“Aku ga mungkin sama Adit, Dji. Aku ga yakin bisa menjalani hidup sama dia!”
Entah kenapa kata-kata yang beberapa tahun lalu pernah diucapkan oleh Dian, salah seorang sahabatku, hadir begitu saja ketika aku sedang menyaksikan prosesi Ijab Kabul antara dia dengan Adit. Hal itu membuatku tesenyum di dalam hati.
“Akhirnya menikah juga mereka.”.
————————————————————-
Salah satu hal yang menyenangkan ketika kita melanjutkan kuliah di kota yang terkenal sebagai kota mahasiswa adalah, kita sadar kalau kita tidak sendirian dan kita memerlukan orang lain untuk bertahan hidup. Puncak dari hal itu adalah saat Orientasi Mahasiswa Baru. Perlakuan tak menyenangkan dari senior kampus dengan dalih hukuman membuat Adit dan Dian, yang saat itu juga sedang asik menikmati panas matahari jam 12 siang di bawah tiang bendera, menjadi sahabat dekatku.
Adit yang aktif di klub basket kampus yang namanya lumayan terkenal hingga tingkat nasional menjadi pujaan sebagian besar para mahasiswi, yang kata Adit, gatal dan butuh belaian. Hal itu didukung dengan muka, yang kata Dian, lumayan ganteng dan badan tegap hasil dari menekuni olahraga basket sejak masih kecil. Tapi kecintaannya pada basket membuatnya jarang masuk kuliah dan membuatnya nyaris di drop out pada akhir semester 4. Untung saja aku dan Dian berusaha keras (benar-benar keras kalau kalian mau tahu karena memang kapasitas otaknya yang terbatas untuk hal-hal yang berbau akademik) membantunya untuk belajar hingga akhirnya dia menyelesaikan semester 4 dengan IPK 2.03. Hanya 0.03 lebih tinggi dari ancaman drop out yang mengharuskan menyelesaikan semester 4 dengan IPK minimal 2.0.
Dian seorang wanita yang ceria. Bagi kebanyakan orang dia adalah matahari. Dia seperti memiliki bakat untuk membuat suasana menjadi lebih ceria. Itu kenapa dia aktif berorganisasi. Tapi kepada orang-orang tertentu seperti aku, dan terkadang Adit, dia menunjukkan sisi lain dari kepribadiannya. Tidak sekali dua kali dia mengeluh tentang teman satu organisasinya yang membuatnya kesal atau hal-hal lainnya. Pernah aku bertanya tentang sifatnya yang lebih suka menyimpan masalah sendiri itu. Dengan entengnya dia menjawab, “Aku bukan tertutup kok, Dji. Aku hanya memilih kepada siapa aku akan bercerita dan bagian mana yang akan aku ceritakan.”. Aku mengangguk sok mengerti. “Wanita memang seperti itu..”, pikirku.
“TRING!”
Aku merogoh kantong mencari handphone karena mendengar ada notifikasi milikku yang menandakan bahwa ada pesan khusus. Loh kok tidak ada? Dan aku baru teringat kalau ternyata handphoneku itu aku tinggalkan di dalam lemari sanggar ketika tiba-tiba Reza berteriak dari seberang ruangan sambil tertawa, “Dji, ada sms dari Dian! Ciyeee…”.
Sempat-sempatnya itu anak ngegodain lagi, pikirku. “Lemparin donk, Za. Gue lagi ribet ngerapiin berkas nih!”.
“Dji, di mana? Dinner yuk? Di kost lagi ga ada orang nih. Long weekend gini pada mudik.”, aku membaca isi pesan Dian.
“Lagi beres-beres sanggar, Yan. Bentar lagi selesai kok. Setengah jam lagi aku jemput ya?”, balasku.
Selesai memencet tombol send, aku melompat dari tumpukan berkas administrasi milik sanggar teater kampus. Peralihan kepengurusan memang ribet, pikirku. “Za, gue tinggal ya. Gue mau dinner dulu.”, kataku sambil memasang muka songong minta ditendang. Dan begitu aku melihat Reza mengambil ancang-ancang untuk menendang, aku tahu kalau aku berhasil membuat dia kesal.
Aku berjalan setengah berlari ke parkiran kampus. Menyalakan motor, menyapa satpam, dan kemudian memacu motorku menuju kost yang terletak tidak jauh dari kampus. Tepat waktu adalah salah satu hal yang bisa aku banggakan dari diriku sendiri. Hal lainnya adalah, aku bisa menempatkan diri dengan baik. Itu kenapa aku menyempatkan diri pulang ke kost dulu untuk bersiap-siap. Mustahil aku dinner bareng Dian dengan dandanan anak teater yang terkenal urakan.
Setengah jam kemudian, aku sudah berada di depan Putri Kirana, wisma tempat Dian nge-kost. Ketika memarkir motor, aku melihat ibu kost Dian sedang memberi makan ikan-ikan peliharaannya. Aku menyapanya dan menyempatkan diri untuk mengobrol. Hampir tiga tahun Dian di sini membuat ibu kostnya hapal mukaku dan Adit. Membuat kami mendapat ijin khusus untuk main ke dalam kamar Dian, bahkan ijin untuk menumpang tidur di sana.
Tak berapa lama mengobrol, aku mencium wangi parfum yang biasa Dian pakai. Dan benar saja. Ketika aku menoleh, Dian sedang berjalan menuruni tangga. Dia memang memilih kamar yang berada di lantai 2. Lebih aman, katanya. Sekalian olah raga naik turun tangga juga, lanjutnya sambil tertawa. Begitu dia sampai di anak tangga terakhir, aku pamit kepada ibu kostnya.
“Mau makan di mana?, tanyaku sambil mengeluarkan motor.
“Mm.. Kamu ada ide, Dji? Aku rada bosan makan di tempat biasa.”.
“Nasi goreng sapi di Stadion Kridosono gimana? Udah lama juga kan kita ga kesana?”.
“Boleh deh. Sekalian main ke tempat Rian apa?”.
“Loh memangnya dia ga ikut Training Camp bareng Adit?”, tanyaku.
“Oh iya dia Training Camp ya. Yaudahlah, makan aja kalau begitu.”.
Seperti biasa, sepanjang perjalanan Dian tidak berhenti bercerita. Kesibukannya di organisasi kampus membuatnya selalu membawa cerita-cerita baru yang menarik. Aku hanya sesekali menanggapi karena memang tidak mudah mengendarai motor pada malam minggu seperti ini. Kepadatan jalanan di Yogya akhir-akhir ini nyaris menyaingi kepadatan jalanan di Jakarta.
Banyak orang, baik itu teman-teman Dian maupun teman-temanku, yang bingung dengan status hubungan kami berdua. Beberapa kali hangout bareng, mereka melihat kami sudah seperti sepasang kekasih yang mengerti satu sama lain. Saat pergi makan seperti ini contohnya. Begitu selesai memarkir motor, Dian segera bergegas mencari tempat duduk kosong dan aku akan memesan makanan. Itu semua terjadi tanpa perlu berbicara apa-apa. Aku sudah hapal apa yang akan dia pesan, dan dia tahu bahwa tugasnya mencari tempat duduk untuk kami.
“Nasi goreng sapi dua sama es jeruk dua, Pak. Nasi gorengnya pedas ya.”, kataku memesan.
Nasi goreng sapi Stadion Kridosono ini rasanya memang spesial hingga tidak pernah sepi meskipun tempatnya sederhana. Hanya sebuah gerobak untuk memasak, dan tikar-tikar lusuh yang digunakan sebagai alas duduk lesehan. Jadi jangan berharap bisa makan di atas meja kalau kalian ingin makan di sini. Hal itu berbanding terbalik dengan kendaraan-kendaraan yang parkir. Terlihat dari tukang parkir yang dari tadi sibuk mondar-mandir karena lahan yang biasa digunakan untuk parkiran mobil sudah penuh karena malam minggu selalu lebih ramai dari biasanya.
“Adit pulang kapan, Yan?”, tanyaku membuka obrolan setelah aku duduk nyaman di depannya. Salah satu kebiasaan Dian yang aku hapal, dia tidak bisa makan sendirian. Jadi dia berusaha selalu ada orang yang duduk di depannya ketika dia makan. Biar ga kerasa kalo sendirian, katanya suatu waktu.
“Ga tau juga aku. Katanya sih seminggu. Berarti harusnya Rabu udah pulang dia.”, balasnya sambil membalas pesan-pesan yang masuk di handphonenya.
Kalau dia bukan Dian, mungkin aku akan langsung pergi dari sini ketika aku melihat dia sibuk sendiri dengan handphonenya. Tapi 3 tahun mengenal Dian, aku tahu itu hanya sementara. Dia akan mengecek dan membalas pesan masuk ketika aku pergi memesan makanan dan dia mencari tempat duduk. Setelah membalas semuanya, dia akan membiarkan handphonenya berada dalam kondisi Flight Mode. Salah satu dari ratusan hal yang aku suka saat aku jalan bersama dia. Jadilah aku menunggu dia selesai membalas pesan-pesan yang masuk.
“Gimana kabar sanggar? Pemilihan ketua yang baru lancar kan?”, katanya tiba-tiba sembari memasukkan handphone ke dalam tas.
“Lancar kok. Tapi banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh ketua yang baru. Kepengurusan belum sepenuhnya dibuat sama dia. Ditambah dua bulan lagi kami akan mengadakan pentas untuk menyambut mahasiswa baru.”, jawabku. “HIMEN sendiri gimana? Bukannya kalian lagi mempersiapkan acara besar ya?”, tanyaku.
“Iya. Udah fix semua kok. Tinggal ngelobi buat tempat aja. Masih agak kemahalan tempatnya. Ga masuk ke budget yang udah ditentuin.”.
“……….”.
Kalau ada yang aku tidak suka saat bersamanya adalah suasana yang dengan tiba-tiba bisa berubah. Biasanya kalau sudah seperti ini, ada hal serius yang ingin dia bicarakan. Jadi aku membiarkannya mengatur kata-kata lebih dahulu sambil mengaduk es jeruk yang sudah datang.
“Dji, kamu ga kepikiran punya pacar?”, dia tiba-tiba bertanya. Membuatku nyaris tersedak karena saat itu aku sedang menyeruput minuman.
Masalah hati adalah salah satu masalah yang nyaris tidak pernah disinggung saat kami bersama. Bahkan seingatku, Dian hanya pernah sekali membicarakan masalah hatinya. Itu terjadi saat semester 1, saat dia dan pacarnya putus karena mereka harus kuliah di kota yang berbeda. Sedangkan aku nyaris tidak pernah punya masalah hati. Bahkan salah satu teman teaterku pernah mengeluarkan celetukan, “Itu karena kamu belum pernah jatuh cinta, Dji.”.
Aku bukannya tidak pernah jatuh cinta. Aku hanya takut saat aku jatuh cinta dan aku mengungkapkannya, aku menghancurkan semua hubungan yang sudah terjalin. Pengecut memang. Tapi itulah yang terjadi.
“Sebenarnya aku mau kamu jadi pacarku, Yan.”, kataku. Dalam hati tentu saja. Seperti yang aku bilang, aku terlalu pengecut.
“Saat ini sih belum. Kenapa memangnya?”.
“Kamu ga kesepian memangnya? Ga pengen ada yang perhatian ke kamu?”.
“Terkadang iya. Tapi beruntungnya aku bisa mengatasi semuanya. Aku punya kamu sama Adit. Aku masih sesekali main ke game center bareng temen-temenku. Dan makan sendirian ga ada teman belum menjadi sebuah masalah besar yang harus aku pikirkan saat ini.”.
“Sial! Ngeledek ya kamu?”, katanya sambil tertawa dan mengambil kesempatan untuk mencubit tanganku saat dia memberikan sendok yang sudah di lap tissue olehnya. Kebiasaannya yang lain. Kalau kami sedang makan makanan yang bisa aku lakukan dengan menggunakan tangan tanpa sendok, dia akan menarik tanganku, memaksa untuk mengelap tanganku lebih dulu dengan tissue basah yang selalu tersedia di dalam tasnya. Makanya banyak orang yang bingung akan hubungan kami berdua.
“Kamu sendiri gimana? Ng.. Lebih tepatnya sih, kamu sama Adit gimana?”, tanyaku.
Dia terdiam cukup lama.
“Entahlah, Dji. Kalau aku bilang aku ga suka dia berarti aku bohong. Tapi aku juga ga bisa sama dia.”.
“Kenapa memangnya?”, tanyaku sambil mengunyah santai. Saat-saat seperti inilah aku bersyukur aku rutin ikut latihan teater.
“Aku ga tahu, Dji. Tapi anggaplah seperti ini. Aku tidak yakin aku bisa menjalani masa depan bersamanya.”, katany lugas. Tanda bahwa aku harus berhenti bertanya tentang masalah ini.
Aku mengalah untuk mencari tahu lebih dalam.
—————————————————————-
Pikiranku kembali ke acara prosesi Ijab Kabul ini. Adit tampak bahagia. Dengan mantap dia mengikuti ucapan penghulu. Sedangkan Dian, entah kenapa mukanya tampak sedih.
“Ada apa denganmu, Yan? Bukankah seharusnya kamu bahagia hari ini?”, kataku dalam hati.
Tiba-tiba aku melihat Mbak Dina, kakaknya Dian, berdiri sendiri memandangi adiknya dengan sedih dari bagian luar kerumunan orang yang saat ini sedang sibuk melihat prosesi Ijab Kabul. Aku bergerak menghampirinya.
“Mbak Din, apa kabar?”, tanyaku basa-basi.
“Eh, oh, Adji ternyata. Baik, Dji. Kapan kamu datang?”.
“Baru tadi pagi kok. Maaf ga bisa memenuhi permintaan buat jadi pengiring penganten. Aku baru sampai Malang tadi pagi, Mbak.”.
“Iya ga masalah kok.”.
Dan dia kembali memandangi Dian dengan sedih.
“Mbak, maaf kalau lancang. Ada apa sebenarnya sama Dian? Bukankah seharusnya dia bahagia?”, aku bertanya tidak tahan.
Mbak Dina terlihat kaget. Setelah sesaat menghela nafas, dia mengajakku keluar dari masjid tempat dimana Ijab Kabul berlangsung.
“Dian menikah karena terpaksa, Dji.”, katanya setelah mencari tempat duduk yang nyaman.
“Terpaksa? Jangan bilang karena …. “, aku kaget dan tidak sanggup menyelesaikan kalimatku.
“Bukan. Bukan karena kecelakaan atau bagaimana. Kamu mengenal Adit, kan? Meskipun dari luar dia tampak kurang ajar, tapi dia benar-benar menjaga orang-orang yang dia sayang.”.
“Oh syukurlah. Aku kira karena kecelakaan.”, jawabku.
Adit memang orang seperti yang Mbak Dina ceritakan. Dia memang tampak seperti tipikal cowok kurang ajar yang senang mempermainkan wanita. Tapi sebenarnya tidak begitu. Dia memang sering ganti-ganti pacar. Tapi dia benar-benar menjaga mereka semua. Sayang sifat cepat bosannya itu membuatnya mendapat cap jelek dari orang-orang.
“Kalau begitu kenapa, Mbak?”, tanyaku lagi.
“Karena umur. Dan tuntutan Bapak Ibu juga sebenarnya. Beliau khawatir kalau Dian akan sendiri sampai tua kalau dia tidak menikah sekarang. Anak itu menjadi terlalu mandiri. Apa-apa dikerjakan sendiri. Beliau takut Dian akan jadi seorang wanita yang tidak butuh pria nantinya. Makanya dia dipaksa untuk menikah buru-buru. Meski dengan seseorang yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, si Adit.”.
Aku tersenyum miris mendengar penjelasan dari Mbak Dina.
“Padahal sebenarnya dia menunggu kamu, Dji.”, sambungnya sambil tersenyum sedih.
Dan seketika senyum miris yang menghias bibirku tadi menghilang.
Original source
0 comments