#07 Game of Love Minggu 7

Kamisan S2 #7 - Game of Love: Yang Tak Terucap

18.23Unknown

Namanya Ega. Dia yang selama empat tahun belakangan ini tidak hanya mengisi hari-hariku, tapi juga mengisi relung hatiku. Aku dan Ega tidak bekerja di perusahaan yang sama, namun hampir setiap hari kami bertemu. Saat kesibukan kami melampaui waktu yang kami miliki, sehingga tak mungkin bagi kami mencurangi waktu untuk bertemu, aku tidak hanya bisa sekedar mengangan wajahnya, tapi aku bahkan bisa mencium aroma musk dalam setiap tarikan nafasku. Aku hafal betul aroma yang biasa membalut tubuhnya. Awalnya dia hanya seseorang yang sering aku temui, lalu berubah menjadi orang yang aku rindukan saat kita tidak berjumpa, lalu rindu itu meningkat menjadi hasrat yang lebih dalam. Cinta.

Telepon genggamku mulai memainkan lagu “September” dari Earth, Wind and Fire, sebuah nada yang sengaja aku setting untuk panggilan dari nomor Ega.

“Rego” ujarku menerima panggilan Ega.
“Go, aku lagi di Menara BCA, makan siang bareng yuk?” ajaknya. Aku melirik tumpukan naskah yang masih harus aku sunting. Pekerjaan yang seharusnya aku selesaikan minggu lalu.
“Go, kenapa diem? Bisa??” tanyanya lagi.
“Oke. Ketemu tempat biasa ya” balasku semangat. Biarlah pekerjaan yang menumpuk itu akan aku kerjakan setelah makan siang nanti. Toh, makan siang hanya sejam, dua jam paling lama.

***

Ia sudah duduk disana ditemani segelas green tea latte kesukaannya, sambil membolak-balik halaman sebuah majalah mode internasional. Entah dia benar membaca atau hanya agar terlihat sibuk. Salah satu kaki dipangkunya di atas kaki yang lain dan dibiarkannya menjuntai bergoyang-goyang. Pertanda dia gugup atau gelisah. Jujur saja, ia nampak sangat cantik dengan terusan putih bermotif bunga. Rambutnya diikat kuncir kuda, mempertegas lehernya yang jenjang dan mungil. Tangannya meraih green tea latte di hadapannya. Majalah itu dibiarkannya tergolek di atas pangkuannya saat dia melirik telepon genggamnya, lalu ke arah jam tangannya. Oke, dia sudah bosan menunggu pikirku.

Aku bergegas menghampirinya, menepuk lembut bahunya dari belakang dan duduk di hadapannya. Aku baru saja hendak mengambil menu yang disodorkan pelayan saat aku mendengar dia seperti terisak. Aku segera memesan segelas Irish coffee dan memberi isyarat kepada pelayan itu untuk pergi.

“Ga, kenapa?” tanyaku.
Pertanyaan yang aku harap tidak perlu aku tanyakan karena aku selalu tahu bagaimana jalan cerita yang akan diceritakan Ega.
“Aku putus sama Danis.” serunya masih terisak. Saat terisak begini pun ia begitu cantik.
“Sudahlah, nanti juga kalian balikan lagi. Seperti biasa.” Ujarku menenangkan. Sungguh hatiku mulai sakit. 
Aku tidak ingin dia menjalin hubungan lagi dengan Danis.

Selama empat tahun ini, aku menjadi penonton drama cinta yang sungguh dramatis antara Ega, Danis dan istrinya. Mereka saling mengejar satu sama lain. Berkali-kali Danis memutuskan Ega karena dia rujuk dengan istrinya. Namun, berkali-kali pula aku harus mendengar cerita Ega mengenai bagaimana Danis meminta maaf dan mengemis cinta Ega kembali. Ia bahkan pernah menyusul Ega ke Malang untuk berbaikan dengannya. Rasanya aku sudah muak mendengar cerita Ega. Ini seperti menonton film lama berulang-ulang. Tapi setiap kali dia datang kepadaku dengan terisak begini, aku tidak tega meninggalkannya. Aku tahu saat ini dia tidak akan mendengar apapun yang aku bicarakan. Dia hanya ingin didengar. Jadilah aku pendengar yang baik, meskipun hatiku sakit duduk dihadapannya, menggenggam tangannya dan mendengarkan dia terisak sambil menceritakan betapa dia mencintai pria lain dalam hidupnya.

Setelah hampir dua jam pertemuan dengan Ega, aku memutuskan untuk kembali ke kantor. Makan siangku berubah menu menjadi semangkuk air mata dan cerita panjang membosankan soal pria lain yang mengisi hati pujaanku. Sesampainya di kantor aku langsung menuju pantry. Beruntung, masih ada sisa pizza dari lemburan dua malam yang lalu. Aku langsung menyambarnya dan memakannya dengan lahap.

“Ih, pizza beku! Enak apa?” Seru Tiar, sahabatku di kantor.
“Laper, ga usah enak, yang penting nyampe perut.” Ujarku memperhatikan Tiar yang sedang menyeduh kopi hitam.
“Kusut bener? Katanya mau lunch sama Ega, kok masih laper? Tadi ngga makan?” tanyanya bertubi.
“Kepo banget sih lo. Makan curhatan. Puas lo?!” jawabku sengit. Tiar hanya menertawaiku.
“Ega putus lagi sama Danis dan gue cuma kayak orang bego, dengerin dia cerita soal Danis. Dia tuh bisa dapetin yang lebih dari Danis tau. Kenapa dia cinta banget sama Danis. Nah, lo kan cewe, menurut lo kenapa dia cinta banget sama Danis? Kenapa?” tanyaku ngotot.
“Rego, Rego… Mungkin sama jawabannya kayak kenapa lo cinta banget sama Ega, padahal lo tau dia cintanya sama orang lain?” jawaban Tiar membuatku diam. “Elo belum bilang perasaan elo ke dia kan?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.
“Cinta ngga harus memiliki kan?” tanyaku.
“Kalian ini lucu. Danis punya istri tapi pacaran sama Ega. Ega cinta mati sama Danis. Elo cinta mati sama Ega dan saat cinta kalian ngga tercapai, kalian misuh-misuh, terpuruk dan galau kaya anak ingusan. Kalian itu ngga saling cinta. Kalian mencandu perasaan yang kalian sendiri. Padahal perasaan itu ngga nyata. Kalau lo bilang cinta tak harus memiliki, apakah cukup buat lo untuk mencintai Ega tanpa mengharap balasannya? Cinta kalau tidak memiliki apa bisa dibilang cinta? Apa cukup cinta dengan perasaan doang? Kalau lo ngga kasih tahu perasaanlo ke Ega, mana dia tau dan dia akan selamanya menganggap lo sebagai temen.” Aku masih terdiam.

Tiar berjalan menuju kulkas, mengeluarkan tupperware hijau dan melemparkannya ke atas meja tepat di depanku.

“Makan gih. Nanti sakit lagi. Kalau kerjaan lo ngga selesai, gue juga yang susah.” ujarnya sambil melenggang keluar pantry dengan segelas kopi hitam ditangannya.

***

Aku mempercepat langkahku ke arah ruangan kerjaku. Panas kopi hitam yang aku genggam nyaris tidak terasa karena nyeri di hatiku yang terasa jauh lebih panas hingga hampir mendidihkan bulir-bulir air di mataku. Aku meraih pintu ruanganku dan segera menutupnya. Aku menghela nafasku yang sedari tadi terasa berat. Menyemangati orang yang sedang patah hati itu ternyata sulit. Apalagi kalau yang sedang patah hati ialah seseorang yang diam-diam aku cintai dan ia patah hati karena orang lain. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada cinta yang tak terucap. Dia yang patah hati, namun aku tertular sakitnya. Hati kami patah bersamaan tapi bukan oleh sebab yang sama. Aku menghela nafasku sekali lagi dan berjalan menuju meja kerjaku. Tapi ini cukup. Harus cukup, mungkin suatu saat nanti dia akan tahu perasaanku. Mungkin. Suatu saat nanti.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak