#02 Kartu Pos Minggu 2

Kamisan S2 #02 - Kartu Pos: Kartu Pos yang Tak Pernah Sampai

13.54Unknown

“Saya akan menikah. Dua puluh hari dari tanggal di kartu pos ini, saya akan jadi miliknya seutuhnya. Saya tidak tahu apakah pantas saya memberitahu kamu tentang kabar ini. Tapi saya tetap ingin kamu tahu. Ini bukan hukuman, bukan juga hinaan. Saya hanya merasa kamu perlu tahu, entah mengapa.”

… adalah pesan yang terbaca pada kartu pos yang kuterima pagi ini. Aku langsung tergelak. Tawa miris demi menutupi pedih dan perihnya dada. Rasa sesak yang sempat hilang kini kembali tanpa permisi. Mengimpit debar jantung yang telah tersakiti.

Kubuka laci dalam lemari. Laci yang sudah terkunci selama delapan belas bulan terakhir. Laci berisi kenangan antara kita. Ada banyak benda di dalamnya. Barang-barang yang kauberikan, yang kubeli saat bersamamu, yang kita bagi bersama, dan lainnya. Terlalu banyak kenangan dalam satu laci itu. Kuambil satu kotak berisi surat dan kartu pos yang kudapat darimu.

“Sayangku Debbi. Tunggu aku. Ketika aku kembali nanti, akan kupakaikan cincin bermata di jari manismu ….”

Berkali-kali kubaca ulang pesan yang kutoreh pada kartu pos itu. Kartu pos yang tak pernah kukirimkan kepadamu. Pesan yang ingin kusampaikan langsung padamu. Aku masih ingat malam aku menuliskannya, saat itu aku sangat yakin kalau kau dan aku akan menjadi satu. Tak akan terpisahkan oleh apapun. Ternyata kala itu aku terlalu naïf. Terlalu percaya diri hingga tak melihat gangguan dari orang lain yang mampu membuatmu bahagia. Yang bisa selalu ada di sisimu.

Aku begitu marah dan kecewa ketika mengetahuinya. Kuputuskan untuk pergi sementara. Mengusir segala emosi dan sakit hati. Tak pernah kusadari kepergianku itu adalah tindakan fatal untuk kita. Kau telah mencoba membuatku bertahan dengan segala penjelasanmu. Berkali-kali kamu hubungi aku dan memohon maaf, memohon pengertian, memohon aku percaya kalau tak ada kalian di antara kita. Aku yang saat itu dengan sombongnya tak pedulikan rasa yang ada dalam diri, apalagi rasa yang kau miliki. Tetap tak peduli. Namun ketika ego luluh, amarah sirna dan rindu membuncah. Kuputuskan untuk kembali padamu. Tak pernah kusadari kalau semuanya sudah terlambat.

Di bawah kartu pos yang tak pernah kukirimkan itu adalah kartu pos terakhir yang kuterima darimu. Adalah pesan terakhir yang kau tuliskan padaku. Adalah pertanyaan yang tak pernah mampu kujawab karena penyesalan yang tak pantas kurasakan.

“Lalu apakah saya harus terus menunggu sampai kamu memutuskan layak-tidaknya-saya untuk kamu perjuangkan?”

Aku tertawa lagi. Ya, hanya tertawa yang bisa kulakukan sekarang. Menertawakan kebodohan diri sendiri. Seperti inilah aku. Terlalu pasrah dan tak benar-benar pernah ingin memperjuangan apapun juga. Tidak kau, tidak hidupku, tidak juga mimpiku. Beginilah aku. Karena kupercaya, semua ini adalah jalan yang telah Tuhan gariskan padaku.

Kuambil satu lembar kartu kosong yang belum pernah sempat kutulisi pesan untukmu. Ya, dulu aku selalu mempunyai stok beberapa kartu pos kosong untuk bertukar denganmu. Kuambil juga pena bertinta hitam, bukan biru, bukan merah, tapi hitam. Setidaknya bila kutulis dengan pena berwarna hitam, kau akan langsung tahu bahwa aku sedang baik-baik saja. Itu telah menjadi ciri komunikasi kita.

Aku berpikir sebentar untuk menyusun kata. Kalimat tepat yang tak akan mewakili rasa sebenarnya dalam diri ini sekarang. Kubuka tutup pena dan mulai menuliskan kata demi kata pada lembar kartu ucapan ini:

“Selamat atas pernikahanmu. Kudoakan selalu untuk kebahagiaanmu. Segala berkah dan rahmat Kuasa untukmu dan keluarga barumu nanti …. ”

Kuletakan pena di samping kartu ucapan selamat itu. Bersama kenangan kuletakan rasa dalam peti kayu beralas beludru biru. Kutatap sekali lagi, untuk terakhir kali, sebelum kurapatkan sahap dan memutar kunci. Jemariku menyapu nama yang terukir indah, sempurna tanpa cela, di permukaan tutupnya. Terima kasih, kata yang terucap dari diri. Kuangkat peti itu lalu menyusunnya dalam rak kaca di sudut hati. Tak ada lagi jalan kembali.

Pagi-pagi besok akan kupindahkan semua isi laci ke tempat yang lebih baik. Sebuah kardus mungkin, kotak plastik, peti besi, entah apa saja. Pagi-pagi besok juga aku akan kukirimkan padamu kartu ucapan terakhir itu. Itu janjiku demi bahagiamu. Semoga kau bahagia, bersama dia, sampai akhir hidupmu.

~ selesai ~
ma·he·rat /mahérat/ ark v pergi (melarikan diri); hilang;
#kbbi
(^karena keseringan kita merasa lebih baik daripada orang yang mencinta kita, sampai sesal datang dan segalanya terlambat, barulah kita sadar perbuatan *kenapa jadi nasehat?*)

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak