“Lo serius putus ama Rani?” tanya Ryo dengan mata terbelalak tak
percaya, padahal Andik baru saja melangkah masuk ke dalam apartemennya.
“Oy, oy, gue kan baru datang, Yo!” protes Andik, menyerahkan kotak
kecil ke temannya yang cerewet itu.
“Met ultah, ya. Moga-moga lo cepat
lulus kuliah dan enggak kena gonorhea karena kebanyakan ngewek.”
“Thanks,” Ryo melempar kado Andik begitu saja ke sofa.
“Eh, kampret! Kado gue malah lo buang begitu aja!”
“Udahlah, gue udah tau lo ngasih gue hadiah sempak sekali pakai yang lo beli di minimarket. Si Gupta yang ngasih tahu.”
“Bangsat emang si Gupta,” gerutu Andik, meski tidak betul-betul marah. Dia melangkah menuju ke meja makan.
“Ndik, lo belum jawab pertanyaan gue,” Ryo masih saja merongrongi Andik. “Lo beneran putus ama si Rani?”
“Ayolah, Yo! Biarkan gue menikmati pesta lo dulu,” kata Andik, mengambil beberapa chicken wings.
“Lo enggak putus setelah pake dia, kan?” tanya Ryo lagi, curiga.
Tawa Andik pecah mendengarnya. Dia menggelengkan kepala sembari menuju ke sofa ruang tengah dengan membawa chicken wings dan cola. “Itu sih elo, Yo! Kampret lo!”
“Woi, Ndik! Akhirnya datang juga lo!” sambut Gupta dan yang lainnya sewaktu Andik bergabung dengan mereka di sofa.
Andik menyalami mereka semua sebelum duduk. Ryo juga ikut duduk,
masih penasaran dengan kebenaran berita kalau temannya itu sudah putus
dari Rani.
“So, Ndik, beneran lo putus ama Rani?” tanya Gupta.
“Duh, kalian itu rewel, ya?” tanggap Andik sewaktu menyantap chicken wings-nya. “Iya, gue baru putus ama dia. Puas lo semua?”
“Akhirnyaaaa…!” tanggap mereka semua seraya menarik napas lega.
Andik tertawa. “Anjrit! Sampe segitunya. Kayaknya lo semua seneng banget ya gue putus ama dia.”
“Bukan seneng, Ndik, tapi lega,” Ryo meralat. “Terus terang sampe
sekarang gue masih enggak abis pikir kenapa lo bisa pacaran ama cewek psycho kayak si Rani.”
“Oh, come on! She’s not that bad,” sangkal Andik.
“Oh, come on! You just want to bang her just because she’s hot!” tandas Gupta.
Untuk yang kesekian kalinya, Andik terbahak. “Asal lo semua tahu aja ya, gue enggak pernah tidur ama Rani.”
“Jadi, lo putus gara-gara dia enggak mau diajak ngamar?” Edo mengonfirmasi.
“Setan lo! Lo pikir gue cuma mikirin seks waktu pacaran? Anjing, ya,
lo semua. Otak lo udah pada di sempak semua!” Andik menggelengkan
kepala, sok prihatin.
“Jadi, kenapa lo putus?” tanya Gupta.
“Jadi, kenapa kalian lega waktu gue putus?” Andik malah balas bertanya.
“Ya, gue sih kurang suka aja ama sifatnya yang overpossesive. Dan, gue tahu sifat lo, Ndik. Lo pasti menderita selama pacaran ama Rani,” Ryo mengungkapkan asumsinya.
“Nah, itu alasannya,” kata Andik sebelum mengangkat bahu.
“Tapi, hebat juga ya lo bisa tahan pacaran selama setengah tahun ama
Rani. Gue pikir seminggu juga udah putus,” tanggap Gupta seraya tertawa.
“Iya ya. Padahal kan si Rani itu nyeremin.”
“Sialan!” Andik menoyor kening Ryo kendati dia sendiri tertawa.
“Tapi, ada lho yang lebih nyeremin dari Rani,” kata Edo.
“Oh ya? Siapa?” tanya Andik.
“Cewek berpayung hitam,” jawab Edo.
Langsung saja semuanya menarik napas malas.
“Mulai lagi deh…” keluh Gupta.
Siapa pun tahu kalau Edo punya minat tinggi pada hal-hal yang berbau
mistis, supranatural, atau dunia lain; terlepas dari statusnya sebagai
mahasiswa fakultas MIPA yang mengagungkan logika.
“Eh, beneran lho! Ini urban legend yang cukup terkenal di Depok.”
“Urban legend belum tentu kenyataan, Do,” protes Ryo.
“Udahlah, guys, kita dengerin aja dulu cerita si Edo,” kikik Andik, yang senang karena mereka tidak perlu membahas soal Rani lagi.
Edo berdeham sebelum memulai ceritanya. “Konon, dulu ada perempuan
berpayung hitam yang mau nyeberang jalan di malam berhujan. Saat dia
nyebrang, ada mobil yang melaju kencang dan menabrak perempuan itu. Si
perempuan pun langsung tewas….”
Andik cuma senyam-senyum saja mendengarnya. Dia tidak begitu tertarik mendengarnya cerita itu sehingga lebih fokus menghabiskan chicken wings-nya. Terlebih, sepertinya dia bisa menebak bagaimana ending cerita itu. Pasti si perempuan mendendam dan gentayangan.
“… Akhirnya, roh si perempuan itu tidak tenang. Dia pun bergentayangan di jalan raya tersebut.”
Tuh bener, kan? Andik membatin dan tertawa di dalam hati.
“Konon, dia sering menampakkan diri sedang berdiri membawa payung
hitam di pinggir jalan,” Edo melanjutkan, “Dan, kalau ada yang ngelihat
dia, katanya orang itu pasti akan meninggal karena kecelakaan.”
Edo mengakhiri ceritanya dengan nada dramatis. Tapi, cuma bertahan
beberapa detik saja, sebelum teman-temannya membahas hal lain. Kisah Edo
terlupakan dengan segera, digantikan canda tawa yang sesekali diselingi
minuman keras. Musik kemudian dinyalakan dan pesta pun benar-benar
dimulai.
*
Pesta akhirnya selesai pukul tiga dini hari. Itu pun setelah banyak
yang tak sadarkan diri gara-gara terlalu mabuk. Gupta yang paling parah.
Dia memang punya daya tahan tinggi dengan alkohol, tapi setelah
beberapa botol, tetap saja dia terkapar di lantai. Celananya basah dan
ada aroma amonia yang menguar. Ryo terpaksa menggeret tubuh Gupta supaya
ompol temannya itu tidak mengenai karpet di ruang tengah.
Maka, setelah banyak yang pamit pulang dan sebagian lainnya terlalu
mabuk untuk pulang, tinggallah Ryo dan Andik yang masih sadar.
“Lo enggak apa-apa putus ama si Rani?” tanya Ryo membuat Andik
menarik napas berat, tanda dia enggan membahas soal mantannya itu.
“Gue baik-baik aja kok,” cuma itu jawaban Andik.
“Bukan itu…” kata Ryo, “Yah, elo tau sendiri kan perangai si Rani. Suka berlebihan, ujung-ujungnya histeris.”
Andik tertawa kecil. “Dia juga udah histeris kok pas gue putusin via
telepon. Awalnya nangis sesenggukan sambil memohon supaya kami enggak
putus, ujung-ujungnya dia maki-maki gue. Ya udahlah….”
“Hati-hati ama cewek kayak dia, Ndik.”
“Hahaha. Kayak apaan aja.” Andik menggeleng-gelengkan kepalanya. “But thanks anyway. Gue cabut dulu, ya.”
“Lo yakin mau pulang? Nginep aja, Ndik.”
“Gue cuma minum dua gelas, masih sanggup nyetir mobil kok,” kata
Andik. Kepalanya memang terasa sedikit melayang, tapi dia yakin dia akan
baik-baik saja. “Oke deh, gue pulang dulu. Thanks buat pestanya.”
“Thanks udah datang. Hati-hati di jalan.”
Andik pun turun dan menuju ke mobilnya. Dalam beberapa menit, city car-nya
itu segera menerjang jalanan yang sudah sepi. Hanya ada satu dua
kendaraan lain yang sesekali melintas. Hujan turun tak lama kemudian.
Andik berbelok ke jalan raya, menuju rumah kontrakannya di utara Bogor.
Tiba-tiba saja, dia teringat lagi dengan cerita Edo, karena konon
arwah gentayangan si perempuan berpayung hitam itu sering menampakkan
diri di jalan yang tengah dia susuri itu.
“… Konon dia sering menampakkan diri sedang berdiri membawa payung hitam di pinggir jalan….”
Sial, umpat Andik dalam hati, kenapa gue malah kepikiran cerita tolol itu?
Andik menghidupkan radio supaya bisa mengalihkan pikirannya. Dia juga
menancap gas, kepengin cepat-cepat sampai ke rumah. Terlebih, kepalanya
sekarang mulai terasa pusing akibat alkohol. Dia berbelok lagi dan
melihat ada perempuan berpakaian serba hitam sedang berdiri di bawah
payung hitam.
Darah Andik kontan mendesir. Matanya terbelalak. Dia tak percaya. Dia
pun menoleh ke belakang, ingin memastikan kalau dia tadi tidak salah
lihat. Namun, perempuan itu tidak ada di sana. Sisi jalan di belokan
yang tadi dia lewati kosong melompong.
Andik merinding. Jadi, apa yang tadi dilihatnya itu? Apa matanya
sedang menipunya? Atau jangan-jangan dia tadi berhalusinasi karena
sedang mabuk?
Andik masih saja melirik ke arah kaca spion, memastikan untuk yang
terakhir kali keberadaan si perempuan berpayung hitam. Mobilnya melaju
melintasi perempatan, dan dia dikagetkan oleh lolongan klakson serta
sorotan lampu yang menyilaukan. Detik berikutnya, tabrakan pun terjadi,
tak dapat dihindari.
*
“… Saat dia nyebrang, ada mobil yang melaju kencang dan akhirnya menabrak perempuan itu. Si perempuan pun langsung tewas.”
Andik cuma senyam-senyum saja mendengarnya. Dia tidak begitu tertarik mendengarnya cerita itu.
“Ada yang bilang, pelakunya adalah pria mabuk. Pria itu segera melarikan diri.”
Terlebih, sepertinya dia bisa menebak bagaimana ending cerita ini.
“Akhirnya, roh si perempuan itu tidak tenang. Dia pun bergentayangan di jalan raya tersebut.”
Tuh bener, kan?
“Sejak saat itu, dia mengutuk setiap orang yang berkendara dalam
keadaan mabuk atau ugal-ugalan. Pengendara macam merekalah yang sering
melihat sosok perempuan itu.”
Mobil merah yang dikendarai Andik ringsek ditabrak dari samping dan
menabrak tiang listrik. Andik tewas seketika, terjepit di antara dashboard,
jok, dan besi pintu yang menusuk lambung kanannya. Darah mengocor deras
dari pelipis Andik yang tadi menghantam jendela hingga pecah.
Yang menabraknya adalah sebuah mobil SUV putih. Pintu mobil itu
terbuka dan pengemudinya keluar. Perempuan itu melangkah limbung ke arah
mobil Andik. Air matanya bercucuran, membanjiri pipi.
“A-A-Andik…” Perempuan itu memanggil lemah nama lelaki yang sudah tak bernyawa di balik kemudinya itu. “Y-You broke my heart, Ndik…. You broke my heart.” Suaranya bergetar hebat.
Dia pun meraung. “MAMPUS KAU, BANGSAT! SEENAKNYA KAU MENGAKHIRI CINTA
KITA!” Rani memungut kerikil di jalan dan melemparnya hingga mengenai
jendela mobil Andik. “MATI KAU, NDIK! MATI AJA SANA!”
Rani berteriak kencang, melepas semua perasaan yang sedari tadi
menekan dadanya. Di belakangnya, perempuan berpayung hitam muncul untuk
masuk ke dalam SUV putih.
Satu tugasnya telah selesai, kini ada satu tugas lagi yang menunggu:
menghabisi nyawa perempuan yang tengah dimabuk oleh duka dan amarah.
***
Catatan penulis: Iya, Kamisan nongol
lagi setelah vacuum selama… entahlah berapa lama. Sekarang yang ikutan
juga makin banyak. Nah, di season baru ini, tema Kamisan ditentukan
dengan gambar dan pesertanya harus menginterpretasikan gambar itu lewat
sebuah cerpen.
Cerpen? Iya cerpen. Merepotkan, ya? Niatnya sih mau bikin flash fiction doang eh malah nulis cerpen. Ya sudahlah, selanjutnya saja bikin flash fiction.
Lho, kan harusnya bikin cerpen.
Biarin saja. Saya kan awesome.

0 comments