#03 Endorphin Davidhukom

Kamisan S2 #03 - Endorphin: Semangkok Senyum, Secangkir Cinta, dan Percakapan Anti Sakit

07.37Unknown

source image: google




“Mas, setelah pembicaraanmu sama bapak, dan juga ada pakdhe Jarwo kemarin, soal menunggu itu. Aku jadi penasaran, Mas, menurutmu cinta sejati itu apa?” Pertanyaan Endang mengagetkan Heru, sejenak dahinya berkerut, tatapannya menerawang.

Malam itu seperti biasa Heru datang ke rumah pacarnya, Endang Sulastri, untuk mengajaknya berjalan-jalan ke mall terdekat. Sepulangnya mereka mampir di satu rumah makan yang ada di samping mall. Sebenarnya warung pangsit lebih tepatnya bukan rumah makan kelas menengah ke atas. Warung pangsit sederhana milik bang haji Jamal.

Awalnya Bang Jams, begitu Heru memanggilnya, adalah penjual pangsit keliling langganan Heru. Setelah beberapa tahun uangnya terkumpul ia membangun warungnya sendiri. Sebuah warung sederhana berukuran delapan kali enam meter, dengan dekorasi lukisan-lukisan juga patung-patung unik yang didapatnya dari teman di Bali. Pintunya sengaja menggunakan pintu geser dengan tempat duduk lesehan, “Biar seperti restoran cina atau jepang gitu, Her” katanya dulu waktu pertama kali merenovasi. Entah mengapa, Heru malah melihatnya seperti warung asal jadi yang kurang modal.

Hebatnya, hanya selang beberapa bulan setelah warung berdiri, Bang Jams sudah mampu menunaikan ibadah Haji. Dari situlah plang “Warung Pangsit Bahagia” diubah menjadi “Warung Pangsit Bahagia Bersama Bang Haji Jams”. Heru pikir, mungkin kalau istrinya masih ada dan anak-anaknya tidak bersekolah terlalu jauh plang di depan itu diubah menjadi “Warung Pangsit Bang Haji Jams Bahagia Bersama Keluarga, Istri dan Anak Cucu”.

“Waduh dek, hambok kalau tanya itu yang mas ini sedikit ngerti. Kalau kamu tanya soal resep ajaib sayur tewel, analisa kesehatan bakso pangsit daging tikus atau sejarah dan perkembangan warung pangsit bosok ini…”

“EHMMM!! UHUK!! UTANGMU!! UHUK!!”

Terdengar batuk keras dan disengaja dari Bang Jams memotong ucapan heru. Sontak terdengar pengunjung yang lain hingga mereka tertawa, tapi ditahan. Heru hanya bisa bersungut-sungut.

“Hihihi, mangkanya punya mulut itu jangan crigis” timpal Endang.

“Biar, memang bosok kok. Gini, aku nggak ngerti bagaimana itu cinta sejati. Tapi aku pernah mendengar cerita temanku saat aku masih di Jakarta” Heru berkata seraya mulai menyandarkan punggung dan matanya menerawang jauh menatap langit-langit Ingatannya terlempar jauh ke masa silam

****

“Her, aku kok kepingin ketemu Pak Jarwo” kata Cungkring suatu kali pada Heru.

Heru masih asyik dengan secangkir kopi dan laptopnya. Masih mencoba menghubungi pujaan hatinya di kampung halaman, “Heh? Ya kamu datang ke Malang sana toh Kring” katanya dengan mata terus fokus menatap laptop.

Cungkring membetulkan posisi duduknya, “Kapan ya, Her. Masa selama ini cuma terima uangnya, dengar suaranya, tanpa pernah tahu sosoknya seperti apa” Tangannya mengambil apel yang tergeletak di meja sampingnya.

“Mangkanya kamu cepet sembuh, biar nanti bisa kuajak mudik” jawab Heru menutup laptop, sepertinya putus asa tak dapat jaringan yang bagus di sini.

Sudah hampir dua minggu Heru menemani sahabatnya itu di sini. Entah mengapa, Heru juga tidak begitu tahu alasannya mengapa Cungkring merahasiakan ini semua, dari teman-temannya bahkan dari orang tuanya. Cungkring, itu nama panggilannya Heru temannya dari SMP dia hafal mati sahabatnya ini. Tak suka menutupi apapun jika tak rahasia benar. Khusus untuk satu ini Heru benar-benar tak habis pikir.

