baik ketika sedang berjalan ataupun ketika sedang makan. Jangan bertanya padaku apa alasannya karena dia sendiri tidak bisa menjelaskannya karena dia juga tidak tahu. Tapi ketika makan malam tadi, tanpa disangka dia mengambil posisi duduk di depanku. Padahal aku sengaja memilih meja untuk 4 orang agar dia bisa duduk di sebelahku.
Tapi aku harus mengucapkan terima kasih atas karena dia duduk di depanku. Kami jadi bisa berbincang-bincang dengan menyenangkan. Aku juga bisa menyadari kebiasaan-kebiasaan kecilnya. Senang merapikan rambut, nyaris tidak pernah senderan, menatap mata lawan bicara yang ada di depannya, dan lain-lain.
Berkat hal itu juga aku jadi bisa melakukan hal yang aku sukai ketika berbincang-bincang dengan seseorang. Memperhatikan ekspresi muka seseorang yang sedang aku ajak bicara. Kebiasaan yang lahir sejak aku bergabung dengan teater dan mengamati orang-orang yang ada di sekitarku.
Setelah beberapa saat memikirkan hal-hal yang terjadi pada hari ini, aku beranjak masuk ke dalam rumah. Ketika masuk ke dalam kamar, aku melihat Audina ada di dalam. Secara reflek aku bertanya kepadanya.
“Untuk kali ini, kamu setuju?”.
Dan aku melihat dia tersenyum bahagia.
Sambil bersantai sejenak di teras rumah, aku memikirkan hal-hal yang terjadi pada hari ini. Beberapa hari lalu, entah aku mendapat bisikan dari mana, aku nekat mengajak Citra untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Sebenarnya aku agak pesimis dia mau ikut mengingat bahwa kalau aku ingin rencanaku hari ini berhasil, aku harus mengajak dia keluar dari pagi. Padahal dia salah satu wanita yang sangat peduli terhadap panas matahari. Tapi tanpa aku sangka, dia setuju untuk ikut. Dan jadilah kami mengikuti Jakarta City Tour yang dimulai dan berakhir di Monumen Nasional.
Aku kemudian tersenyum ketika mengingat kejadian sewaktu membeli tempura tadi sore. Sebenarnya, aku agak hati-hati menjaga sikap ketika aku dan dia jalan berdua. Aku berusaha untuk meminimalisir kontak fisik dengannya. Dia pernah bercerita tentang bagaimana dia menolak untuk dirangkul oleh seseorang karena dia masih belum cukup nyaman dengan orang itu. Menolak secara halus dengan bergerak berlawanan arah rangkulan tentu saja.
Ada sesuatu yang menarik juga ketika aku dan dia makan malam. Aku tahu dia lebih suka berada di sebelah kanan seseorang. Baik ketika sedang berjalan ataupun ketika sedang makan. Jangan bertanya padaku apa alasannya karena dia sendiri tidak bisa menjelaskannya karena dia juga tidak tahu. Tapi ketika makan malam tadi, tanpa disangka dia mengambil posisi duduk di depanku. Padahal aku sengaja memilih meja untuk 4 orang agar dia bisa duduk di sebelahku.
Tapi aku harus mengucapkan terima kasih atas karena dia duduk di depanku. Kami jadi bisa berbincang-bincang dengan menyenangkan. Aku juga bisa menyadari kebiasaan-kebiasaan kecilnya. Senang merapikan rambut, nyaris tidak pernah senderan, menatap mata lawan bicara yang ada di depannya, dan lain-lain.
Berkat hal itu juga aku jadi bisa melakukan hal yang aku sukai ketika berbincang-bincang dengan seseorang. Memperhatikan ekspresi muka seseorang yang sedang aku ajak bicara. Kebiasaan yang lahir sejak aku bergabung dengan teater dan mengamati orang-orang yang ada di sekitarku.
Setelah beberapa saat memikirkan hal-hal yang terjadi pada hari ini, aku beranjak masuk ke dalam rumah. Ketika masuk ke dalam kamar, aku melihat Audina ada di dalam. Secara reflek aku bertanya kepadanya.
“Untuk kali ini, kamu setuju?”.
Dan aku melihat dia tersenyum bahagia.
0 comments