Minggu 4

Kamisan S3 #4: Gemuruh di Langit Pulau Dewata dan New York

15.29Unknown

Kilatan cahaya dan bahana di udara membuat jemarinya berhenti mengetik. Dari sela-sela tirai jendela ia dapat melihat pijaran api di langit malam. Ia bangkit dari kursi,meninggalkan kursor yang berkedip di layar serta buku-buku referensi tugasnya, dan berjalan ke jendela. Tangan kanannya menggenggam gagang cangkir teh chamomile racikannya sendiri. Dengan tangan kirinya, ia singkap tirai penghalang pandang ke dunia luar.
Pijaran api berjuta warna, menghias langit malam sesaat, membentuk formasi-formasi yang membuat decak kagum, untuk kemudian menghilang ditelan malam. Atau menjadi bagian dari malam itu sendiri. Tapi kurang dari sedetik kemudian, pijaran yang lain menyusul. Ikut serta juga gemuruh khas kembang api yang ditembakkan ke langit. Silih berganti.

Ia bersandar di kisi jendela. Lidahnya mengecap teh hangat sementara matanya mengagumi fenomena yang tidak terjadi setiap malam ini. Sementara, pikirannya menyelinap masuk dalam kapsul waktu, membawanya ke suatu malam di Pulau Dewata, empat belas tahun silam, ketika ia berumur enam tahun.

Bali, September 2001
“Luna, Bagas, jangan main terlalu jauh,” suara Mama mengingatkan. Malam memang masih cukup pagi. Walau sebenarnya sudah hampir larut untuk anak-anak seumurnya dan Bagas, kakak laki-lakinya yang terpaut dua tahun darinya. Tapi malam itu malam yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam pembukaan sebuah acara festival makanan internasional di Bali, memang bukan hanya menarik bagi orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia, tapi juga magnet kuat bagi orang-orang berkebangsaan lain. Dan, bagi Luna dan Bagas, tidak setiap hari mereka dapat mengecap dan menikmati hidangan internasional, seperti Selasa malam minggu kedua seperti ini.

Dengan kembang api kecil di tangan, Luna, Bagas, Mama, dan semua yang hadir di salah satu pantai tersohor di Bali, tenggelam dalam kegembiraan yang akan terus melarut. Pukul sembilan malam waktu Bali, adalah puncak acara tahunan itu. Langit Pulau Dewata akan bermandikan jutaan pijaran cahaya api aneka warna.

“Mama kenapa?” tanya Bagas yang tiba-tiba melihat mamanya memegang dada kirinya sembari mencari tempat untuk berpegang. Mama berusaha tenang ditemani oleh Luna sementara Bagas mencari minum. Saat itu lima belas menit menjelang pesta kembang api akbar itu mulai. Mama bahkan tidak tahu ada apa dengan dirinya. Tiba-tiba ia teringat suaminya, ayah Luna dan Bagas, dan seketika dadanya terasa nyeri. Seucap doa lahir dari hatinya, untuk suami yang saat ini berada ribuan kilometer dari pulau ini.

Mama tersenyum pada kedua buah hatinya, memberikan keteduhan bagi keduanya. Tiba-tiba langit bergemuruh di atas mereka. Langit merah bagai terbakar. Menerangi darat dan laut. Tapi seketika merah berubah menjadi biru, kuning, hijau, dan sekian warna lain. Decak kagum sontak keluar dari setiap bibir dan binar mata tidak dapat membohongi siapapun yang mengalami fenomena malam itu. Begitu juga Luna dan Bagas. Sukacita mereka malam itu tergambar jelas dalam mata mereka.

“Kalau Papa ada di sini,” celetuk Luna tiba-tiba. Mama langsung merangkulnya juga Bagas. Sesaat di matanya muncul wajah Papa. Suami yang dikasihinya.

New York, September 2001
Jerit tangis dan kengerian mengawali aktifitas kota New York Selasa pagi itu. Gemuruhnya menggoncang langit. Semua berlarian. Semua terkesiap. Sirene pemadam kebakaran dan ambulans meraung meminta jalan. Semua saluran televisi nasional dan internasional menghentikan acara mereka dan menggantinya dengan breaking news yang membuat dunia bergeming dalam jutaan tanda tanya dan reaksi.

Ayah dari Luna dan Bagas dipastikan berada di pesawat United Airlines flight 175 yang bertolak dari Boston menuju Los Angeles. Pesawat yang dibajak oleh teroris dan menabarak South Tower dari World Tower Center pada pukul sembilan lewat tiga menit waktu setempat.*

Jakarta, Maret 2015
Kapsul waktu telah mengembalikan pikirannya ke dunia ia berpijak. Pesta kembang api yang mengalihkannya dari tugasnya telah usai. Teh chamomile di tangan kanannya berangsur dingin. Sesuatu yang hangat mengalir di pipi kirinya, menyusul di pipi kanan. Dipejamkannya mata. Sesaat ia membiarkan dirinya merasakan kepedihan itu lagi. Untuk sesaat.

***

*dari berbagai sumber
Yola M. Caecenary
Kamisan #4 Session 3 - Deadline: 12 Maret 2015

Foto tema tulisan
image

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak