#04 Halusinasi Diah Rizki

Kamisan S2 #04 - Halusinasi: Kika

10.44Unknown


"Gila! Itu ujian apa ujian! Keriting jari gue, man!" keluh Arya sepanjang jalan menuju kantin. Setelah duduk di salah satu bangku di depan penjual mie ayam pun, Arya masih mengomel. Berbeda dengan sahabatnya, Brian justru terdiam, merenung sendiri menyelami alam pikirannya yang entah berisi apa saat ini.

"Dua lembar A4 dalam waktu 50 menit? Edan! Dipikir kita sumur yang airnya penuh terus? Kita juga bisa kemarau, man." cerocos Arya lagi setelah memesan dua mangkok mie ayam dan dua gelas es teh kepada ibu kantin. Ibu kantin sudah terbiasa melihat Arya mengomel seperti itu tiap kali selesai ujian. Hanya bisa menggeleng kepala dan tertawa saja.

"Bri!!!! Woy!!!!" bentak Arya sambil menggebrak meja. Kesal karena omongannya tak digubris oleh sahabatnya itu. Brian yang sedari tadi hanya duduk dan melamun pun sontak menoleh. Kaget. Arya hanya melirik tajam lalu terkikik.

"Sialan lo!" hanya itu jawaban Brian.

"Lo sih diajak ngomong malah ngelamun, kayak cewek PMS aja." Arya mendengus. Kesal ulah usilnya hanya ditanggapi dingin oleh Brian. Ibu kantin datang membawa pesanan Arya.

"Lo kenapa sih, Bri? Galau?" tanya Arya sambil mulai melahap mie ayamnya.

"Nggak tahu. Kayak ada yang kurang." jawab Brian sambil masih menatap kosong mie ayam di depannya. "Seminggu ini gue tuh pengen cepet-cepet ke kampus, semangat banget, tapi pas udah nyampe kelas? Boro-boro." Brian membuka suara. Arya yang masih mengunyah makanan menunggu kelanjutan ucapan Brian. "Lo tahu kenapa?"

Arya menggeleng. Alisnya dikerutkan. Matanya mengarah ke samping tanda ia sedang berpikir.

Brian memalingkan wajahnya ke kanan, tempat walking ground menuju taman.

Arya kaget saat tiba-tiba saja Brian berlari melewati bangku-bangku kantin, melompati sebuah bangku permanen di ujung gazebo dan sepertinya menuju walking ground.

***
"Kikaaaa....."

"Kikaaaa!!!!!!"

"Kik, tunggu, Kik." teriak seorang laki-laki dari arah belakang.

"Kikaaaa...." panggil laki-laki itu sambil melompat ke depan perempuan berjilbab pink yang sedang berjalan sendiri sambil membawa buku-buku di tangannya.

"Eh...." perempuan itu berjingkat, lalu mundur beberapa langkah.

"Oh, maaf, maaf, aku pikir kamu Kika. Sorry..." ucap laki-laki itu sambil nyengir. Laki-laki itu pun berlalu. Kepalanya tertunduk.

***

"Lo ngapain sih, Briiiiiiii?" tanya Arya sambil terkikik saat sahabatnya duduk di depannya. Arya tak habis pikir tentang kejadian yang baru saja dilihatnya.

"Minum, minum, Bri. Lo lari kayak ngejar dosen aja." Arya menyodorkan es teh milik Brian yang sedari tadi belum disentuhnya. Brian menyeruput es tehnya pelan. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"Gue kira..."

"Kika?" potong Arya. Brian menatap Arya, mengisyaratkan bahwa ia tak mungkin mengelak dari tebakan jitu Arya. "Halusinasi lo parah banget, Bri. Sampe segitunya lo ngelamunin Kika? Dodol!" jawab Arya sambil meminum tehnya.

"Kan gue ngira, dodol!" jawab Brian kesal.

"Kika kan lagi di Bangka, Bri. Kongres. Lo sendiri kan yang nganterin surat tugasnya ke Mam Dian?" Arya mencoba memberi stimulus agar Brian mengingat-ingat.

"Iya, gue tahu." Brian melotot. Diambilnya sendok dan disuapkannya mie ayam yang sudah dingin ke mulutnya. Arya menggeleng heran.

"Lo dari tadi nyuekin gue cuma karena ini?" Brian diam sejenak. Sok tak perduli. Lalu melanjutkan melahap mie ayamnya.

"Jadi, lo beneran suka sama si akhwat endorfin lo itu? Sama Kika? Serius lo?" tanya Arya ngeledek.

Brian diam. Diletakkannya sendok yang ia pegang.

Apa iya gue beneran suka sama lo, Kik? tanya Brian pada dirinya sendiri.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak