Lemari Minggu 12

Kamisan S1 #12 - Lemari: Jati

16.01Unknown

Ia masih berdiri di depan lemari itu. Sebuah lemari penuh ukiran yang terbuat dari kayu jati, yang kedua pintunya, masing-masing, bisa dibuka ke kanan-kiri. Warna cat lemari itu masih sama seperti kali terakhir ia melihatnya—coklat kehitam-hitaman yang mengilap dengan serat-serat kayu yang nampak jelas terlihat. Namun, tinggi lemari itu, kini, tidak lebih tinggi dari tubuhnya sendiri.

Lemari itu baru saja diantarkan oleh kurir, setelah sebelumnya, ia harus merogoh kocek lebih dalam demi untuk mendapatkannya dari sebuah rumah lelang.
Beberapa minggu yang lalu, api yang entah dari mana datangnya telah membakar habis harta satu keluarga, beserta anggotanya. Dan hanya karena keajaibanlah, api itu tidak sampai menyentuh lemari yang terdiam di pojokan, di sebuah kamar sempit di lantai satu. Karena tidak tahu hendak diapakan, dan karena memang tidak ada yang menginginkan, maka kerabat keluarga itu memutuskan untuk menjualnya di sebuah rumah lelang.

Dengan amat perlahan, ia arahkan tangan kanannya untuk menyentuh lemari itu. Ketika jemarinya beradu dengan permukaan lemari, ia tersenyum, dan tatapannya perlahan meredup.

“Delapan ... Sembilan ... Sepuluh.” Ibu itu membuka matanya, mulai mengedarkan pandang, dan sambil  tersenyum, ia melanjutkan, “Di mana, ya? Di mana anakku yang tampan bersembunyi?” Ia terus berjalan pelan sambil menunduk. Dan ketika langkahnya sampai di dekat lemari yang pintunya sedikit terbuka, ia berhenti. Tersenyum. Lalu kembali berjalan. “Di mana anakku yang tampan bersembunyi? Apa di sini?” katanya, sambil menyibak seprai yang terjuntai dan melongok ke bawah ranjang.

Di dalam lemari, si anak menutup mulutnya, dan mati-matian menahan tawa agar tidak menghambur keluar.

Ia menarik lagi tangannya dan memasukannya ke dalam saku celana. Memandang lagi lemari itu entah untuk yang kali keberapa. Mengambil rokok yang di simpan di balik jas, menyalakannya. Saat asap putih tipis melayang-layang di antara dirinya dan lemari itu, ia tersenyum.

“Apa ini, Jati, apa ini?!” Ibu itu membanting rokok yang ia ambil dari bawah tumpukan baju di dalam lemari ke hadapan Jati. “Ibu sudah bilang, jangan merokok! Jangan merokok! Bagaimana kalau Tuan sampai tahu? Tidak ada yang merokok di rumah ini!”

Jati hanya bisa diam sambil menundukkan kepala.

Ia tersenyum, lalu membuang rokok yang baru saja dinyalakannya, menginjaknya.

“Pak.” Ia sedikit menoleh, memandang orang yang memanggilnya dengan sudut mata. “Lemari ini, apa harus kita bakar juga?”

Ia diam. Memandang lemari itu lekat-lekat. “Bakarlah!” Lalu ia membalikan badan, melangkah masuk ke dalam rumah.

Langkah sepatunya terdengar jelas di rumahnya yang luas, dan sepi. Ia menjatuhkan dirinya ke atas sofa. Menengadah. Menutup mukanya dengan tangan kanan. Ujung lengan panjangnya yang  tak terkancing sedikit tertarik ke arah siku, memperlihatkan luka bakar yang ia peroleh beberapa tahun lalu.
TELAH DIKETEMUKAN MAYAT SEORANG WANITA DENGAN SEKUJUR TUBUH MENDERITA LUKA BAKAR.

Itu yang menjadi headline sebuah surat kabar pada tahun itu.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak