Ia masih berdiri
di depan lemari itu. Sebuah lemari penuh ukiran yang terbuat dari kayu jati,
yang kedua pintunya, masing-masing, bisa dibuka ke kanan-kiri. Warna cat lemari
itu masih sama seperti kali terakhir ia melihatnya—coklat kehitam-hitaman yang
mengilap dengan serat-serat kayu yang nampak jelas terlihat. Namun, tinggi
lemari itu, kini, tidak lebih tinggi dari tubuhnya sendiri.
Lemari itu baru
saja diantarkan oleh kurir, setelah sebelumnya, ia harus merogoh kocek lebih
dalam demi untuk mendapatkannya dari sebuah rumah lelang.
Beberapa minggu yang
lalu, api yang entah dari mana datangnya telah membakar habis harta satu
keluarga, beserta anggotanya. Dan hanya karena keajaibanlah, api itu tidak
sampai menyentuh lemari yang terdiam di pojokan, di sebuah kamar sempit di
lantai satu. Karena tidak
tahu hendak diapakan, dan karena memang tidak ada yang menginginkan, maka
kerabat keluarga itu memutuskan untuk menjualnya di sebuah rumah lelang.
Dengan amat
perlahan, ia arahkan tangan kanannya untuk menyentuh lemari itu. Ketika
jemarinya beradu dengan permukaan lemari, ia tersenyum, dan tatapannya perlahan
meredup.
“Delapan ...
Sembilan ... Sepuluh.” Ibu itu membuka matanya, mulai mengedarkan pandang, dan
sambil tersenyum, ia melanjutkan, “Di
mana, ya? Di mana anakku yang tampan bersembunyi?” Ia terus berjalan pelan
sambil menunduk. Dan ketika langkahnya sampai di dekat lemari yang pintunya sedikit
terbuka, ia berhenti. Tersenyum. Lalu kembali berjalan. “Di mana anakku yang
tampan bersembunyi? Apa di sini?” katanya, sambil menyibak seprai yang
terjuntai dan melongok ke bawah ranjang.
Di dalam lemari,
si anak menutup mulutnya, dan mati-matian menahan tawa agar tidak menghambur
keluar.
Ia menarik lagi
tangannya dan memasukannya ke dalam saku celana. Memandang lagi lemari itu
entah untuk yang kali keberapa. Mengambil rokok yang di simpan di balik jas,
menyalakannya. Saat asap putih tipis melayang-layang di antara dirinya dan
lemari itu, ia tersenyum.
“Apa ini, Jati,
apa ini?!” Ibu itu membanting rokok yang ia ambil dari bawah tumpukan baju di
dalam lemari ke hadapan Jati. “Ibu sudah bilang, jangan merokok! Jangan
merokok! Bagaimana kalau Tuan sampai tahu? Tidak ada yang merokok di rumah ini!”
Jati hanya bisa
diam sambil menundukkan kepala.
Ia tersenyum, lalu
membuang rokok yang baru saja dinyalakannya, menginjaknya.
“Pak.” Ia sedikit
menoleh, memandang orang yang memanggilnya dengan sudut mata. “Lemari ini, apa
harus kita bakar juga?”
Ia diam.
Memandang lemari itu lekat-lekat. “Bakarlah!” Lalu ia membalikan badan,
melangkah masuk ke dalam rumah.
Langkah sepatunya terdengar jelas di rumahnya
yang luas, dan sepi. Ia menjatuhkan dirinya ke atas sofa. Menengadah. Menutup
mukanya dengan tangan kanan. Ujung lengan panjangnya yang tak terkancing sedikit tertarik ke arah siku,
memperlihatkan luka bakar yang ia peroleh beberapa tahun lalu.
TELAH DIKETEMUKAN
MAYAT SEORANG WANITA DENGAN SEKUJUR TUBUH MENDERITA LUKA BAKAR.
Itu yang menjadi headline sebuah surat kabar pada tahun itu.
0 comments