Apa
yang akan kutulis mengenai semut? Soal kontrakan yang sekarang makin
banyak semutnya karena jarang dibersihkan? Saya kira selesai begitu
saja. Kontrakan ini sering waktu kotor ketimbang rapi. Soal lagu masa
kecil yang liriknya, "Semut-semut kecil, saya mau tanya, apakah kamu di dalam tanah punya mama-papa.."
Semut-semut
itu sudah pindah ke ikan bakar, dan semua yang bisa dimakan di
kontrakan ini, Melisa. Bahkan ke sisa makanan Jhumpa. Barangkali saja
semut-semut di sini termasuk kelompok semut-semut kere. Tapi lagu Melisa
itu bagus. Saya jadi ingat waktu sunatan, Pak Gaek, bapaknya Abang
(duh, saya malas memanggilnya abang) Mugil, sepupuku, yang memutar lagu
itu bergantian dengan kaset Itje Trisnawati "Duh Engkang" dengan lagu
dangdutnya Ine Shintia "Cinta Sayur Asem" yang asem itu. Liriknya gini
kan, "Cari jodoh jangan bingung-bingung/ Cari saja seperti saya/Bisa masak dan cuci pakaian/ Soal dandan tak ketinggalan.//
Coba bolehlah di coba/Mencoba buah durian/Dicium, di makan lalu di bayar..."
Kau bayangkanlah empat hari terbaring selama sunatan, tiga kaset itu diputar nyaris berulang setiap pagi hingga petang.
Apa saya mesti cerita tentang Meggy Z yang terlihat sewot dengan liriknya, "Jangankan diriku, semutkan marah bila terlalu sakit begini.." Maaf, saya agak lupa momen terbaik apa yang saya lewatkan dengan lagu tersebut.
Tapi
saya mesti menulis semut. Sesuatu mengenai, menyerupai, seperti,
seolah, bagaikan, umpana semut. Tak ada pilihan lain. bahkan ketika
tulisan ini selesai diposting pun saya sudah terlambat sejam-dua jam,
mungkin.
Apa
saya harus cerita tentang Idal, teman masa kecil yang bandel setengah
mati itu, yang sering kami keroyok itu? Ah Idal yang malang, ia diikat
kakaknya di pohon yang ada semutnya. Ia meraung-raung berjam-jam karena
dikerubungi semut hitam. Tapi Idal nakal sih, kalau main kertas gambar
dan pas dia kalah dia tidak mau berhenti, mengancam lawan, dan itu ciri
pejudi yang gagal. Tak bisa mengontrol emosi. Lawan sudah tahu
kelemahannya. Syukurlah ia tak jadi pejudi besar sampai ia besar
sekarang dan sudah punya dua mantan istri. Tapi Idal lebih aman
ketimbang Imul yang juga pernah diikat ayek-nya di pohon jambak (jambu
bool) depan rumahnya. Tidak lama, tapi tititnya bengkak dan merah
setelah itu. Merah, bengkak dan gatal. Imul juga meraung-raung. Saya
kurang tahu rasanya titit digigit semut merah. Kemasukan lintah sih
pernah.
Astaga, saya harus menulis soal semut, atau yang menyerupainya.
***
Setelah
saya bisa naik sepeda di kelas IV SD, dan tentu mengalami tragedi yang
sama dengan anak-anak lelaki lain yang menahan perih di selangkang
ketika beradu dengan batang sepeda. Itu ngilu, dan jangan ditiru. Tapi
saya sudah bisa bersepeda, dan tak akan ada ngilu telur lagi.
Saat
itu saya dan orang tua tinggal di ladang, di kampung sebelah, dan saya
bersepeda ke kampung ayah dan ibu saya. Harus saya akui, mengarang
"Berlibur ke Rumah Nenek" tak begitu berkesan bagiku. Keluarga ibuk dan
bapakku bertetangga. Jarangnya hanya 7-8 rumah saja. Sekelompok di utara
rumah keluarga bapakku, beberapa rumah ke selatan rumah keluarga besar
ibuku. Dan soal kakek-nenek saya hanya berjumpa nenek dari bapak saja.
Ke sanalah saya menuju, ke situlah cerita ini bermuara.
***
Listrik
belum menyala di kampung kami. Sebagian tiang-tiang sudah dipancangkan.
Ini masa-masa akhir Repelita V, kami masih menunggu Repelita VI untuk
melihat listrik menyala di kampung kami dan selamat tinggal untuk
keriangan masa kanak yang membuat kami berkeringat sepanjang malam. Soal
listrik dan bagaimana kami berubah jadi santun di depan televisi akan
diceritakan lain kali.
Saya
menginap di rumah adiknya bapak tiap malam minggu dengan alasan bisa
menonton televisi hitam-putih yang dinyalakan dengan aki di rumah mak
gaek, kakaknya bapak. Dulu saya hafal, sungguh mati, rangkaian acara
TVRI mulai dari jam 18,000 hingga Film Akhir Pekan setelah Berita
Terakhir selesai. Saya ingin duduk manis menonton laporan dari daerah
sampai Berita Nasional selesai dan saatnya mendengar informasi acara
selanjutnya. Bagian ini tivi biasanya menyala dan kami mendekat ke
tabung yang kadang-kadang dikasih penutup biru itu. Kami akan mendengar
"rangkaian acara sepanjang malam hari ini" yang diikuti teks yang sering
terlambat di samping pembawa acara yang santun-kaku. Kami berteriak
jika saja tidak mendengar "Laporan khusus" atau acara menjengkelkan yang
lain "Pertandingan bulu tangkis", lalu menahan napas lagi untuk
mendengarkan film akhir pekan yang akan diputar. "Wah Ratno Timoer.."
"Wah ini Rano Karno..." "Rhoma.. Rhoma.." jerit gadis-gadis remaja,
teman almarhum kakak sepupu saya.
Malam
ketika cerita ini saya tuliskan adalah hari sial itu. Ada laporan
khusus dan bulu tangkis. Tivi hitam-putih itu akan dimatikan.
Orang-orang (tua-muda) hanya bisa duduk-duduk berkerumunan di depan
rumah. Tv hitam-putih yang bersemut itu adalah tontonan warga
satu-satunya di kampung kami. Lama kemudian, tetangga kami yang lain
membeli tv. Itu masa menyenangkan, ketika aki di rumah Mak Gaek lagi
dicas, kami akan berbondong-bondong menonton film india di TPI ke rumah
tetangga. Saya seringkali menikutinyan ketika tanggal merah. Sialnya
saya, tanggal merah selalu ada acara-acara khusus sehingga gagallah saya
melihat Amitha Bachan naik kuda membalas dendam pada mertuanya.
Di
mana semut harus saya masukkan dalam cerita ini? Yang jelas, malam itu
tivi bersemut di rumah Mak Gaek tak menyala. Aki "disimpan" untuk hari
minggu. Jika malam minggu tak ada Aneka Ria Safari, hari minggu pagi
masih ada Album Minggu. Sabarlah.
Saya bersama kakak sepupu Isam, dan Uman panik juga. Mau menonton video ke kampung tetangga sudah terlalu malam. Film selesai jam 9. Malam itu hujan baru selesai. Aspal tipis-berlubang di jalan kampung kami penuh air. Kami bertiga jalan ke utara, ke kampung lain, sekedar menunggu "Pertandingan Bulu Tangkis" selesai. Malam minggu kami boleh begadang. Rhoma bilang; begadang boleh kalau ada perlunya. kami rasa menonton Film Akhir Pekan adalah sebuah kepatutan. Tinggal menghitung jumlah berita terakhir saja. Isu yang beredar di antara kawan-kawan, Berita terakhir TVRI itu hanya berisi 7 berita. Maka sepanjang setengah jam kurang itu kami menghitung berapa jumlah berita yang ada. Pasti lebih dari 7. Entah bagaimana, sabtu depan kami akan menghitung lagi, sebagai terapi menunggu acara idola di kampung kami di mulai: Film Akhir Pekan.
Saya bersama kakak sepupu Isam, dan Uman panik juga. Mau menonton video ke kampung tetangga sudah terlalu malam. Film selesai jam 9. Malam itu hujan baru selesai. Aspal tipis-berlubang di jalan kampung kami penuh air. Kami bertiga jalan ke utara, ke kampung lain, sekedar menunggu "Pertandingan Bulu Tangkis" selesai. Malam minggu kami boleh begadang. Rhoma bilang; begadang boleh kalau ada perlunya. kami rasa menonton Film Akhir Pekan adalah sebuah kepatutan. Tinggal menghitung jumlah berita terakhir saja. Isu yang beredar di antara kawan-kawan, Berita terakhir TVRI itu hanya berisi 7 berita. Maka sepanjang setengah jam kurang itu kami menghitung berapa jumlah berita yang ada. Pasti lebih dari 7. Entah bagaimana, sabtu depan kami akan menghitung lagi, sebagai terapi menunggu acara idola di kampung kami di mulai: Film Akhir Pekan.
Bertiga
kami berjalan ke utara yang lengang sehabis masjid. Kumpulan pohon sagu
dan jembatan kecil. Itu sarang hantu, saudara-saudariku. cerita yang
beredar seputar itu tidak main-main. Ada yang sepedanya ditumpangi
seseorang yang hidungnya berkapas, ada sepeda yang tiba-tiba tidak bisa
berjalan sama sekali, atau suara dan wujud yang tampak dari rerimbun
pohon sagu di batas kampung itu: Hantu Kapan. Maksudnya: Hantu yang
memakai seragam Kain Kafan. Konon dia akan meloncat dan berbisik di
telingamu; "Bukak kabek,buka kabek... (Buka ikatan, buka ikatan)"
Itu horror saudara sebangsa dans etanah air. Itu seram. Maka jika kau
malam-malam ingin lewat di sana bikalah sandalmu, pegang, karena
sewaktu-waktu 1 orang di antara rombongan akan mulai berlari dan yang
lain akan menyusul. Sekalian di saat itu kau bisa memperbaiki hafalan
Ayat Kursi. Sebab akan selalu ada satu dua mulut teman-teman yang
membaca ayat kursi keras-keras sambil berlari.
Kita tunda soal betapa seramnya rimbunan pohon sagu yang kini jadi kampung dan telah berdiri pula SMK di belakangnya itu. Itu masa kini dan cerita ini soal masalalu. Dan, ehem, semut.
Kita tunda soal betapa seramnya rimbunan pohon sagu yang kini jadi kampung dan telah berdiri pula SMK di belakangnya itu. Itu masa kini dan cerita ini soal masalalu. Dan, ehem, semut.
Bertiga
kami, layaknya cerita di atas tentu saja berlari ke arah utara setelah
melewati masjid. Gelap nian. Masa itu kendaraan belumlah sepadat
sekarang, mustahil menunggu cahaya mobil dari jauh menyinarimu, dan itu
seringkali kami lakukan jika berjalan di tempat gelap. Tapi ada
bahayanya loh kalau kau menunggu cahaya mobil dari jauh; 1. bisa jadi di
hadapanmu Hantu Kapan terlihat dengan jelas, 2. Bisa jadi itu bukan
cahaya sungguhan, tapi cahaya yang menyesatkan. Hantu blau, jilawik dan
segala penghuni alam gaib bisa jadi sedang berkomplot menggoda
bocah-bocah malang ini.
Demikianlah
kami selamat menyeberangi kampung dan sampai di kampung lain. Itu
keberhasilan yang luar biasa juga. Sebaiknya kami nikmati dengan
berjalan-jalan di kampung utara. di sana banyak kedai kopi, tempat
bapak-bapak main domino, tempat orang berjualan pisang goreng yang
disajikan panas-panas. Cahaya kedai dengan lampu strongkingnya membuat suasana makin gemerlap.
Kami
berjalan dan terus berjalan. Kampung sepi. Uman kakak sepupuku bilang,
"Anu, Pak Inang Sekarang katanya punya disel untuk menyalakan listrik di
rumahnya." Itu berita yang wow sekali. Listrik, tetangga kami punya
listrik sendiri di rumahnya. Di kampung kami kalau pun sesekali ada
listrik itu dari diesel yang dibagi-bagi ke satu kampung, dan bertahan
tak lebih dari 4 bulan. Sekarang Inang punya diesel sendiri? Apa yang
tidak ajaib di zaman itu?
Benarlah
kiranya itu cerita. Uman tak sedang mengarang-ngarang cerita. Dari jauh
kami sudah melihat kilau cahaya pecah di jalan, di antara rumah-rumah
yang suram-temaram. Kami bergegas ke sana. Untuk mempercepat cerita,
malam itu saudara, kami tak hanya melihat satu keajaiban, tetapi dua.
Pertama soal listrik di rumah Inang yang membikin rumahnya terang sampai
ke langit, Yang kedua kami mendengar suara tivi dari dalam rumahnya.
Wah, insting penonton kami tergoda. Inang juga punya tivi sekarang.
hebat betul. Setengah tergoda kami merapat ke terasnya. Jangan-jangan
Bulu tangkis sudah selesai nih. Meski kami tak terlalu berminat dengan
pertandingan itu, tapi siapa tahu ada Aneka Ria Safari malam ini.
Sumpah mati saudara-saudari kami terloncat kaget begitu mengintip ke dalam rumah Inang. Sumpah, kalau kami jantungan bisa-bisa saat itu tiga bocah ini sudah pingsan di tempat. Tivinya menyala, pertandingan bulu tangkis masih berjalan, tapi ada yang membuat kami nyaris pingsan: lapangan itu berwarna hijau saudaraku, lapangan bulu tangkis dalam televisi itu berwarna hijau.
Kau
tahu artinya? Ya, sesuatu yang baru telah masuk di kampung kami. Tv
hitam-putih kami yang bersemut itu selama ini adalah penipu. sekarang
kami melihat warna. Betapa menakjubkan pertandingan bulu tangkis malam
itu yang kami tonton dari balik beranda.
Malam ini kampung kami akan heboh; Inang dan TV berwarna miliknya yang tak bersemut. Kau tahu siapa yang pertama membawa cerita itu ke kampung? Yup, kami bertiga, dengan dada berdegup melewati hamparan pepohonan sagu di kanan-kiri jalan. kami berjalan tanpa rasa takut, tapi degup mencengangkan, degup takjub yang sebentar lagi akan berputar dari mulut ke mulut.
Malam ini kampung kami akan heboh; Inang dan TV berwarna miliknya yang tak bersemut. Kau tahu siapa yang pertama membawa cerita itu ke kampung? Yup, kami bertiga, dengan dada berdegup melewati hamparan pepohonan sagu di kanan-kiri jalan. kami berjalan tanpa rasa takut, tapi degup mencengangkan, degup takjub yang sebentar lagi akan berputar dari mulut ke mulut.
2013

0 comments