Aku hanya memandang sekilas kepada perempuan itu pada kali pertama
melihatnya dan tetap tak menghiraukannya begitu melihatnya lagi, masih
berdiri pada tempatnya semula dan dalam posisi yang sama; seolah-olah
perempuan itu adalah manekin dan bukan manusia, saat aku keluar dari
sebuah kedai kopi yang terletak di jalan Sabang. Akan tetapi, entah
bagaimana, tiba-tiba aku memikirkan perempuan itu dan berharap
melihatnya lagi sekarang, saat aku duduk di dekat kaca di dalam kedai
kopi dan memandang ke luar.
Seperti saat ini, sore itu hujan turun renyai. Perempuan itu berdiri
sendirian di trotoar, tepat di seberang jalan kedai kopi ini. Payung
hitamnya yang terkembang turun sampai menutupi sebagian wajahnya, hanya
menyisakan bibirnya yang merah dan tipis yang tertutup begitu rapat.
Juga dagunya yang putih dan bersih.
(Sebetulnya, aku tidak terlalu ingat, apakah aku benar-benar melihat
bibirnya yang tipis dan merah, yang tertutup begitu rapat, juga dagunya
yang putih dan bersih itu? Karena seperti yang sudah kukatakan
sebelumnya, aku tak menghiraukannya pada kali pertama melihat dan tetap
tak acuh pada kali lainnya. Akan tetapi, bayangan tentang bibir dan dagu
itu begitu jelas, seolah-olah aku pernah memandangnya dari jarak yang
teramat dekat).
Semua yang dikenakan perempuan itu berwarna hitam, dan caranya
berdiri teramat khidmat, seakan-akan ia sedang berdiri dalam sebuah
prosesi pemakaman, dan bukan di tepi jalan. Satu-dua orang yang melintas
memandangnya sejenak sebelum akhirnya tak mengacuhkannya dan kemudian
melanjutkan kegiatan masing-masing. Sementara perempuan itu tetap
berdiri tak tersentuh.
Pintu kedai membuka dan angin bercampur hujan menyeruak masuk sesaat
sebelum pintu itu kembali ditutup. Seorang perempuan berdiri di depan
pintu itu, menunduk, memandangi dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya
ke paha celana panjangnya. Sebagian celana panjangnya itu berwarna lebih
gelap daripada yang lainnya. Lantas ia mengentak-entakkan kakinya
sambil menggerutu, menyibak rambut panjang hitam-kemerahannya yang
menjuntai dan menyelipkannya di belakang telinga kiri. Kemudian,
perempuan itu berseru begitu melihatku. Wajahnya seketika cerah.
"Maaf, lama. Hujan."
"Iya, aku tahu. Di luar memang sedang hujan."
Dagu dan keningnya sedikit berkerut, tetapi ia tetap tersenyum.
Lantas ia duduk dan kemudian memesan. Aku kembali memandangi trotoar di
seberang jalan.
"Jadi, bagaimana?"
"Apanya?"
Ia menghela napas. "Berhentilah bergurau."
Aku mengendikkan bahu.
"Pandang aku saat bicara. Kau kenapa?"
Aku menoleh, mentapnya, "Aku tidak apa-apa." Kemudian kembali menatap trotoar di seberang jalan. Kudengar ia mendengus sebal.
Orang-orang yang melintas berjalan gegas di trotoar. Seorang pemuda
setengah berlari, dengan badan sedikit merunduk, melewati sepasang
laki-laki dan perempuan yang berjalan santai di bawah payung berwarna
biru cerah dari samping.
Sepasang laki-laki dan perempuan itu tampak tak acuh dan tetap saling
berbicara. Entah apa yang si laki-laki katakan, tetapi kemudian aku
melihat si perempuan tertawa lepas.
"Liana, apa kau percaya takdir?" Aku bertanya tanpa mengalihkan
pandangan dari sepasang laki-laki dan perempuan tadi. Begitu mataku tak
sanggup lagi mengikuti mereka, barulah aku memandang Liana.
Perempuan yang menjadi kekasihku itu diam dan hanya memandangku.
"Menurutmu, apa itu takdir?*
Liana kembali menghela napas, kemudian meletakkan gawainya di atas
meja. "Jadi, aku jauh-jauh datang menemuimu ke tempat ini hanya untuk
membahas 'apa itu takdir'?"
Aku tersenyum. "Jawab saja."
Liana memajukan tubuhnya dan menangkupkan kedua tangannya di atas meja.
"Baiklah, baiklah. Bagiku, takdir adalah segala sesuatu yang sudah,
sedang, dan akan terjadi, yang tak bisa dikira-kira, dan memang
begitulah seharusnya."
"Maksudmu 'begitulah seharusnya'?"
"Ya, begitu saja. Jalani saja. Terima saja, tanpa menyikapinya secara
berlebihan." Aku mengangguk-anggukan kepala sambil memajukan tubuh dan
meletakkan kedua tanganku di atas meja. "Jika takdir membuatmu melayang,
jangan lupa agar kau segera berpegangan. Pun saat takdir membutmu
tersuruk. Segeralah bangkit karena dunia belum usai."
"Contohnya?"
"Kau ini kenapa, sih? Kau ingin bicara apa? Langsung saja."
"Jawab saja."
"Kelahiran; kematian, sakit; sehat--"
"Perjumpaan; perpisahan?"
Ia tersentak. "I-iya. Itu juga."
Aku tersenyum dan kemudian mendorong tubuhku ke belakang hingga
bersandar pada punggung kursi, bersidekap, dan kembali memandang ke
seberang jalan.
Tangan kanan Liana terjulur dan menyentuh lembut lenganku. "Kau kenapa? Ada apa?"
Aku tersenyum kecil, memandangnya, kemudian menggenggam tangan kanannya yang sebelumnya terjulur menyentuhku, mencium tangan itu dengan lembut. Lantas aku mengatakan apa yang sejak lama ingin aku katakan. Aku merasakan tangan dalam genggamanku bergerak-gerak liar, sementara kepala Liana menggeleng. Dan sambil menahan tangan itu agar tetap dalam genggamanku, aku terus dan terus bicara.
Aku tersenyum kecil, memandangnya, kemudian menggenggam tangan kanannya yang sebelumnya terjulur menyentuhku, mencium tangan itu dengan lembut. Lantas aku mengatakan apa yang sejak lama ingin aku katakan. Aku merasakan tangan dalam genggamanku bergerak-gerak liar, sementara kepala Liana menggeleng. Dan sambil menahan tangan itu agar tetap dalam genggamanku, aku terus dan terus bicara.
Di luar, hujan turun kian deras.
0 comments