Sejak lulus SMA Heru memutuskan pulang ke Malang, jadi petani. Karena penghidupan petani sedikit hasilnya ia memutuskan kembali ke ibukota. Di sini ia bertemu sahabatnya lagi, yang ternyata juga sedang pontang-panting cari modal untuk menghidupi usahanya. Heru membantunya dengan meminjam uang pada pakdhe Jarwo. Tak disangka, beberapa bulan setelah berdiri, kios temannya ini habis dilalap api. Malam itu juga Cungkring pingsan. Dari situ Heru tahu temannya itu menyimpan penyakit yang serius.

“Hahaha raimu Her” Cungkring tertawa, sambil terus memakan apel bawaan Heru, “Tapi Her, aku kok semalam mimpi wanita itu bakalan datang ke sini ya?” tatapannya kembali ke arah langit-langit kamar.

“Gimana bisa ke sini toh Kring, wong yang tahu kamu di sini itu Cuma aku sama makmu itu” Heru ikut tiduran di ranjang samping Cungkring, “Aku lagi galau ini Kring..”

“Makan singkong aja pakai galau” tukas Cungkring lalu tertawa lagi, “Galau kenapa Her? Eh, cem-cemanmu di kampung itu siapa? Engkos? Gimana kabarnya?”

“E N D A N G, Mas Cungkriing” jawab Heru panjang dan kesal. Salah satu kebiasaan cungkring seperti ini, menggonta-ganti nama orang sekenanya.

“Hahahhaa oh iya itu Bambang, gimana kabarnya?”

“CUNGKRING SUROMENGGONO!” seru Heru tak sabar lagi, sementara Cungkring masih tertawa terbahak-bahak hingga ranjangnya tergoyang-goyang, “Aku takut dia tergoda sama lelaki lain di kampung” Heru melanjutkan ucapannya mengabaikan Cungkring yang masih tergelak.

“Her, kamu masih mending sesakit-sakitnya kamu masih bisa ketemu dia, lha aku, sudah mau terpisah dua alam”

“Hush! Nggak boleh bilang gitu Kring, kamu sudah dicoblos pakai selang sana-sini gitu aja masih bisa tertawa-tawa lho, yang tahu kemati…”

“Udah Her, jangan ceramah. Kamu tahu Her, ingatan tentang Barong dari Bali ini benar-benar bikin badanku terasa segar, dokter semalam bilang tubuhku jauh lebih mendingan dibanding sewaktu pertama datang ke sini. Padahal aku hanya mengingatnya Her. Dia itu sudah semacam morfin, bikin ketagihan. Apalagi senyumnya. Sebenarnya biarpun sedih, aku juga bersyukur Her sudah sempat mengenalnya”

“Kamu itu apa toh Kring, ngomong udah seperti mau pergi jauh aja, makmu sepertinya sudah kasih tahu ibumu kalau kamu di sini”

“Biarin lah, bapak juga sudah keluar dari penjara kok Her, aku dengar dari emak. Pikiran ibu sudah lebih tenang, aku juga sudah lebih lega sekarang”

Heru tahu cerita itu dari emak yang merawat Cungkring dari kecil. Bahwa bapaknya Cungkring ditangkap polisi karena dituduh korupsi uang perusahaan. Cungkring yang sudah mulai usahanya semenjak kebakaran terakhir harus pontang-panting lagi cari uang untuk toko dan menghidupi ibunya. Setelah beberapa bulan sepertinya nasib naas belum juga pergi dari kehidupan Cungkring, adalah Rudi teman Jatmiko melarikan uang toko sampai benar-benar bersih.

Cungkring tak pernah benar-benar memperlihatkan penderitaannya, kadang ia muncul hanya untuk menemani Heru bercerita, ngopi, mendengarkan keluhannya. Sampai beberapa bulan terakhir Heru melihat sosok Cungkring begitu berbeda dari biasanya. Ia menjadi lebih semangat, entah kenapa. Baru belakangan ia dengar ternyata ulah seorang gadis. Heru tersenyum geli mengingat itu, “Oalah kring Cungkring, nasibmu le…” ucapnya pelan, ketika mendapati temannya itu sudah tertidur pulas.

Heru hanya keluar sebentar mencari makan, lalu kembali lagi. Baru ia sadar bahwa kamar itu sebenarnya tak begitu luas, hanya seukuran delapan kali enam meter. Yang membuatnya nampak lebih luas karena kebetulan ruangan itu kosong, dua ranjang di samping kiri Cungkring tak ditiduri pasien. Kotak perlengkapan obat, tabung oksigen, meja dan infus, juga beberapa selang yang menghinggapi tubuh temannya semenjak pertama kali datang ke sini. Hanya satu kipas angin dan jendela besar sebagai aliran udara, untungnya jendela itu menghadap ke taman. Jadi masih bisa dinikmati pemandangannya, khususnya ketika hujan.

Heru menatap lagi sosok kawan lamanya itu. Tubuhnya yang dulu masih terlihat segar, kini makin kurus entah wajahnya masih juga terlihat cerah, damai. “Hmm, Cungkring” ia duduk di ranjang sebelahnya matanya masih juga mengamati temannya yang tertidur. Ia selalu merasa temannya ini benar-benar sosok yang kuat, hanya saja semangatnya lebih kuat daripada kondisi tubuhnya.

Endorfin, temannya seringkali mengatakan itu, belakangan ia tahu itu adalah hormon kebahagiaan yang akan membanjir bak adrenalin ketika seseorang tertawa dan bersenang-senang. Zat itu yang ditengarai mampu memperbaiki bagian tubuh manusia yang sedang “rusak” karena penyakit. Endorfin bisa dipicu dengan tertawa, tamasya, atau apapun dengan tujuan bersenang-senang atau bisa dengan jarum akupuntur. Di kasus temannya ini, mungkin gadis “Setan Bali” itu yang menjadi pemicu hormon bahagia di otak Cungkring ini sehingg…..

“Kamu ngapain Her kok lihat-lihat gitu? Nggilani”

Suara Cungkring mengagetkan Heru, padahal matanya terpejam, “Huasem! Kamu pikir aku naksir kamu gitu?! Hih!” jawab Heru sengit lalu merebahkan diri di ranjang. Di sampingnya, Cungkring tertawa pelan sambil memiringkan posisi tidurnya.

**

“Bagaimana kondisinya pak?” Seorang ibu-ibu terlihat khawatir sedang berdiri bersama seorang dokter di samping ranjang Cungkring.

“Cuma kambuh sesaat, Bu. Ibu tenang saja kami sudah beri obat penenang”

“Ada apa tante?” Heru menyela pembicaraan mereka. Ia merasa bersalah karena tertidur beberapa jam tadi.

“Kamu nak Heru anaknya Bu Darwanti itu kan? Yang dulu teman…”

“Hehehe iya, Tant. Maaf nggak memberi kabar, Cungkring sendiri yang minta jangan kasih tahu siapa-siapa”

“Memang begitu, ini tante juga diberi tahu emak, sudah kamu pulang dulu saja, bersih-bersih. Nanti kalau mau datang lagi ke sini, datang saja. Malam ini biar tante yang jaga”

“Iya tante” jawab Heru pelan.

Ia memutuskan istirahat, untuk pulang sejenak. Ketika mengemasi barang dilihatnya lagi sahabatnya itu, “Kring aku pulang dulu, ibumu sudah datang. Nanti malam atau besok baru aku kesini lagi”

“Okeh Her, makasih ya. Ngomong-ngomong aku pingin cerita dikit. Tadi aku mimpi, Her. Gadis itu bakalan datang ke sini dalam waktu dekat. Kalau kamu sempat berkenalan dengannya Her, aku minta tolong sampaikan ini. Dia satu-satunya gadis yang ada di hatiku selama ini, sampai kapanpun. Aku selalu melihatnya dari balik senja”

Heru terdiam sejenak, sore itu Cungkring benar-benar tak seperti biasanya.

“Halah kamu itu Kring, kamu itu pasti sembuh, ngerti? Ngomong udah kayak drama sinetron saja pakai bawa-bawa senja” jawab Heru sambil tertawa remeh. Ia khawatir sore itu.

“Ini serius, Her” kata Cungkring setelah menghela nafas panjang.

“Heh? Iya Kring. Kamu tenang saja. Kamu pasti diberi kesembuhan untuk ngucapin itu semua sama dia” Heru menenangkan sahabatnya. “Sudah aku balik dulu” katanya kemudian sambil memakai ransel dan berjalan keluar kamar.

Heru masih sempat kembali menoleh, melihat kawannya yang tersenyum padanya lalu melihat taman di luar jendela. Kemudian memejamkan mata. Kembali tertidur.

Hujan mengguyur jalanan, memaksa Heru untuk berteduh di sebuah halte. Petir menggelegar, “Oalah Kring, moga kamu cepet sehat lah biar bisa ketemu cewek itu lagi. Dia itu sudah jadi candumu” Heru menyalakan sebatang rokoknya lalu menghisapnya perlahan. Ingatannya memutar saat Cungkring pertama bercerita tentang wanitanya itu. Heru benar-benar tak mengira, sore itu, hujan itu, juga petirnya adalah pertanda bahwa itu adalah kali terakhir ia berbincang dengan sahabatnya.

