Minggu 1 Olihn

Kamisan S3 #1: Di Luar, Hujan Turun Kian Deras

16.00Unknown

Aku hanya memandang sekilas kepada perempuan itu pada kali pertama melihatnya dan tetap tak  menghiraukannya begitu melihatnya lagi, masih berdiri pada tempatnya semula dan dalam posisi yang sama; seolah-olah perempuan itu adalah manekin dan bukan manusia,  saat aku keluar dari sebuah kedai kopi yang terletak di jalan Sabang. Akan tetapi, entah bagaimana, tiba-tiba aku memikirkan perempuan itu dan berharap melihatnya lagi sekarang, saat aku duduk di dekat kaca di dalam kedai kopi dan memandang ke luar.

Seperti saat ini, sore itu hujan turun renyai. Perempuan itu berdiri sendirian di trotoar, tepat di seberang jalan kedai kopi ini. Payung hitamnya yang terkembang turun sampai menutupi sebagian wajahnya, hanya menyisakan bibirnya yang merah dan tipis yang tertutup begitu rapat. Juga dagunya yang putih dan bersih. 

(Sebetulnya, aku tidak terlalu ingat, apakah aku benar-benar melihat bibirnya yang tipis dan merah, yang tertutup begitu rapat, juga dagunya yang putih dan bersih itu? Karena seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku tak menghiraukannya pada kali pertama melihat dan tetap tak acuh pada kali lainnya. Akan tetapi, bayangan tentang bibir dan dagu itu begitu jelas, seolah-olah aku pernah memandangnya dari jarak yang teramat dekat).

Semua yang dikenakan perempuan itu berwarna hitam, dan caranya berdiri teramat khidmat, seakan-akan ia sedang berdiri dalam sebuah prosesi pemakaman, dan bukan di tepi jalan. Satu-dua orang yang melintas memandangnya sejenak sebelum akhirnya tak mengacuhkannya dan kemudian melanjutkan kegiatan masing-masing. Sementara perempuan itu tetap berdiri tak tersentuh.

Pintu kedai membuka dan angin bercampur hujan menyeruak masuk sesaat sebelum pintu itu kembali ditutup. Seorang perempuan berdiri di depan pintu itu, menunduk, memandangi dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke paha celana panjangnya. Sebagian celana panjangnya itu berwarna lebih gelap daripada yang lainnya. Lantas ia mengentak-entakkan kakinya sambil menggerutu, menyibak rambut panjang hitam-kemerahannya yang menjuntai dan menyelipkannya di belakang telinga kiri. Kemudian, perempuan itu berseru begitu melihatku. Wajahnya seketika cerah.

"Maaf, lama. Hujan."
"Iya, aku tahu. Di luar memang sedang hujan."
Dagu dan keningnya sedikit berkerut, tetapi ia tetap tersenyum. Lantas ia duduk dan kemudian memesan. Aku kembali memandangi trotoar di seberang jalan.
"Jadi, bagaimana?"
"Apanya?"
Ia menghela napas. "Berhentilah bergurau."
Aku mengendikkan bahu.
"Pandang aku saat bicara. Kau kenapa?"
Aku menoleh, mentapnya, "Aku tidak apa-apa." Kemudian kembali menatap trotoar di seberang jalan. Kudengar ia mendengus sebal.

Orang-orang yang melintas berjalan gegas di trotoar. Seorang pemuda setengah berlari, dengan badan sedikit merunduk, melewati sepasang laki-laki dan perempuan yang berjalan santai di bawah payung berwarna biru cerah dari samping.

Sepasang laki-laki dan perempuan itu tampak tak acuh dan tetap saling berbicara. Entah apa yang si laki-laki katakan, tetapi kemudian aku melihat si perempuan tertawa lepas.

"Liana, apa kau percaya takdir?" Aku bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang laki-laki dan perempuan tadi. Begitu mataku tak sanggup lagi mengikuti mereka, barulah aku memandang Liana.
Perempuan yang menjadi kekasihku itu diam dan hanya memandangku.

"Menurutmu, apa itu takdir?*
Liana kembali menghela napas, kemudian meletakkan gawainya di atas meja. "Jadi, aku jauh-jauh datang menemuimu ke tempat ini hanya untuk membahas 'apa itu takdir'?"
Aku tersenyum. "Jawab saja."

Liana memajukan tubuhnya dan menangkupkan kedua tangannya di atas meja.

"Baiklah, baiklah. Bagiku, takdir adalah segala sesuatu yang sudah, sedang, dan akan terjadi, yang tak bisa dikira-kira, dan memang begitulah seharusnya."
"Maksudmu 'begitulah seharusnya'?"
"Ya, begitu saja. Jalani saja. Terima saja, tanpa menyikapinya secara berlebihan." Aku mengangguk-anggukan kepala sambil memajukan tubuh dan meletakkan kedua tanganku di atas meja. "Jika takdir membuatmu melayang, jangan lupa agar kau segera berpegangan. Pun saat takdir membutmu tersuruk. Segeralah bangkit karena dunia belum usai."
"Contohnya?"
"Kau ini kenapa, sih? Kau ingin bicara apa? Langsung saja."
"Jawab saja."
"Kelahiran; kematian, sakit; sehat--"
"Perjumpaan; perpisahan?"
Ia tersentak. "I-iya. Itu juga."

Aku tersenyum dan kemudian mendorong tubuhku ke belakang hingga bersandar pada punggung kursi, bersidekap, dan kembali memandang ke seberang jalan. 

Tangan kanan Liana terjulur dan menyentuh lembut lenganku. "Kau kenapa? Ada apa?"

Aku tersenyum kecil, memandangnya, kemudian menggenggam tangan kanannya yang sebelumnya terjulur menyentuhku, mencium tangan itu dengan lembut. Lantas aku mengatakan apa yang sejak lama ingin aku katakan. Aku merasakan tangan dalam genggamanku bergerak-gerak liar, sementara kepala Liana menggeleng. Dan sambil menahan tangan itu agar tetap dalam genggamanku, aku terus dan terus bicara.

Di luar, hujan turun kian deras.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak