Cikiewahab Minggu 4

Kamisan S3 #4: Kembang Api

15.34Unknown


  

Untuk yang kesekian kali, halaman penginapan yang luas dipakai oleh salah satu tamu penginapan, sepasang pengantin yang datang merayakan pernikahan mereka. Gadis pemilik penginapan itu memandang ke arah jalan, tangannya tengah membersihkan bangku dan ia melihat pohon-pohon akasia yang berdiri di sepanjang jalan meliuk-liuk saat angin berhembus. Dan dari atas bukit, burung-burung sikatan terbang lincah dan bertengger di dahan yang kecil.
Cuaca tentu saja cerah sore itu. Petugas kebersihan sudah menyiapkan beberapa kantong dan pengamanan saat pesta kembang api nanti malam. pegawai penginapan juga sudah menyiapkan makanan tambahan jika tamu selain keluarga pengantin turut menikmati hidangan.
Gadis itu sekali lagi mendesah saat melihat sepasang kekasih itu berpelukan mesra saat memasuki penginapan. Ia tidak menyadari kalau Han tengah memperhatikan apa yang ia lihat. Ia terkejut saat Han menepuk pundaknya dari belakang.
“Kau melihat apa?”
“Ng…tidak ada. Aku menyusun kursi-kursi ini untuk pesta nanti malam.”
“Pesta besar? Aku boleh ikut ya?”
“Kau ini. Tentu saja boleh. Kami juga punya banyak makanan. Para tamu lain juga pasti akan ikut. Kau tidak mau membantuku?” Tanya gadis itu.
Han mencibir dan menarik ujung rambut gadis itu.
“Yara…Yara… sudah sore begini. Kau pergilah mandi.”
“Iya. Kau benar.” Gadis itu tertawa dan bergegas masuk ke dalam penginapan.
***
Malamnya, lampu hiasan sudah dinyalakan. Makanan tertata rapi di atas meja dan sepasang pengantin baru duduk dengan mesra. Gadis itu berdiri di samping Nana, salah satu karyawan penginapan yang bertugas menyalakan kembang api. Yara, gadis itu sengaja tidak duduk di samping Han sebab ia kesal.
Satu jam sebelumnya, ia tidak sengaja mendengar percakapan Han dengan seseorang melalui telepon genggam. Yara mendengar nama Antari disebut-sebut Han.
Para tamu menikmati hidangan dan pentas musik yang dibawa oleh keluarga pengantin itu, sementara Yara tersenyum-senyum melihat kerlap kerlip kembang api di langit malam. setelah takjub beberapa saat, ia menyadari Han sudah berdiri di sampingnya.
“Aku ingin bicara padamu.” Han tersenyum. Gadis itu menelan ludah, perasaan kesalnya berangsur sirna. Ia mengikuti Han duduk di salah satu bangku dan tetap mengamati orang-orang yang larut dalam kebahagiaan.
“Besok aku akan ke pergi.”
Mendengar ucapan Han seperti itu, Yara terdiam. Dadanya sesak. Ia tahu hal itu akan terjadi juga. Han bukanlah miliknya. Yara melihat bagaimana Nana membakar kembang api lagi dan bersinar-sinar di bola matanya.
“Antari datang ke rumah ibuku.”
“Benarkah?” Yara mendengus kesal. “Kau harus kembali.”
“Kau tidak apa-apa?”
Yara memaksa bibirnya tersenyum.
“Aku tahu ini pasti terjadi. Tempat ini cuma penginapan. Setiap orang bisa datang dan pergi sesuka hati. Jika kau merindukanku, kau bakar saja kembang api yang di jual di pasaran.”
Han tertawa, ucapan Yara terdengar lucu. Mereka menengadah dan melihat kembang api meledak secara bersamaan.
“Pengantin itu bahagia sekali ya. Aku berharap kau dan Antari juga bisa bersama lagi dan bahagia seperti mereka.”
“Aku tidak tahu. Aku yakin akan kembali ke tempat ini dan menikmati masakanmu atau menonton pertunjukan kembang api Nana.”
“Kau akan membuat ibuku jantungan kalau begitu. Tapi aku pasti akan merindukanmu, Han.”
Han menghela napas. Digenggamnya jemari Yara dan ia berkata dengan setengah berbisik. “Aku juga pasti merindukanmu. Berjanjilah untuk selalu ramah padaku saat aku datang. Aku akan menyiapkan hadiah untukmu.”
“Benarkah?” setengah tak percaya, Yara ingin menumpahkan airmatanya. Tapi ia terus memaksa bibirnya tersenyum. Letupan kembang api masih terdengar, tetapi letupan dalam hatinya semakin padam. Jika ia memastikan Han untuk pergi ke dalam pelukan Antari, ia akan merelakan semuanya terjadi dengan berat hati.
Malam itu, saat pesta selesai. Tanpa seorangpun tahu, Yara menangis di kamarnya. Han telah meledakkan hatinya selama berminggu-minggu. Kelak jika ia bisa menyusuk kepingan hatinya kembali, ia tidak ingin semua hanya indah dalam lima menit saja, persis seperti pijar kembang api yang tidak abadi.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak