“Saya akan menikah. Dua puluh hari dari tanggal di kartu pos ini,
saya akan jadi miliknya seutuhnya. Saya tidak tahu apakah pantas saya
memberitahu kamu tentang kabar ini. Tapi saya tetap ingin kamu tahu. Ini
bukan hukuman, bukan juga hinaan. Saya hanya merasa kamu perlu tahu,
entah mengapa.”
… adalah pesan yang terbaca pada kartu pos yang kuterima pagi ini.
Aku langsung tergelak. Tawa miris demi menutupi pedih dan perihnya dada.
Rasa sesak yang sempat hilang kini kembali tanpa permisi. Mengimpit
debar jantung yang telah tersakiti.
Kubuka laci dalam lemari. Laci yang sudah terkunci selama delapan
belas bulan terakhir. Laci berisi kenangan antara kita. Ada banyak benda
di dalamnya. Barang-barang yang kauberikan, yang kubeli saat bersamamu,
yang kita bagi bersama, dan lainnya. Terlalu banyak kenangan dalam satu
laci itu. Kuambil satu kotak berisi surat dan kartu pos yang kudapat
darimu.
“Sayangku Debbi. Tunggu aku. Ketika aku kembali nanti, akan kupakaikan cincin bermata di jari manismu ….”
Berkali-kali kubaca ulang pesan yang kutoreh pada kartu pos itu.
Kartu pos yang tak pernah kukirimkan kepadamu. Pesan yang ingin
kusampaikan langsung padamu. Aku masih ingat malam aku menuliskannya,
saat itu aku sangat yakin kalau kau dan aku akan menjadi satu. Tak akan
terpisahkan oleh apapun. Ternyata kala itu aku terlalu naïf. Terlalu
percaya diri hingga tak melihat gangguan dari orang lain yang mampu
membuatmu bahagia. Yang bisa selalu ada di sisimu.
Aku begitu marah dan kecewa ketika mengetahuinya. Kuputuskan untuk
pergi sementara. Mengusir segala emosi dan sakit hati. Tak pernah
kusadari kepergianku itu adalah tindakan fatal untuk kita. Kau telah
mencoba membuatku bertahan dengan segala penjelasanmu. Berkali-kali kamu
hubungi aku dan memohon maaf, memohon pengertian, memohon aku percaya
kalau tak ada kalian di antara kita. Aku yang saat itu dengan sombongnya
tak pedulikan rasa yang ada dalam diri, apalagi rasa yang kau miliki.
Tetap tak peduli. Namun ketika ego luluh, amarah sirna dan rindu
membuncah. Kuputuskan untuk kembali padamu. Tak pernah kusadari kalau
semuanya sudah terlambat.
Di bawah kartu pos yang tak pernah kukirimkan itu adalah kartu pos
terakhir yang kuterima darimu. Adalah pesan terakhir yang kau tuliskan
padaku. Adalah pertanyaan yang tak pernah mampu kujawab karena
penyesalan yang tak pantas kurasakan.
“Lalu apakah saya harus terus menunggu sampai kamu memutuskan layak-tidaknya-saya untuk kamu perjuangkan?”
Aku tertawa lagi. Ya, hanya tertawa yang bisa kulakukan sekarang.
Menertawakan kebodohan diri sendiri. Seperti inilah aku. Terlalu pasrah
dan tak benar-benar pernah ingin memperjuangan apapun juga. Tidak kau,
tidak hidupku, tidak juga mimpiku. Beginilah aku. Karena kupercaya,
semua ini adalah jalan yang telah Tuhan gariskan padaku.
Kuambil satu lembar kartu kosong yang belum pernah sempat kutulisi
pesan untukmu. Ya, dulu aku selalu mempunyai stok beberapa kartu pos
kosong untuk bertukar denganmu. Kuambil juga pena bertinta hitam, bukan
biru, bukan merah, tapi hitam. Setidaknya bila kutulis dengan pena
berwarna hitam, kau akan langsung tahu bahwa aku sedang baik-baik saja.
Itu telah menjadi ciri komunikasi kita.
Aku berpikir sebentar untuk menyusun kata. Kalimat tepat yang tak
akan mewakili rasa sebenarnya dalam diri ini sekarang. Kubuka tutup pena
dan mulai menuliskan kata demi kata pada lembar kartu ucapan ini:
“Selamat atas pernikahanmu. Kudoakan selalu untuk kebahagiaanmu.
Segala berkah dan rahmat Kuasa untukmu dan keluarga barumu nanti …. ”
Kuletakan pena di samping kartu ucapan selamat itu. Bersama kenangan
kuletakan rasa dalam peti kayu beralas beludru biru. Kutatap sekali
lagi, untuk terakhir kali, sebelum kurapatkan sahap dan memutar kunci.
Jemariku menyapu nama yang terukir indah, sempurna tanpa cela, di
permukaan tutupnya. Terima kasih, kata yang terucap dari diri. Kuangkat
peti itu lalu menyusunnya dalam rak kaca di sudut hati. Tak ada lagi
jalan kembali.
Pagi-pagi besok akan kupindahkan semua isi laci ke tempat yang lebih
baik. Sebuah kardus mungkin, kotak plastik, peti besi, entah apa saja.
Pagi-pagi besok juga aku akan kukirimkan padamu kartu ucapan terakhir
itu. Itu janjiku demi bahagiamu. Semoga kau bahagia, bersama dia, sampai
akhir hidupmu.
ma·he·rat /mahérat/ ark v pergi (melarikan diri); hilang;(^karena keseringan kita merasa lebih baik daripada orang yang mencinta kita, sampai sesal datang dan segalanya terlambat, barulah kita sadar perbuatan *kenapa jadi nasehat?*)
#kbbi
0 comments