Bukan salahku!
Ya, bukan salahku. Perempuan itu yang selalu menggodaku. Meski ia tak
pernah mau melihatku. Pergi menjauh dari kerumunan jika ada aku.
Menutup hidungnya kala melewatiku atau, yang paling menggoda, ia pergi
ke lain arah jika melihatku ada di arah yang sebetulnya ia tuju.
Sungguh, ini bukan salahku.
Ia yang menggodaku, saking pekatnya aroma itu hingga lekat ke
paru-paruku. Sial! Apa perempuan selalu begitu? Begitu mudah melupakan
pria yang pernah dicintainya lalu menyakiti dengan jalan serupa itu?
Bapak sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri, ucapnya waktu itu. Persetan! Siapa yang mau jadi ayahny?! Aku ini kan menawarkan diri jadi kekasihnya! Sial! Sungguh sial!
Sadar diri, Ki. Ingat umur. Si Dien itu pantas jadi anakmu,
Eling, Pak! Istrimu itu sudah dua! Masa’ mau ditambah lagi?
Ah, persetan! Mereka itu pasti cuma iri saja karna tidak bisa
memiliki istri lebih dari satu, dan cantik dan muda pula sepertiku!
Si Dien itu juga pasti bisa kujadikan istri kalau tidak karena pengaruh busuk dari mereka-mereka itu!
Apa? Aku mengada-ada?
Nih! Coba lihat! Sepatu ini dibelikan si Dien, apa coba artinya kalau
bukan karna dia juga suka aku? Perkara dia punya suami bukan urusanku!
Itulah juga masalahnya! Si Yusuf itu yang merebut Dien dari tanganku
Tidak dia tidak menikah atas kehendaknya sendiri dia pasti dipaksa! Si Yusuf itu pasti memakai guna-guna! Pasti itu!
Tidak! Aku tidak menculiknya!
Menyekapnya?
Tentu saja tidak! Aku berani bersumpah! Tapi ini semua salah kalian!
Ya, ini semua salah kalian!
Lho, tidak mau mengaku? Kedatangan kalian mengagetkan kami, kalian tahu!?
Kami sedang makan malam bersama saat tiba-tiba kalian datang dan mendrobak pintu depan. Aku panik. Kami
panik. Mana aku tahu lemari kecil di dapur itu menyimpan alat-alat
perkebunan. Mana aku tahu, posisi gunting kebun itu membahayakan.
Ini semua salah kalian! Ini semua salah kaliaaaaaaan! Dienku yang
cantik, Dienku yang cantik hari ini matiiiiiii! Ini salah kalian!
Polisi-polisi bodoh!
[]
“Detektif Lend, tolong bantu buatkan BAP-nya.” Lendra mengangguk,
mengiyakan intruksi bosnya, “dan sekalian beri dokter jiwa pada pak tua
ini, beliau perlu didampingi.” Lendra mengangguk lagi. Sebelum menyusul
bosnya pergi keluar ruangan ia melirik sebentar ke tahanan 442. Pak tua yang malang, batinnya.
“Apakah kita masih perlu mengolah TKP, Kapt?” tanya Lendra
“Tidak perlu. Kita perlu tidur, Detektif Lend, pak tua ini sudah merepotkan kita selama dua minggu!”
Lendra menahan senyum. Ya, kami perlu istrihat. Lendra berlalu ke
meja kerjanya, membuat BAP sesuai introgasi tadi mumpung masih segar
diingatannya.
Lendra mengetuk dada kirinya dua kali dengan jari tengah dan
telunjuk, kaujuga masih perlu istirahat sepertinya. Lihat, betapa jatuh
cinta itu mengerikan.
[]
22:1219/12/2013
Aria –
0 comments