***

Malam itu temannya datang tergopoh-gopoh, berisik motornya terdengar sampai ke dalam rumah.

“HER!!! HERDER!!!”

“Huasemm! Herder itu anjing Kring!” sahut dari dalam rumah.

“Hahahahaha, Her aku baru kenalan sama cewek!” seru Cungkring berapi-api

Heru keluar sambil membawa secangkir kopi, tubuhnya dan rambutnya masih basah, di lehernya terkalung handuk. Ia baru selesai mandi. Cungkring mengambil kopi Heru lalu meminumnya. Heru hanya bisa bengong melihat ulah temannya.

“Dia cantik, Her. Matanya sipit, kalau tertawa mau kutinggal kabur saja. Biar dia cari, hahahahaha. Rambutnya panjang sepunggung. Yang menarik, ada lesung pipinya, Her! Apalagi bibirnya Her!” ceritanya berapi-api. Heru masih juga bengong.

“Tapi itu nggak penting” katanya kemudian

“Halah hasu, tiwas ditungguin” Heru kembali ke dalam mengambil rokoknya sejenak kemudian kembali duduk di teras rumah dengan handuk yang masih di leher.

“Dia punya masalah yang begitu berat, tadi aku menemukannya hampir bunuh diri”

“Hah?! Kok bisa!”

“Dia tadi mau terjun dari jembatan, untungnya tak tolongin. Akhirnya dia cerita semua masalah-masalahnya, aku juga demikian. Entahlah Her, aku jadi semangat ingin membantunya”

**

“Dia orang baik, Mbak. Kalau saja saya nggak ingat dia itu manusia, mungkin tiap malam saya bakalan terus protes sama Tuhan, kenapa harus secepat ini dia pergi” Kata Heru, matanya lurus menatap ke depan, ke arah gundukan tanah yang masih segar.

“Saya juga nggak mengira, bakalan kenal dengan orang macam dia. Apa kamu ingat dia pernah bercerita soal perempuan mas?” Tanya wanita di sebelahnya. Tinggal mereka berdua di tempat ini, entah sepertinya wanita ini juga Heru ingin diam lebih lama lagi.

“Hmmm, Seingat saya pernah. Matanya sipit, rambut panjang, ada lesung pipi, mirip sama mbaknya ini. Cungkring bilang, ada seseorang yang mampu membuatnya bertahan melewati masa-masa susah hidupnya, orang yang tanpa sadar membuatnya terbangun saat ia terpuruk dan hampir menghabisi hidupnya sendiri. ‘Kamu tahu Her?’ Dia bilang. ‘Wanita ini seperti analgesik bagiku, sakitmu hilang berganti bahagia, kayak morfin Her. Endorfin dalam otakmu seketika membanjir dan itu bisa kamu dapat hanya dengan menatap senyumnya, tertawa bersamanya. Senyumnya, membuatmu kuat bagai mampu menggenggam bumi, sekaligus lemah seperti tangkai mawar yang patah. Membuatmu bahagia setengah mampus saat bersamanya juga terpuruk setengah mati ketika kau sadari kau tak mampu hidup lebih lama lagi meski hanya sebagai sekedar teman untuknya. Derita Her, lewat derita kau akan belajar apa itu cinta sejati, luka, dan airmata. Bahwa hidup itu tak lebih dari sekedar merawat pinjaman, hingga pada akhirnya harus rela kehilangan.’”

Mata wanita di samping Heru ini tak mampu lagi menahan air yang sudah menggenang. Air mata itu akhirnya turun perlahan di pipinya, “Siapa nama perempuan itu?”

“Cungkring sering menyamakan dan memanggil wanitanya itu seperti setan dari Bali, Leak. Hahahaha” Heru tertawa, tapi hatinya masih sedih mengenang sahabatnya.

“Hahahaha, dia selalu begitu, hobi mengubah-ubah nama orang” timpal wanita di sampingnya

Sejenak sebelum mereka memisahkan diri Heru memutuskan bertanya pada orang asing yang sedari tadi mengobrol dengannya, “Ngomong-ngomong mbak ini siapanya Cungkring? Namanya mbak siapa?

Perempuan itu tersenyum ramah, lesung pipinya kembali nampak. “Saya cuma temannya, teman yang akan selalu membawa namanya dalam hati, menagih janjinya dalam mimpi. Kalau soal nama, sepertinya mas sudah tahu” gadis itu menjulurkan tangannya, “Nama saya Lea, Mas. Alea Prameswari.”

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak