Aku
menatap pasangan kesayanganku selama beberapa bulan ini. Mereka
terlihat bahagia, sangat bahagia. Kilau di mata mereka saat saling
menatap dapat membuktikan seberapa dalam perasaan cinta yang mereka
miliki satu sama lain.
Hatiku
kembali merasa tidak tenang. Ada rasa nyeri di sana, di dalam relung
hatiku yang terdalam. Kali ini bukan rasa sakit yang sama dengan yang
aku biasa rasakan dahulu. Rasa sakit itu penuh dengan amarah, sedangkan
rasa sakit ini penuh dengan penyesalan. Entah dengan cara apa aku harus
menebus semuanya.
"Jangan
lagi memintaku untuk meninggalkanmu karena aku tidak mau melakukannya,
atas dasar apapun, atas alasan apapun. Aku siap menanggung resiko.
Selama itu bersamamu, aku tidak merasakan takut karena aku tahu aku akan
bahagia."
Aku
mendengar perempuan muda di depanku berusaha meyakinkan laki-laki muda,
yang juga kekasihnya. Aku tersenyum melihat ketulusan terpancar dari
matanya.
Namanya,
Rania. Seorang perempuan muda yang sangat cantik. Sudah setahun
belakangan ini dia dekat dengan laki-laki muda bernama Satria, yang
secara diam-diam aku asuh selama puluhan tahun. Tidak ada yang menyadari
kehadiranku di rumah besar ini, selain Satria. Kepadaku, dia bercerita
banyak hal. Mulai dari sejarah keluarganya, trauma yang pernah
menghampirinya, serta kebahagiaan yang dia rasakan semenjak bertemu
dengan Rania.
Tidak
ada satupun rahasia diri Satria yang tidak aku ketahui. Di lain pihak,
tidak ada satupun kebenaran yang Satria ketahui tentang diriku. Bagi
Satria, aku adalah penolongnya, sekaligus teman terdekatnya. Sementara,
Satria tidak pernah mengetahui apa andil keberadaan diriku di dalam
sejarah keluarganya.
Aku menatap Satria dan dia balas menatapku.
"Percayalah
kepadanya, Satria. Percayalah...." bisikku dari jauh. Kami saling
berbagi pandangan dan aku mencoba mengirimkan kekuatan kepada dirinya,
tanpa Rania ketahui.
***
***
"Aku bertemu seorang perempuan cantik..." katamu suatu ketika, saat pertama kali bercerita mengenai Rania.
Aku
mendengarkan Satria bercerita panjang lebar mengenai betapa cantik dan
baik hatinya Rania. Saat dia dibawa ke rumah besar ini, seluruh keluarga
hingga para pelayan di rumah besar menyukainya. Ibu Satria, yang biasa
bersikap keras dan sulit untuk dipahami, bahkan sampai luluh karena
merasakan ketulusan terpancar dari setiap perilaku Rania.
Satu
hal yang tidak disadari oleh Satria maupun Rania, seluruh keluarga
besar mengkhawatirkan satu hal. Cerita turun temurun di dalam rumah
besar, legenda yang sulit dipercayai tetapi keberadaan sungguh nyata,
menghantui mereka semua.
Tidak
ada yang menafikan ketulusan hubungan antara Satria dan Rania, tidak
ada. Tetapi, saat akhirnya Satria mengetahui legenda tersebut, sebuah
keputusan dia pilih untuk menyelamatkan Rania. Satria meninggalkan Rania
karena tidak ingin Rania menderita.
Aku
semakin menyadari, kali ini, sudah sepatutnya aku mengambil tindakan
supaya keluarga Satria terlepas dari segala hal yang aku kirimkan ke
mereka dulu.
"Kau yakin ingin menukar hidupmu dengan ini semua?"
Aku menatap wanita berpakaian gypsy di hadapanku, "Yakin. Aku tidak peduli dengan hal lainnya, yang terpenting aku bisa menyaksikan penderitaan keluarga mereka."
"Tapi,
kau akan terperangkap di dalam dunia ini tanpa pernah bisa pergi. Apa
kau siap dengan konsekuensi tersebut?" tanya dia, lagi.
"Siap.
Saat ini aku mempertaruhkan seluruh hidupku, mempertaruhkan semuanya.
Aku ingin kehancuran melanda mereka, jadi bagaimana mungkin aku tidak
siap dengan kehancuran diriku sendiri?"
"Lily! Pikirkan baik-baik, aku beri kau waktu semalam untuk berpikir lebih matang lagi."
Tidak.
Aku tidak butuh waktu untuk berpikir lagi. Aku sudah mempertimbangkan
semuanya. Hidupku sudah hancur, tidak ada salahnya dibuat semakin hancur
lagi, "Tidak perlu, lakukan sekarang juga. Lakukanlah, sesuai dengan
keinginanku."
Forget me, forget me not.
Aku memulai ritual, seperti yang diinstruksikan perempuan gypsy tadi.
Aku merapal yang harus aku rapalkan. Aku mengingat semuanya dan
berusaha tidak melupakan setiap detail. Aku mengenang kesakitan dan
penghinaan yang aku alami sejak beberapa minggu sebelumnya.
By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
The curse will always haunting your family
As a punishment for all the hardships you have put me through
By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall pay for what has been done
As a punishment for all the hardships they have put me through
With the power from the sky
With the power from the earth
With the power from the sun
I use my power
I use my will for all their trouble
For now on they shall receive struggle
This black curse
This black power
I curse you
I curse your family
Forever
For the hundred years ahead
Shoshannat-ha-amaqim...
Aku
mengusap perutku, ada janin yang hidup di sana. Janin yang sebentar
lagi akan terlahir ke dunia. Sayangnya, dia tidak akan pernah
mengenalku. Apapun itu, aku sudah siap. Jiwaku sekarat dan aku butuh
melampiaskan semuanya terhadap mereka.
By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Bring them the suffering by the death of the loves one
As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through
By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Rather than death, I wish upon suffering unto
As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through
By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Taking away everything he loves most will certainly do
Taking away everything they love most will certainly do
Taking away everything they love most will certainly do
As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through
An eternal life of suffering and depression he will see
An eternal life of suffering and depression they will see
This is my will
So mote it be
Forget me not...
Maafkan Ibumu, nak. Maaf karena aku memilih melepasmu.
Perempuan gypsy memberiku
sebuah liontin giok, "Simpan ini. Saat tiba saatnya kau ingin
melepaskan diri, gunakan ini sebagai alatmu membebaskan kutukan."
"Tidak. Aku tidak berminat untuk melepaskan diri dari apapun. Ini jalanku dan aku sudah memilihnya dengan matang!" tegasku.
"Simpan
saja. Kalau kau tidak ingin menganggapnya sebagai alat untuk
membebaskan diri dari pengaruh mantra dan kutukan yang sudah kau tanam,
anggap liontin giok ini sebagai hadiah terakhir dariku."
***
Aku
melihat pasangan ini lagi. Sama seperti dulu, aku tidak menginginkan
siapapun mengenangku, mungkin kali ini aku harus melakukan hal serupa
lagi.
Bagaimanapun,
Satria masih keturunanku sendiri. Kakek buyutnya adalah anakku, seorang
anak laki-laki yang tidak pernah mengenal siapa Ibunya karena Ibunya
memilih untuk mengikuti jalan yang -- belakangan ini -- baru aku sadari
merupakan sebuah jalan yang sangat salah.
Aku
mengingatnya dengan jelas ketika aku meninggalkan anakku di halaman
utama rumah besar ini. Melepasnya untuk diasuh oleh keluarga Ayahnya,
yang sebenarnya tidak pernah mengharapkan dirinya. Tetapi, aku tahu
persis bagaimana kebutuhan keluarga ini terhadap kehadiran anak
laki-laki. Tidak ada keraguan di dalam diriku bahwa anakku akan
diperlakukan buruk oleh mereka, tidak pernah ada. Lagipula, tidak ada
yang tahu bahwa itu anakku selain aku sendiri.
Karena kemarahan, aku memilih jalan ini. Sekarang saatnya aku melepaskan diri setelah terjebak selama 100 tahun di sini.
Aku mengingat ucapan perempuan gypsy dulu,
"Kau akan berada di antara dua dunia, apa kau sanggup? Kehadiranmu
nyata tetapi tidak akan ada yang mampu melihatmu, apa kau sanggup? Tidak
ada yang dapat melepaskan dirimu, kecuali kau sendiri yang ingin
melepaskan diri."
Aku
juga masih mengingat dengan jelas bagaimana responku saat itu. Aku
bersikeras bahwa aku mampu. Kehancuran keluarga ini adalah keinginan
terbesarku. Bagaimana mereka tidak dapat bersatu dengan orang-orang yang
mereka cintai adalah cita-citaku. Bagaimana akhirnya mereka akan
terjebak di dalam pernikahan yang tidak mereka inginkan adalah obsesiku.
Sejauh ini aku berhasil, bahkan dengan mengorbankan kebahagiaan anakku
sendiri. Aku memainkan peranku dengan maksimal dalam menghancurkan
kebahagiaan tersebut. Rapalan mantraku tidak pernah meleset.
Tidak
ada penyesalan, tidak pernah ada, sebelum akhirnya Satria terlahir dan
aku ikut merawatnya. Ada dorongan di dalam diriku untuk mengasuh dan
menjaganya. Dorongan yang terasa sangat asing. Anehnya lagi, Satria
dapat melihatku. Dia mampu merasakan kehadiranku dan tidak merasakan
ketakutan sedikit pun. Dia bahkan mempercayaiku.
Ketika Satria bertemu dengan Rania dan aku benar-benar terpesona pada cinta yang mereka pancarkan, baru saat itulah aku merasakan penyesalan yang sangat mendalam. Aku tidak pernah lagi merasa sanggup untuk merapal mantra. Tidak pernah...
Aku melihat Satria dan Rania sekali lagi.
Tanganku memegang liontion giok peninggalan perempuan gypsy. Aku sudah mengambil keputusan terakhir, tidak ada keraguan.
Cerita terkait
Kutukan 100 Tahun
Lily of the Valley
- Nia Fajriyani Sofyan -
Ketika Satria bertemu dengan Rania dan aku benar-benar terpesona pada cinta yang mereka pancarkan, baru saat itulah aku merasakan penyesalan yang sangat mendalam. Aku tidak pernah lagi merasa sanggup untuk merapal mantra. Tidak pernah...
Aku melihat Satria dan Rania sekali lagi.
Tanganku memegang liontion giok peninggalan perempuan gypsy. Aku sudah mengambil keputusan terakhir, tidak ada keraguan.
***
Cerita terkait
Kutukan 100 Tahun
Lily of the Valley
- Nia Fajriyani Sofyan -

0 comments