“Awalnya, saya pikir itu halusinasi kelelahan melihat dokumen-dokumen pekerjaan saja. Tapi setelah malam itu, saya jadi yakin apa yang saya alami itu bukan halusinasi.
“Jadi saya mau cerita, ini pengalaman nyata. Kalau kalian benci cerita seram, lebih baik berhenti baca di sini saja. Iya, itu peringatan. Saya tidak tanggung jawab untuk apa yang terjadi pada kalian yang penakut kalau melanjutkan baca cerita ini.
“Sebut saja saya Mawar. Saya baru dua bulan menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta penjual jasa. Ruangan saya dikelilingi tiga ruangan lain. Yang satu adalah ruangan atasan saya, adanya di paling pojok lorong. Depan ruang atasan saya ada salah satu rekan kerja perempuan, sebut saja dia Kembang Kol, kulitnya yang putih dan rambut keritingnya sangat cocok untuk nama itu. Lalu ada ruangan para rekan senior, letaknya bersebelahan dengan ruangan atasan saya dan di seberangan ruangan saya. Antara ruangan saya dan Kembang Kol adalah lorong menuju pintu ke luar. Sudah paham denah kantor saya? Bagus. Kalau begitu saya bisa mulai bercerita.
“Saya jarang sekali menutup pintu ruangan. Selain tak terlalu suka sendiri, dengan membuka pintu saya bisa lebih memantau–mendengar–apa yang terjadi di sekeliling saya. Dan juga kebiasaan di kantor ini lebih suka berteriak–untuk tujuan mengagetkan–memanggil orang-orang, terutama atasanku, daripada menggunakan telepon ekstensien. Tak heran kalau kalian menemukan orang lari-lari karena dipanggil dengan teriaka qqqqqdi kantor ini.
“Jadi yang mau saya ceritakan adalah: saya telah beberapa kali mendengar nama saya dipanggil. Hanya satu suku kata saja. War. Spontan saya pasti menyahut dan menghampiri asal suara pemanggil saya. Beberapa kali juga saya dapat tatapan heran dari para rekan setiap saya tanya apakah salah satu dari mereka memanggil saya. Bahkan atasanku sampai bilang: “Lu sering banget ya begitu? Lu gila apa diganggu setan sih?”
“Tentu saja saya lebih memilih jadi gila daripada harus diganggu setan. Setidaknya orang yang gila ada kemungkinan untuk kembali waras. Namun kalau diganggu setan, trauma itu pasti akan bertahan lama seperti kehilangan orang yang dicinta. Iya ‘kan? Setidaknya itu pendapat pribadi saya. Sayangnya, rencana Tuhan beda dengan harapan saya.
“Suatu malam saya harus bekerja lembur. Tumpukan laporan bulanan harus selesai. Hanya ada saya dan seorang sekuriti di ruang resepsionis sedang asik bertelepon dengan kekasihnya. Selama saya masih bisa mendengar suara samar dia merayu pacarnya, saya merasa aman-aman saja mengerjakan laporan di ruangan sendiri.
“Ketika sedang konsentrasi menghitung angka-angka, saya mendengar panggilan itu. “War.” Suara itu terdengar seperti suara atasan saya, tapi tak mungkin, dia sudah pulang sedari tadi.
“”Mawar.” Suara itu kembali memanggil lagi. Kali ini saya langsung merinding. Saya pun teriak-teriak memanggil si sekuriti yang tak kunjung menyahut. Ketika saya keluar ruangan berniat mencari sekuriti yang seharusnya menemani saya lembur, saya melihat sosok itu. Tubuh saya langsung kaku tapi juga lemas.
“Dia berdiri tegak, tinggi, besar, di depan pintu ruangan atasan saya, menghadap dinding. Punggungnya berbulu lebat. Rambutnya panjang, terlihat gimbal-gimbal berantakan dan kotor. “War.” Saya dengar lagi nama saya disebut sebelum sosok itu sedikit menoleh ke kiri. Lalu semuanya gelap.
“Ketika sadar, saya sudah berada dalam mobil menuju rumah sakit. Sekuriti yang panik melihat saya tergeletak di lantai langsung memanggil supir kantor–yang biasa shift malam untuk mengantar yang lembur–dan berniat mengantar saya ke UGD. Saya bilang pada mereka : “Saya enggak sakit. Saya abis lihat hantu.” Mereka seolah tidak percaya. Akhirnya saya ceritakan apa yang saya alami.
“”Oh, mbak Mawar diajak kenalan itu,” kata Sekuriti yang duduk di samping supir.
“Jadi saya enggak cuma halusinasi? Kecapean kerja?”
“Enggak mbak, kalau yang biasa di kantor malem mah udah enggak heran ketemu gituan, kantor kita emang serem,” celetuk sang Supir disambut anggukan Sekuriti.
“Nanti juga mbak Mawar kebiasa kok, kayak saya gini.” Si Sekuriti kemudian bercerita pengalaman-pengalamannya berinteraksi dengan si sosok. Bukan hanya mendengar namanya saja dipanggil, dia pun sering melihat ada yang lewat walau tak ada orang, memainkan lift, memainkan pintu, sampai mendorong kursi di depannya. Mereka menyarankan pada saya untuk tak terlalu memikirkannya karena nanti juga saya akan terbiasa. Sekarang sih saya sudah terbiasa. Sosok itu sering menemani saya. Tuh dia berdiri di belakangmu sekarang.”
“Iya, iya, sekarang Mawar minum obat dulu ya. Habis itu Mawar istirahat.”
“Baiklah. Besok bolehkan saya cerita lagi?”
“Boleh kok.” Gadis muda berseragam putih itu menyodorkan gelas plastik berisi beberapa butir tablet dan kapsul. Lalu menyerahkan segelas air putih.
Mawar menerimanya tanpa membantah, seperti biasa. Mawar memang tak pernah membuat masalah. Selalu tenang, selalu menurut, selalu melakukan apa yang diminta oleh para pengurusnya.
0 comments