#03 Endorphin Adji Nugroho

Kamisan S2 #03 - Endorphin: Sebuah Janji

07.42Unknown


Sabtu malam ini kamu ada acara? Kalau tidak dan kamu mau, bagaimana kalau kita dinner?
Aku melihat baris terakhir dari pesan teks yang dikirimkan oleh Adji tadi malam. Pesan teks itu, entah bagaimana, berhasil membuat gaduh hatiku di pagi yang biasanya tenang-tenang saja. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk tidak langsung membalas pesan itu. Lebih baik aku membalas pesannya nanti ketika aku sudah bisa berpikir lebih jernih.

“Cit, bangun. Subuhan dulu.”, tiba-tiba aku mendengar mama mengetuk pintu.

“Iya, Ma. Citra udah bangun kok.”.

Aku tidak mau membuat mama menunggu. Jadi aku langsung keluar kamar, meminum segelas air putih di dapur, dan langsung menuju kamar mandi untuk bersiap sholat subuh.

————————————–

Bagaimana kalau kita dinner?

Aku tersenyum di dalam hati ketika mengingat bagaimana awalnya Adji mengajakku dinner. Siangnya, setelah aku bisa berpikir dengan tenang, aku memutuskan untuk menyetujuinya. Dan saat ini, di acara kencan kami yang keempat, aku bersyukur dulu aku menyetujui ajakannya untuk dinner.

Ketika aku mengiyakan ajakannya untuk dinner, sebenarnya aku menganggapnya biasa saja. Aku tahu reputasinya. Selama 4 tahun kuliah, dia dekat dengan banyak perempuan. Tapi herannya, dia tidak pernah pacaran dengan satupun dari mereka. Dia sering nonton berdua dengan si A, B, C, atau D. Dia tidak sekali dua kali mengajak B atau C ke acara-acara seni. Dia juga sering dinner berdua dengan A atau D. Dan hal-hal lainnya yang seharusnya dilakukan oleh dua orang yang mempunyai hubungan lebih dari sekadar teman.

Itu semua ditunjang oleh sikapnya kepada wanita. Dia tahu bagaimana cara memperlakukan wanita sehingga mereka tertarik. Tapi di sekelilingnya seakan ada tembok tinggi tak kasat mata yang dibangun olehnya agar mereka tidak terlalu dekat. Beberapa wanita yang dekat dengannya mengatakan kalau dia seperti itu karena dia terikat sebuah janji. Sebuah janji kepada seseorang yang dulu pernah dicintai olehnya.

Entahlah.

Tapi aku menikmati kedekatan kami. Secara fisik mungkin dia biasa saja. Tapi ide-ide yang ada di kepalanya membuatnya berbeda. Ajakan dinner itu hanya awal. Minggu depannya kami menonton bioskop, yang karena kebodohanku, hingga nyaris tengah malam. Kenapa karena kebodohanku? Aku lupa kalau dia belum tahu rumahku. Sewaktu dinner minggu sebelumnya, dia tidak menjemputku di rumah. Kami bertemu di salah satu mall tempat dimana kami akan dinner. Pulangnya aku ikut Papa karena kebetulan Papa sedang di luar.

Saat itu kami berencana menonton jam 7. Tapi karena dia harus mencari rumahku terlebih dahulu, kami baru sempat menonton pada jam 9. Padahal ketika dia meminta ijin ke Mama, dia mengatakan bahwa kami akan pulang paling lambat jam 10. Untung saja saat sampai di rumah Papa sedang sibuk mengobati kakinya yang terluka dan Mama sudah tidur. Kebetulan yang menguntungkan karena dia tidak perlu berpamitan ke Papa dengan kemungkinan besar mendapat kultum dari Papa. Kuliah tujuh puluh menit.

Minggu depannya dia mengajakku ke malam puisi, sebuah acara pembacaan puisi yang rutin diadakan setiap bulan di tempat yang berbeda. Aku yang memang dari dulu senang datang ke acara puisi tentu saja tidak menolak. Tapi aku menolak mentah-mentah ketika dia mengajakku naik ke atas panggung untuk membacakan puisi. Aku belum punya cukup keberanian untuk membacakan puisi. Jadilah aku hanya duduk menikmati puisi-puisi yang dibacakan oleh mereka yang hadir pada saat itu.

Dan sekarang, di minggu keempat, tiba-tiba dia mengajakku untuk jalan-jalan keliling Jakarta dengan City Tour. Acara jalan-jalan ke tempat-tempat penting di Jakarta dengan busway bertingkat dan dipandu oleh seorang guide yang dari tadi sibuk menjelaskan sejarah dari tempat-tempat yang dilewati. Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan sejarah. Tapi entah kenapa aku menikmatinya. Aku menyukai saat dia menceritakan pengalamannya di beberapa tempat yang kami lewati dengan antusias. Pengalaman-pengalaman bodoh dengan sahabat-sahabatnya semasa SMA dulu.

Selesai City Tour, aku dan dia berjalan-jalan di sekitar Monas untuk mencari jajanan kecil dan minum. Setelah dia bertanya setengah meledek apa aku termasuk orang-orang yang CFS, Cheap Food Syndrome, dia mengajakku untuk membeli tempura yang sedang mangkal di depan parkiran motor.

“Bang, tempuranya 10 ribu donk.”.

“Satu aja, Mas? Pacarnya ga sekalian?”.

“Oh, dia bukan pacar saya kok, Bang. Belum sih, bukannya bukan.”, katanya tersenyum iseng sambil mengacak-acak rambutku.

DHEG!

Aku terkejut. Aku berusaha tersenyum tenang sebelum langsung melihat ke bawah. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba mukaku terasa panas ketika dia mengacak-acak rambutku. Aku tidak tahu harus berbicara apa. Tapi, rasanya menyenangkan.

“Cit, diem aja. Mau tempuranya ga? Enak loh. Udah jarang lagi yang jual tempura kayak gini. Padahal dulu banyak.”.

Aku menggeleng. Entah kenapa rasa lapar yang aku rasakan di bis tadi tiba-tiba hilang.

“Yaudah. Tapi nanti harus makan ya? Dari makan siang tadi kamu belum makan apa-apa lagi kan?”.

Aku mengangguk.

“Ng, nanti mau makan apa, Kak?”.

Damn! Kenapa nanya gituan? Ga penting banget, batinku

“Kamu ada ide? Apa ada rekomendasi malah?”, dia balik bertanya.

Aku menggeleng.

“Hm.. Yaudah nanti dipikirin sambil jalan deh. Tapi maghriban dulu ya? Abis itu baru kita makan malem.”.

“Iya ga masalah kok. Tapi kamu aja. Aku lagi ga sholat soalnya.”.

“Oh lagi ga sholat? Oke. Kalau gitu aku maghriban dulu ya. Kamu jangan kemana-mana nanti ilang. Ng… Kalo ada yang godain teriak aja. Biar kamu ditolong sama Pak Satpam itu.”, katanya sambil tertawa dan menunjuk ke satpam yang tidak terlalu jauh dari tempat kami duduk.

“Ish, apaan sih?”, aku tertawa sambil mencubit lengannya.

“Kali aja ada yang ga tahan buat nganggurin cewek cantik sendirian kan?,” katanya sambil tertawa dan berlari kecil menuju tempat wudhu.

Aku memandanginya berlari kecil ke tempat wudhu. Tiba-tiba kata-kata yang tadi dia ucapkan terulang.

Belum sih, bukannya bukan

Dan aku tersenyum.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak