— Untuk teh Kurnia Fajriyani, yang senantiasa menjadi ladang luapan curahan hati saya
SETIAP
kali musim penghujan singgah, wajah kota Ciheulet selalu berubah.
Selokan-selokan yang biasanya tak pernah dialiri air, menjadi
meluap-luap tak sanggup menampung jumlah air. Jalan-jalan pun dipenuhi
dengan genangan-genangan air yang meluap dari selokan, bersama sampah
(dan barangkali juga kenangan). Bahkan, jika air hujan terlampau deras,
air pun bisa sampai menyusup ke dalam lantai-lantai rumah warga atau
lantai-lantai pertokoan sekitar. Kota Ciheulet, perlahan-lahan
menjelmakan diri sebagai kota dalam baskom. Seperti kota tetangganya,
Jakarta. Kedua kota ini memiliki kesamaan nasib: sama-sama di sering
dilanda banjir bila musim penghujan terlampau panjang. Namun, ada satu
hal yang membuat wajah kota Ciheulet berbeda dengan kota-kota lain di
musim penghujan. Setiap kali musim penghujan tiba, selalu ada sesosok
perempuan yang berdiri di pinggir trotoar depan pertokoan. Perempuan itu
memegang gagang payung sembari memasang paras yang paling murung,
seolah-seolah ingin menyaingi kemurungan langit di musim penghujan.
Orang-orang kota Ciheulet mengenal siapa perempuan itu. Mereka akrab memanggilnya dengan nama sapaan Sri. Tidak ada yang tahu nama lengkap Sri. Tetapi, banyak sekali orang kota Ciheulet yang tahu siapa dia dan hafal benar tentang riwayat hidupnya, perempuan berwajah kelam itu. Riwayat hidup perempuan itu terlampau kelam untuk diceritakan. Namun, agar kalian tidak penasaran, baiklah, akan kuteruskan cerita ini.
Pada
mulanya, Ciheulet bukanlah sebuah kota yang seperti sekarang ini. Dulu,
tak pernah ada kompleks pertokoan ataupun gedung-gedung megah menjulang.
Dahulu, Ciheulet adalah sebentang desa nan hijau permai, namun kini, ia
telah berubah menjadi kota megah nan pongah. Dan pada masa itulah,
hiduplah seorang pemuda sahaja bernama Firman. Firman adalah seorang
pemuda yang dikenal ramah oleh warga sekitar. Sehari-harinya, ia
mengurus ladang jagung warisan dari ayahnya, satu-satunya harta yang
dimilikinya.
Ayahnya telah lama meninggal, meninggalkan
seorang istri dan seorang anak, Firmanlah anak satu-satunya. Tetapi, tak
lama setelah ayahnya pergi, ibunya pun ikut menyusul. Barangkali ayah
dan ibunya memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Semenjak itu, Firman
dirawat oleh tetangga sekitar yang menaruh belas kasihan kepadanya.
Firman, sungguh masih cukup beruntung. Meskipun ia yatim piatu, ia tak
pernah merasa sebatang kara, sebab selalu ada orang yang peduli
kepadanya.
Firman bisa dikatakan cukup piawai dalam merawat
ladang jagung warisan ayahnya. Setiap musim panen tiba, ia selalu
mendapatkan hasil yang sungguh memuaskan. Dia juga tak pernah abai
kepada orang-orang yang dahulu merawatnya, ia dengan ikhlas membagikan
beberapa jatah hasil panennya. Sisanya untuk persediaannya sendiri dan
dijual ke pasar. Tetapi sayangnya, ladang jagung tak setiap waktu
menghasilkan. Di kala musim penghujan tiba, jagung-jagungnya membusuk,
akhirnya tak layak untuk dijual. Sedangkan perut harus selalu terisi.
Namun, Firman adalah seorang pemuda yang cerdik, ia punya siasat jitu
untuk mengatasi hal ini. Ketika musim penghujan tiba, ia beralih profesi
sebagai tukang ojek payung. Bila hujan turun, Firman pun siap dengan
sepucuk payung yang cukup lebar dan baju compang untuk hujan-hujanan. Ia
mencari beberapa pejalan kaki yang mau menyewa payungnya. Firman tak
pernah mematok harga sewa payungnya. Orang-orang boleh membayar
seikhlasnya saja. Firman rela, sebab ia percaya rezeki takkan pernah
tertukar. Dan benar saja, sebab kerelaan dibayar berapa saja, banyak
orang yang iba dan memberinya uang lebih. Firman pun banyak menuai hasil
dari profesinya, dan hasil itu bukan hanya materi, tetapi juga cinta.
Cerita
itu bermula pada saat hujan sedang sangat deras-derasnya, tak seperti
biasa. Ada seorang perempuan cantik dengan rok selutut, sedang berteduh
di bawah rindang pohon asam. Firman pun memberanikan diri untuk
menawarkan jasanya kepada perempuan itu. Kali ini, agak sedikit lain.
Sebab, ada perasaan canggung yang sedang menjalari dadanya. Seperti
perasaan yang sulit untuk mengungkapkan dirinya sendiri.
“Mbak ojek payungnya mbak.”
“Maaf mas, saya sedang nunggu jemputan.”
“Hujannya besar loh mbak. Udah pakai payung saya saja. Gratis mbak!” Firman mengucapkan kata ‘gratis’ dengan penekanan nada yang sangat dihayati.
“Maaf mas, saya sedang nunggu jemputan.”
“Hujannya besar loh mbak. Udah pakai payung saya saja. Gratis mbak!” Firman mengucapkan kata ‘gratis’ dengan penekanan nada yang sangat dihayati.
Entah
karena terpaksa atau karena rayuan Firman, akhirnya perempuan itu
menggugurkan niatnya untuk berteduh dan menunggu jemputan. Mereka berdua
pun berjalan bersama melewati derai hujan yang kian deras. Tetapi kali
ini, Firman tidak berhujan-hujanan. Ia ikut masuk kedalam payung bersama
si perempuan. Dan tahukah kalian, siapa perempuan itu?
Ya, dialah Sri yang aku sebut pada awal cerita.
[
Tersebab waktu pengumpulan naskah tulis kamisan mendesak, jadi cerita
ini kami persingkat saja. Mohon dimaklumi. Lain waktu, akan kami
ceritakan cerita yang lebih panjang ]
Sri benar-benar gelisah sore itu. Firman, suaminya, tak kunjung pulang juga. Orang-orang yang tadi siang mengunjugi rumahnya mengajak Firman pergi ke sebuah tempat yang entah dimana, untuk mengobrolkan perihal urusan tanah ladang jagung milik Firman. Rencananya, tanah ladang jagung itu akan dibeli oleh mereka dan dibangun sebuah gedung hotel yang sangat megah. Sri tak pernah tahu pasti tentang kesepakatan yang telah dibuat suaminya dengan orang-orang itu. Namun, ia selalu yakin, bahwa suaminya takkan pernah mau merelakan tanah ladang jagung peninggalan ayah mertuanya itu. Ladang jagung itu adalah riwayat hidup Firman.
[ Seminggu kemudian. ]
Siang hari yang terik itu, orang-orang Ciheulet dibuat gaduh oleh penemuan sesosok mayat lelaki di sebuah pematang sawah. Kondisinya sungguh sangat mengenaskan, isi perutnya memburai, baunya sudah busuk, tetapi anehnya tidak ada satu pun lalat yang hinggap pada tubuh mayat itu.
Kemudian, setelah dilakukan pemeriksaan oleh polisi, identitas mayat itu diketahui. Ternyata mayat itu adalah Firman. Beberapa menit selanjutnya, berita ini pun sampai di telinga Sri yang pada saat itu sedang mengandung. Entah apa yang terjadi dengan Sri dan daging dalam perutnya setelah mendengar berita kematian Firman. Yang pasti, Sri sudah tentu sangat terguncang.
[ Satu bulan kemudian setelah kematian Firman ]
Setelah kematian suaminya, jiwa Sri sungguh terguncang. Ia tak pernah menyangka bahwa suaminya akan berakhir menjadi bangkai di pematang sawah. Semenjak kejadian itu, Sri tiba-tiba menjadi bisu. Dan yang paling mengejutkan adalah, Sri mulai berperilaku aneh. Sampai pada suatu malam yang temaram, orang-orang menemukan Sri dalam kondisi yang sangat mengejutkan. Orang-orang menemukan Sri duduk dilantai yang penuh darah, dengan seonggok daging ditangannya, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan janin dalam perutnya. Tepat pada hari itu, Sri resmi menjadi orang gila. Ia pun di kirim ke RSJ Ciheulet untuk penanganan lebih lanjut.
[ Satu tahun kemudian setelah Sri resmi dinyatakan sebagai orang gila ]
Para petugas RSJ Ciheulet sudah kewalahan dengan tingkah laku Sri yang diluar batas. Setiap kali musim penghujan tiba, Sri selalu mengamuk dan membuat onar. Ia berteriak, mencoret-coret dinding, dan menghancurkan benda apa saja yang berada di sekitarnya. Tetapi, setelah menjalani konsultasi dengan dokter, Sri pun mau jinak dan mengatakan perihal yang diinginkannya.
“Aku takkan mengamuk asalkan kalian mau memberikan aku kebebasan setiap kali langit turun hujan. Aku mau kalian membebaskan aku untuk sejenak dari neraka ini dan meminjamkan aku sepucuk payung hitam.”
Setelah mendengar permintaan itu, sang dokter pun merundingkan keinginan Sri ini dengan dokter lain dan pihak RSJ Ciheulet.
“Sudahlah, kita beri saja dia kebebasan untuk beberapa waktu hujan saja. Toh, hujan tak setiap hari turun. Ulahnya bisa lebih merepotkan bila kita terus menyekapnya di kamar.”
Para dokter dan pihak RSJ Ciheulet pun sepakat. Sri dibebaskan hanya pada waktu hari berhujan saja.
[ Pada hari berhujan yang sangat deras ]
Perempuan itu senantiasa berdiri mematung di pinggir trotoar. Ia berdiri dengan sepucuk payung hitam di tangan kanan dan tangan kirinya mengepal saja. Ia hanya berdiri, sembari terpekur menatap gedung tinggi menjulang di depannya. Gedung yang dulunya adalah tanah ladang milik suaminya. Ia hanya berdiri, memasang wajah paling murung. Matanya memerah, seolah-olah menyimpan sejuta amarah. Ia marah, ia marah, ia marah. Ia marah pada Ciheulet yang kini telah menjelma menjadi kota yang pongah!
NB: Cerita ini terinspirasi dari sajak “hujan dan payung hadiah ulang tahun” karya
M. Aan Mansyur. Sedangkan mengenai nama beberapa tokoh dan setting
tempat dalam cerita ini, mohon diabaikan saja. Sebab, cerita ini
hanyalah fiksi belaka. Sama sekali tidak nyata. Dan terima kasih karena
telah sudi membaca cerita ini.
0 comments