Kilatan
cahaya dan bahana di udara membuat jemarinya berhenti mengetik. Dari
sela-sela tirai jendela ia dapat melihat pijaran api di langit malam. Ia
bangkit dari kursi,meninggalkan kursor yang berkedip di layar serta
buku-buku referensi tugasnya,
dan berjalan ke jendela. Tangan kanannya menggenggam gagang cangkir teh chamomile racikannya sendiri. Dengan tangan kirinya, ia singkap
tirai penghalang pandang ke dunia luar.
Pijaran api
berjuta warna, menghias langit malam sesaat, membentuk formasi-formasi yang
membuat decak kagum, untuk kemudian menghilang ditelan malam. Atau menjadi
bagian dari malam itu sendiri. Tapi kurang dari sedetik kemudian, pijaran yang
lain menyusul. Ikut serta juga gemuruh khas kembang api yang ditembakkan ke
langit. Silih berganti.
Ia bersandar di
kisi jendela. Lidahnya mengecap teh hangat sementara matanya mengagumi fenomena
yang tidak terjadi setiap malam ini. Sementara, pikirannya menyelinap masuk
dalam kapsul waktu, membawanya ke suatu malam di Pulau Dewata, empat belas
tahun silam, ketika ia berumur enam tahun.
Bali, September 2001
“Luna, Bagas,
jangan main terlalu jauh,” suara Mama mengingatkan. Malam memang masih cukup
pagi. Walau sebenarnya sudah hampir larut untuk anak-anak seumurnya dan Bagas,
kakak laki-lakinya yang terpaut dua tahun darinya. Tapi malam itu malam yang
berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam pembukaan sebuah acara festival
makanan internasional di Bali, memang bukan hanya menarik bagi orang-orang dari
berbagai daerah di Indonesia, tapi juga magnet kuat bagi orang-orang berkebangsaan
lain. Dan, bagi Luna dan Bagas, tidak setiap hari mereka dapat mengecap dan
menikmati hidangan internasional, seperti Selasa malam minggu kedua seperti
ini.
Dengan kembang
api kecil di tangan, Luna, Bagas, Mama, dan semua yang hadir di salah satu
pantai tersohor di Bali, tenggelam dalam kegembiraan yang akan terus melarut.
Pukul sembilan malam waktu Bali, adalah puncak acara tahunan itu. Langit Pulau
Dewata akan bermandikan jutaan pijaran cahaya api aneka warna.
“Mama
kenapa?”
tanya Bagas yang tiba-tiba melihat mamanya memegang dada kirinya sembari
mencari tempat untuk berpegang. Mama berusaha tenang ditemani oleh Luna
sementara Bagas mencari minum. Saat itu lima belas menit menjelang pesta
kembang api akbar itu mulai. Mama bahkan tidak tahu ada apa dengan
dirinya.
Tiba-tiba ia teringat suaminya, ayah Luna dan Bagas, dan seketika
dadanya
terasa nyeri. Seucap doa lahir dari hatinya, untuk suami yang saat ini
berada
ribuan kilometer dari pulau ini.
Mama tersenyum
pada kedua buah hatinya, memberikan keteduhan bagi keduanya. Tiba-tiba
langit
bergemuruh di atas mereka. Langit merah bagai terbakar. Menerangi darat
dan laut. Tapi seketika merah berubah menjadi biru, kuning, hijau, dan
sekian
warna lain. Decak kagum sontak keluar dari setiap bibir dan binar mata
tidak
dapat membohongi siapapun yang mengalami fenomena malam itu. Begitu juga
Luna dan Bagas. Sukacita mereka malam itu tergambar jelas dalam mata
mereka.
“Kalau Papa ada
di sini,” celetuk Luna tiba-tiba. Mama langsung merangkulnya juga Bagas. Sesaat
di matanya muncul wajah Papa. Suami yang dikasihinya.
New York, September 2001
Jerit tangis dan
kengerian mengawali aktifitas kota New York Selasa pagi itu. Gemuruhnya menggoncang
langit. Semua berlarian. Semua terkesiap. Sirene pemadam kebakaran dan ambulans
meraung meminta jalan. Semua saluran televisi nasional dan internasional
menghentikan acara mereka dan menggantinya dengan breaking news yang membuat dunia bergeming dalam jutaan tanda tanya
dan reaksi.
Ayah dari Luna dan Bagas dipastikan berada di pesawat United
Airlines flight 175 yang bertolak dari Boston menuju Los Angeles. Pesawat
yang dibajak oleh teroris dan menabarak South
Tower dari World Tower Center pada
pukul sembilan lewat tiga menit waktu setempat.*
Jakarta, Maret 2015
Kapsul waktu
telah mengembalikan pikirannya ke dunia ia berpijak. Pesta kembang api yang
mengalihkannya dari tugasnya telah usai. Teh chamomile di tangan kanannya berangsur dingin. Sesuatu yang hangat
mengalir di pipi kirinya, menyusul di pipi kanan. Dipejamkannya mata. Sesaat ia
membiarkan dirinya merasakan kepedihan itu lagi. Untuk sesaat.
***
*dari berbagai sumber
Yola M. Caecenary
Kamisan #4 Session 3 - Deadline: 12 Maret 2015
Foto tema tulisan
0 comments