Telur dadar. Bukan telur ceplok, apalagi telur rebus. Itulah yang menjadi makanan kesukaannya. Sesuatu yang harus aku buat ketika dia pulang. Entah itu pukul 7 pagi, 12 siang, atau 9 malam.
Dengan dasi yang sedikit ia longgarkan, ia akan menungguku di meja makan. Bertopangkan tangan kanan. Tersenyum sambil melihatku yang tengah menggoreng makanan kesukaannya. Baru bicara bila aku bertanya.
"Hari ini kamu terlambat. Ada masalah?" Aku menoleh, menatapnya, sambil tangan kananku tak berhenti mengocok telur.
Ia tertawa pelan. Lalu duduk dengan tegak. "Sedikit."
"Dia bikin ulah?"
Aku mengangguk-angguk dan kembali memalingkan wajah darinya. Menuangkan telur ke wajan. Suara minyak goreng panas terdengar jelas.
Jangan terlalu dipikirkan!
Aku tidak tahu apa yang membuatnya bisa begitu suka dengan telur dadar. Sekali, aku bertanya. "Aku juga enggak tahu ... suka aja. Bolehkan?" Hanya jawaban itu yang aku dapatkan. Ditambah tawa sebagai penutup kalimat.
Meski ia begitu menyukai telur dadar, nyatanya pernah sekali waktu, ia pulang tanpa memintaku untuk membuatkan makanan kesukaannya itu. Ia bahkan tidak meminta apa-apa. Tidak juga masuk ke dalam rumah. Hanya berdiri di depan pintu. Dan tanpa banyak berkata, ia mencium keningku. Lalu, dengan wajah tertunduk, ia berjalan menuju mobilnya, pergi.
Masih teringat jelas kata-katanya saat itu. "Maaf, aku harus berhenti. Kemarin, ia mencoba bunuh diri."
*
Malam ini, aku kembali mengocok telur. Menuangkannya ke dalam wajan. Suara minyak goreng panas terdengar jelas.
0 comments