Mencintai diam-diam harus siap terluka diam-diam.
Perempuan itu berdiri terpaku sambil memegang sebuah payung berwarna
kelam di bawah derai hujan yang begitu lebat. Ia menatap lamat-lamat
jendela cafe dengan bangunan-bangunan tua di kanan dan kirinya. Perlahan
dingin mulai merayap di lapisan kulitnya dan menghasilkan suara yang
tercekat dan isak yang tertahan.
***
Ia menatap lekat-lekat lelaki yang duduk di hadapannya. Lelaki itu
sendiri sedang menatap lekat-lekat laptop di depannya, hingga tidak
menyadari Rain sedang mengamatinya. Rambut hitam pekat dan alis matanya
yang tebal, membuat mata lelaki itu, yang berwarna coklat muda, terlihat
sangat hangat.
“Zein, kau sedang apa?” Tanya Rain.
“Chatting,” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
“Sama siapa?” Rain menggeser kursi ke sebelahnya. “Online dating?”
Rain terbahak ketika melihat layar laptop Zein. “Kamu sedang mencari
jodoh, Zein?” tanya Rain sambil berusaha menghentikan tawanya.
“Jodoh itu bonus. Aku hanya menambah teman saja. Syukur-syukur kalau
berjodoh. Kau harus coba, mungkin kau bisa dapat teman selain aku.”
Ledek Zein sambil memperlihatkan senyuman sinisnya.
***
“Rain, kau masih ingat percakapan kita bulan lalu di cafe ini?” tanya Zein.
“Zein, kau menghabiskan setengah hari dari kehidupanmu bersamaku di cafe
ini, bisakah kau lebih spesifik, percakapan apa yang kau maksud?” Rain
bertanya balik dengan acuh sambil membolak-balik halaman majalah yang
menutupi wajahnya.
“Percakapan soal kencan online.” Jawab Rain singkat. Rain menurunkan majalahnya sedikit dan memicingkan matanya ke arah Zein.
“Iya. Pasti kau merasa situs kencan itu ide yang bodoh.” Ejek Rain.
“Tidak. Aku ingin meminta pendapatmu soal Naima. Dia ingin bertemu
denganku” Zein menggeser laptop dan kursinya ke sisi Rain. Layar
komputernya menampilkan foto seorang perempuan cantik berambut ikal
sebahu dengan senyum yang amat manis.
“Kau yakin itu foto aslinya? Bagaimana kalau dia ternyata nenek-nenek
berumur sembilan puluh tahun??” Rain masih melihat-lihat laman profil
Naima di laptop Zein.
Zein mengacuhkan pertanyaan Rain. “Aku akan mengunjunginya akhir
pekan ini. Kota tempat tinggalnya sekitar lima jam perjalanan dari sini,
aku bisa menempuh perjalanan dengan bis, tapi pasti akan melelahkan…”
Rain tidak bisa mendengar apa yang sedang dikatakan Zein. Tiba-tiba
ia merasakan ruangan di sekitarnya menyempit, sekelilingnya bergerak
dengan sangat lamban dan begitu senyap. Ada riak kecil dalam dirinya
yang menimbulkan sensasi nyeri yang begitu hebat.
***
Rain sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan Zein, yang baru saja
mengakhiri hubungannya dengan Naima karena Naima menduakan Zein selama
mereka terpisah. Zein menyalahkan jarak yang ada diantara mereka.
Rain justru bersyukur jarak itu ada diantara mereka. Sejak
pertemuannya dengan Naima, Zein selalu membicarakan Naima. Tiap akhir
pekan, ia selalu pergi menemui Naima, beberapa kali ia membatalkan janji
karena ada janji chatting dengan Naima. Komunikasinya dengan
Zein pun kini lebih sering hanya berupa sebatas pesan teks melalui
telepon genggam atau sekedar pertemuan-pertemuan singkat yang semuanya
pasti akan membahas soal Naima.
Tapi kini Zein dan Naima sudah tinggal sejarah. Rain tidak sabar
untuk bertemu dengan Zein. Ia sudah mempercantik diri sejak siang tadi.
Ia mengenakan atasan tank-top berwarna tosca dan rok hitam
dengan motif bunga-bunga berwarna senada dengan atasannya. Ia merapihkan
dandanannya di depan cermin ketika dering telepon membuatnya terkaget.
“Halo, Rain.” Sapa suara di ujung sana.
“Ya, ini siapa?” jawab Rain.
“Aku Naima. Bisa aku bicara sebentar denganmu?” Rain terkejut saat penelpon itu menyebutkan namanya.
“Maaf aku menelponmu seperti ini. Aku tidak tahu siapa lagi yang
harus kuhubungi. Zein tidak mau mengangkat telepon dariku. Dia salah
paham…” Naima masih terus berbicara, sesekali ia terdengar seperti
menangis. Sedangkan Rain masih saja diam membisu. Ia mencoba mereka-reka
kenapa Naima menelponnya.
“Aku cemburu.” Ujar Naima.
“Cemburu? Bukannya kau yang menduakan Zein?” tanya Rain ketus.
“Aku cemburu kepadamu karena dia selalu membicarakanmu. Jadi aku
meminta sepupuku untuk bersandiwara sebagai kekasihku. Sekarang Zein
benar-benar marah dan… Rain, aku tidak ingin kehilangan dia. Apa yang
harus aku lakukan?” suara tangis Naima benar-benar meluluhkan hati Rain.
“Kau harus menjelaskannya kepada Zein. Ia pasti akan mendengarkanmu.” Saran Rain.
“Kau tahu dimana aku bisa bertemu dengannya? Dia tidak mengangkat teleponku.” Naima terdengar jauh lebih tenang sekarang.
“Coba cari di Cafe Jingga, di Kota Lama. Tidak sulit menemukan cafe
itu. Cari saja yang bangunan semi modern berwarna jingga yang
dikelilingi gedung-gedung tua.” Rain menghela napas. Sesak.
“Terima kasih, Rain. Aku berutang padamu.” Naima mematikan telepon.
Rain menghentikan langkahnya. Ia memastikan lagi apa yang sedang dia
lihat dari seberang cafe tempat ia dan Zein biasa bertemu. Naima ada di
cafe itu. Ia berdiri di hadapan Zein, mereka sedang berbicara dengan
sangat intens. Rain memejamkan matanya, dengan harapan semua itu hanya
bayangannya saja, bahwa Naima tidak benar-benar ada di sana. Saat ia
membuka matanya, Rain melihat mereka berpelukan.
**
Rain berdiri terpaku sambil memegang sebuah payung berwarna kelam di
bawah derai hujan yang begitu lebat. Ia menatap lamat-lamat jendela cafe
dengan bangunan-bangunan tua di kanan dan kirinya. Perlahan dingin
mulai merayap di lapisan kulitnya dan menghasilkan suara yang tercekat
dan isak yang tertahan.
Rasa nyeri itu muncul lagi ke permukaan. Ia mencoba untuk tidak
menangis. Tapi terlambat, bulir-bulir airmata sudah menggantung di
pelupuknya dan tanpa aba-aba mulai berjatuhan satu per satu.

0 comments