Minggu 1

Kamisan S3 #1: Season 3: Standing in the Rain

15.00Unknown

Standing in the Rain 

Mencintai diam-diam harus siap terluka diam-diam.

Perempuan itu berdiri terpaku sambil memegang sebuah payung berwarna kelam di bawah derai hujan yang begitu lebat. Ia menatap lamat-lamat jendela cafe dengan bangunan-bangunan tua di kanan dan kirinya. Perlahan dingin mulai merayap di lapisan kulitnya dan menghasilkan suara yang tercekat dan isak yang tertahan.

***

Ia menatap lekat-lekat lelaki yang duduk di hadapannya. Lelaki itu sendiri sedang menatap lekat-lekat laptop di depannya, hingga tidak menyadari Rain sedang mengamatinya. Rambut hitam pekat dan alis matanya yang tebal, membuat mata lelaki itu, yang berwarna coklat muda, terlihat sangat hangat.

“Zein, kau sedang apa?” Tanya Rain.
Chatting,” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
“Sama siapa?” Rain menggeser kursi ke sebelahnya. “Online dating?” Rain terbahak ketika melihat layar laptop Zein. “Kamu sedang mencari jodoh, Zein?” tanya Rain sambil berusaha menghentikan tawanya.
“Jodoh itu bonus. Aku hanya menambah teman saja. Syukur-syukur kalau berjodoh. Kau harus coba, mungkin kau bisa dapat teman selain aku.” Ledek Zein sambil memperlihatkan senyuman sinisnya.

***

“Rain, kau masih ingat percakapan kita bulan lalu di cafe ini?” tanya Zein.
“Zein, kau menghabiskan setengah hari dari kehidupanmu bersamaku di cafe ini, bisakah kau lebih spesifik, percakapan apa yang kau maksud?” Rain bertanya balik dengan acuh sambil membolak-balik halaman majalah yang menutupi wajahnya.

“Percakapan soal kencan online.” Jawab Rain singkat. Rain menurunkan majalahnya sedikit dan memicingkan matanya ke arah Zein.
“Iya. Pasti kau merasa situs kencan itu ide yang bodoh.” Ejek Rain.
“Tidak. Aku ingin meminta pendapatmu soal Naima. Dia ingin bertemu denganku” Zein menggeser laptop dan kursinya ke sisi Rain. Layar komputernya menampilkan foto seorang perempuan cantik berambut ikal sebahu dengan senyum yang amat manis.
“Kau yakin itu foto aslinya? Bagaimana kalau dia ternyata nenek-nenek berumur sembilan puluh tahun??” Rain masih melihat-lihat laman profil Naima di laptop Zein.
Zein mengacuhkan pertanyaan Rain. “Aku akan mengunjunginya akhir pekan ini. Kota tempat tinggalnya sekitar lima jam perjalanan dari sini, aku bisa menempuh perjalanan dengan bis, tapi pasti akan melelahkan…”

Rain tidak bisa mendengar apa yang sedang dikatakan Zein. Tiba-tiba ia merasakan ruangan di sekitarnya menyempit, sekelilingnya bergerak dengan sangat lamban dan begitu senyap. Ada riak kecil dalam dirinya yang menimbulkan sensasi nyeri yang begitu hebat.

***

Rain sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan Zein, yang baru saja mengakhiri hubungannya dengan Naima karena Naima menduakan Zein selama mereka terpisah. Zein menyalahkan jarak yang ada diantara mereka.

Rain justru bersyukur jarak itu ada diantara mereka. Sejak pertemuannya dengan Naima, Zein selalu membicarakan Naima. Tiap akhir pekan, ia selalu pergi menemui Naima, beberapa kali ia membatalkan janji karena ada janji chatting dengan Naima. Komunikasinya dengan Zein pun kini lebih sering hanya berupa sebatas pesan teks melalui telepon genggam atau sekedar pertemuan-pertemuan singkat yang semuanya pasti akan membahas soal Naima.

Tapi kini Zein dan Naima sudah tinggal sejarah. Rain tidak sabar untuk bertemu dengan Zein. Ia sudah mempercantik diri sejak siang tadi. Ia mengenakan atasan tank-top berwarna tosca dan rok hitam dengan motif bunga-bunga berwarna senada dengan atasannya. Ia merapihkan dandanannya di depan cermin ketika dering telepon membuatnya terkaget.

“Halo, Rain.” Sapa suara di ujung sana.
“Ya, ini siapa?” jawab Rain.
“Aku Naima. Bisa aku bicara sebentar denganmu?” Rain terkejut saat penelpon itu menyebutkan namanya.
“Maaf aku menelponmu seperti ini. Aku tidak tahu siapa lagi yang harus kuhubungi. Zein tidak mau mengangkat telepon dariku. Dia salah paham…” Naima masih terus berbicara, sesekali ia terdengar seperti menangis. Sedangkan Rain masih saja diam membisu. Ia mencoba mereka-reka kenapa Naima menelponnya.
“Aku cemburu.” Ujar Naima.
“Cemburu? Bukannya kau yang menduakan Zein?” tanya Rain ketus.
“Aku cemburu kepadamu karena dia selalu membicarakanmu. Jadi aku meminta sepupuku untuk bersandiwara sebagai kekasihku. Sekarang Zein benar-benar marah dan… Rain, aku tidak ingin kehilangan dia. Apa yang harus aku lakukan?” suara tangis Naima benar-benar meluluhkan hati Rain.
“Kau harus menjelaskannya kepada Zein. Ia pasti akan mendengarkanmu.” Saran Rain.
“Kau tahu dimana aku bisa bertemu dengannya? Dia tidak mengangkat teleponku.” Naima terdengar jauh lebih tenang sekarang.
“Coba cari di Cafe Jingga, di Kota Lama. Tidak sulit menemukan cafe itu. Cari saja yang bangunan semi modern berwarna jingga yang dikelilingi gedung-gedung tua.” Rain menghela napas. Sesak.
“Terima kasih, Rain. Aku berutang padamu.” Naima mematikan telepon.

Rain menghentikan langkahnya. Ia memastikan lagi apa yang sedang dia lihat dari seberang cafe tempat ia dan Zein biasa bertemu. Naima ada di cafe itu. Ia berdiri di hadapan Zein, mereka sedang berbicara dengan sangat intens. Rain memejamkan matanya, dengan harapan semua itu hanya bayangannya saja, bahwa Naima tidak benar-benar ada di sana. Saat ia membuka matanya, Rain melihat mereka berpelukan.

**

Rain berdiri terpaku sambil memegang sebuah payung berwarna kelam di bawah derai hujan yang begitu lebat. Ia menatap lamat-lamat jendela cafe dengan bangunan-bangunan tua di kanan dan kirinya. Perlahan dingin mulai merayap di lapisan kulitnya dan menghasilkan suara yang tercekat dan isak yang tertahan.
Rasa nyeri itu muncul lagi ke permukaan. Ia mencoba untuk tidak menangis. Tapi terlambat, bulir-bulir airmata sudah menggantung di pelupuknya dan tanpa aba-aba mulai berjatuhan satu per satu.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak