Dulu, ada sebuah desa yang sangat terkenal. Desa itu berada di ujung
sebuah negeri antah berantah, sebut saja nama desanya sukadamai.
Penduduk di desa itu tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit.
Suasana di sana sangat kondusif, aman, damai, tenteram, tata titi tentrem karto tur raharjo.
Cuaca disana tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin. Angin
selalu berhembus semilir, sepoi-sepoi. Bahkan jika musim penghujan
tiba, airnya selalu turun dengan khidmat. Sawah membentang dari ujung
timur ke ujung barat, hutan menghijau begitu perawan di balik bukit.
Gunung-gunung setia dan tabah mengelilingi desa.
Jika sang fajar tiba mengantarkan matahari menduduki tahta. Maka
matahari akan dengan gembira menyiangi desa ini. Menyinari dengan
sinarnya yang hangat, bukan dengan panas yang menyengat. Matahari selalu
senang mengamati penduduk desa yang rukun dan damai. Menemani mereka
pergi ke ladang ketika pagi dan menambah suhu panas di alam ketika siang
hari agar para penduduk tidak terlalu asik bekerja hingga lupa
istirahat.
Ketika sore tiba maka sang penjaga; malaikat senja, akan menjemput
raja matahari turun dari tahtanya dan mengantarkan dewi rembulan untuk
menggantikan menyinari alam ketika hari menjadi gelap. Di desa ini,
waktu itu, bulan selalu purnama. Terlihat membulat dan begitu cerah.
Begitu terang hingga tikus di sudut sawahpun bisa terlihat. Saat itu
bulan memiliki cahayanya sendiri, tak butuh bantuan matahari untuk
bersinar. Bersinar begitu bulat, terang dan cantik.
Para penduduk di desa mempunyai suatu tradisi untuk menghormati dan
bersyukur pada alam raya. Mereka menciptakan tari-tarian, mendendangkan
musik pujian, mempersembahkan hasil bumi untuk seluruh alam. Sayangnya
tidak ada puisi di sana, tidak ada syair, tidak ada sajak, bukan krena
penduduk tidak menyukainya, tapi karena mereka tidak tahu apa itu puisi,
apa itu sajak.
Suatu hari ketika masa panen tiba, penduduk bergembira karena
hasilnya melimpah. Malamnya mereka memutuskan untuk melakukan ritual
upacara persembahan. Dewi rembulan merasa senang, ia ingin memberikan
hadiah untuk seluruh penduduk desa. Tanpa pikir panjang sang dewipun
memberikan selendang bersulam benang emas miliknya.
Selendang itu seukuran selendang-selendang biasanya, yang membedakan
adalah, motifnya yang disulam menggunakan benang emas yang diambil dari
sinar raja matahari. Konon, selendang tersebut bisa membawa siapapun
yang memakainya terbang ke bulan untuk bertemu dengan sang dewi. Para
penduduk bersorak gembira mandapat hadiah yang begitu mewah. Para
sesepuh yang mengetahui kesaktian benda itu menyuruh warga agar
meletakkannya di kuil terlarang, supaya tidak dicuri dan dipakai oleh
orang-orang yang jahat.
Tahun demi tahun selalu dilewati dengan bahagia oleh penduduk desa
tersebut, mungkin hanya sakit dan kematian yang bisa membuat mereka
bersedih. Berita mengenai keberadaan desa ini terdengar seantero negeri.
Desa sukadamai, siapa orang yang tidak pernah mendengar dan tak ingin
pergi kesana? Banyak orang dari penjuru negeri ingin pindah, singgah,
atau hanya sekedar ingin tahu desa ini. Tapi tak seorangpun yang pergi
mencari itu pernah kembali. Desas desus yang terdengar, kisah mengenai
desa ini akhirnya hanyalah menjadi mitos belaka. Hanya dongeng pengantar
tidur bagi si kecil. Alam sengaja menyembunyikan keberadaan desa
sukadamai karena tidak ingin desa ini dirusak oleh para pendatang. Semua
berjalan seperti biasa, hingga saat bencana itu tiba.
*
Beberapa tahun sesudahnya, di tempat yang berbeda.
Siang itu hujan dengan ganas mengguyur kota. Suasana di kedai teh
menjadi ramai pengunjung. Ada yang hanya ingin menumpang berteduh, ada
pula yang memang ingin menikmati sepoci teh hangat di tengah hujan yang
dinginnya hingga ke sumsum tulang. Pria itu duduk di pojok kedai sebelah
jendela, matanya nanar menatap ke jalanan di luar sana.
“Duhai penyair pengelana, bersyairlah untuk kami agar terhibur hati
ini, menikmati hujan yang tak kunjung berhenti” teriak seorang di
belakang pria itu.
Marc berdiri lalu membalikkan badannya, “Apa yang kau katakan wahai
orang tua? Bukankah dengan adanya hujan harusnya kita bersuka cita?
Mengapa mukamu bermuram durja?” katanya lantang.
Para penghuni kedai terdiam, tak yakin dengan yang sedang terjadi.
Mereka selalu mendengar cerita tentang penyair pengelana yang selalu
melantunkan puisi di sepanjang perjalanan. Penyair yang nama dan
sajaknya sudah terlebih dulu tersebar seantero negeri daripada orangnya.
Tahu darimana pak tua ini, bahwa aku adalah seorang penyair?
Marc berpikir, ia penasaran, sudah sering ia menjumpai orang yang
menyapanya seperti sudah berkawan lama tapi dirinya merasa tidak pernah
mengenal orang itu.
“Duhai penyair legendaris, puisimu tersebar di seluruh negeri
agraris, apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa meninggalkan satu
saja puisi liris? Sedang menatap hujan yang belum lagi berubah jadi
gerimis saja hati ini sudah demikian miris..”
Itu puisiku! Teriak Marc dalam hati.
“Pak tua, andai kudendangkan sebuah nada, akankan sajak bisa
mengaburkan mana mimpi mana nyata? Padahal tanpa diduga seluruh rasa
sudah kuubah menjadi deretan aksara, tak mungkin hujan gerimis mau
berubah menjadi abu vulkanis, jika batin sang penyair saja masih juga
teriris-iris?”
“Penyair, engkau masih begitu muda, jiwamu pastilah setekad baja. Aku
bukanlah orang tua yang pandai berkata-kata apalagi memberi petuah,
tapi inilah yang kurasa. Jiwa sedihmu, adalah kantung harapanmu untuk
melihat masa depan yang terang benderang. Jika sedihmu saja mengalahkan
rasa yang ingin kauutarakan, maka ingatlah satu hal, bahwa dirimu itu
milikmu dan seluruh pikiran dan rasa hanya akan manut pada empunya jiwa”
“Baiklah pak tua, apabila hujan akan mereda ketika sajak bermandikan
bait derita. Maka biarkan aku mendendangkan syair pelipur lara”
Hujan siang ini,
Mendadak serintis air menarik gerimis berpulang kelam
Mengapa gundah sepi mendera?
Jika lagu dan irama bukan lagi suka,
Mengapa bahagia ada jika hitam harus menjadi pijakannya?
Ah vulkanis petang, setajam mata Josephine menembakkan shotgun.
Apakah malaikat juga mencabut pedang?
Bila dengan air hujan saja sukma menjadi meradang,
Meradang ilalang jauh tonggak harapan.
Pergilah, pergi
Jangan hujan menjadi sunyi,
Jika sendiri adalah takdir dewa tirani,
Maka biar kaki ini menuntun imaji,
Maka biar tangan mengukir aksara dalam puisi,
Maka biar, suka duka, derita, kelam, petang bahagia,
Hanyalah menjadi urusan hati.
Terdengar tepukan tangan riuh rendah ramai di kedai sore itu. Sang penyair membungkukkan badannya dan bersiap pergi.
“Duhai penyair, secepat itukah engkau berpuisi? Padahal hati belum
lagi terobati. Ceritakan pada kami tentang rasa rantau rantai rindu pada
kekasih” teriak pemilik kedai setelah meloncat ke atas meja.
Marc menoleh dan tersenyum, “Rindumu adalah pengganti pembayaaran
bagi sakit yang meradang, maka biar aku bacakan untukmu untaian sajak
yang tak akan lagi kubaca ulang”
* Jemariku menyentuh kaca, dingin.
Bulir hujan menempel dari luar.
Bulatan bening, memantul warna.
Dingin menyibak.
Sadarku memberontak.
Aku terpekur pada suatu masa.
Aku benci hujan.
Baunya yg bercampur tanah, segar.
Mengingatkanku pada payung.
