Namanya Ega. Dia yang selama empat tahun belakangan ini tidak hanya
mengisi hari-hariku, tapi juga mengisi relung hatiku. Aku dan Ega tidak
bekerja di perusahaan yang sama, namun hampir setiap hari kami bertemu.
Saat kesibukan kami melampaui waktu yang kami miliki, sehingga tak
mungkin bagi kami mencurangi waktu untuk bertemu, aku tidak hanya bisa
sekedar mengangan wajahnya, tapi aku bahkan bisa mencium aroma musk
dalam setiap tarikan nafasku. Aku hafal betul aroma yang biasa membalut
tubuhnya. Awalnya dia hanya seseorang yang sering aku temui, lalu
berubah menjadi orang yang aku rindukan saat kita tidak berjumpa, lalu
rindu itu meningkat menjadi hasrat yang lebih dalam. Cinta.
Telepon genggamku mulai memainkan lagu “September” dari Earth, Wind and Fire, sebuah nada yang sengaja aku setting untuk panggilan dari nomor Ega.
“Rego” ujarku menerima panggilan Ega.
“Go, aku lagi di Menara BCA, makan siang bareng yuk?” ajaknya. Aku
melirik tumpukan naskah yang masih harus aku sunting. Pekerjaan yang
seharusnya aku selesaikan minggu lalu.
“Go, kenapa diem? Bisa??” tanyanya lagi.
“Oke. Ketemu tempat biasa ya” balasku semangat. Biarlah pekerjaan
yang menumpuk itu akan aku kerjakan setelah makan siang nanti. Toh,
makan siang hanya sejam, dua jam paling lama.
***
Ia sudah duduk disana ditemani segelas green tea latte
kesukaannya, sambil membolak-balik halaman sebuah majalah mode
internasional. Entah dia benar membaca atau hanya agar terlihat sibuk.
Salah satu kaki dipangkunya di atas kaki yang lain dan dibiarkannya
menjuntai bergoyang-goyang. Pertanda dia gugup atau gelisah. Jujur saja,
ia nampak sangat cantik dengan terusan putih bermotif bunga. Rambutnya
diikat kuncir kuda, mempertegas lehernya yang jenjang dan mungil.
Tangannya meraih green tea latte di hadapannya. Majalah itu
dibiarkannya tergolek di atas pangkuannya saat dia melirik telepon
genggamnya, lalu ke arah jam tangannya. Oke, dia sudah bosan menunggu
pikirku.
Aku bergegas menghampirinya, menepuk lembut bahunya dari belakang dan
duduk di hadapannya. Aku baru saja hendak mengambil menu yang
disodorkan pelayan saat aku mendengar dia seperti terisak. Aku segera
memesan segelas Irish coffee dan memberi isyarat kepada pelayan itu untuk pergi.
“Ga, kenapa?” tanyaku.
Pertanyaan yang aku harap tidak perlu aku tanyakan karena aku selalu tahu bagaimana jalan cerita yang akan diceritakan Ega.
“Aku putus sama Danis.” serunya masih terisak. Saat terisak begini pun ia begitu cantik.
“Sudahlah, nanti juga kalian balikan lagi. Seperti biasa.” Ujarku
menenangkan. Sungguh hatiku mulai sakit.
Aku tidak ingin dia menjalin
hubungan lagi dengan Danis.
Selama empat tahun ini, aku menjadi penonton drama cinta yang sungguh
dramatis antara Ega, Danis dan istrinya. Mereka saling mengejar satu
sama lain. Berkali-kali Danis memutuskan Ega karena dia rujuk dengan
istrinya. Namun, berkali-kali pula aku harus mendengar cerita Ega
mengenai bagaimana Danis meminta maaf dan mengemis cinta Ega kembali. Ia
bahkan pernah menyusul Ega ke Malang untuk berbaikan dengannya. Rasanya
aku sudah muak mendengar cerita Ega. Ini seperti menonton film lama
berulang-ulang. Tapi setiap kali dia datang kepadaku dengan terisak
begini, aku tidak tega meninggalkannya. Aku tahu saat ini dia tidak akan
mendengar apapun yang aku bicarakan. Dia hanya ingin didengar. Jadilah
aku pendengar yang baik, meskipun hatiku sakit duduk dihadapannya,
menggenggam tangannya dan mendengarkan dia terisak sambil menceritakan
betapa dia mencintai pria lain dalam hidupnya.
Setelah hampir dua jam pertemuan dengan Ega, aku memutuskan untuk
kembali ke kantor. Makan siangku berubah menu menjadi semangkuk air mata
dan cerita panjang membosankan soal pria lain yang mengisi hati
pujaanku. Sesampainya di kantor aku langsung menuju pantry. Beruntung, masih ada sisa pizza dari lemburan dua malam yang lalu. Aku langsung menyambarnya dan memakannya dengan lahap.
“Ih, pizza beku! Enak apa?” Seru Tiar, sahabatku di kantor.
“Laper, ga usah enak, yang penting nyampe perut.” Ujarku memperhatikan Tiar yang sedang menyeduh kopi hitam.
“Kusut bener? Katanya mau lunch sama Ega, kok masih laper? Tadi ngga makan?” tanyanya bertubi.
“Kepo banget sih lo. Makan curhatan. Puas lo?!” jawabku sengit. Tiar hanya menertawaiku.
“Ega putus lagi sama Danis dan gue cuma kayak orang bego, dengerin
dia cerita soal Danis. Dia tuh bisa dapetin yang lebih dari Danis tau.
Kenapa dia cinta banget sama Danis. Nah, lo kan cewe, menurut lo kenapa
dia cinta banget sama Danis? Kenapa?” tanyaku ngotot.
“Rego, Rego… Mungkin sama jawabannya kayak kenapa lo cinta banget
sama Ega, padahal lo tau dia cintanya sama orang lain?” jawaban Tiar
membuatku diam. “Elo belum bilang perasaan elo ke dia kan?” tanyanya
lagi. Aku menggeleng.
“Cinta ngga harus memiliki kan?” tanyaku.
“Kalian ini lucu. Danis punya istri tapi pacaran sama Ega. Ega cinta
mati sama Danis. Elo cinta mati sama Ega dan saat cinta kalian ngga
tercapai, kalian misuh-misuh, terpuruk dan galau kaya anak ingusan.
Kalian itu ngga saling cinta. Kalian mencandu perasaan yang kalian
sendiri. Padahal perasaan itu ngga nyata. Kalau lo bilang cinta tak
harus memiliki, apakah cukup buat lo untuk mencintai Ega tanpa mengharap
balasannya? Cinta kalau tidak memiliki apa bisa dibilang cinta? Apa
cukup cinta dengan perasaan doang? Kalau lo ngga kasih tahu perasaanlo
ke Ega, mana dia tau dan dia akan selamanya menganggap lo sebagai
temen.” Aku masih terdiam.
Tiar berjalan menuju kulkas, mengeluarkan tupperware hijau dan melemparkannya ke atas meja tepat di depanku.
“Makan gih. Nanti sakit lagi. Kalau kerjaan lo ngga selesai, gue juga
yang susah.” ujarnya sambil melenggang keluar pantry dengan segelas
kopi hitam ditangannya.
***
Aku mempercepat langkahku ke arah ruangan kerjaku. Panas kopi hitam
yang aku genggam nyaris tidak terasa karena nyeri di hatiku yang terasa
jauh lebih panas hingga hampir mendidihkan bulir-bulir air di mataku.
Aku meraih pintu ruanganku dan segera menutupnya. Aku menghela nafasku
yang sedari tadi terasa berat. Menyemangati orang yang sedang patah hati
itu ternyata sulit. Apalagi kalau yang sedang patah hati ialah
seseorang yang diam-diam aku cintai dan ia patah hati karena orang lain.
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada cinta yang tak terucap. Dia
yang patah hati, namun aku tertular sakitnya. Hati kami patah bersamaan
tapi bukan oleh sebab yang sama. Aku menghela nafasku sekali lagi dan
berjalan menuju meja kerjaku. Tapi ini cukup. Harus cukup, mungkin suatu
saat nanti dia akan tahu perasaanku. Mungkin. Suatu saat nanti.
0 comments