“Ada hal yang begitu cepat memelukmu tanpa sempat kau mengelak. Adalah kenangan.” -dhilayaumil-
Saat sedang sendirian yang benar-benar sendiri, sepi, dan kosong. Ada hal yang begitu cepat memelukmu, tanpa sempat kau mengelak.
Aku menyebutnya kenangan yang tengah berlari-lari di kepala.
Kenangan adalah hal yang sangat ingin kamu munculkan atau sangat tidak ingin kamu munculkan.
Aku sedang mengingat Ibu ketika di saat bersamaan aku juga mengingatmu. Ibu adalah hal yang selalu ingin kumunculkan. Dan kamu, adalah hal yang setidaknya saat ini sangat tidak ingin kumunculkan. Betapa alur kenangan itu kadang begitu rumit dan unik.
Aku sedang duduk sendirian di kamar, lalu tiba-tiba merasa lapar. Aku lalu teringat masakan yang hampir tiap pagi dibuatkan oleh Ibu. Telur dadar. Kamu harus tahu, telur dadar buatan Ibu sangat enak. Kamu kelak mungkin akan menyesal karena tak sempat mencicipinya.
Lalu kenapa kamu tiba-tiba muncul saat aku mengingat telur dadar terenak milik Ibu itu? Padahal tak sedikitpun kita pernah membicarakan tentang telur dadar, dulu.
Beberapa hari lalu aku menemukan foto yang kau pajang di etalase akun media sosialmu. Di foto itu kau bersama seorang perempuan tengah duduk di meja makan dengan masing-masing piring berisi telur dadar di hadapan kalian. Tiba-tiba aku merasa sedih.
Bukan. Bukan karena pada akhirnya kamu memilih perempuan itu, dan bukan memilihku. Hanya saja aku sedih, sebab di foto itu kau tersenyum lepas ke arahnya. Aku sedang membayangkan kau sedang tersenyum padaku saat itu–hal yang selama tiga tahun kita berhubungan dalam jarak, tak pernah kudapati secara langsung. Hei, bahkan kita tak punya foto berdua bukan?
Dalam hubungan jarak jauh, hal-hal kecil bagi orang lain akan menjadi sangat istimewa bagi pasangan yang mengalaminya. Tak terkecuali aku waktu itu. Kau tahu? Aku pernah membayangkan memasakkanmu telur dadar untuk sarapan pagimu, satu waktu saat aku berkunjung ke kotamu. Ah, kau pasti tak tahu. Sebab memang itu angan-anganku dulu. Sesederhana itu.
Suatu waktu saat aku berkunjung ke kotamu. Aku bermaksud memasakkanmu telur dadar untuk sarapan pagi kita. Saat itu kubayangkan kau, mengambilnya sambil membayar ucapan terima kasih dengan senyum lepasmu, persis seperti yang ada di foto itu. Lalu, setelah kau sarapan, di meja makan kita akan berfoto berdua dengan piring yang sudah kosong. Aku tak akan menanyakan apakah telur dadarku enak atau tidak, sebab kutahu tak ada yang lebih enak dari telur dadar Ibu.
Sesederhana itu bayanganku, yang sampai sekarang tak pernah terjadi.
Kini aku berada di dapur. Ingin membuat telur dadar untuk diri sendiri. Aku harap perempuanmu sekarang tak pernah seperti aku; ‘hanya’ membayangkan membuatkanmu telur dadar untuk sarapanmu kelak.
**
dhilayaumil
0 comments