Aku benci pelangi sesudah hujan.
Senyumnya mempermainkanku.
Sendu mata yang pernah bersitatap.
Hingga bola mataku lekat menangkap bayangnya.
Kenangan itu membeku, seperti jemariku yang membisu.
Para pengunjung kedai terdiam, terpekur. Hingga sang pemilik kedai
menyunggingkan senyumnya sembari bertepuk tangan dan mengelap air yang
meleleh di matanya.
Penyair itupun pergi, berjalan di bawah gerimis. Ia menaiki kudanya
yang terus mendengus kedinginan. Akhirnya ia putuskan memacu kudanya
untuk berlari lebih kencang. Entah sudah pukul berapa, pandangannya
mulai tertutup kabut. Ia tak tahu arah mana lagi yang hendak dituju. Ia
terus memacu kudanya hingga tak terasa seperti sedang menaiki seekor
kuda yang berlari, ia seperti terbang menembus kabut pekat. Andai di
depan sana adalah jurang mungkin ia sudah tak peduli lagi, entah mengapa
ia menjadi semakin penasaran pada kabut yang bahkan membuatnya tak
mampu melihat tangannya sendiri.
Ia terus ‘terbang’ menembus pekatnya kabut. Sampai secercah cahaya mulai terlihat di depannya dan tiba-tiba…
WUZZZZZZZ!!!!!
Marc dan kudanya jatuh dari langit, lebih tepatnya keluar dari goa,
entah goa macam apa itu ia tak sempat menengok ke belakang. Ia masih
harus mengendalikan kudanya yang kaget karena jalanan yang tiba-tiba
menurun dan untungnya tidak curam. Dengan kepayahan ia mengendalikan
kudanya yang seperti motor yang remnya blong. Hingga setelah beebrapa
menit kuda itu mulai tenang dan Marc mulai dapat mengendalikan
kecepatannya.
Ia mulai berjalan pelan menuruni bukit, ya, ia tahu itu bukit setelah
menyadari bahwa tanah yang dilewatinya sedari tadi adalah padang
rumput, padang rumput yang sangat luas lebih tepatnya. Ia menatap langit
dan terheran-heran. Ini tak seperti daerah yang tadi disinggahinya,
padang rumput luas, danau yang besar, sawah yang luas membentang, dan
tak ada panas, lebih tepatnya matahari bersinar sangat hangat di sini.
Marc tak henti-hentinya menggelengkan kepala. Baru sejam yang lalu ia
berada di kota tua terasing, yang panasnya tak kira-kira membakar ujung
kepala. Sekarang ia berada di daerah asing yang benar-benar berbeda
dari semua daerah yang pernah dilaluinya.
Para petani memulangkan cangkul berkalang tanah
Menimba air roda kehidupan
Sedang dewi Gaia saja bergembira
Bila manusia merawat perutnya
Dari hutan ia bergegas,
Penyair datang memekik lantas,
Andai asing menjadi nikmat
Maka biarlah padamu rindu ini menetap
Ia melantunkan puisinya sepanjang jalan sambil menikmati pemandangan
di kanan kirinya, hatinya merasa begitu tenang, damai, senyum terus
tersungging di wajahnya di sepanjang perjalanan. Hingga salah seorang
petani yang usai menggarap sawah menegurnya.
“Hai anak muda. Siapakah gerangan yang menaiki hewan asing dan merangkai gugusan kata bermakna cinta?”
“Pak tua, salam sejahtera, aku asing di negeri orang, entah dimana
senja memerangkap jiwa, mimpikah atau nyata bayang padad larik mata yang
sedang terjaga?”
“Anak muda, tuturmu halus serupa senja, lihatlah gerangan di sudut
desa, matahari sedang tersenyum geli melihatmu tertatih menaiki hewan
tak beralas kaki. Anak muda turunlah, nikmatilah desa kami, aku yakin
engkau pasti berasal dari negeri yang jauh. Inilah desa suka damai.”
Marc turun dari kudanya, menyisiri jalanan bersama kenalan barunya.
Ia mempertanyakan hal-hal yang daritadi muncul di kepalanya, tentang
kabut yang pekat, tentang warna senja yang semburat, tentang kedamaian
hati yang didapat, dan damai yang tak ingin dijadikannya berkarat.
“Duhai anakku, aku tak pernah melihat kabut yang engkau ceritakan dan
tak pernah tahu ada kota-kota di luar sana seperti yang engkau
kisahkan, kami para penduduk desa tak pernah pergi sejauh itu, kami
sudah sangat menikmati kehidupan. Caramu bernyanyi tadi, mengapa tak ada
nada di sana? Tuturmu yang indah itu, dan susunan kata yang bermakna.
Apakah gerangan itu namanya?” orang tua itu bertanya.
Marc tersenyum dan menjawab, “Kalian sungguh tak pernah mengetahui
syair? Orang-orang menyebutnya puisi, deretan kata-kata yang disusun
secara sistematis hingga menyerupai mantra mistis”.
Mereka sampai di kawasan rumah penduduk setempat. Pak tua itu
ternyata bernama Rod, setidaknya begitu orang-orang disekitar
menyapanya. Rod tua mengenalkan Marc pada seluruh penghuni desa. Rod
menyuruh Marc tinggal bersamanya. Tak lama kemudian mereka sampai di
kediaman Rod.
Sore sudah tiba, senja mulai menampakkan diri menjemput raja
matahari. Dari balkon rumah kayu milik Rod, Marc memperhatikan itu,
pemandangan senja terindah yang pernah dilihatnya, ia tak ingin
sedetikpun melewatkannya, jingga, kuning, merah, orange, semua berbaur
menjadikan perbedaan tak lagi bermakna selain indah. Ia mulai mengambil
serulingnya, meniupnya sebentar menyenandungkan beberapa nada minor.
Lalu diam dan merakit bait.
* Pada sebuah jeda, ada kosong yang menghamba.
Lelaki merindu pada senja, yang berbalut jingga.
Namun malam cepat tiba, mengusir sore yang menua.
Kelamnya yang pekat, memeluk hingga belikat.
Berikan aku mimpi, pada jeda yang sepi.
“Indah anak muda! Sungguh indah!” seru Rod tiba-tiba, mengagetkan Marc.
“Yang mana yang kau sebut indah itu pak tua?” Marc bertanya keheranan.
“Kata-katamu tadi tentu saja! Hahahahaha, apa itu tadi namanya?
Puliasi? Posusi? Ah apalah namanya, yang jelas kau sungguh menawan anak
muda, kita berpesta malam ini, kau harus mendendangkannya lagi! Di
hadapan seluruh warga kampung tentu saja! Hahahahahaha”
Rod berbicara dan tertawa terbahak sembari melangkah lagi memasuki
rumahnya meninggalkan Marc yang bengong keheranan. Gaung tawa Rod tua
masih terdengar di telinga. Marc hanya tersenyum geli bercampur heran, bagaimana mungkin ada sekumpulan manusia yang tak satu orangpun mengenal apa itu puisi.
**
Matahari dengan gembira mengabarkan pada dewi bulan bahwa ada sesuatu
yang menarik siang tadi. Seorang pemuda berpakaian jubah selutut,
mengenakan celana butut, menggunakan topi mengkerucut. Ia datang bersama
hewan yang dinamainya itu kuda. Berdendang aksara ketika melihat
pemandangan desa.
Bulan tak sabar lagi bersinar, ia bersinar begitu terang hingga serigala yang bersembunyi di balik hutan terheran-heran, ada apa gerangan?
Sang dewi rembulan sangat senang, kenapa? Tak lain tak bukan karena
warga desa merayakan kedatangan sang penyair. Sang rembulan penasaran
dengan pemuda itu, ia ingin menatap lagi lebih dekat. Para penduduk yang
melihat bulan yang tampak lebih bulat, lebih terang, dan lebih dekat
dari biasanya pun terheran-heran, apakah karena kedatangan sang penyair
ini? Hanya sang dewi yang mengetahui jawabannya.
Pemuda itu digiring menuju lapangan yang luas dimana semua orang
sudah berkumpul dan ingin melihatnya. Baru mengucapkan salam, sudah ada
beberapa orang mengacungkan tangan ingin bertanya. Marc menjawab semua
itu sebisanya, ia datang darimana, bagaimana ia bisa sampai ke tempat
itu, bagaimana ini bagaimana itu. Sampai akhirnya di penghujung malam,
Rod tua mengakhiri acara, dan mengatakan esok akan ada lagi acara
serupa. Seluruh warga desa pulang ke rumah masing-masing juga Rod dan
Marc.
Sampai di rumah, Rod tua langsung berpamitan tidur. Marc masih belum
bisa terpejam, ia masih penasaran dengan yang dialaminya seharian ini.
Seperti mimpi. Ia kemudian duduk di balkon rumah Rod dan menyalakan
sebatang rokok. Ia menghembuskannya perlahan sambil kemudian
menengadahkan kepala.
Astaga! Ia kaget sampai terbatuk-batuk, pemandangan di depannya itu,
bulan tampak begitu besar, dan sangat terang dan ia baru menyadari itu.
Terang yang daritadi dilihatnya ternyata bukanlah berasal dari lampu
bohlam, tapi bulan. Ia juga baru menyadari bahwa tak ada lampu di desa
ini. Terangnya bulan hampir hampir seperti matahari disiang hari.
Astaga, itu bulan begitu cantiknya.
Bulan purnama,
Bermandikan cahaya,
Bersimbah cerahnya
Mengapa bermuram durja?
Apakah karena sedang dibuai asmara?
Atau karena asing datang dan merusak suasana?
“Kau pintar sekali memainkan kata, yang seperti itu apa namanya?” dewi bulan bertanya pada sang pemuda.
“Itu puisi, aku tak pandai berkata, hanya menyelaraskan hati yang
bertapa dengan rintihan alam yang menyapa. Hati hanya cerminnya dan
mulut hanyalah pengantarnya” jawab Marc sambil tersenyum.
“Bersediakah engkau berpuisi untukku? Saat sepi menyapa seluruh pelosok desa dan hanya hening yang merajai malam sepi durjana?”
Pemuda itu tersenyum dan mengangguk senang.
**
Perkenalan itu singkat, namun perjalanan hati tak sesederhana yang
disangka manusia. Pada awal yang sederhana bisa berlanjut kepada sesuatu
yang rumit, bila perasaan sudah tak mampu lagi ditahan oleh logika.
Lelaki dan rembulan, mereka bercengkerama berbagi cerita, menuai kisah,
canda tawa. Entah mangapa selalu manusia yang tak jua memiliki rasa puas
pada apa yang dimiliki.
“Aku ingin bertatap wajah denganmu yang sebenarnya” kata Marc suatu hari.
“Untuk apa?” tanya bulan.
“Aku ingin mengenalmu lebih dekat, tahukan kau, bahwa ketika pasukan
fajar datang mengoyak romansa, aku sering kembali merasa terasing di
bawah matahari.”
“Ini rumit, kita tak mungkin bertemu, aku tak bisa melangkah lebih jauh dari ini, dan kamu juga tak mungkin terbang kemari”
“Apakah tak ada satu carapun agar rasa ini bertemu empunya cinta?”
“Di dalam kuil terlarang, ada sebuah selendang milikku, tetua adat
desa ini menyimpannya di sana, karena tak ingin ada yang menyalahgunakan
kekuatannya”
Pemuda itu terdiam, ia memikirkan suatu cara. Cara yang harusnya tak
pernah terlintas di pikirannya. Entah mengapa ia seperti melupakan
logikanya, entah karena memang sudah tumpul dari sananya, atau karena
cinta memang membuat orang waras menjadi gila? Entahlah.
Tak terasa hari berganti tahun, Marc sudah dianggap sebagai warga
asli desa tersebut. Ia diterima dengan sangat baik oleh seluruh
penduduk. Ia bekerja bersama Rod dari pagi hingga siang, mendongengkan
anak-anak sorenya, dan berpuisi sesudahnya. Malam hari ketika sepi
melanda desa, sunyi mulai merayap lamat ke setiap penjuru rumah, ia
datang ke bukit paling tinggi di daerah itu. Untuk bercengkerama dengan
kekasihnya, rembulan.
Dua makhluk dimabuk asmara. Kata orang, cinta itu bisa membuatmu mati
jika tak tahu cara mengendalikannya. Mereka saling melempar sajak, dan
puisi, romantisme sepanjang malam hingga pasukan fajar datang
menggantikan petang. Mereka tak menyadari satu hal. Marc tak menyadari
satu hal. Bahwa ada yang menguntitnya diam-diam. Mencuri dengar
pembicaraan mereka dalam-dalam. Meneguk rahasia itu sendirian.
**
Suatu hari dimalam yang sama seperti malam-malam sebelumnya, Marc mengatakan rencananya pada rembulan,
“Aku akan mencuri selendang itu di kuil terlarang”
“Jangan Marc, aku lebih baik memandangmu dari kejauhan daripada
menatapmu mati dirundung petaka jahanam.” Kata rembulan mulai gelisah.
“Tenanglah kekasih, aku takkan apa-apa, esok malam, kau akan dapati aku sudah berada di sampingmu”
Esok malamnya saat semua orang sudah terbuai mimpi, La Marc penyair
gelandangan, pemuda yang dirundung asmara, melakukan perbuatan paling
berbahaya. Ia mencuri selendang bersulam emas. Ia tersenyum puas melihat
yang ada di tangannya, selendang itu kemudian dipakainya. Dengan
berlari ia menuju bukit tertinggi, tempat paling dekat dengan bulan.
“Kekasih! Lihatlah yang aku kenakan!” seru Marc kegirangan
“Astaga! Kau melakukannya, kau gila Marc!” kata bulan takut sekaligus senang.
“Hahaha ya aku memang gila, aku sudah gila sejak pertama kita bertemu, aku tergila-gila padamu!” kata Marc sambil tertawa-tawa.
Ia lalu mengayunkan selendangnya dengan sekali ayun tubuhnya langsung
terlemar jauh menembus lapis demi lapis atmosfer bumi. Troposfer,
stratosfer, mesosfer, termosfer, eksosfer. Dilewatinya dengan sangat
cepat hingga ia tak merasa sudah berpijak pada bulan.
Sang dewi menemuinya, betapa terkejutnya Marc melihat yang
dihadapannya, wanita yang diajaknya bercakap cakap selama ini menyimpan
sesosok bidadari ayu, anggun dan jelita. Kulitnya begitu putih hampir
bening, Marc hampir-hampir bisa melihat aliran darah di tangan putri
itu.
Duhai putri ayu nan rupawan
Siapakah yang menyembunyikanmu gerangan
Pantas saja hati ini tak henti berdendang
Padahal sang dewi belum lagi dalam pelukan
Marc memeluk dewi rembulan yang wajahnya merona mera, sangat cantik,
juga rupawan. Tak sia-sia ia mencuri dan melawan bahaya yang sebenarnya
sudah mengintainya dari kejauhan. Ia tak menyadari itu. Iblis sedang
bersyair riang di pojok kahyangan. Iblis berpesta merayakan keberhasilan
sempurna, bahwa mitos tentang desa percikan surga sebentar lagi akan
tiada, berganti desa kecil rontokan kalam neraka.
Jangankan manusia hina
Bahkan yang mulia Adam mampu dirayu Hawa
Sungguh perempuan alat sempurna
Menikam jemari sang Betari Durga
Kegelapan menyingkap tabir misteri, aduhai sayang
Ketika kelam tak hanya mengukir langit
Maka dinding hati mulai tumbuh duri stalakmit
Itulah sayang, itulah syetan
Saat roman menarik hina
Saat romansa membutakan semua
Itulah sayang itulah
***
Berbulan setelahnya, setiap malam Marc terbang ke jonggring saloka
milik dewi bulan untuk bermesraan, berasyik masyuk mengitari taman.
Merawat benih cinta yang makin menggila. Mereka tak pernah menduga bahwa
percintaan mampu mendatangkan bencana. Iblis yang sejak awal mengetahui
hal itu menceritakan semuanya pada raja surya yang sedang lelap
tertidur.
“Lihatlah, duhai pecundang cinta. Dewi rembulanmu dengan gampang
dirayu dan dibujuk oleh penyair muda. Tak lama, pastilah air mani akan
bermuncratan mengotori rembulan, kau akan lihat keturunan mereka akan
berkembang biak mengotori kahyangan”
“Iblis jahanam! Masih kurangkah kedalaman nerakamu? Atau masih kurang
panaskah api nerakamu hingga kau menebarkan kebencian di bumi kahyangan
yang suci! Ha?!”
“Aduhai raja surya, kau begitu perkasa, hingga tetesanmu saja mampu
melumerkan neraka. Aku tidak menghasutmu, aku hanya mengungkap fakta
yang sedang terjadi di kerajaan agung ini. Lihatlah sendiri kalau kau
tak percaya”
Sang surya yang mengamuk dan dirundung amarah melesat menggunakan
kereta kencana menuju kerajaan bulan tempat dewi chandrina berada. Ia
yang tak percaya dengan sang iblis tersentak kaget ketika mendapati
seorang makhluk mulia yang harusnya dipuja manusia malah bercumbu mesra
dengan manusia penyair durjana. Melompatlah ia dari kereta dengan segala
amarah dan cemburu yang telah lama dipendamnya meledaklah api panas
membakar semuanya. Hancur sebagian besar wajah bulan. Sang dewi yang
ketakutan tak mampu berbuat apa-apa. Penyair yang tertunduk juga tak
mampu melawan kebesaran sang surya.
“TERKUTUK KALIAN BERDUA!!”
Teriak sang raja matahari, hatinya luka. Otaknya dibakar amarah,
benci dan dendam telah merasukinya tipu daya iblis telah masuk di
darahnya di sel-sel tubuhnya. Dengan segala kekuatan dilemparkannya sang
pemuda kembali ke bumi. Apa daya di desa yang penduduknya arif dan
ramah mendadak beringas, ketika mengetahui Marc telah mencuri benda
pusaka di kuil terlarang dan membuat murka alam raya. Mereka hendak
membakar pemuda itu.
Marc diseret turun dari atas bukit menuju lapangan besar, diarak oleh
penduduk kampung, mereka mengikatnya di sebuah tiang tinggi dan bersiap
menyalakan api pembakaran. Saat-saat genting itu sang surya datang
bersama dewi bulan dan dewa seluruh alam, Batara Brahma.
Sang Brahma dengan segala kebajikannya berkata kepada mereka semua,
“Lepaskanlah pemuda itu, telah kukutuk ia menjadi asu. Dia
hanya akan menjadi serigala pemangsa, biarlah ia menjadi golongan
marjinal. Rembulan telah menyadari kesalahannya, sejak saat ini ia telah
kuhukum. Begitu juga dengan surya yang telah terhasut tipu daya iblis
untuk mempergunakan emosi”
Para penduduk menurut, pemuda dilepaskan dan ia berubah menjadi
serigala besar lalu lari menuju hutan. Rembulan telah dihukum sepanjang
hayatnya, hanya boleh menampakkan purnama sekali setiap tiga puluh hari,
surya telah dihukum dengan ditiadakan keabadiannya, ia menjadi seperti
korek api yang memiliki umur, yang suatu saat akan mati.
Sejak saat itu desa tersebut berubah menjadi desa yang lazim seperti
daerah-daerah lainnya, tak ada lagi desa impian seperti negeri utarakuru
dalam kisah pewayangan, semua menjadi normal. Tak hanya kebaikan
bertengger disana, kejahatan bisa masuk dan bermukim di dalamnya. Sejak
saat itu pula ketika purnama tiba, sang serigala akan melolong panjang
merindukan kekasihnya yang tak mungkin lagi bisa ditemui.
Wajah bulan menjadi sendu, pucat, tak ada lagi aura terangnya.
Cerahnya telah memudar, hatinya luka. Sejak saat itu bulan membutuhkan
bantuan matahari untuk bersinar. Hingga malam tak ada lagi terang, hanya
kelam. Hitam pekat dan wajah sendu sang dewi rembulan. Karena cintanya
terbentur dinding. Dinding pembatas yang seharusnya tak mampu dilanggar,
mampu dihancurkan begitu saja oleh cinta.
Aduh duh bahaya dimabuk cinta
Andai manusia mengerti kedalaman rasa
Andai manusia menghayati perannya sebagai khalifah
Andai manusia menuruti perintah Pelukis Angkasa
Sungguh durjana iblis yang merajalela
Menebar kebencian menghasut sukma
Aduh duh sungguh hanya manusia yang mampu melawannya
Melatih rasa, harga diri terpatri indah
Martabat, nyawa menjadi taruhannya
Aduh duh, asmara mengaduk takdir
Mengapa tak jua merana kian terukir
Andai sang Brahma berpihak penyair
Sungguh dunia akan segera menemui hari akhir
Aduh duh bahayanya dimabuk cinta
Sungguh kasih itu tak mengorbankan sesama.
Pelajarilah
Apa itu kasih
Apa itu rindu
Sebab bukanlah cinta namanya
Bila nafsu sahaja sifatnya
keterangan :
* puisi milik @ipehalena
cerpen di atas terinspirasi dari hollow earth strange theory
0 comments